Belajar Tawakal Bersama Pengajar Al Qur’an dari Sigulai
Reporter: Anastasia Gustiarini
Redaktur: Dian Soekotjo
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal [QS. Ali Imran: 159]
Menjalankan ketakwaan adalah tuntunan dalam Islam. Allah memerintahkan manusia untuk bertakwa. Di sisi lain, Allah sekaligus berkehendak menetapkan kadar rezeki tiap makhluk. Sehingga kondisi serba kecukupan atau sebaliknya, adalah sunatullah yang tak mungkin diralat seorang hamba.
Kadar ketakwaan tentu saja tak hanya diukur dari banyak sedikit perintah Allah nan ditaati, tapi juga pergulatan manusia menaklukkan segala aral yang menjadi sekat. Bertawakal dalam ketaatan dengan gelimang kemudahan, tentu tak sama kadar dengan tawakalnya para hamba yang Allah naungi keterbatasan.
Maka فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ, mari berlomba dalam kebajikan, dalam ketaatan, bagaimanapun kondisinya.
Bukan Babak Suka Cita
“Pertama kali sampai, kami berpelukan dan nangis… ‘Maafkan Uma’,” ujar Ukhtuna Rina Rafana pada Majalah HSI melalui sambungan telepon pertengahan Juni kemarin, menirukan ucapannya pada sang putra sulung. Perempuan kelahiran Lumajang, Jawa Timur, 38 tahun yang lalu itu, berkilas balik pada kejadian akhir Desember tahun 2022 dulu. Satu episode realitas kehidupan melintas. Sayangnya bukan babak suka cita. Qadarullah..
Beberapa bulan sebelumnya, Ustadzah Rina, demikian Ukhtuna Rina Rafana kerap disapa para santrinya, membatalkan rencana memasukkan sang putra sulung ke sebuah sekolah tahfiz di Bekasi. Ia dan suami mengaku tidak tega melepas anak laki-lakinya yang baru tamat SD kala itu, untuk tinggal jauh. “Padahal sudah keterima. Di sana ada asramanya. Insyaallah bisa mandiri,” tutur Ustadzah Rina.
Keputusan menyekolahkan anak sulung ke Bekasi, terpaksa dibatalkan setelah Ustadzah Rina dan suami mengetahui mereka adalah satu dari 3 keluarga yang akan dikirim untuk transmigrasi.
“Mendaftar ikut transmigrasi itu sudah lama sebelum Covid dan waktu Covid, pemerintah tidak mengirimkan transmigran. Jadi tidak ada kabar dan kami kira sudah tidak lolos. Baru setelah Covid, tahun 2022, diumumkan lagi dan dari Purwakarta, ada 3 keluarga yang diberangkatkan. Salah satunya kami,” ungkap Ustadzah Rina.
Dengan harapan bahwa di tempat baru akan ada sekolah yang lebih layak dan lebih dekat, rencana mengirimkan putra sulung melanjutkan belajar ke Bekasi, dibatalkan. Nyatanya, harapan ini pun buyar. Mereka hanya bisa menangis bersama dan berpelukan. Kenangan itu lekat dalam ingatan Ustadzah Rina tepat pada hari-hari permulaan menempati rumah di Sigulai.
Mengupayakan Hidup Lebih Baik
Meski asli Lumajang, Ustadzah Rina telah pindah ke Purwakarta sejak tahun 2005 mengikuti sang kakak. Takdir Allah, Ustadzah Rina bertemu jodoh di Purwakarta hingga menikah tahun 2009 dan dikaruniai 3 orang putra. “Yang sulung lahir 2010, nomor 2 tahun 2017, dan paling kecil lahir 2019,” ujarnya. Menjelang kepindahan ke Sigulai, tahun 2022 akhir, putra sulung Ustadzah Rina baru saja lulus Sekolah Dasar.
Ustadzah Rina dan suami mengaku sengaja mendaftarkan diri ikut program transmigrasi karena berharap mempunyai hidup lebih baik dibanding kondisi kala itu. Di Purwakarta, Ustadzah Rina dan suami membuka usaha isi pulsa. “Kemudian ketika qadarullah modal habis, suami pernah bekerja ojek online dan buruh bangunan,” tutur Ustadzah Rina.
“Di Purwakarta, sebenarnya ada rumah, tetapi milik mertua. Kemudian di sana juga tinggal keluarga saudara yang lain. Jadi waktu itu membayangkan kalau ikut transmigrasi akan dapat rumah sendiri, kemudian juga lahan pertanian, sehingga ya ingin ikut,” ujar Ustadzah Rina.
Berangkat ke Simeulue (baca : Simelu)
Ketika mendaftar transmigrasi, ternyata calon peserta tidak mengetahui kemana mereka hendak dipindahkan. “Dua pekan sebelum keberangkatan, kami baru tahu bahwa tujuannya adalah ke Sigulai, Pulau Simeulue, Aceh,” tutur Ustadzah Rina.
“Kami tidak tahu juga Simeulue seperti apa, tapi melihat tujuan-tujuan transmigrasi lain, seperti Sulawesi yang banyak diiklankan, itu bagus-bagus dan sangat memadai. Dulu sempat berharap bakal ke Sulawesi. Tapi ya ndak apa-apa. Bismillah saja,” ujarnya. Keluarga Ustadzah Rina berangkat lengkap berlima, termasuk dua putra mereka yang masih balita, kala itu.
Secara administrasi, Simeulue ialah sebuah kabupaten atau daerah tingkat dua, bagian dari Provinsi Aceh. Kabupaten ini berada di arah Barat Daya dan merupakan wilayah kepulauan dengan 57 pulau besar dan kecil. Sebagai perbandingan, Simeulue mempunyai luas wilayah kira-kira 3 kali luas Jakarta, tetapi dihuni hanya 0,7 persen penduduk Kota Jakarta saat ini.[1]
Ibu kota Kabupaten Simeulue ialah Sinabang yang berada di wilayah Timur. Sedangkan Ustadzah Rina menyebutkan bahwa Sigulai, kediamannya, terletak di Simeulue Barat. Karena pulau tersendiri dan terpisah dari Aceh daratan, boleh dikatakan Simeulue ini jauh dari mana pun. Ustadzah Rina perlu waktu 5 jam berkendara untuk mencapai ibu kota kabupaten. Dari sana menuju kota terdekat di Aceh daratan, yaitu Labuhan Haji, perlu 10 jam perjalanan menggunakan kapal feri.
Relatif Minim Fasilitas
Awal tinggal di Sigulai, Ustadzah Rina sekeluarga mengaku demikian tertekan. Selain kenyataan yang dihadapi tak sama bahkan bertolak belakang dengan harapan, sekeluarga mereka tak tahu kemana mengadu. “Kalau disampaikan ke dinas, selalu jawabnya ‘Bapak sudah bukan yang berwenang, karena sudah jadi warga sana, ya silahkan disampaikan ke dinas setempat’. Sementara di sini tidak ada yang kenal,” tutur Ustadzah Rina mengutip penjelasan yang didapatnya.
“Dulu disampaikan peserta transmigrasi dapat fasilitas rumah dan disediakan lahan pertanian. Kenyataannya memang benar mendapatkan lahan, tapi masih hutan. Benar-benar hutan belantara yang kami dapatkan,” tandasnya. “Bantuan bahan makanan diberikan selama satu tahun. Diberikannya 2 bulan sekali. Pokoknya seingat ana, ada lima kali pembagian,” ungkapnya. Ketika ditanya apakah jatah beras dan bahan makanan lain tersebut cukup, Ustadzah Rina menjawab, “Ya disambung dengan ubi atau lainnya, Kak. Apapun yang bisa ditanam sendiri.”
Air bersih yang merupakan kebutuhan pokok, ternyata juga tak gampang diperoleh. “Untuk minum, mengandalkan air hujan,” kisah Ustadzah Rina. Meskipun ada sumur, tapi menurutnya air sumur tersebut tak layak dikonsumsi. “Airnya seperti air teh, kecoklatan, dan rasanya masam,” ujar Ustadzah Rina.
Sebenarnya, kala awal tinggal di Simeulue, masih ada tiga sumur dari sumber pegunungan. “Sayangnya, sekarang yang dua sudah kering dan tinggal satu. Satu itulah yang dipakai oleh kira-kira 50 keluarga lebih di sini,” Ustadzah Rina memberi gambaran.
Awal tinggal di Sigulai, hal yang menghibur keluarga kecil itu adalah suasana kehidupannya yang terkesan tenang. “Seperti kembali ke era-era ‘90-an. Kompor juga masih menggunakan minyak tanah,” ujar Ustadzah Rina.
Satu Keluarga yang Tersisa
Rata-rata penduduk Sigulai adalah transmigran, meskipun tak semuanya tiba di sana tahun 2022. Saking serba terbatasnya hidup di Sigulai, tak sedikit para transmigran memilih angkat kaki. Ada yang sekedar pindah mencari kota terdekat yang layak huni, atau sekalian pulang, balik ke kampung halaman. Ustadzah Rina sekeluarga tak punya pilihan itu.
“Tabungan sudah habis, Kak. Kembali ke Purwakarta tidak mungkin,” ungkapnya kepada Majalah HSI. Dua keluarga yang sama-sama dari Purwakarta tahun 2022 lalu, sudah lama meninggalkan Sigulai. “Yang satu, pindah ke Sinabang. Satu lagi pulang ke Purwakarta,” jelas Ustadzah Rina. Jadilah mereka satu keluarga transmigran yang tersisa dari kedatangan pada tahun 2022.
Seandainya dananya ada, Ustadzah Rina pun ternyata keberatan kembali ke Purwakarta karena tentu saja di kampung halaman sang suami tersebut, mereka harus memulai kembali semuanya dari nol.
Ustadzah Rina mengaku sekarang sang suami mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit penghasilan dari menanam sawit di belantara yang mereka dapat. “Itu bibitnya leles (memungut, bahasa Jawa, red),” ungkap Ustadzah Rina. Karena memang tidak ada bantuan untuk memulai pertanian, keluarga Ustadzah Rina harus bekerja keras.
Mengajar Al Qur’an dari Pinggir Jembatan
Kerja keras Ustadzah Rina sehari-hari mendampingi suami dan keluarga, tak menghentikan kesibukannya mengajar Al Qur’an. Ini rutinitas Ustadzah Rina sejak masih di Purwakarta. Semua berawal dari kecintaannya kepada Al Qur’an. Meski tidak sempat belajar Al Qur’an di sekolah khusus, tetapi Ustadzah Rina tak berhenti. Ia berusaha semampunya bahkan dengan belajar secara otodidak. “Awalnya lihat dari Youtube, dari berbagai medsos, ya berbagai media,” akunya.
Setelah sekian waktu berjalan, Ustadzah Rina digandeng lembaga-lembaga belajar Al Qur’an untuk mengajar. Cita-cita Ustadzah Rina menjadi seorang ahlul Qur’an selangkah demi selangkah terwujud biidznillah. Setahun setelah mendaftarkan diri menjadi santri HSI Program Reguler, yaitu pada tahun 2021, Ustadzah Rina bergabung di QITA sebagai peserta.
“Di sana baru ketahuan, ternyata bacaan ana juga masih banyak yang dikoreksi,” ungkapnya. Ini bukan halangan bagi Ustadzah Rina, malah menjadi penyulut semangat untuk belajar lagi dan lagi. Tahun pertama menjadi penuntut ilmu di HSI QITA, bertepatan dengan kepindahannya dari Purwakarta ke Simeulue.
Berkali-kali terpental dari ruang Zoom meeting gara-gara koneksi internet tak memadai saat proses belajar, sudah menjadi santapan Ustadzah Rina. “Malu sama Ustadzah dan teman-teman,” ungkapnya. Mau bagaimana lagi, karena memang koneksi internet sangat buruk di Simeulue.
Tak hanya masalah koneksi internet, daya listrik juga sangat kekurangan di tempat tinggal Ustadzah Rina. “Qadarullah setiap harinya kadang sampai 12 jam mati listrik. Pernah juga sampai 4 hari tanpa listrik. Hilang koneksi internet pernah hampir 2 pekan meski listrik nyala,” ujarnya. Ustadzah Rina menambahkan di Sigulai 1 kwh dipakai bersama untuk 10 rumah.
Setelah beberapa waktu belajar di QITA, Ustadzah Rina mendapat tawaran dari Ustadzah Sukma Ummu Fatih, pendiri QITA, untuk mengajar. “Sering ana mengajar ketika masih di QITA HSI, dari pinggir jalan. Diliatin orang karena jaringan adanya di dekat jembatan. Kalau keluar sedikit saja dari jembatan, koneksi hilang,” tuturnya. Ustadzah Rina bercerita bahwa untuk bisa mendapatkan koneksi internet yang bagus, biasanya ia ke perkampungan warga yang jaraknya 45 menit dari rumah.
Koneksi Terputus Kala Pengambilan Sanad Matan
Tidak berhenti di sana, seiring waktu, Ustadzah Rina juga didapuk mendirikan Baitul Quran QITA cabang Aceh. Waktu itu, Baitul Quran memang masih sebuah sub divisi di dalam QITA, bukan divisi tersendiri seperti sekarang. Selain di QITA, Ustadzah Rina tetap melanjutkan kesibukannya mengajar Al Qur’an di berbagai lembaga, misalnya Halaqah Tasmi’ Muslimah dan Saung Qur’an.
Kebutuhan sebagai pengajar dan tentu saja juga karena kecintaan kepada Al Qur’an, Ustadzah Rina tidak berhenti belajar. Ia meningkatkan ilmunya tentang Al Qur’an secara terus-menerus, termasuk salah satunya belajar berbagai matan tajwid. Ada cerita lucu sekaligus sedih dari perjalanan belajar matan tajwid ini.
Suatu ketika Ustadzah Rina tengah mengambil sanad untuk Matan Tuhfatul Athfal. Ini adalah kumpulan syair pendek karya ulama, atau yang biasa disebut matan, berisi ilmu tajwid. Ustadzah Rina telah bersiap dengan menghafal di luar kepala seluruh matan maupun maknanya, dan siap menempuh ujian.
Pada hari pelaksanaan pengambilan sanad, koneksi tersambung, dan ujian dimulai. Seperti pelaksanaan ujian sanad umumnya, peserta harus membacakan kembali matan dari hafalannya dengan cara menutup mata disaksikan oleh para penguji yang berada di ujung lain media Zoom. Menutup mata memang persyaratan ujian sanad di lembaga tersebut, untuk menghindari peserta ujian mencontek atau membaca naskah.
“Dengan semangat, dengan menutup mata setelah dipersilahkan para penguji, ana baca terus sesuai hafalan, dari awal sampai baris akhir. Ana dalam hati sempat berpikir kok tidak ada koreksi sedikitpun. Pas ana selesai membaca, ana buka mata. Dan…. ternyata ana terpental dari ruang Zoom. Hahaha… Maasyaa Allah, ingin nangis tapi juga ingin tertawa saat itu. Benar-benar pengalaman tak terlupakan,” ungkap Ustadzah Rina.
Pertolongan Allah Dekat
Berbagai keterbatasan disebutkan Ustadzah Rina, memberi hikmah luar biasa. Alhamdulillah selama dua tahun terakhir, dirinya merasa pertolongan Allah sangat dekat. Tiap menemui kesulitan dalam hal apapun, Ustadzah Rina memilih mengadu dan meminta langsung kepada Allah.
Ia mengaku perlahan Allah gerakkan hatinya mampu mensyukuri berbagai takdir yang harus dijalani. “Ana merasa mungkin Allah takdirkan ana disini untuk mengenalkan sunnah kepada masyarakat,” tutur Ustadzah Rina. Dari cerita yang dituturkannya, Qadarullah, memang masih tersebar berbagai penyimpangan beragama dalam lingkungan tempat tinggal Ustadzah Rina di Sigulai. “Sama-sama pakai niqab tapi aqidahnya melenceng,” Ustadzah Rina menggambarkan. Mudah-mudahan, segala penyimpangan itu kikis salah satunya melalui dakwah Ustadzah Rina, biidznillah.
Hari ini, santri yang belajar Al Qur’an kepada Ustadzah Rina tidak bisa dikatakan sedikit. Mereka pun beragam latar belakang usia, domisili, maupun profesi. “Ada ibu-ibu di sekitar rumah, yang rata-rata orang Jawa, atau orang Sunda. Jadi bisa ngobrol dalam bahasa Jawa atau Sunda meskipun posisinya di Aceh,” ujar Ustadzah Rina. “Ada juga santri yang belajar via online dari Banyuwangi, Palu, ada yang dari Dubai. Maasyaa Allah,” tuturnya. Jika dihitung-hitung, saat ini saja, Ustadzah Rina tengah mendampingi setidaknya 80-an orang penuntut ilmu Al Qur’an dari berbagai tempat. Maasyaa Allah..
Insyaallah, Segera Pindah ke Ibu Kota
Sekarang Ustadzah Rina telah mengundurkan diri dari HSI QITA untuk mengikuti Ustadzah Sukma, pendiri HSI QITA, yang membuka yayasan belajar Al Qur’an yang baru, Yasufa. “Waktu itu ana ditawari beliau. Karena ana pikir ana mendapat ilmu Al Qur’an salah satunya dari beliau biidznillah, jadi ana putuskan ikut ke yayasan yang baru beliau bentuk,” ujar Ustadzah Rina membagikan alasan.
Dari perjalanan mengajar di yayasan baru yang dinahkodai Ustadzah Sukma, Ustadzah Rina kembali mendapat tawaran untuk mengelola cabang yayasan wilayah Aceh.
Kini, Ustadzah Rina telah bersepakat dengan suami. Jika memang Allah mudahkan segala urusannya sehingga Darul Quran Banda Aceh di bawah asuhan Ustadzah Sukma, segera memperoleh tempat, Ustadzah Rina berencana pindah ke Banda Aceh, ibu kota provinsi.
“Semua karena Allah. Dalam setiap doa ana meminta untuk dimudahkan segala urusan,” pungkas Ustadzah Rina mengajak berserah.
Semoga Allah mudahkan ya, Ustadzah. Semoga Allah kokohkan langkah anti dalam belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Semoga Allah jadikan segala kesabaran anti berbuah ridho dan cinta Allah kepada anti. Dan semoga Allah tangguhkan kita, untuk senantiasa tawakal dalam ketaatan kepada Allah, bagaimanapun kondisinya.. aamiin..