Berlindung dari Keburukan Mata dan Telinga
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Za Ummu Raihan
Lafal Doa
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِيْ وَمِنْ شَرِّ بَصَرِيْ وَمِنْ شَرِّ لِسَانِيْ وَمِنْ شَرِّ قَلْبِيْ وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lidahku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan kemaluanku.”
(HR. At-Tirmidzi di As-Sunan no. 3492 dan An-Nasa’i di As-Sunan no. 5484)
MAKNA LAFAL
- (مِنْ شَرِّ سَمْعِي): Yaitu mendengar sesuatu yang haram untuk didengar.[1]
- (وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي): Yaitu melihat sesuatu yang haram untuk dilihat.[2]
- (وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي): Yaitu membicarakan sesuatu yang tidak boleh dibicarakan.[3]
- (وَمِنْ شَرِّ قَلْبِيْ): Yaitu jiwa yang mengumpulkan syahwat dan segala rupa keburukan dunia, rasa harap kepada makhluk, takut akan hilangnya harta, serta penyakit hati (misalnya kedengkian, kebencian, dan haus pujian).[4]
- (وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ): Sa’ad bin Aus berpendapat bahwa makna “maniyyin” adalah air mani.[5] Di sisi lain, ada pula yang berpendapat[6] bahwa maknanya adalah berlindung dari keburukan masa muda dan gejolak syahwat yang mendorong seseorang untuk melakukan jima’ (senggama). Jika syahwat itu tidak bisa dikendalikan, dia akan tergelincir dalam zina atau jalan pintas menuju zina.
ULASAN DOA
Seorang muslim wajib berlindung dari segala bentuk keburukan, terutama keburukan yang disebutkan dalam doa ini, karena lima hal tersebut merupakan awal mula dosa yang lebih besar.[7]
Dosa-dosa pendengaran bukan hanya sebatas mendengar musik. Akan tetapi, mencakup segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah, termasuk mendengarkan ghibah, mendengar ucapan orang zindiq, mendengar ucapan yang membuat hati ragu terhadap agama Islam, serta ucapan yang membangkitkan syahwat.[8]
Hati adalah penguasa tubuh. Darinya akan lahir segala bentuk keburukan dan godaan.[9]
Referensi:
- Sunan At-Tirmidzi. Al-Imam At-Tirmidzi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Sunan An-Nasa’i. Al-Imam An-Nasa’i. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Syarh Sunan ‘Abi Daud. Badaruddin Al-Aini. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Faidhul Qadir. Al-Imam Al-Munawi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- At-Tanwir Syarh Jami’ Ash-Shaghir. Amir Ash-Shan’ani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.