Tautan rekaman: https://youtu.be/KO7OTi6Ipik
Bahaya Kezaliman dan Jalan untuk Kembali
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Faizah Fitria
Manusia adalah makhluk sosial. Kita sebagai manusia tentu tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain, harus berinteraksi dengan orang lain, dan bergaul dengan mereka. Namun, pada saat yang sama, kita juga adalah makhluk yang sebagaimana dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan.” (HR. Ibnu Majah)
Maka, sejalan dengan hadits ini, kita mendapati di dalam pergaulan, baik secara sadar maupun tidak sadar, sengaja ataupun tidak sengaja, tak dapat dipungkiri akan ada ucapan yang menyakiti hati orang lain. Terkadang pula, ada tindakan yang menyinggung perasaan orang lain. Bisa jadi ketika berinteraksi, ada adab-adab yang luput dari perhatian kita. Di antara hal tersebut, ada yang mungkin dianggap sepele oleh manusia, namun ada pula di antaranya yang justru termasuk kezaliman yang nyata.
Akan tetapi, satu hal yang pasti yakni seluruh bentuk kezaliman—baik yang kecil maupun yang besar—semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak.
Bentuk-bentuk Kezaliman
Secara umum, kezaliman terhadap sesama manusia terbagi menjadi tiga bentuk:
- Kezaliman terhadap fisik mereka
- Kezaliman terhadap harta mereka
- Kezaliman terhadap kehormatan mereka
Sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُم
"Sesungguhnya darah dan harta kalian, haram bagi sesama kalian." (HR. Muslim).
Berdasarkan penggalan hadits di atas, maka kezaliman itu bisa terjadi dalam berbagai bentuk.
1. Kezaliman terhadap Fisik
Di antaranya adalah kezaliman terhadap fisik, misalnya memukul tanpa hak atau membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah.
2. Kezaliman terhadap Harta
Ada pula kezaliman terhadap harta, yaitu mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa hak, seperti mencuri, mencopet, atau merampok. Termasuk juga ketika seseorang menahan harta milik orang lain lalu tidak mengembalikannya kepada pemiliknya.
3. Kezaliman terhadap Kehormatan
Di antara bentuk lainnya ialah kezaliman terhadap kehormatan saudara kita, seperti menghina, mencela dengan lisan, meremehkan dengan isyarat mata, memfitnah, atau perundungan (bullying). Semua ini termasuk berbagai bentuk kezaliman yang wajib kita waspadai.
Kezaliman: Sebuah Kegelapan dan Kebangkrutan
Di dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,
اتَّقُوا الظُّلْمَ. فَإِنّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jauhilah oleh kalian kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Kaum muslimin akramakumullah, ketahuilah, pada hari kiamat kelak, kezaliman yang dilakukan oleh seseorang di dunia akan menjadi penghalang cahaya di waktu di mana manusia sangat membutuhkan penerangan. Dia harus menapaki ash-shirath yang sangat tajam dan gelap. Seseorang yang melakukan kezaliman di dunia, maka kezaliman itu akan menjadi kegelapan baginya di hari tersebut. Semakin banyak kezaliman yang dilakukan seseorang, maka akan semakin pekat kegelapan yang akan menyelimutinya di hari tersebut.
Doa orang yang terzalimi adalah di antara doa yang mustajab, doa orang yang terzalimi dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang kebangkrutan paling dahsyat, bahkan lebih dahsyat daripada kebangkrutan seseorang di bumi ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
إنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, zakat, dan puasa. Akan tetapi, ia pernah mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diberikanlah kepada orang-orang yang pernah ia zalimi itu dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum seluruh hak mereka ditunaikan, maka dosa-dosa mereka diambil lalu dibebankan kepadanya. Kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim)
Tentunya, ini adalah kebangkrutan yang sangat besar. Seseorang selama bertahun-tahun bersusah payah mengumpulkan bekal akhirat sedikit demi sedikit. Ia menempuh safar, mengeluarkan harta, bangun untuk mengerjakan shalat malam, dan mengerahkan tenaganya demi mendapatkan pahala serta kebaikan.
Namun, karena kezaliman yang ia lakukan—karena tangannya mudah menyakiti orang lain, lisannya ringan mencela, dan ia bermudah-mudahan dalam mengambil harta orang lain tanpa hak—akhirnya seluruh kebaikan yang telah ia kumpulkan itu lenyap begitu saja. Semua pahala tersebut dibagikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi.
Betapa besar kerugian orang seperti ini. Ia telah berjuang lama untuk mengumpulkan amal, tetapi pada akhirnya kehilangan semuanya karena kezaliman terhadap sesama. Dengan demikian, sadarlah kita, betapa mengerikannya dampak perbuatan zalim itu.
Lantas, adakah jalan keluar bagi kita yang telanjur melakukan kezaliman?
Solusi Islam bagi Orang yang Pernah Berbuat Zalim
Ketika Islam memperingatkan umatnya dari perbuatan zalim, Islam juga memberikan solusi dan jalan keluar. Oleh karena itu, sepatutnya bagi seorang muslim, ketika dia merasa pernah melakukan kezaliman kepada orang lain, segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nasuha.
Allah Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰر
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8).
Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَه
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah)
Dari sini, para ulama menjelaskan bahwa orang yang terjatuh dalam kezaliman hendaknya menempuh dua langkah penting:
1. Bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh
Kesungguhan di dalam bertaubat yaitu dengan menyesali perbuatan zalim yang telah dilakukan, segera meninggalkan kezaliman tersebut, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.
2. Menunaikan hak manusia yang pernah dizalimi
Kezaliman yang berkaitan dengan hak sesama manusia tidak cukup hanya dengan istighfar dan taubat kepada Allah, akan tetapi juga harus disertai dengan meminta maaf, meminta dihalalkan, dan mengembalikan hak jika ada hak yang telah diambil atau dirusak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barang siapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya ataupun selain itu, hendaklah ia meminta saudaranya tersebut menghalalkannya hari ini, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal shalih, maka akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa saudaranya akan diambil lalu dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Ketahuilah bahwasanya sebagai manusia, kita tak akan luput dari kesalahan, sebab sudah merupakan sunnatullah bahwa manusia tempatnya salah dan lupa. Namun, ketika kita menyadari bahwa kita telah berbuat zalim kepada orang lain, jangan menunda untuk meminta maaf.
Jangan sampai rasa gengsi atau rasa malu menghalangi kita untuk memperbaiki kesalahan. Mintalah maaf, meskipun orang yang kita zalimi lebih tua daripada kita, sebaya dengan kita, teman dekat kita, atau bahkan lebih muda daripada kita. Sungguh, lebih baik menanggalkan rasa malu di dunia daripada menanggung penyesalan yang sangat besar di akhirat. Jangan sampai pada hari kiamat kebaikan-kebaikan kita diambil untuk membayar kezaliman yang pernah kita lakukan, atau dosa-dosa orang yang kita zalimi justru dilimpahkan kepada kita. Wal’iyadzubillah.
Maka bersegeralah pada hari ini, sebab saat ini—di dunia—adalah waktunya, dan sekarang adalah kesempatan kita, untuk membersihkan diri dari berbagai bentuk kezaliman, sebelum datang hari ketika penyesalan tak lagi berguna.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada kita untuk menjauhi seluruh bentuk kezaliman. Aamiin.
Hadza wallahu a’lam.