Kesehatan

Anemia, Jangan Sepelekan!

Kontributor: dr. Avie Andriyani

Editor: Happy Chandraleka


Pernah mendengar tentang Anemia? Atau malah antum-antunna pernah mengalaminya? Nampaknya banyak pendapat awam yang menganggap anemia bukan ancaman besar. Dengan menambah porsi makan makanan penambah darah, seperti jerohan, susu, kacang-kacangan, atau sayuran hijau, insyaallah, juga sembuh. Eits…tunggu dulu, jangan anggap sepele.

Anemia ternyata sering kali menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius. Mengabaikan anemia dapat mengakibatkan penanganan yang tertunda atas penyakit berikutnya. WHO (World Health Organization) telah menetapkan standar maksimal untuk kasus anemia yakni sebesar 20%. Qadarullah, saat ini, Indonesia belum bisa memenuhi standar tersebut karena berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan tahun 2018, penderita anemia di Indonesia masih mencapai angka 38,5 % pada balita, 26,5 % pada anak usia sekolah, 32 % pada anak remaja berusia 15-24 tahun, dan 48,9% pada ibu hamil.

Mengapa angka kejadian anemia di Indonesia masih cukup tinggi? Apa saja penyebabnya dan bagaimana mencegahnya? Edisi kali ini, Rubrik Kesehatan hendak mengupas berbagai fakta terkait kondisi kurang darah tersebut. Mari simak catatan khas Majalah HSI..

Apa itu anemia?

Anemia merupakan salah satu kondisi yang terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah fungsional yang bisa ditunjukkan dengan hasil laboratorium atau cek darah. Penderita anemia memiliki kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 12 g/dL pada perempuan dan kurang dari 13,5 g/dL pada laki-laki. Anemia bisa terjadi di berbagai usia, mulai dari bayi baru lahir, anak, remaja, dewasa, hingga lansia.

Penyebab tingginya kejadian anemia

Beberapa penyebab yang memicu tingginya kejadian anemia di Indonesia antara lain:

  • Kurangnya kepedulian bahaya anemia karena masyarakat belum mendapatkan edukasi yang memadai.
  • Kurang tercukupinya zat gizi dan nutrisi, termasuk mikronutrien seperti zat besi, vitamin B9, vitamin B12, vitamin C, juga Zinc.
  • Kurangnya asupan protein dalam menu sehari-hari.
  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung zat penghambat penyerapan zat besi, seperti kopi dan teh yang mengandung fitat dan tanin.
  • Adanya penyakit kronis yang berpengaruh pada kadar hemoglobin yang semakin menurun.
  • Suplementasi zat besi yang tidak memadai, baik pada remaja putri maupun ibu hamil.

Apa saja gejala anemia?

Diagnosis pasti untuk anemia memang harus melalui pemeriksaan darah di laboratorium, yaitu untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darah. Namun demikian, ada beberapa gejala yang bisa kita waspadai karena mengarah pada anemia. Berikut adalah gejala anemia yang harus diwaspadai:

  • 5L (lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai).
  • Pusing dan pandangan terkadang menjadi gelap atau berkunang.
  • Pucat pada kulit, wajah, selaput bagian dalam kelopak mata, bibir, lidah, telapak tangan, dan kuku.
  • Tidak bertenaga dan sering mengantuk.
  • Kurang fokus dalam berpikir dan bekerja.

Siapa yang rentan mengalami anemia?

Angka kejadian anemia didominasi oleh jenis kelamin perempuan karena perempuan mengalami haid (menstruasi), hamil, menyusui, dan nifas. Prevalensi anemia pada remaja perempuan 6% lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Seorang perempuan bisa kehilangan 5-10% kadar zat besinya selama menstruasi. Penurunan zat besi ini memicu siklus menstruasi menjadi tidak normal sehingga lebih rentan mengalami anemia. Kejadian anemia pada remaja perempuan tidak boleh disepelekan. Remaja perempuan yang mengalami anemia dan tidak tertangani dengan baik pada akhirnya akan menjadi kelompok WUS (Wanita Usia Subur) yang anemia. Akibatnya, akan banyak wanita hamil dan menyusui dalam keadaan anemia. Hal ini berisiko menghasilkan bayi yang berat badannya di bawah normal, prematur, dan stunting. Ibu hamil yang anemia juga bisa membahayakan diri sendiri dan bayinya karena rentan mengalami perdarahan selama persalinan.

Dampak negatif anemia

Secara umum, anemia menyebabkan gangguan pertumbuhan, gangguan kemampuan berpikir dan psikomotorik, rendahnya daya tahan tubuh, penurunan prestasi belajar dan produktivitas. Seseorang yang mengalami anemia berarti tubuhnya sedang mengalami kekurangan sel darah merah yang sehat atau hemoglobin yang rendah.

Hemoglobin merupakan agen pengikat oksigen sehingga ketika jumlahnya berkurang otomatis kadar oksigen dalam tubuh juga menurun. Hal ini memicu terjadinya hipoksemia, sel tubuh akan kekurangan oksigen sehingga fungsi organ jadi terganggu.

Bagaimana mencegah dan mengatasi anemia?

Lebih baik mencegah daripada mengobati! Kita bisa melakukan beberapa hal berikut ini supaya terhindar dari anemia:

  • Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian akan anemia.
  • Meningkatkan konsumsi sumber protein hewani, seperti hati ayam, daging ayam, telur, ikan, dan daging merah (sapi, kambing).
  • Mengonsumsi makanan atau minuman banyak mengandung vitamin C dan Zinc karena meningkatkan penyerapan zat besi.
  • Menghindari konsumsi makanan atau minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi, seperti teh dan kopi.
  • Rutin mengonsumsi tablet tambah darah dengan benar yaitu tidak mengonsumsinya bersamaan dengan dengan obat sakit lambung (maag), susu, teh, maupun kopi.
  • Bagi ibu hamil, harus mengonsumsi Multiple Mikronutrien Suplementasi (MMS) sebanyak 180 butir untuk 180 hari (6 bulan) selama kehamilan.
  • Remaja putri usia 12-18 tahun wajib minum Tablet Tambah (TTD) 1 tablet per pekan sepanjang tahun dan 1 tablet setiap hari selama 10 hari ketika mengalami haid.

Anemia tidak boleh disepelekan karena banyak sekali dampak buruk dari anemia seperti perkembangan otak terhambat, kecerdasan berkurang, prestasi belajar menurun, tubuh tidak bugar, aktivitas terganggu, produktivitas kerja berkurang, dan daya tahan tubuh lemah sehingga mudah sakit. Jika mengalami gejala yang mengarah pada anemia, segera temui dokter untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dan tes kadar Hb (hemoglobin) darah untuk mengetahui apakah benar-benar anemia. Jadi jangan sepelekan anemia.

Referensi

  1. https://shorturl.at/Yaoum
  2. Kemenkes RI. 2018. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  3. Helmyati, 2023. Anemia pada Remaja 101 : Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia FK KMK UGM.
0