Belajar dari Nabi Ismail
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Za Ummu Raihan
Bercerita tentang sejarah pensyariatan ibadah qurban di bulan Dzulhijah ini tak akan lepas dari satu kisah terkait di dalam Al-Qur’an, yang selalu berhasil menyentuh hati para orang tua dan patut untuk diceritakan kepada anak-anak, yakni kisah Nabi Ismail ‘alaihissalam. Begitu istimewanya kisah beliau sampai Allah ‘Azza wa Jalla memujinya dalam Al-Qur’an,
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِسْمٰعِيْلَ اِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّاۚ
“Dan ceritakanlah (Hai Muhammad, kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi.” ( QS. Maryam: 54).
Mungkin kita bertanya-tanya, apa saja keistimewaan Nabi Ismail sampai Allah menyebutkan namanya secara khusus dalam Al-Qur’an, juga memerintahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menceritakan kisahnya di dalam Al-Qur’an? Apa saja yang bisa kita teladani dari keistimewaan beliau dan apa saja hikmah yang bisa kita terapkan darinya dalam mendidik anak-anak kita di zaman ini? Mari kita gali bersama pelajaran berharga dari kisah beliau, Ismail ‘alaihissalam.
Nabi Ismail adalah salah satu nabi yang kisahnya menginspirasi umat manusia dengan pengorbanan dan keteguhannya. Sejak kecil, Ismail hidup dalam lingkungan penuh ujian, mulai dari tinggal di lembah tandus Makkah bersama ibunya Hajar, hingga menjalani perintah yang menuntut ketaatan sempurna kepada Allah. Ujian demi ujian yang beliau hadapi bersama ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, memperlihatkan kepada kita arti dari keikhlasan yang tulus dan keyakinan yang kokoh kepada Allah. Ismail tidak hanya dikenang sebagai nabi, tetapi juga sebagai seorang putra yang berbakti, yang rela mengorbankan dirinya demi menjalankan perintah Allah tanpa keraguan.[1]
1. Tunduk Serta Patuh kepada Allah dan Orang Tua
Salah satu episode paling menggetarkan hati dalam hidup Nabi Ismail adalah ketika ayahnya, Nabi Ibrahim, datang membawa perintah dari Allah untuk menyembelih putranya sendiri. Ya, menyembelih. Bukan main-main. Sebuah ujian yang berat, yang bahkan kita sebagai orang tua sulit membayangkannya. Akan tetapi, Nabi Ismail menanggapi perintah yang sangat berat itu dengan tenang, penuh keyakinan, dan yang taat kepada orang tuanya. Tidak ada keluhan, dan tanpa ada perlawanan.
Kalau hari ini seorang ayah meminta anaknya untuk sekadar bangun pagi saja, terkadang sudah semacam jadi "perang dunia ke-3" di rumah. Tapi Ismail remaja siap menuruti ayahnya, bahkan untuk hal yang mempertaruhkan nyawa. Ini menjadi pelajaran penting bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam suasana cinta kepada Allah dan penuh keteladanan dari orang tua akan tumbuh menjadi anak-anak yang lembut hatinya, patuh, dan siap menerima nasihat, bahkan ketika itu berat sekalipun. Maka, tugas penting untuk orang tua pada poin ini ialah, selain tempat bertumbuh dan mendidik, jadikan rumah juga sebagai tempat dialog yang nyaman dan penuh dengan kasih sayang, bukan hanya penuh dengan perintah dan larangan.
2. Teguh dalam Tauhid: Mencintai Allah Lebih dari Segalanya
Bakti Nabi Ismail ‘alaihissalam bukan hanya kepada ayahnya, lebih dari itu, kisah di atas tak lain merupakan wujud nyata dari besarnya rasa cinta beliau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia memahami bahwa ayahnya hanya menjalankan perintah dari-Nya, dan ia pun dengan penuh keyakinan dan ketundukan ikut serta dalam membantu ayahnya memenuhi perintah itu. Di sinilah peran besar pendidikan tauhid dalam keluarga termasuk anak-anak, yaitu pemahaman bahwa segala bentuk aturan dari Allah yang berupa perintah dan larangan itu pasti yang terbaik, meski terkadang tak bisa dipahami oleh kita, karena keterbatasan ilmu kita dan keluasan ilmu-Nya.
3. Dikenal Sebagai Sosok yang Menepati Janji
Sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Surat Maryam ayat ke-54 di awal, Nabi Ismail juga dikenal dengan sifat “Shaadiqal Wa’di” yaitu orang yang menepati janji. Sifat ini tampak begitu jelas ketika beliau benar-benar menepati janjinya kepada ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, agar bersabar ketika disembelih. Peristiwa ini benar-benar menunjukkan kepada kita semua bahwa beliau adalah sosok yang sungguh-sungguh dalam menepati janji.[2] Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka bagaimanakah pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. As-Saffat: 102).
Maka, sebagai orang tua, ajarkan anak-anak kita sejak dini bahwa janji bukanlah suatu hal yang main-main, juga dengan tidak bermudah-mudahan mengucapkan janji kepada anak, ketika kita tidak berniat untuk benar-benar menepati janji itu. Pun, ketika anak kita ajarkan untuk berjanji agar tidak mengulangi suatu kesalahan misalnya, maka ketika anak mengulanginya, kita perlu mengingatkan bahwa ada janji yang harus ditepati, juga ada efek jera yang mendidik dari tidak ditepatinya janji itu. Dengan ini, harapannya anak akan tumbuh dengan memaknai bahwa menepati janji merupakan bagian dari identitas dirinya sebagai seorang Muslim.
4. Rela Berkorban, Bertanggung Jawab, Tidak Mencintai Dunia dan Lebih Mengharapkan Rida Allah
Sikap rela Nabi Ismail untuk disembelih bukan hanya bentuk ketaatan, tapi juga pengorbanan tertinggi. Ia rela meninggalkan segalanya untuk Allah: hidupnya, masa mudanya, bahkan masa depannya. Tapi apa balasan Allah? Allah ganti penyembelihan itu dengan kambing dari surga.[3] Allah muliakan nama Ismail sepanjang masa di dalam Al-Qur’an, karena satu sikap pengorbanan yang tulus. Ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan, setiap pengorbanan yang ikhlas karena Allah semata, tidak akan pernah sia-sia.
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
“Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 107).
Dengan demikian, didiklah anak-anak kita agar tak selalu mencari kesenangan dunia semata. Dimulai dari mengajarkannya untuk menyelesaikan tugas tanpa harus selalu diawasi, sebagai bentuk menghargai amanah kecil yang dititipkan kepadanya, dan sebagainya, sebagai bentuk dari pengorbanan juga tanggung jawabnya. Latih anak-anak kita dalam kehidupan sehari-harinya untuk belajar bersabar, berbagi, dan menahan diri pada hal-hal yang tidak sesuai syariat, juga menahan diri dalam artian bahwa tidak semua hal yang diinginkan bisa langsung terwujud saat itu juga. Semua ini adalah latihan kecil untuk membentuk jiwa besar yang rela berkorban demi hal-hal mulia.
5. Anak yang Hebat Hadir dari Orang Tua Hebat
Tak bisa kita bahas Nabi Ismail tanpa menyinggung dua sosok luar biasa di baliknya: Nabi Ibrahim dan ibunda Hajar. Keduanya memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian Ismail. Hajar adalah ibu tangguh, yang rela ditinggal di padang pasir demi perintah Allah.[4] Ibrahim adalah ayah yang tak hanya mencintai anaknya, tapi juga mencintai Allah di atas segalanya. Keluarga ini adalah simbol bahwa ketika ayah dan ibu sama-sama bertakwa, anak akan tumbuh dengan bekal yang sungguh mulia, yakni keteguhan dalam tauhid. Dengan demikian, sebagai orang tua kita juga perlu bercermin, sudahkah kita menjadi orang tua yang dekat dengan Allah? Sudahkah kita menjadi teladan bagi anak-anak dalam kesabaran, ketaatan, dan keteguhan dalam bertauhid? Karena nilai-nilai ini tidak cukup hanya dengan kata-kata, melainkan harus terlihat langsung dalam sikap kita sehari-hari.
Penutup: Sangat Dianjurkan untuk Berdoa Agar Allah ‘Azza wa Jalla Menganugerahkan Anak yang Saleh
Sebagaimana sudah kita simak kisah yang begitu luar biasa mengenai keistimewaan dan kesalehan Nabi Ismail ‘alaihissalam, jangan lupa, bahwa ternyata, itu semua juga tak luput dari doa orang tua. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang juga sangat perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
“(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. As-Saffat: 100).
Demikian, semoga yang sedikit ini bisa kita ambil hikmah untuk kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allah karuniakan kepada kita berupa keturunan yang saleh-salehah, aamiin.
Daftar Pustaka:
- Al-Qur’an al-Karim
- Katsir, Ibnu. Tafsir Ibnu Katsir. Maktabah Syamilah.
- Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail. Shahih Bukhari. Maktabah Syamilah.
- Andirja, Lc., M.A., Dr. Firanda. Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalaam. (UFA Office, 2024).
- Asy-Syanqithy, Muhammad al-Amin. Adhwaa’ al-Bayaan fii Iidhaahi al-Qur’an bi al-Qur’an. Maktabah Syamilah.