Asyiknya Bercanda Bersama Anak
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Chania Maulidina
Anak-anak banyak bergantung pada orang dewasa, mulai dari ketergantungan fisik hingga psikologis. Ketika belum bisa berjalan sendiri, anak-anak perlu digendong. Ketika belum bisa makan sendiri, anak-anak perlu disuapi. Kebutuhan yang tampak secara lahiriah semacam itu mudah ditangkap oleh orang dewasa. Akan tetapi, kebutuhan psikologis kadang luput dari perhatian, padahal kebutuhan anak terhadapnya tak kalah besar.
Terdapat sebuah hadits yang sering dikupas oleh para ulama berkenaan cara berinteraksi dengan anak kecil. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ - قَالَ: أحسبه - فطيم، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: (يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ). نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Aku memiliki seorang adik lelaki. Namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia anak yang baru disapih. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan oleh Abu Umair.” (HR. Al-Bukhari, no. 6203 dan Muslim, no. 2150)
Menyayangi Anak Kecil
Bercanda adalah hal yang mubah selama di dalamnya tidak ada hal yang mengandung dosa. Abu Umair yang dimaksud dalam kisah tersebut adalah adik tiri Anas bin Malik. Abu Umair memelihara seekor burung yang biasa diajaknya bermain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui hal tersebut, sehingga tatkala beliau bertemu Abu Umair, beliau menanyakan kabar burung kecil teman bermainnya.
Al-Fayumi rahimahullah, dalam Fathul Qarib, menyatakan salah satu faedah hadits Abu Umair dan burung kecilnya (Nughair) di atas, “Termasuk di dalamnya adalah bolehnya bercanda tentang hal-hal yang tidak mengandung dosa.”[1]
Beliau rahimahullah juga menambahkan, “Para ulama mengatakan bahwa canda yang diharamkan adalah canda yang melampaui batas dan terus-menerus karena canda semacam itu dapat membangkitkan gelak tawa berlebihan, mengeraskan hati, serta membuat seseorang lalai dari mengingat Allah dan dari perkara penting dalam agama. Selain itu, dia juga sering mendatangkan mudharat, menimbulkan dendam, serta menghilangkan kehormatan dan kemuliaan. Adapun canda yang terbebas dari hal-hal tersebut, maka boleh dilakukan karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya, tetapi sebatas pada waktu tertentu demi sebuah kemaslahatan, untuk menyenangkan hati orang yang diajak bicara, dan untuk menenangkannya. Tidak ada larangan mutlak terkait candaan, bahkan dia merupakan sunnah yang dianjurkan jika gambaran candanya seperti syarat yang telah diuraikan di sini.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang notabene penuh wibawa sebagai pemimpin negara, masih menyempatkan diri untuk menyapa dan melontarkan candaan terhadap anak kecil, maka umatnya yang derajatnya di bawah beliau tentu tak boleh tinggi hati dan merasa kedudukannya akan jatuh jika bercanda dengan anak kecil.
Aba dan Umma, wajah yang ceria dan tutur kata yang menyenangkan adalah sikap yang sepatutnya ditampakkan tatkala berinteraksi dengan anak kecil. Sebaliknya, sikap kaku dan ucapan yang tak bersahabat akan membuat anak menjauh.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajari sekelompok Badui yang begitu kaku dalam muamalah bersama anaknya. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, “Beberapa orang Badui mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengatakan, ‘Apakah kalian mencium anak-anak kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘Iya.’ Selanjutnya, orang Badui tersebut berkata, ‘Demi Allah! Kami tidak pernah mencium mereka (anak-anak kami).’ Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَمْلِكُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ نَزَعَ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ
‘Aku tidak berkuasa jika Allah mencabut rasa kasih sayang dari hati kalian.’” (HR. Ahmad, no. 24291)
Memenangkan Hati Anak
Tak diragukan lagi bahwa anak kecil akan lebih mudah menerima nasihat dari orang yang dia sukai. Orang dewasa di sekitar anak (orang tua, guru, kerabat, maupun tetangga) hendaknya memperhatikan interaksinya bersama anak kecil. Semata fokus pada isi nasihat tentunya tak cukup karena anak membutuhkan keterhubungan hati dengan orang yang menasihatinya.
Hubungan baik dengan anak ibarat menanam benih yang hasilnya akan dituai dalam waktu yang panjang. Apabila orang dewasa berusaha membangun hubungan yang baik dengan anak kecil, insyaallah anak tersebut akan mau mendengar jika ditegur, bersedia untuk patuh jika dinasihati, dan berusaha memperbaiki diri sesuai arahan. Oleh sebab itu, duhai Aba dan Umma, lihatlah ke belakang: Adakah selama ini kita telah akrab dengan anak? Adakah selama ini kita dekat di hati mereka?
Jikalau dua pertanyaan itu kita jawab dengan kata “tidak”, maka mulailah berbenah diri. Teladanilah gaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bercanda dengan anak kecil. Candaan itu tidak harus sesuatu yang besar dan membuat anak tertawa terbahak-bahak. Bahkan candaan sederhana, seperti ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyai Abu Umair tentang Nughair, insyaallah akan membawa kesan mendalam di hati anak.
Mengajari Anak tentang Sikap Ceria
Sebuah pepatah Arab berbunyi,
لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ
“Setiap ucapan ada tempatnya.”[2]
Pada saat dibutuhkan keseriusan, seorang muslim bersikap serius. Adapun pada saat dibutuhkan suasana yang santai, seorang muslim pun bersikap santai. Anak-anak belajar dari orang dewasa di sekelilingnya. Betapa banyak memori baik yang akan direkam oleh anak: ayah yang memeluknya sambil bercanda ketika mereka bermain bersama, ibu guru yang melemparkan gurauan ringan di sela-sela obrolan ketika jam istirahat, atau seorang jamaah masjid yang menanyai kabar si anak tatkala si anak ikut ke masjid bersama ayahnya.
Praktik nyata melalui amaliah harian merupakan salah satu bentuk proses belajar yang menunjukkan pada anak bahwa seorang muslim bukanlah orang yang kaku, tetapi juga tidak kehilangan wibawa. Semoga anak-anak kaum muslimin tumbuh sebagai pribadi yang dipenuhi ilmu dan karakter yang penuh hikmah.
Referensi:
- Fathul Qarib. Hasan bin Ali Al-Fayumi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- At-Tadmuriyyah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Mirqatul Mafatih. Al-Mulla Al-Qari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.