Khotbah Jumat
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Bawalah Harta Sampai Mati

Penulis: Abu Ady

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc,. M.A.

Khotbah pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَالَ أَمَانَةً فِي أَيْدِي عِبَادِهِ، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُنْفِقُوا مِنْهُ فِي طَاعَتِهِ، وَوَعَدَ الْمُنْفِقِينَ بِالْخَلَفِ وَالْبَرَكَةِ وَالثَّوَابِ الْعَظِيمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ لَا دَارُ مَقَرٍّ، وَأَنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ، وَأَنَّ الْعَبْدَ سَيَقِفُ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ يَوْمًا فَيُسْأَلُ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Di antara perkara yang paling dicintai manusia adalah harta. Demi harta, seseorang rela bekerja sejak fajar menyingsing hingga malam menjelang. Demi harta, seseorang menempuh perjalanan jauh, meninggalkan kampung halaman, bahkan terkadang mengorbankan waktu bersama keluarga. Tidak sedikit orang yang mengukur kesuksesan hidup dengan jumlah harta-benda yang dimiliki, luas tanah yang dikuasai, atau besarnya saldo yang tersimpan di rekening pribadi. Namun di balik itu semua, terdapat satu kenyataan yang tidak pernah berubah sejak zaman Nabi Adam hingga manusia terakhir di muka bumi yaitu tidak ada seorang pun yang dapat membawa harta bendanya ketika kematian datang menjemputnya.

Ketika ruh telah sampai di tenggorokan, rumah yang megah tidak mampu menunda kematian walau sesaat. Kendaraan yang mahal tidak dapat membawa pemiliknya keluar dari alam kubur. Rekening yang penuh tidak dapat digunakan untuk membeli satu detik tambahan kehidupan. Jabatan yang tinggi telah berakhir, nama besar perlahan dilupakan, dan seluruh harta yang dahulu diuasahakan akan berpindah kepada ahli waris. Inilah hakikat dunia yang sering dilupakan oleh sebagian manusia.

Manusia pasti akan berpisah dengan hartanya

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berulang kali mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Semua yang kita miliki saat ini pada hakikatnya hanyalah titipan yang suatu saat akan diambil kembali oleh Pemiliknya.

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)

Ayat yang agung ini mencabut akar kesombongan manusia, sebab apa pun yang dibanggakan akan sirna. Harta akan lenyap, kekuasaan akan berakhir, keelokan wajah akan pudar dan kekuatan akan melemah. Yang tersisa hanyalah amal yang pernah dilakukan untuk Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala juga berfirman,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Kecintaan kalian kepada dunia, kenikmatannya, dan gemerlap perhiasannya telah melalaikan kalian dari mencari dan mengupayakan akhirat. Keterlenaan itu terus berlanjut pada diri kalian hingga datang kematian menjemput kalian, lalu kalian memasuki kubur-kubur dan menjadi penghuni-penghuninya." (Tafsir Ibnu Katsir, 8:450).

Betapa banyak manusia yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengumpulkan harta. Ketika masih muda ia berkata, “Aku ingin menabung dahulu.” Ketika telah mapan ia berkata, “Aku ingin memperluas usaha dahulu.” Ketika hartanya bertambah ia berkata lagi, “Nanti jika sudah benar-benar kaya aku akan banyak bersedekah.” Namun ternyata, kematian datang lebih cepat daripada rencana-rencananya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي. قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟

“Anak Adam berkata, 'Hartaku, hartaku!' Lalu Nabi bersabda, 'Wahai anak Adam, apakah yang benar-benar menjadi milikmu dari hartamu selain apa yang engkau makan lalu habis, atau apa yang engkau pakai lalu usang, atau apa yang engkau sedekahkan lalu engkau simpan (pahalanya untuk akhirat)?' (HR. Muslim nomor 2958)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa sebagian besar harta yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita. Yang benar-benar menjadi milik kita hanyalah yang digunakan untuk amal shalih.

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Renungkanlah berapa banyak orang kaya yang wafat sebelum menikmati seluruh hartanya. Berapa banyak bangunan yang selesai dibangun setelah pemiliknya meninggal dunia. Berapa banyak rekening yang masih penuh ketika pemiliknya telah berada di alam barzakh. Harta yang dahulu dikumpulkan dengan susah payah akhirnya dinikmati oleh orang lain. Sementara pemiliknya hanya menikmati harta yang bisa ia bawa mati.

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Lalu, bagaimana agar harta bisa dibawa mati? Sebagian orang berkata, “Harta tidak bisa dibawa mati.” Kalimat ini benar jika yang dimaksud adalah bentuk fisik harta tersebut, akan tetapi Islam mengajarkan bahwa sebagian harta dapat diubah menjadi bekal yang menemani seseorang setelah kematiannya.

Harta itu berubah menjadi pahala melalui sedekah, infak, wakaf, bantuan untuk dakwah, pembiayaan pendidikan Islam, bantuan kepada kaum fakir, yatim, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Ketika seorang muslim memberikan hartanya karena Allah, hakikatnya ia sedang memindahkan hartanya dari rekening dunia menuju tabungan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

“Dan kebaikan apa saja yang kalian kerjakan untuk diri kalian, niscaya kalian akan mendapatkannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah: 110)

Perhatikanlah bagaimana Allah menggunakan ungkapan, “Kalian kerjakan untuk diri kalian.” Sedekah bukanlah kehilangan, sedekah adalah keuntungan, sedekah bukanlah pengurangan harta. Sedekah adalah pemindahan kekayaan dari tempat yang fana menuju tempat yang kekal.

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada setiap bulir terdapat seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Mengapa kita memberi? Seorang muslim memberi bukan sekadar karena kasihan. Ia memberi karena iman. Ia membantu karena mengharapkan ridha Allah. Ia mendukung dakwah karena yakin bahwa agama Allah harus ditegakkan. Ia membantu pendidikan Islam karena berharap ilmu yang diajarkan menjadi cahaya baginya di alam kubur. Ia membantu kaum dhuafa karena memahami bahwa harta yang Allah titipkan kepadanya mengandung hak orang lain.

Kita harus memandang sedekah sebagai perdagangan yang paling menguntungkan dan yakin sadar bahwa keuntungan dunia memiliki batas, sedangkan keuntungan akhirat tidak akan pernah berakhir.

Harta yang sebenarnya milik kita

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat mendalam tentang hakikat kepemilikan harta. Beliau mengingatkan bahwa harta yang sesungguhnya menjadi milik seseorang bukanlah harta yang ia simpan, tetapi harta yang telah ia kirimkan sebagai bekal untuk akhirat melalui sedekah, infak, dan berbagai amal kebajikan. Beliau bertanya kepada para sahabat,

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟

“Siapa di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?”

Para sahabat menjawab,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ

Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun di antara kami kecuali hartanya sendiri lebih ia cintai.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ، وَمَالَ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Sesungguhnya hartanya adalah apa yang telah ia dahulukan (untuk akhirat), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari nomor 6077)

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Orang yang paling cerdas bukanlah orang yang paling banyak mengumpulkan harta. Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengirimkan hartanya menuju akhirat. Ia sadar bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan. Ia memahami bahwa setiap rupiah yang diinfakkan dengan ikhlas akan berubah menjadi cahaya, naungan, dan keselamatan pada hari kiamat.

Maka sebelum kematian menjemput, sebelum ahli waris membagi seluruh kekayaan yang kita miliki, sebelum nama kita hanya tinggal kenangan, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudah berapa banyak harta yang benar-benar telah kita kirimkan ke akhirat? Berapa banyak sedekah yang akan menyambut kita di alam kubur? Berapa banyak infak yang akan menjadi pemberat timbangan amal kita? Dan berapa banyak kebaikan yang akan menjadi saksi bahwa harta yang Allah titipkan kepada kita pernah digunakan untuk membela agama-Nya?

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نِعَمِ اللَّهِ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يُوَفِّقَهُ لِعَمَلٍ يَبْقَى أَجْرُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَيَجْعَلَ لَهُ ذِكْرًا حَسَنًا فِي النَّاسِ، وَثَوَابًا مُتَصِلًا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Sedekah jariyah, amal yang terus hidup setelah kematian

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Kita telah memahami bahwa harta yang sebenarnya milik kita adalah harta yang telah kita infakkan di jalan Allah. Pada khotbah kedua ini, marilah kita merenungkan satu bentuk amal yang keutamaannya sangat agung, yaitu sedekah jariyah. Sedekah jariyah adalah amal yang terus mengalir pahalanya walaupun pelakunya telah meninggal dunia. Inilah salah satu bentuk nyata bagaimana seorang muslim dapat membawa hartanya ketika mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim nomor 1631)

Ketika seluruh amal telah terputus karena kematian, ternyata masih ada amal-amal tertentu yang terus mengalir. Pahala tetap dicatat, kebaikan tetap bertambah, sementara pemiliknya telah berada di alam kubur.

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Betapa banyak bentuk sedekah jariyah yang dapat dilakukan seorang muslim. Ada yang mewakafkan tanah untuk masjid. Ada yang membantu pembangunan pesantren. Ada yang menyediakan sumur bagi masyarakat yang membutuhkan air. Ada yang mewakafkan mushaf Al-Qur’an. Ada yang membantu percetakan buku-buku Islam. Ada yang membiayai dakwah sunnah. Ada pula yang membantu pendidikan anak-anak muslim agar mengenal agamanya. Ketika seorang muslim membantu dakwah dan pendidikan Islam, ia tidak sekadar membantu sebuah program sosial. Ia sedang menanam investasi akhirat yang pahalanya dapat terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan manusia.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Di antara tipu daya setan yang paling sering menjerumuskan manusia adalah membuat seseorang menunda sedekah hingga ia merasa cukup kaya.

Allah Ta’ala berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا

“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 268)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Lindungilah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah separuh kurma.” (HR. Al-Bukhari nomor 1351 dan Muslim nomor 1016)

Perhatikanlah. Nabi tidak mengatakan, “Bersedekahlah ketika kalian kaya.” Beliau mengajarkan bahwa bahkan separuh kurma pun dapat menjadi sebab keselamatan seseorang dari neraka apabila dilakukan dengan ikhlas.

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Sebelum kita meninggalkan masjid ini, marilah kita bermuhasabah sejenak. Bayangkan apabila hari ini adalah hari terakhir kehidupan kita. Amal apa yang akan terus mengalir setelah kematian? Sedekah apa yang akan menemani kita di alam kubur? Wakaf apa yang akan terus memberi manfaat bagi kaum muslimin? Dakwah apa yang pernah kita bantu? Pendidikan Islam apa yang pernah kita dukung?

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ .اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا وَهَلَاكِنَا .اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الصَّدَقَةِ وَالْإِنْفَاقِ وَالْوَقْفِ وَجَمِيعِ أَعْمَالِنَا .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ .أَقِمِ الصَّلَاةَ.

Referensi

  • Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.


10