Ayah, Rumah, dan Ibadah yang Terus Menyala
Reporter: Rizky Aditya Saputra
Redaktur: Gema Fitria
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَل
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783)[1]
Bulan Ramadhan baru saja berlalu, tapi semangat ibadah jangan ikut lesu. Nyala ibadah tetap perlu dijaga, dimulai dari hal yang konsisten dan sederhana. Ibarat sebuah perlombaan, Ramadhan adalah puncak ibadah dalam setahun. Namun setelah bulan Syawwal ada tiga bulan haram berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Bulan haram ialah bulan yang dimuliakan dan ini tak bisa dipandang sebelah mata.
Pada bulan haram, pahala amal-amal ibadah dilipatgandakan. Begitupun maksiat yang kadar dosanya akan menjadi lebih berat. Dalam konteks rumah tangga, seorang ayah yang memegang peran qawwam memiliki andil besar. Bukan hanya mengingatkan semua anggota keluarga tentang kemuliaan bulan haram, tetapi hendaknya turut hadir sebagai sosok yang memberi teladan.
Belajar menghidupkan kesadaran keluarga sore itu, Abu Khalifah tengah menunggu Maghrib. Di pertengahan bulan ini, ia baru saja menuntaskan puasa sunnah Syawwal. Rupanya, aktivitas tersebut menjadi perhatian buah hatinya, Khalifah, yang berusia tujuh tahun.
“Anakku heran kok di rumah ayahnya masih puasa, padahal Ramadhan sudah berlalu. Kebetulan di tahun ini, ana berpuasa Syawwal enam hari berturut-turut. Jadi Khalifah heran, dikira masih Ramadhan,” ucap Akhuna Abu Khalifah kepada Majalah HSI.
“Kalau mengenai bulan haram, dia sudah tahu keutamaannya. Terutama momen-momen saat 10 hari pertama Dzulhijjah dan 10 Muharram. Oh iya, dan juga soal pahala dan dosa yang dilipatgandakan balasannya di bulan haram,” sambungnya.
Bagi akhuna Abu Khalifah, menasihati anak lewat sebuah contoh nyata adalah taktik jitu yang jarang gagal, terutama jika contoh itu diberikan langsung oleh orang tua.
“Dulu saya memberi edukasi hanya dengan lisan. Hasilnya, anak sulit melakukannya karena tidak ada contoh. Jadi saya buat kesepakatan dengan istri, kalau mau menyuruh anak melakukan ibadah tertentu, kita sebagai orang tua harus mencontohkannya terlebih dahulu,” jelasnya.
Jika anak diibaratkan sebagai kertas putih yang kosong, maka ayah memiliki peran penting sebagai penulisnya. Dari sosok sang qawwam, kertas itu diisi dengan tinta kebaikan atau keburukan. Dan bila sudah tertulis, goresan itu akan sulit dihapus.
“Anak itu ibarat kertas putih. Dan orang tua adalah penulis yang dalam konteks ini memberi pijakan awal dalam pendidikan. Mengenai apakah sosok ayah merupakan pengarah suasana rumah, itu bisa dibilang tepat. Sebab, selain ayah bertugas mencari nafkah, dia juga wajib menjaga keluarganya. Seorang ayah bisa membuka topik, memberi contoh, sekaligus berpartisipasi dalam semua kegiatan di rumah,” ungkap Akhuna Ridwan yang masih kerabat Abu Khalifah.
Sebagai ayah dua anak, Akhuna Ridwan menyadari betul dampak kehadirannya di tengah keluarga. Meski hanya beberapa menit merajut kebersamaan, efeknya dapat dirasakan hingga sekarang.
“Dulu ana hampir tidak pernah benar-benar hadir di tengah keluarga. Setelah tahu ilmunya, ana coba membuat beberapa kebiasaan kecil dan sederhana, misalkan setiap ba’da Ashar, ana, istri, dan anak-anak, wajib membaca Al-Qurán dengan mushaf. Efeknya, maasyaa allah luar biasa. Saat ana tidak ada pun, mereka tetap melakukan dan sudah menjadi kebiasaan,” kata Akhuna Ridwan bersyukur.
Tips Praktis Menjaga Ibadah
Ibadah bukan cuma sekadar kewajiban, melainkan juga bukti pengabdian setiap makhluk kepada Sang Khaliq. Ibadah tidak selalu dimulai dari hal besar. Langkah kecil yang sederhana justru dapat berdampak jika dilakukan secara konsisten.
Ada beberapa tips yang dapat ikhwah fillah ikuti untuk menjaga nyala api ibadah di luar Ramadhan. Dua hal terpenting adalah menjaga shalat berjama’ah dan merutinkan tilawah Al-Qur’an.
“Banyak kaum muslimin yang masih menganggap remeh shalat berjama’ah. Padahal, ini amalan dasar yang perlu diperkuat. Dalam sebuah hadits, Nabi mengatakan bahwasanya shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab dan menjadi indikator. Jika shalatnya baik, maka ibadah lainnya akan baik. Begitupun sebaliknya,” terang akhuna Ridwan.
“Alhamdulillah, jika urusan shalat sudah, maka yang kedua adalah membaca Al-Quran. Ibarat dua mata uang, keduanya nyaris tidak dapat dipisahkan. Karena untuk memahami isi ajaran Islam yang benar, dibutuhkan Al-Qur’an sebagai jawabannya. Dengan begitu, api ibadah kita insyaallah akan terus menyala,” tuturnya.
Selain shalat berjama’ah dan tilawah Al-Qur’an, ibadah dzikir pagi-petang juga tak bisa dianggap sepele, karena ia mampu membentengi diri dan keluarga dari masalah eksternal seperti sihir dan ‘ain, biidznillah.
“Dzikir itu fungsinya banyak, selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, dzikir juga dapat menjadi benteng terakhir dari sihir, hasad, atau ‘ain,” kata Abu Khalifah.
Menciptakan Lingkungan yang Mendukung
Di era digital seperti sekarang, kemajuan teknologi hadir layaknya dua mata pisau. Ia membuka akses luas terhadap ilmu pengetahuan dan memudahkan akses belajar. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi dan hiburan melalui gawai, justru kerap membuat kita lalai, termasuk dalam menjaga kedekatan dengan mushaf Al-Qur’an.
Hal ini tentu menjadi tantangan kita bersama, khususnya di lingkungan keluarga. Sejumlah upaya sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi distraksi penggunaan gawai dan hiburan secara berlebihan.
“Ana pernah mendengar perkataan seorang ulama, jika mau melihat hubungan para salaf dengan Al-Qur’an, maka lihatlah hubungan kita dengan gawai sekarang. Para salaf dulu begitu dekatnya dengan Al-Qur’an, sedangkan kita begitu lalainya. Maka dari itu, kita sebagai orang tua harus memberikan batasan kepada anak dalam menggunakan gawai,” ujar akhuna Abu Khalifah.
“Selain itu, kita juga dapat menjadikan rumah sebagai tempat yang ramah untuk belajar. Tidak ada bentakan, melainkan suasana yang teduh di dalamnya. Dan sebagai orang tua, kita juga harus memberikan contoh kepada anak-anak daripada sekadar memerintah saja,” ucap salah satu santri HSI ini.
Istiqamah Setelah Ramadhan
Semangat tinggi sering memudar ketika rutinitas telah kembali, sedangkan konsistensi ibadah setelah Ramadhan adalah tantangan nyata. Perlu diingat juga bahwasanya istiqamah merupakan akumulasi langkah kecil yang terus diulang. Ia tidak lahir begitu saja dari satu lompatan besar. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan keteguhan hati dalam menjaga rutinitas selepas Ramadhan.
“Selama Ramadhan, kita dimudahkan dalam beribadah karena situasi dan kondisinya mendukung. Selepas Ramadhan inilah, tantangan sesungguhnya. Kita butuh circle yang mendukung, dan keimanan yang terus dijaga,” kata Akhuna Ridwan tegas.
“Kita ini lemah, kita wajib berdoa kepada Allah agar membuat hati ini istiqamah dalam ketaatan. Luruskan niat dan terus melakukan ibadah sunnah,” tutupnya.
Menjaga ibadah adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran dan keteguhan. Garis akhirnya adalah kematian yang datang tanpa aba-aba, dan tak disangka.
Dalam perjalanan ibadah ini, sosok ayah hadir bukan sekadar sebagai pemimpin, tetapi juga penjaga nyala. Sang Qawwam wajib memastikan cahaya kebaikan tetap terang di tengah rumahnya. Kobarkan terus meski kadang meredup terombang-ambing angin. Semoga sinarnya benderang di bulan haram yang mulia pun selamanya. Selamat berjuang, Pak. Mari jaga keluarga kita agar terhindar dari api neraka.