Belajar Arti Sabar dari Perjuangan Hajar
Penulis: Azhar Rizki, Lc.
Editor: Athirah Mustadjab
Tentu sudah amat sering kita mendapatkan musibah di dalam hidup. Tak jarang musibah yang menerpa teramat berat kita rasakan. Namun demikian, roda kehidupan akan tetap terus berjalan, kita rela atau pun enggan. Sedangkan kita, mau tak mau harus menetapkan pilihan: berjalan terus melanjutkan hidup dan sekuat tenaga berdamai dengan takdir penuh rasa optimistis, atau menyerah di hadapan musibah dan menjadi pecundang yang lemah.
***
Sekian lama Ibrahim menikahi Sarah, keduanya belum kunjung diberi keturunan. Setelahnya, Sarah memberi masukan agar Ibrahim menikahi Hajar, budak wanita pemberian penguasa Mesir yang dulu pernah berniat jahat terhadap Sarah. Ibrahim menyambut dengan optimis. Ikhtiar mereka berbuah. Tak berselang lama Hajar mengandung. Seisi rumah bahagia menyambut kedatangan anggota keluarga yang baru. Ismail bin Ibrahim terlahir ke dunia. Layaknya tabiat wanita, lambat laun Sarah pun terbakar cemburu terhadap madunya. Sangat manusiawi.
Kegembiraan di keluarga mungil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tak berlangsung lama. Atas perintah Allah, sebentar lagi Ibrahim akan meninggalkan Hajar dan bayinya, Ismail, di sebuah tempat yang belum pernah sama sekali dinyana keberadaannya oleh Ibrahim. Sebuah ujian keimanan demi tujuan yang lebih besar dan hasil akhir yang lebih indah jika berhasil melewatinya. Seperti yang sudah-sudah, Sang Khalil tanpa sedikit pun ragu menerima perintah itu. Perbekalan safar lantas dipersiapkan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail yang masih bayi menuju tempat baru yang Allah telah tetapkan.
***
Dikisahkan, bahwa sepanjang perjalanan, Nabi Ibrahim diiringi oleh Malaikat Jibril yang menunjukkan di tempat beliau akan meninggalkan anak dan istrinya. Terbayang perasaan Nabi Ibrahim kala itu, baru saja menimang bayi yang digadang-gadang bakal meneruskan dakwah dan garis keturunan, Allah Ta’ala justru memerintahnya untuk meninggalkan kedua belahan jiwanya di tempat yang tak berpenghuni. Jikalau bukan karena iman dan prasangka baik kepada Allah, niscaya Ibrahim ‘alaihissalam tak akan melakukannya. Beliau paham bahwa kebahagiaan dan cinta yang hakiki akan ditemukan manakala ridha Allah dijadikan tujuan. Demikian pula dengan anak dan istrinya. Jika meninggalkan mereka di tempat asing itu membuat Allah ridha, Sang Khalil sekuat jiwa akan melaksanakannya.
Setelah mengantar anak dan istrinya, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk berbalik pergi. Ketika itulah, Hajar yang sedari awal tak banyak berucap, akhirnya mulai bersuara. “Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini?” tanyanya.
Terdiam. Ibrahim tak mampu berkata-kata. Akan tetapi, Hajar adalah wanita shalihah. Dengan pandangan yang jernih, dia mulai memahami situasi. Pasti ada motivasi lain yang membuat suaminya berteguh hati. Husnuzhan Hajar membuatnya bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahmu melakukannya?”
“Iya,” sesingkat itu. Meski hanya dengan sebuah kata, Ibrahim akhirnya menjawab.
Hajar meneguhkan suaminya, “Jika demikian, Dia pasti tak akan menyia-nyiakan kami.”
***
Ibrahim berprasangka baik kepada Allah mengenai urusan keluarganya. Hajar percaya kepada suaminya dan ber-husnuzhan kepada Rabb-nya. Dengan langkah berat, Ibrahim berjalan menjauh. Akan tetapi, di balik punggung yang tegap itu, Ibrahim melangitkan doa tatkala istri dan anaknya tak lagi tampak.
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)
Lengkap sudah bekal yang beliau tinggalkan bagi Hajar dan Ismail. Geriba air dan kurma sebagai makanan, dan yang terpenting adalah doa serta keyakinan. Ibrahim menitipkan keluarga kecilnya kepada Allah dalam doa tulusnya.
***
Isi geriba diteguk. Lalu diteguk, tanpa pernah diisi kembali. Akhirnya, air di dalamnya habis, sehingga tak ada setetes pun untuk diminum. Sedemikian hausnya hajar, hingga air susunya tak keluar. Si kecil Ismail menangis kehausan.
Tak kuasa menyaksikan tangisan bayinya, Hajar mondar-mandir di atas bentangan padang pasir. Adakah air? Adakah mata air?
Beratnya keadaan tak menghentikan Hajar untuk yakin terhadap janji Rabb-nya. Dia percaya bahwa hidup mereka tak akan berakhir begitu saja di sana. Dengan hati yang penuh tawakal semacam itu, dia ayunkan langkahnya sebagai ikhtiar. Dia berharap dan berdoa, tapi tak berlepas diri dari keharusan untuk menempuh sebab-sebab.
Hajar naik ke tempat terdekat yang paling tinggi. Adakah orang yang terlihat? Adakah pemukiman penduduk? Namun, tak ada apa-apa. Hampa.
Lantas ia palingkan matanya ke tempat semula. Berlari lagi menuju bukit pertama. Kejadian itu berlangsung hingga tujuh kali. Setiap kali Hajar sampai di tempat yang dia inginkan, ia dapati bahwa hatinya tertipu oleh matanya. Hanyalah fatamorgana yang sedari tadi terlihat.
Hajar yang gigih, tak berhenti karena gagal berkali-kali. Ia berusaha ... dan terus berusaha. Sampai tepat setelah ia selesaikan larinya, sayup-sayup terdengar suara.
“Diamlah!” bisik Hajar pada dirinya sendiri.
***
Hajar mengikuti sumber suara yang ternyata menuntunnya ke arah Ismail. “Jika kau bisa menolong kami, lakukanlah!” pintanya kepada sosok tak dikenal yang ada di sebelah bayinya.
Sosok itu adalah Malaikat Jibril. Tak berselang lama, Jibril menghentakkan kakinya.[1] Seketika itu juga, mengalirlah air dari bebatuan.
Hajar yang sedari tadi tercekik oleh kehausan, membendung aliran air itu dengan tangannya. Itulah Zamzam. Mata air yang menjadi bukti kegigihan seorang yang sangat besar tawakal dan keyakinannya pada Allah Ta’ala.
“Jangan takut dicampakkan! Sesungguhnya di sini adalah Baitullah yang akan dibangun oleh anakmu ini dan ayahnya. Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba pilihan-Nya,” hibur Jibril pada Hajar.
***
Selain mata air Zamzam, doa Ibrahim yang lain juga terkabul. Dengan adanya mata air, rombongan musafir pun mendekati area itu. Kabilah Jurhum dari Yaman lewat. Rombongan itu meminta izin untuk minum dan berbekal di sana. Semakin ramai tempat itu disinggahi, hingga akhirnya satu per satu Kabilah Jurhum bermukim di sana. Hajar mengizinkan mereka untuk bermukim di tempat itu dengan syarat bahwa hak sumur Zamzam tetap berada di tangan Hajar. Mereka sepakat dan hidup membaur dalam waktu yang lama. Demikian pula Ismail, dia tumbuh menjadi pemuda yang baik, berbakti, dan shalih, seperti doa sang ayah. Singkat ceritanya, kita saksikan hari ini, bahwa tempat yang awalnya kering, tandus, nan sunyi itu bisa berubah menjadi sebuah negeri yang makmur dan senantiasa diziarahi oleh kaum muslimin dari berbagai penjuru.
***
Berprasangka baik kepada Allah dan optimistis tatkala kepahitan melanda adalah dua pelajaran penting yang diajarkan oleh Ibrahim dan Hajar dari perjalanan hidup mereka. Hidup manusia di dunia ini tak pernah lepas dari ujian, baik itu ujian kesenangan maupun kesedihan.
Seorang mukmin sekuat hati berusaha senantiasa husnuzhan kepada Rabb-nya. Ia tatap kehidupan dengan optimisme karena ia yakin bahwa kebahagiaan abadi telah menanti di surga bagi orang-orang yang memegang teguh imannya selama di dunia.
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-Bidayah wa An-Nihayah. Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir. Tahqiq: Dr. Abdul Muhsin At-Turki. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Ar-Rahiq Al-Makhtum. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Al-Maktabah At-Tauqifiyyah, Mesir.
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir. Ad-Dar Al-‘Alamiyyah, Mesir.
- As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’ Al-Mashadir Al-Ashilah. Dr. Mahdi Rizqullah. Dar Zidni, Arab Saudi.
- Ensiklopedia Dorar Saniyah. Diakses melalui tautan https://dorar.net/hadith/sharh/138073.