Antara Ilmu dan Ilusi: Merasa Tahu, Padahal Belum Paham
Reporter : Putri Oktaviani
Redaktur : Dian Soekotjo
Nabi Khidr berkata kepada Nabi Musa,
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا
Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?
[QS Al Kahfi: 68]
Pernahkah merasa yakin sudah memahami ilmu setelah menyimak audio materi? Jujur saja, kebanyakan di antara kita, akan menganggukkan kepala. Iya kan?
Namun, beberapa waktu setelahnya, ketika berhadapan dengan evaluasi, kita gelagapan menjawab soal. Amunisi untuk klik salah satu pilihan, tiba-tiba tidak bisa ditemukan di memori pikiran. Materi yang telah didengar sebelumnya, sudah samar bahkan terlupakan. Entah di sudut otak mana ia menyelinap.
Konon, ini bukan berarti kita memiliki kemampuan merekam ilmu yang lemah. Akan tetapi pertanda bahwa karena adanya ilusi pemahaman, yaitu perasaan sudah paham. Sehingga kita beranggapan tidak perlu belajar lebih lanjut, padahal ilmu belum sepenuhnya tersimpan. Ilusi ini bisa diatasi dengan memperbaiki cara dan metode belajar yang tepat.
Mengetahui Bukan Berarti Memahami
Setelah menyimak materi, terkadang kita merasa sudah paham meskipun hanya mendengar sekali. Apalagi jika informasi pada materi tersebut cukup familier dan pernah didengar sebelumnya. Evaluasi harian pun langsung dikerjakan. Mumpung masih ingat, sehingga rasa-rasanya akan mudah. Namun ketika harus mereka ulang, kita kerap kebingungan. Apalagi jika mengerjakan Evaluasi Pekanan beberapa hari kemudian.
Keadaan merasa sudah memahami ilmu dan melebih-lebihkan kemampuan yang dimiliki dapat disebut dengan illusion of competence atau ilusi kompetensi, atau dalam hal pemahaman ilmu disebut illusion of knowing alias ilusi pemahaman. Ilusi pemahaman membuat kita merasa terlalu percaya diri akan kapasitas[1]. Akibatnya seseorang meremehkan pelajaran dan tidak mengenali batas kemampuan. Sekilas hal ini mirip dengan efek Dunning-Kruger dalam dunia psikologi kognitif yang berupa kekeliruan dalam menilai kemampuan diri. Perbedaannya, efek Dunning-Kruger menilai diri sudah mahir ketika baru belajar hal-hal dasar.[2]
Saat seseorang menuntut ilmu, alur pertama yang dilewati adalah melalui indera tubuh baik berupa pendengaran maupun penglihatan. Selanjutnya, ilmu akan masuk ke dalam otak. Tidak berhenti di sana. Ilmu yang hakiki akan tersimpan dalam hati atau iman.
Ilmu yang sampai pada otak belum tentu dipraktikkan karena tidak sampai pada iman. Apalagi ilmu yang sekedar lewat indera. Itulah ilustrasi dari ilusi pemahaman, yaitu ilmu yang mampir ke indera tanpa masuk ke otak apalagi hati.
Short Term vs Long Term
Dalam belajar, otak melibatkan short-term memory atau ingatan jangka pendek dan long-term memory atau ingatan jangka panjang. Ilmu yang masuk dari indera tubuh akan tersimpan pada short-term memory. Ia bersifat sementara dan mudah terhapus dalam waktu relatif singkat.
Ketika seorang penuntut ilmu menempuh metode muraja’ah, salah satunya, otak seperti diingatkan bahwa itu hal penting sehingga akhirnya terjadi mekanisme penyimpanan dalam long-term memory. Ilmu yang tersimpan dalam long-term memory lebih tertanam dan tidak mudah dilupakan.
Pemahaman terhadap ilmu memiliki beberapa tahap yaitu mengetahui, mengenali, dan memahami. Ibaratkan saat kita mengetahui seseorang. Tentu bukan berarti kita sudah mengenal hal-hal tentangnya. Bahkan setelah mengenalnya, belum tentu kita sudah memahami kepribadiannya juga.
Hal serupa berlaku pada ilmu. Ilusi pemahaman biasanya terjadi ketika sebenarnya otak kita masih di tahap mengetahui dan belum sampai pada tahap mengenali ataupun memahami.
Ikatlah Ilmu dengan Mencatat
Belajar termasuk dalam tahap mengenali ilmu. Belajar tidak hanya berbentuk pasif seperti menerima materi, tetapi juga perlu aktif dalam menyimak dan memikirkan.
Di lingkup HSI, materi pembelajaran diberikan dalam bentuk audio. Ini aktivitas pasif dan untuk menambah kegiatan belajar bentuk aktif perlu disertai upaya lain.
Mencatat bisa jadi salah satu pilihan. Mencatat akan menghasilkan input visual dan kinetik pada otak yang menyebabkan ilmu lebih kuat tertanam.
Ikatlah ilmu dengan tulisan, ternyata ini bukan sekadar propaganda dalam metode menuntut ilmu. Namun lebih dari itu. Ini merupakan gambaran alur kualitas penyimpanan ilmu di kepala kita.
Tak Kenal Maka Tak Paham
Kemudian bagaimana caranya agar ilmu yang kita pelajari tidak berhenti pada tahap diketahui, tetapi benar-benar kita kenali dan kita pahami?
Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan muraja’ah. Ada berbagai metode muraja’ah yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Pengalaman para santri HSI berikut menunjukkan bahwa mendengarkan ulang audio, mencatat, membaca referensi, hingga kebiasaan menjelaskan kembali materi ilmu dapat membantu menjaga ilmu tetap melekat. Inilah pilihan-pilihan metode muraja’ah itu.
Ukhtuna Jumiatun, santri HSI angkatan 171, belajar dengan cara mendengarkan audio dan mencatat di buku. Ia sering memutar ulang audio dan membaca ulang catatan ketika akan mengerjakan evaluasi. “Kalau mendengar sekaligus memahami insyaallah nggak lupa. Tapi kalau hanya mendengar saja sepintas, kadang bisa lupa. Makanya ana mengulang mendengar materi sesaat sebelum evaluasi,” ucap santri yang akrab disapa Ummu Abdillah tersebut.
Selain itu, Ummu Abdillah juga menambahkan kiat belajar dengan membaca kitab rujukan Ustadz Abdullah Roy. “Ana juga belajar kitab dikit, sering muraja'ah juga. Misal Ushul Tsalasah, belajar baik dari kitab maupun dari majelis taklim. Dan ana juga sedikit dakwah ke teman-teman tentang materi yang telah dipahami dari asatidz. Jadi insyaallah yang sudah dipahami melekat dan tidak lupa,” paparnya berbagi resep belajar.
Sedangkan Ukhtuna Tri Ningtyas Anggraeni, santri HSI angkatan 211, belajar dengan mencatat poin-poin yang penting agar memudahkan muraja’ah. “Bismillah… biasanya saya mendengarkan audionya dulu, mencatat poin-poin yang penting dari materi, dan sambil mengulangi audionya kembali. Baru mengerjakan evaluasinya,” tuturnya.
Catatan ternyata membantu Ukhtuna Tri Ningtyas dalam belajar agar tidak terjebak dalam ilusi pemahaman. Meskipun kenyataannya sudah belajar pun bisa saja tetap ada yang terlupa. “Iya pernah lupa. Apalagi pada evaluasi yang soalnya hadits atau ayat yang lumayan panjang. Terkadang ada kemiripan tulisan Arab di depannya, di tengah, atau akhirnya berbeda,” cerita santri dengan kunyah Ummu Zahid itu.
Berbeda lagi dengan Ukhtuna Nurmayani Wahyu, santri HSI angkatan 172, yang lebih suka muraja'ah dengan mendengarkan ulang audio. “Kalau keadaan seperti itu (lupa, red), biasanya ana buka lagi audionya,” ujar Ukhtuna Maya.
Cara belajar bisa saja berbeda. Namun tujuan tetap sama yaitu muraja’ah agar otak mengenali ilmu sebagai suatu hal penting yang layak disimpan dalam long-term memory.
Mengatasi Ilusi
Cara mengatasi ilusi pemahaman adalah dengan metode belajar yang tepat. Menyimak dan membaca materi adalah tahap permulaan dalam belajar, biasanya ilmu masih tersimpan dalam short-term memory. Jika tahap belajar tidak diteruskan, ilmu akan mudah hilang dan terlupa begitu saja.
Metode pertama adalah muraja’ah yaitu mengulangi inputan ilmu seperti membaca catatan atau menyimak audio materi. Ilmu yang berulang akan dianggap penting oleh otak dan lebih menetap dalam long-term memory.
Metode kedua yaitu refleksi atau perenungan ilmu. Berikan jeda pada diri untuk merenungi dan memahami, bagaimana kaitan ilmu dengan diri kita atau bagaimana praktik paling dekat dalam kehidupan kita. Refleksi adalah membiarkan akal meresapi ilmu dalam keadaan tenang.
Kedua metode ini termasuk dalam tahap mengenali ilmu seperti yang dibahas sebelumnya. Karena pada kedua metode ini adalah tahap ketika otak memproses ilmu yang sedang dipelajari. Jika ada unsur yang sulit dipahami maka bisa ditanyakan kepada asatidz.
Metode ketiga yaitu penerapan ilmu. Ilmu bukan lagi tersimpan di otak tapi ‘dimunculkan’ secara nyata baik berupa produk atau amalan. Penerapan ilmu merupakan tahap belajar lebih lanjut. Karena kita perlu mengingat ulang ilmu dan ‘memaksa’ anggota badan lain untuk ikut menggunakannya. Sehingga ilmu tidak hanya menjadi bagian dari otak namun juga fisik yang lain.
Ummu Zahid berpendapat bahwa ilmu akan lebih mudah dipahami ketika diamalkan, “Ilmu sudah terpahami itu dari bagaimana kita bisa muraja’ah di dalam kehidupan nyata, bagaimana kita bisa menerapkannya di dalam hidup secara bertahap dan perlahan sesuai kemampuan. Bisa saja tanpa muraja’ah dan menerapkan dalam kehidupan kita. Tapi ilmu itu lebih baik ketika sudah diterima, kita pelajari kembali (muraja'ah) dan kita amalkan juga kita dakwahkan sesuai kemampuan.
Ilmu yang sudah didapat dan tidak dimuraja'ah juga diterapkan akan cepat menghilangnya.” Dengan mengamalkan ilmu dalam ibadah, ilmu bisa menjadi bermanfaat dan berkah juga mendapat pahala dari Allah.
Selanjutnya agar ilmu semakin mendalam, metode keempat adalah membagikan kepada orang lain. Kita dituntut menjelaskan ilmu dengan menggunakan bahasa sendiri yang akan menunjukkan seberapa dalam pemahaman kita akan ilmu. Ukhtuna Maya menggunakan metode ini dalam menilai pemahamannya pada materi, “Cara ana mengetahui bahwa ilmu itu sudah tersimpan atau terpahami adalah ketika ana bisa menceritakan kembali ilmu tersebut kepada orang lain dengan bahasa ana,” akunya.
“Tanpa muraja’ah dan mendakwahkan, sangat kecil kemungkinan ilmu itu akan terjaga. Jika hanya muraja’ah saja tanpa mendakwahkan, biasanya juga banyak lupanya. Justru dengan mendakwahkan atau menyebarkan ilmu itu, biasanya ilmu akan makin kuat melekat diingatan,” Ukhtuna Maya memompa semangat untuk berdakwah.
“Ilmu diikat dengan mengamalkan. Selama memahami dengan pemahaman benar dan mengamalkan insyaallah ilmu akan terjaga dengan izin Allah. Apalagi sambil disedekahkan dengan cara mengajarkan. Ana ngajar Aqidah di sekolah dan ngajar taklim akhwat,” papar Ummu Abdillah menjelaskan pentingnya membagikan ilmu.
Metode kelima adalah evaluasi atau tes. Evaluasi akan menguji seberapa mendalam kita memahami materi. Terutama menghadapi soal dengan tata bahasa yang berbeda dan penerapan ilmu pada permasalahan lain. Meskipun nilai tidak dapat mengukur ilmu yang dimiliki seseorang, namun ia menjadi salah satu indikator dalam menilai kompetensi diri.
Pembiasaan Belajar Agar Pemahaman Menetap
Sistem pembelajaran di HSI selaras dengan kelima metode untuk menghilangkan ilusi pemahaman. Evaluasi Pekanan (EP) 'memaksa' kita untuk muraja’ah setiap pekan. Ilmu yang didapat tidak didiamkan tapi diasah lagi. Evaluasi yang bertahap dan berulang pun mendorong santri agar muraja’ah dan tidak berhenti belajar.
Ukhtuna Asnani, seorang santri HSI angkatan 232 yang juga mengabdi sebagai musyrifah menjelaskan sistem pembelajaran di HSI, “Dalam HSI kita dianjurkan untuk mengikuti alur pembelajaran yang sudah diberikan. Mulai dari menyimak materi, memahami, dan mencatat poin-poin penting, kemudian mengerjakan evaluasi. Jika masih ada materi yang belum dipahami atau hasil evaluasi belum maksimal, materi tersebut bisa diulang kembali dan dimuraja’ah atau ditanyakan di live interaktif.”
HSI sangat mendorong santri untuk menuntut ilmu bukan hanya menyelesaikan materi dan melanjutkan level. Evaluasi pekanan dan akhir menjadi muraja’ah rutin dilakukan.
Bahkan ada mekanisme muraja’ah kubra untuk memuraja’ah materi dari silsilah yang lalu. HSI pun menyediakan live session di kanal YouTube untuk mewadahi santri yang ingin bertanya lebih lanjut. “Yang penting bukan hanya menyelesaikan materi, tetapi benar-benar berusaha memahami dan mengulangnya. Sistem HSI yang bertahap dan berkesinambungan juga membantu kita belajar dari dasar sehingga materi yang dipelajari lebih mudah dipahami dan insyaallah dapat diamalkan,” Ukhtuna Nani menjelaskan.
Musyrifah yang berprofesi sebagai guru SMK ini juga berusaha membantu santri untuk menuntut ilmu, “Biasanya ketika ada materi baru, saya mengingatkan santri untuk mendengarkan materi, mencatat, serta membaca dan memahaminya, serta memuraja'ah. Kemudian ketika evaluasi akan dibuka, saya biasanya mengingatkan kembali agar santri mempersiapkan diri dan memaksimalkan muraja’ah terlebih dahulu,” ungkapnya.
“Pengingat seperti ini insyaallah cukup membantu, terutama karena dalam belajar online terkadang kita bisa terlupa atau menunda. Dengan adanya reminder, santri kembali diingatkan untuk meluangkan waktu belajar dan mengulang materi sebelum mengerjakan evaluasi,” Bu Guru Nani memaparkan kontribusi musyrifah dalam cara belajar santri. Harapannya, pengingat dari musyrifah akan memantik semangat santri untuk muraja’ah dan belajar lebih dalam. Dengan begitu ilmu dapat benar-benar terpahami bukan sekadar ilusi.
Kita jangan sampai terjebak ilusi pemahaman yang akhirnya membuat malas belajar. Menuntut ilmu, terutama ilmu syar’i, meskipun berulang-ulang akan tetap mendatangkan hal baru dan tentunya pahala sesuai kadar keikhlasan. Kita tidak pernah tahu ilmu mana yang akan mendatangkan hidayah dan sampai ke hati kita.
Jadi jangan berhenti belajar ya… Apalagi mencukupkan diri dengan mendengarkan audio saja. Itu tak akan cukup untuk memahat pemahaman dalam kalbu. Jika ingin ilmu membekas dalam ingatan, ayo lakukan rangkaian belajar dengan sungguh-sungguh dan memadai. Selamat belajar, teman-teman. Jangan setengah hati ya..Memang perlu kerja keras, karena jalan menuju surga biasanya terjal dan melelahkan.