Bantulah Suamimu Terhindar dari yang Haram
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Faizah Fitriah
Sudah menjadi sunnatullah bahwa kehidupan dunia ini datang sepaket bersama ujian yang menyertainya. Sebuah fakta yang kita tak bisa menutup mata darinya—bahwa orang-orang yang beriman, pasti akan diuji oleh-Nya untuk menilai sejauh mana kejujuran mereka dalam keimanannya. Ini bukan semata tentang ujian berupa musibah, namun lebih daripada itu. Segala kenikmatan yang didapatkan, sejatinya juga merupakan bentuk ujian dari-Nya. Barangkali, tak sedikit yang bentuk ujiannya berupa kesempitan harta, pun sebaliknya, banyak pula yang bentuk ujiannya justru dengan diberikan kelapangan harta. Ini selaras dengan firman Allah 'Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 155 yang mungkin sudah tak asing di telinga kita, Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
"Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)
Dalam kehidupan rumah tangga, tak bisa kita pungkiri bahwa perihal nafkah adalah salah satu tanggung jawab utama bagi seorang suami. Di tengah arus zaman yang gencar menawarkan hal-hal instan dan serba kompetitif, godaan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak halal tentu bisa menjadi sangat kuat, terlebih ketika tuntutan dan ekspektasi dalam rumah tangga tidak sebanding dengan kemampuan riil sang suami.
Saudariku, cita-cita menjadi istri shalihah nan meneduhkan itu adalah sebuah proses, perjalanannya panjang, serta pembuktiannya adalah dalam keseharian kita. Menyadari akan peran dan pengaruh kita yang besar dalam menjaga dan mendukung suami, tentu sudah selayaknya memotivasi kita agar mendorong suami untuk menjemput rezeki yang halal. Mengapa demikian? Kemudian, apa saja upaya yang sekiranya bisa kita lakukan? Tidakkah kita ingin menjaga keluarga kita, anak-anak kita dan orang-orang yang kita sayangi agar terhindar dari harta yang haram? Insyaallah kita akan temukan jawabannya satu persatu hingga pada kalimat terakhir dari tulisan ini.
1. Doakan Suami Agar Diberi Rezeki yang Halal
Salah satu bukti ketulusan cinta adalah dengan doa. Inilah langkah utama yang bisa kita lakukan agar keluarga tercinta kita terhindar dari harta yang haram. Bagaimana tidak? Sebab kita berdoa kepada Allah Ar-Razzaaq; Yang Maha Pemberi Rezeki, kita meminta kepada Al-Ghaniy; Yang Maha Kaya, dan kita memohon kepada Al-Hasiib; Yang Maha Memberi Kecukupan.[1] Maka doakanlah suami agar Allah jaga dengan sebaik-baik penjagaan, baik itu dijaga fisiknya, dijaga (agar terhindar) dari harta yang haram, dimudahkan dalam menjemput rezeki yang halal, dijaga keimanan dan ketakwaannya. Di antara doa yang bisa kita lafalkan dan hafalkan ialah,
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga aku selamat) dari yang haram. Cukupilah aku dengan karunia-Mu (hingga aku tidak meminta) kepada selain-Mu.” (HR. at-Tirmidzi dan dinilai hasan gharib oleh Al-Albani rahimahullah)[2]
2. Sibukkan Diri dengan Ilmu dan Hal yang Bermanfaat
Perlu bagi seorang istri untuk terus mengevaluasi diri, apakah hari demi hari kita lewati dengan ilmu atau sesuatu yang bermanfaat? Atau malah sebaliknya? Dari 24 jam waktu yang Allah Ta’ala berikan, jangan sampai kita habiskan untuk sesuatu yang tidak berfaedah sama sekali. Ketahuilah, duhai saudariku, mengemban amanah sebagai seorang istri sekaligus ibu adalah tugas dan tanggung jawab yang tidak ada kata “cuti” di dalamnya. Acapkali waktu dalam sehari seakan-akan terasa kurang, sejak pagi buta sudah tersibukkan untuk menyiapkan segala perlengkapan suami bekerja, serta perlengkapan anak-anak ke sekolah, apalagi jika memiliki balita yang tak boleh luput dari pandangan barang sekejap mata, serta rangkaian pekerjaan domestik yang seolah tiada habisnya.
Akhawati fillah, jangan sampai fokus kita semata pada terselesaikannya pekerjaan rumah, tanpa adanya usaha untuk mencari keberkahan waktu yang kita punya. Sungguh, kurangnya ilmu agama dan mengikisnya keimanan adalah salah satu penyebab utama “kerusakan” dalam rumah tangga. Seorang istri yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan ilmu yang bermanfaat dan berusaha terus menjaga kualitas imannya, ia tidak akan mudah goyah dan tergoda oleh dunia. Jadikanlah ilmu agama sebagai perisai kita dalam menghadapi ujian kehidupan.
Akhawati fiddin akramakunnallah, ketahuilah, manakala seseorang tidak disibukkan dengan perkara yang bermanfaat bagi akhiratnya, maka ia akan disibukkan dengan perkara yang sia-sia, sehingga ia pun akan lebih mudah terbawa arus, kurang matang dalam meregulasi perasaan, dan tidak memiliki pendirian yang jelas. Hal inilah yang dapat menjadi pemicu rasa tidak bersyukur, menuntut suami di luar kemampuannya, mengikuti hawa nafsu saja, tidak mampu membedakan yang halal dan haram, tidak memahami hak-hak suami yang harus ia tunaikan, dan tidak bisa bersabar dalam melewati segala situasi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Al-Albani rahimahullah)[3]
3. Pandai Mengelola Keuangan dan Memiliki Sifat Qana’ah
Banyak dari keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan yang cukup, namun karena pengelolaan uang yang kurang baik, sehingga selalu saja merasa kurang. Di antara keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang istri ialah keterampilan mengelola keuangan. Pada rubrik edisi sebelumnya, alhamdulillah kita sudah membahas mengenai beberapa kiat dalam mengelola keuangan sesuai syariat, di antara kiat utamanya adalah dengan membiasakan menulis atau mencatat rencana pengeluaran tiap bulannya secara realistis. Dengan demikian, bi’idznillah pengeluaran akan lebih terkontrol dengan jelas dan insyaallah mencukupi kebutuhan dengan baik.
Selain pandai mengelola keuangan, sebagai seorang istri hendaknya berusaha memiliki sifat qana’ah dan berusaha menanamkannya pula pada anak-anak. Merangkum definisi qana’ah dari beberapa penjelasan para ulama, bahwa sifat qana’ah yaitu merasa cukup, rida, bersyukur serta bersabar atas apapun yang Allah Ta’ala berikan.[4] Sebagai upaya mewujudkannya, mari kita resapi bersama sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346 dan Ibnu Majah, no. 4141. Dinilai hasan gharib oleh Abu ‘Isa)
4. Menjadi Tempat Pulang yang Nyaman untuk Suami
Wahai para istri, mari kita renungkan, bekerja atau mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan dan menyenangkan keluarga itu bukanlah sesuatu yang ringan. Disadari atau tidak, terkadang kita terluput untuk memahami hal ini. Kita tidak pernah tahu sebesar apa tekanan yang harus dihadapi oleh para suami di luar sana. Persaingan, konflik, kelelahan, kesakitan dan kepayahan yang mungkin dipendam, juga menahan diri dari godaan tawaran jalan pintas yang haram, bi’idznillah semua itu dilakukan dalam rangka menjaga keluarga dari harta yang bathil.
Saudariku, sudah sepatutnya bagi seorang istri berusaha menjadi tempat pulang yang nyaman untuk suami setelah kelelahan panjang yang mereka hadapi. Sudah sepatutnya bagi kita untuk meringankan, menghibur, dan menjadi penenang yang baik dalam kehidupan suami. Jangan membuatnya semakin lelah dengan keluhan, tuntutan, dan sikap maupun perkataan kita yang kurang baik kepadanya. Tahap ini insyaallah akan mudah diterapkan ketika kita sudah menerapkan poin pertama dan kedua, yakni terus menyibukkan diri dengan ilmu agama sehingga Allah Tabarak wa Ta’ala berikan taufik untuk mengetahui bagaimana menjadi istri shalihah dan memiliki sifat qana’ah.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rūm: 21).
5. Tiga Kunci Ketenangan dalam Segala Situasi Ekonomi
Saudariku yang semoga dimuliakan oleh Allah, tahukah kita bahwa setidaknya ada tiga kunci ketenangan dalam setiap kondisi ekonomi? Lantas, apa sajakah itu? Ia adalah syukur, sabar, dan takwa kepada Allah 'Azza wa Jalla. Dikutip dari perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam: (1) Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah; dalam konteks ini seperti bersabar untuk hidup dalam kesederhanaan demi menjaga kehalalan nafkah. (2) Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah; dalam hal ini, maka bersabar menahan keinginan yang bisa menjerumuskan suami pada utang atau jalan yang curang. (3) Bersabar dalam menghadapi segala takdir Allah yang menimpanya, yakni berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia, atau yang berasal dari orang lain[6]; dalam hal ini, maka bersabar menerima kondisi keuangan yang mungkin belum ideal tanpa menyalahkan suami atau merasa rendah diri.
Cukuplah firman Allah 'Azza wa Jalla dalam dua ayat ini menjadi motivasi bagi kita dalam menerapkan syukur dan sabar,
اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan." (QS. Az-Zumar :10)
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)
Semoga dengan yang sedikit ini, Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk menjadi sebaik-baik perhiasan dunia (re: wanita shaliha). Amin.
Wabillahit taufiq, wallahu a’lam.
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan at-Tirmidzi, Maktabah Syamilah.
- Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Shahih Sunan at-Tirmidzi, Maktabah Al-Ma’arif lin Nasyr wat-Tauzii’: Riyadh.
- Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Shahiihut Targhiib wat Tarhiib, Maktabah Syamilah.
- ‘Iyadh, Al-Qadhi, Masyariqul Anwar ‘ala Shihahil Atsar, Maktabah Syamilah.
- Al-Badr, Abdur Rozzaaq bin Abdil Muhsin Al Abbad, Fiqhul Asma’ul Husna, Daarut Tauhid lin Nasyr: Riyadh.
- Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih, Syarhu Tsalatsatul Ushul lil ‘Utsaimin, Maktabah Syamilah.