Aqidah

Bangkit dari Keterpurukan dengan Meningkatkan Iman

Penulis: Ary Abu Ayyub

Editor: Athirah Mustadjab


Ujian dan cobaan hidup adalah sunnatullah yang berlaku kepada setiap insan. Jatuh dan terpuruk pun kadang tidak terelakkan. Kehilangan, kegagalan, kemiskinan, sakit, serta tekanan psikologis dan sosial adalah contoh cobaan yang seringkali harus dirasakan.

Bagi seorang mukmin, semua itu adalah bagian dari ketetapan Ilahi. Banyak hikmah yang pasti bisa digali. Tak perlu putus asa dan merasa semua jalan telah terkunci. Menguatkan iman adalah solusi yang pasti, karena Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidaklah memikulkan beban di luar kemampuan dan tanpa solusi.

Artikel ini, insyallah, akan membahas bagaimana keimanan yang kuat dapat menjadi faktor utama dalam membangun ketahanan diri (resilience) serta strategi psikologis dan spiritual yang ditawarkan oleh Islam dalam menghadapi berbagai cobaan dan bangkit dari keterpurukan.

Pola Pikir Seorang Mukmin terhadap Problematika Hidup

Orang yang beriman memiliki cara pandang yang positif terhadap berbagai ujian yang menimpanya, di antaranya:

Pertama, ujian adalah bagian dari takdir Allah yang telah Dia tetapkan jauh sebelum menciptakan langit dan bumi. Seorang mukmin yakin bahwa apa pun yang ditentukan-Nya pasti baik dan mengandung hikmah. Allah berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Al-Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653 dan At-Tirmidzi no. 2156)

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117)

Kedua, ujian dan cobaan adalah konsekuensi dari pernyataan iman seorang mukmin. Allah berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِين

“Dan sungguh Kami (Allah) akan memberikan cobaan kepada kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa, dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أشدُّالناسِ بلاءً الأنبياءُ ، ثم الأمثلُ فالأمثلُ ، يُبتلى الناسُ على قدْرِ دينِهم ، فمن ثَخُنَ دينُه اشْتدَّ بلاؤُه ، و من ضعُف دينُه ضَعُف بلاؤه ، و إنَّ الرجلَ لَيُصيبُه البلاءُ حتى يمشيَ في الناسِ ما عليه خطيئة

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang paling baik setelahnya, lalu orang yang paling baik setelahnya. Oleh karena itu, barang siapa yang agamanya kokoh maka cobaannya juga berat, sedangkan orang yang agamanya lemah maka cobaannya juga ringan. Dan sungguh seseorang akan terus ditimpa cobaan hingga dia berjalan di tengah-tengah manusia tanpa dosa sedikit pun.” [(HR. Ibnu Hibban no. 2900)

Ketiga, ujian dan cobaan adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Oleh karena itu, barang siapa yang ridha (dengan ketetapan Allah) maka Allah akan ridha kepadanya, dan barang siapa yang tidak ridha maka Allah pun tidak akan ridha kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320 dan Ibnu Majah no. 4021)

Keempat, mungkin saja ujian adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk seorang mukmin dan penyebab keselamatan baginya dari azab akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Dia akan menyegerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki kejelekan untuk hamba-Nya maka Dia akan menahan darinya hukuman karena dosanya sehingga kelak di akhirat Dia akan menyempurnakan hukuman untuknya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2319 dengan sanad yang hasan)

Kelima, ujian adalah penggugur dosa dan penyebab diangkatnya derajat di sisi Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه

Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampai pun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya. (HR. Al-Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573)

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَه ُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan padanya suatu tingkatan di surga yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya, atau pada anaknya kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan di surga yang telah Allah tetapkan untuknya. (HR. Abu Daud, no. 2686)

Keenam, ketika kiamat tiba, ujian dan musibah yang kita alami di dunia akan didambakan oleh orang-orang yang tidak mengalaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيض

“Pada hari kiamat kelak, orang-orang yang tidak ditimpa musibah (saat di dunia), ketika melihat orang-orang yang ditimpa musibah di dunia diberi pahala, akan berangan-angan kalaulah dulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2326)

Melalui pola pikir seperti itu, seorang mukmin akan ridha ketika menghadapi musibah, menyikapi segala problematika yang ada dengan hati lapang, memohon pertolongan dari-Nya, melakukan ikhtiar yang tidak melanggar aturan-Nya, dan kemudian bertawakal kepada-Nya akan hasil usahanya. Kesadaran tersebut menjadikan seorang mukmin cenderung memiliki daya tahan mental yang lebih baik dalam menghadapi stres dan tekanan hidup dibandingkan orang-orang yang tidak beriman.

Ajaibnya Orang yang Beriman

Bagi seorang mukmin, keadaannya selalu baik. Kesenangan dan ujian baginya hanyalah seperti tamu yang datang dan pergi silih berganti. Dia diajarkan untuk menghadapi baik musibah maupun nikmat dengan sikap yang proporsional, yang itu baik akibatnya untuk dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, karena segala urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan maka ia bersabar, dan itu juga baik baginya." (HR. Muslim)

Imam Al-Munawi, dalam Faidh al-Qadir, menekankan bahwa keajaiban keadaan seorang mukmin terletak pada kemampuannya untuk bersyukur saat mendapatkan nikmat dan bersabar saat menghadapi musibah, sikap yang tidak dimiliki oleh selain mukmin.[1]

Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan iman dan sikap seorang mukmin yang selalu dalam kebaikan. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur, dan ketika tertimpa musibah, ia bersabar. Kedua sikap ini membawa kebaikan baginya.[2]


Syaikh Al-Utsaimin berkata, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk beriman, bahwa orang beriman selalu dalam kebaikan dan nikmat. Di dalamnya juga terdapat dorongan untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan, bahwa itu adalah sifat orang beriman. Jika kamu melihat dirimu memiliki sifat penyabar dan bersabar dalam menghadapi kesulitan, menantikan pertolongan dari Allah Ta’ala, serta mengharapkan pahala dari Allah, maka itu adalah tanda keimanan. Jika kamu melihat sebaliknya, maka tegurlah dirimu sendiri, perbaiki jalanmu, dan bertobatlah kepada Allah.”[3]

Dalam ilmu psikologi modern, bersyukur dalam kondisi baik dan bersabar dalam kondisi sulit mencerminkan strategi emotional regulation yang sangat efektif.[4] Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki kebiasaan bersyukur memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap stress.[5]

Bangkit dari Keterpurukan dengan Meningkatkan Iman

Dari uraian di atas, nyatalah bahwa tidak ada jalan yang lebih baik untuk bangkit dari keterpurukan selain dengan meningkatkan keimanan. Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.

1. Memperdalam tauhid, meningkatkan iman kepada Allah, hari akhir, dan qadha serta qadarnya.

Karena menguatnya tauhid, seseorang akan semakin menyandarkan hidupnya hanya kepada Allah. Dia yakin dunia bukanlah segalanya. Jika ada yang terluput darinya, masih ada akhirat yang jauh lebih baik baginya. Di sisi lain, dia sangat yakin dengan ketentuan Allah atas diri-Nya. Keimanan kepada takdir (qadha dan qadar) adalah salah satu aspek fundamental dalam Islam yang memiliki dampak psikologis yang signifikan. Seorang mukmin yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah dalam ketetapan Allah dan pasti mengandung hikmah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Bahkan, ia yakin bahwa dengan keridhaannya, Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk untuk keluar dari segala permasalahan hidup yang menimpanya. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah menyebutkan dalam Majmu’ al-Fatawa bahwa seseorang yang memiliki keimanan yang kuat akan melihat setiap ujian sebagai bagian dari proses penyucian diri dan peningkatan derajat di sisi Allah. Ia menyatakan bahwa ketergantungan penuh kepada Allah adalah inti dari ketahanan spiritual.[6]

Menurut Ibnul Qayyim, dalam Al-Fawaid, memahami takdir membuat seseorang lebih tenang dalam menghadapi kehidupan. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang ridha terhadap ketetapan Allah akan memiliki hati yang damai, sedangkan orang yang terus mengeluh dan menolak ketentuan Allah akan hidup dalam kecemasan.[7] Dalam Madarij As-Salikin beliau menyebutkan bahwa ridha terhadap takdir termasuk kebahagiaan anak Adam, sedangkan marah kepada takdir merupakan penderitaannya. Ridha membuatnya tidak putus asa karena sesuatu yang tidak bisa didapatkannya dan tidak gembira karena sesuatu yang didapatkannya. Ini termasuk tanda kebaikan iman. Barang siapa yang hatinya dipenuhi keridhaan kepada takdir, Allah memenuhi dadanya dengan kekayaan, rasa aman, dan kepuasan.[8]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menegaskan bahwa ketundukan kepada takdir Allah akan membawa ketenangan hati dan menghilangkan kecemasan yang berlebihan. Menurutnya, orang yang memiliki iman yang kokoh akan selalu melihat sisi positif dalam setiap cobaan yang menimpanya.[9]

Penjelasan di atas didukung oleh ilmu pengetahuan modern. Dalam psikologi, konsep ini berhubungan dengan locus of control. Orang yang memiliki internal locus of control cenderung percaya bahwa mereka masih memiliki kendali atas respons mereka terhadap berbagai peristiwa, meskipun kejadian itu sendiri telah ditetapkan oleh Allah. Sikap ini membangun mentalitas yang kuat dalam menghadapi berbagai situasi sulit.[10]

2. Memperbanyak istigfar dan bertobat kepada-Nya.

Ar-Rabi’ bin Shabih menceritakan banyak orang mengadukan berbagai cobaan yang mereka hadapi kepada Al-Hasan Al-Bashri. Semua diberikan jawaban yang sama, “Beristigfarlah kepada Allah!” Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata dengan heran Al-Hasan Al-Bashri, “Banyak orang yang mengadukan macam-macam perkara dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristigfar?” Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman,

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai.” (QS Nuh: 10-12)[11]

3. Memperbaiki shalat dan memperkuat kesabaran.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Syaikh As-Sa’di berkata, “Allah memerintahkan kepada mereka untuk meminta pertolongan dalam (menyelesaikan) segala urusan mereka dengan kesabaran dalam segala bentuknya, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah hingga dia mampu menunaikannya, sabar dari kemaksiatan hingga dia menghindarinya, dan sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan agar dia tidak mengecamnya. Kesabaran dan menahan diri terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah untuk bersabar atasnya adalah sebuah pertolongan yang besar dalam setiap perkara dari perkara-perkara yang ada.”[12]

Ibnu Jarir berkata, “Hudzaifah bin Al-Yaman berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mendapati kesulitan dalam suatu urusan, segera mengerjakan shalat.”[13]

4. Memperbanyak doa dan zikir.

Doa adalah senjata utama seorang mukmin sedangkan dzikir adalah penawar dan segala gundah gulana. Dengan menggabungkan zikir dan doa, bertambahlah keimanan seorang muslim dan terangkatlah darinya beban-beban kehidupan yang berat. Allah berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Al-Hakim)

5. Tawakal kepada Allah.

Allah berfirman,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ

“Bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahahidup yang tidak mati.” (QS. Al-Furqan: 58)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)-nya.” (QS Ath-Thalaq: 3)

Syaikh Ibnu Baz berkata, “Hakikat tawakal kepada Allah adalah bersandar kepada-Nya dalam segala hal, mengetahui bahwa Dia-lah yang menentukan segala sesuatu dan penyebab segala sebab, bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak dan takdir-Nya, serta kamu mengerjakan sebab-sebabnya ….”[14]

Penutup

Demikianlah, seorang mukmin hendaknya tidak berputus asa ketika jatuh dan terpuruk karena banyaknya cobaan hidup yang dideritanya. Ada Allah -- Tuhannya, penciptanya, dan pemilik alam semesta -- tempat ia bisa bergantung dan meminta. Jika iman kepada-Nya , insyallah segala badai akan dapat dihadapi dan masih tersisa segala pengharapan baik yang dapat dipetiknya di akhirat nanti. Wallahu a’lam.

Referensi

  1. Al-Fawaid. Al-Imam Ibnul Qayyim.
  2. Faidhul Qadir. Al-Imam Al-Munawi.
  3. Madarij As-Salikin. Al-Imam Ibnul Qayyim.
  4. Majmu’ Al-Fatawa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  5. Situs Web Syaikh bin Baz. https://binbaz.org.sa/audios/2132/13-من-حديث-عجبا-لامر-المومن-ان-امره-كله-له-خير
  6. Situs Web Alukah. https://www.alukah.net/sharia/0/137020/
  7. Tafsir As-Sa’di. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
  8. Tafsir Al-Qurthubi. Al-Imam Al-Qurthubi.
  9. Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
  10. Julian B. Rotter (1966). Generalized Expectancies for Internal versus External Control of Reinforcement. Psychological Monographs (Volume 80, Whole No. 609)
  11. Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377–389
0