Mutiara Nasihat Muslimah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Belajar Kedermawanan dari Khadijah: Ketika Harta Menjadi Penolong Agama Allah

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Sudah merupakan sunnatullah, di mana telah ditetapkan atas diri manusia kecintaan terhadap perbendaharaan dunia. Tabiat ini—seakan-akan semakin mendapatkan “panggung” di era media sosial seperti sekarang. Segala pencapaian duniawi seseorang, harta, dan jabatan dapat dengan mudahnya kita ketahui hanya dalam hitungan detik. Tak jarang, hal ini menjadi pemicu yang membuat seseorang cenderung mengukur nilai individu sebatas dari kekayaan atau banyaknya harta yang dimiliki. Bagaimana sebenarnya syariat memandang hal ini?

Syariat Islam justru datang memberikan kita sudut pandang dan standar yang berbeda, yakni harta bukanlah sebagai tujuan hidup, melainkan amanah dan sarana yang menjadi jalan menuju keridaan Allah ‘Azza wa Jalla. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta yang ia kumpulkan, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan dengan harta tersebut.

Salah satu teladan terbaik bagi kita para muslimah dalam hal ini adalah ibunda kita Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha. Nama beliau tidak hanya dikenang sebagai istri pertama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi juga sebagai muslimah dermawan yang mendedikasikan seluruh harta dan kemampuan yang dimilikinya demi menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Khadijah, Muslimah Dermawan yang Mulia

Sebelum datangnya Islam, Khadijah radhiyallahu 'anha telah dikenal sebagai seorang pengusaha sukses di Makkah. Beliau adalah wanita yang terhormat nasabnya, paling banyak hartanya, dan paling cerdas otaknya di kalangan kaumnya.[1] 

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di Gua Hira, Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Di saat banyak orang meragukan dan mendustakan dakwah Nabi, Khadijah justru menjadi orang yang paling menguatkan.[2] 

Saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu pertama, Khadijah berkata,

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah, sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah,” (HR Al-Bukhari no. 4670 dan Muslim no. 160)[3]

Lihatlah betapa besar dukungan moral yang diberikan Khadijah kepada suaminya. Beliau tidak hanya menyerahkan hartanya, tetapi juga memberikan ketenangan, keyakinan, dan kekuatan hati.

Sejarah juga mencatat bahwa Khadijah menginfakkan banyak hartanya untuk mendukung dakwah Islam. Termasuk pada masa-masa sulit, ketika kaum muslimin diboikot oleh Quraisy di Syi'ib Abi Thalib[4], harta Khadijah menjadi salah satu sarana yang membantu kaum muslimin bertahan menghadapi ujian.

Oleh karena pengorbanannya yang besar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengenang jasa beliau, bahkan setelah Ibunda Khadijah radhiyallahu 'anha wafat.

Filantropi Tidak Selalu Berupa Uang

Mungkin ketika mendengar kata "filantropi"[5], kebanyakan dari kita akan langsung membayangkan harus bersedekah dalam bentuk uang dan langsung dalam jumlah yang besar. Akan tetapi, segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla, Allah menjadikan pintu kebaikan dalam Islam sangatlah luas. Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari no. 6021 dan Muslim no. 1005)[6]

Ini menunjukkan kepada kita bahwa sedekah bentuknya sangatlah beragam, di antaranya:

1. Sedekah Harta

Inilah bentuk yang paling dikenal. Menyisihkan rezeki untuk fakir miskin, menopang dakwah Islam, pendidikan Islam, pembangunan masjid, atau berbagai program sosial yang mendukung dakwah Islam merupakan sedekah yang sangat mulia dan akan berlipat-lipat kebaikannya, selama manfaat kebaikan itu dirasakan oleh banyak pihak, terutama saudara-saudara muslim kita.

2. Sedekah Makanan

Berbagi makanan kepada tetangga, kerabat, tamu, atau orang yang membutuhkan termasuk amalan yang besar pahalanya. Bayangkan jika makanan yang kita sajikan, kita bagi, kita kirimkan tersebut—dimakan oleh saudara-saudara kita dan menjadi energi untuk mereka dalam beribadah, melakukan kebaikan, berdakwah, melakukan ketaatan dan lain sebagainya, tentu pahala akan terus mengalir pada diri kita, biidznillah.

3. Sedekah Tenaga dan Perhatian

Akhawati fillah, sebagai seorang muslimah, insyaallah bukanlah hal yang menyulitkan bila hendak membantu kegiatan dakwah sesuai dengan kapasitas kita, tanpa melalaikan kewajiban utama masing-masing—sebagai anak, sebagai istri, sebagai ibu—dengan berbagai peran yang diemban. Kita pun tetap bisa menunjukkan kepedulian dan kepekaan terhadap keadaan orang-orang di sekitar kita.

Di antara bentuk konkret dari hal tersebut misalnya manakala ada tetangga yang tinggal seorang diri, maka sesekali tanyakanlah bagaimana keadaannya dan apa yang dibutuhkannya—entah itu menemaninya ke rumah sakit jika ia sakit, membantu membersihkan atau membereskan rumahnya, tentu ini adalah contoh sedekah dan bentuk filantropi yang sangat mulia.

4. Sedekah Ilmu

Mengajarkan bacaan Al-Qur'an kepada anak-anak, berbagi ilmu agama yang benar, atau membantu seseorang memahami ilmu dan kebaikan. Akhawati fiddin, ketahuilah bahwa tatkala mereka terus mengamalkan ilmunya, sungguh betapa derasnya aliran amal jariyah yang akan terus mengalir kepada diri kita, biidznillah.

5. Sedekah Waktu

Di zaman yang serba sibuk, waktu merupakan sesuatu yang mahal. Meluangkan waktu untuk membantu orang lain, mengajar, ikut berpartisipasi dalam kegiatan dakwah sebagaimana yang telah disebutkan di atas, semua itu termasuk bentuk sedekah yang sangat bernilai tinggi di sisi-Nya. Maka duhai saudariku, ikhlaskan niat dan harapkanlah apa yang ada di sisi Allah Ta’ala dalam menjalaninya.

Muslimah Salaf dan Semangat Berbagi

Selain Khadijah radhiyallahu 'anha, banyak muslimah salaf yang memberikan teladan luar biasa dalam kedermawanan.

Kita juga melihat keteladanan wanita-wanita Anshar dengan sifat itsar-nya. Mereka menyambut kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dalam keadaan meninggalkan harta benda mereka. Para wanita Anshar ikut mendukung suami-suami mereka dalam membantu saudara-saudara seiman yang membutuhkan pertolongan. (Lihat Rubrik Mutiara Nasihat Muslimah edisi 91, “Melatih Itsar, Mengurangi Ego”).

Semangat berbagi ternyata bukan hanya dilakukan oleh orang yang hidup dengan serba kecukupan. Banyak di antara mereka yang juga memiliki keterbatasan, namun tetap mendahulukan kebutuhan saudaranya di atas kebutuhannya sendiri.

Tidak Harus Kaya untuk Memberi

Acapkali, setan membisikkan ketakutan tentang masa depan, semisal "Kalau kamu memberi, nanti hartamu berkurang", "Kalau kamu sedekahkan hal ini, bagaimana kalau suatu saat kamu membutuhkannya?"

Akhawati fillah, mari kita ingatkan pada diri kita bahwa Allah telah menjanjikan balasan bagi orang yang berinfak di jalan-Nya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

"Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba': 39).

Karena itu, marilah kita membiasakan diri berbagi dan memberi mulai dari hal-hal sederhana. Mulailah dengan menyisihkan sebagian uang belanja, berikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, sisihkan pakaian yang masih layak pakai, bantu saudari-saudari kita yang sedang kesulitan, ambil posisi untuk membantu dakwah Islam dengan maksimal sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Berita baiknya, sungguh yang Allah nilai bukan sekadar jumlahnya, tetapi keikhlasan, pengorbanan, dan kesungguhan hati seorang hamba dalam mengharap balasan hanya dari-Nya.

Muslimah sebagai Penggerak Kebaikan dalam Keluarga

Peran muslimah dalam membangun budaya berbagi di rumah sangatlah besar. Seorang ibu dapat mengajarkan anak-anak untuk menyisihkan sebagian uang sakunya bagi yang membutuhkan. Ia dapat membiasakan keluarga dan mengajarkan kepada anak-anak dengan melibatkan mereka dalam berbagi makanan dengan tetangga, membantu kerabat yang kesulitan, dan peduli terhadap kondisi masyarakat di lingkungan sekitar.

Jika kita mau menyadari, sesungguhnya peran muslimah sangatlah besar dalam memperbaiki kondisi masyarakat, salah satunya yakni dengan mendidik anak-anak mereka agar menjadi muslim yang bermanfaat bagi dakwah Islam dan orang-orang yang terdekat darinya, kemudian untuk masyarakat luas secara umumnya.

Tips Menanamkan Jiwa Filantropi pada Diri dan Keluarga

Agar semangat filantropi mengakar dalam jiwa kita dan keluarga kita, beberapa langkah berikut dapat dilatih dengan pembiasaan.

  • Menyisihkan anggaran sedekah setiap bulan.
  • Menyiapkan kotak sedekah keluarga di rumah.
  • Membiasakan berbagi makanan dengan tetangga.
  • Mengajarkan anak-anak untuk bersedekah sejak dini.
  • Mendukung program dakwah dan pendidikan Islam.
  • Membantu saudara, tetangga atau orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Setiap dari Kita Mampu Mengambil Peran

Di zaman yang banyak diwarnai oleh budaya konsumtif dan dorongan untuk memamerkan gaya hidup, sejatinya bukti keteladanan dari ummul mukminin Khadijah radhiyallahu 'anha terasa semakin relevan. Beliau menunjukkan bahwa kemuliaan harta tidak terletak pada banyaknya yang disimpan, melainkan pada manfaat yang diberikan untuk agama Allah dan kaum muslimin.

Akhawati akramakunnallah, percayalah bahwa setiap muslimah dapat mengambil bagian dalam kebaikan ini. Tidak harus menunggu kaya, tidak harus memiliki kedudukan tinggi, dan tidak harus menunggu waktu yang sempurna.

Mari kita mulai dari apa yang ada di tangan hari ini. Bisa jadi sepotong makanan, beberapa menit waktu, sebaris nasihat yang baik, atau sejumlah kecil harta yang kita keluarkan dengan ikhlas akan menjadi sebab datangnya keberkahan yang besar.

Dari kisah beliau radhiyallahu anha, kita belajar bahwa filantropi atau semangat berbagi bukan hanya milik orang kaya. Setiap dari kita pasti mampu mengambil bagian sesuai kapasitas, baik dengan harta, tenaga, ilmu, perhatian, maupun waktu yang dimiliki. Ambil bagian, lalu tempuhlah cara yang paling mudah dan paling sesuai dengan kemampuan. Pada akhirnya, bukankah amalan yang paling dicintai di sisi Rabb kita adalah yang dilakukan dengan konsisten—meskipun sedikit?

Oleh karena itu, sebagaimana Khadijah radhiyallahu 'anha menjadikan hartanya sebagai penolong agama Allah, semoga kita pun diberi taufik untuk menjadikan apa yang kita miliki sebagai jalan menuju surga-Nya. Perlahan dengan pembiasaan, kemudian istiqamah di atasnya. Waffaqanallahu jamii’an.

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Shahih al-Bukhari, al-Maktabah asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, al-Maktabah asy-Syamilah.
  • Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, al-Maktabah asy-Syamilah.
  • Mawsuu’ah al-Mafaahim al-Islamiyyah al-‘Aammah, al-Maktabah asy-Syamilah.
  • Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum (Sirah Nabawiyah Edisi Indonesia), Penerbit Darul Haq: Jakarta, 1438 H/2017 M.
  • Majalah HSI Mutiara Nasihat Muslimah edisi 91, “Melatih Itsar, Mengurangi Ego”, https://majalah.hsi.id/artikel.php?slug=melatih-itsar-mengurangi-ego


18