Tarbiyatul Aulad

Anak yang Tangguh, Anak yang Bertawakal

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Athirah Mustadjab


Termasuk dari bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya ialah dengan memperhatikan hal-hal yang sekiranya akan dibutuhkan anak di kehidupan mereka pada masa depan. Salah satunya adalah membentuk ketahanan mental mereka sejak dini, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk menaklukkan segala tantangan yang ada pada kehidupannya di masa depan.

Membangun mental yang kuat pada anak, yaitu fortitude (kemampuan dalam menghadapi tekanan atau tantangan) dan resilience (kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit kembali ketika menghadapi kesulitan), erat kaitannya dengan mengajarkan tentang konsep tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya, Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, menjelaskan definisi tawakal, “Benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya -- baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya, serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata.”[1]

Berikut ini beberapa upaya untuk menanamkan nilai tawakal ilallah dalam diri anak sesuai usianya.

Pertama, Kenalkan Tauhid Sedini Mungkin

Kenalkan anak dengan nilai-nilai tauhid sejak dini. Orang tua bisa membacakan buku-buku islami yang membahas mengenai tauhid atau memperkenalkan anak tentang Rabb-nya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla beserta sifat-sifat-Nya, dengan bahasa yang sederhana atau yang mudah dipahami oleh anak seusianya. Kenalkan kepada anak bahwa Allah ‘Azza wa Jalla ialah Rabb semesta alam, Yang Maha Esa, satu-satunya yang berhak diibadahi, yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini -- langit dan bumi, termasuk yang menciptakan semua makhluk hidup, yang memberinya nikmat, dan yang mengatur setiap detail kehidupannya.

Ingatkan anak bahwa Allah yang selama ini membantunya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, pada saat ia mendapat nikmat, ingatkan kepada anak bahwa sesungguhnya nikmat itu datang dari Allah.

Kedua, Latih Ketahanan Mental Anak

Apabila anak mengalami kegagalan atau sesuatu yang tidak diinginkannya, ajarkan kepadanya bahwa itu bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan dan semoga terbuka kesempatan lain pada waktu yang berbeda.

Jangan lupa apresiasi usaha yang telah ia kerahkan. Lengkapi dengan menyampaikan kisah orang-orang sukses yang pernah gagal atau yang pernah melewati batu sandungan dalam kehidupan. Tentunya, kisah yang paling utama untuk dibacakan ke anak adalah kisah para nabi, misalnya kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghadapi banyak tantangan dalam dakwahnya maupun kehidupan pribadinya.

Selain itu, ajari anak untuk menghadapi masalah secara bertahap dan perlahan-lahan, sesuai kemampuannya. Ketika anak mengeluh tentang sulitnya tugas yang sedang dia kerjakan, alih-alih langsung membantu anak, lebih baik jika orang tua memotivasi anak untuk mengamati titik sebab kesulitannya dan opsi-opsi jalan keluar yang bisa ditempuh.

Ketika anak mengatakan, “Aku tidak bisa. Ini sulit sekali,” ajari dia untuk mengganti ucapannya, “Dengan berdoa kepada Allah dan berusaha, insyaallah kamu bisa menyelesaikan ini.” Setelahnya, ingatkan anak bahwa tidak mengapa jika dia mengerjakannya secara perlahan-lahan, tanpa harus sempurna dalam sekali waktu.

Begitu pula, saat anak benar-benar berlepas diri dari kesulitan yang ia hadapi dengan hanya berharap agar diselesaikan oleh orang tuanya, orang tua perlu bersikap dengan bijak: Apakah saat itu sebaiknya orang tua turun tangan? Atau biarkan saja tugas itu terbengkalai agar anak menyadari bahwa tidak selamanya dia bisa bergantung pada orang tuanya.[2]

Respons yang tepat, sesuai dengan situasi, insyaallah akan membantu anak untuk membangun ketahanan mentalnya tanpa membuatnya merasa diabaikan

Ketiga, Kelola Emosi dengan Bersabar

Latih anak untuk menghadapi tekanan, situasi yang tidak disukainya, atau mengelola emosi negatif lainnya yang dirasakan. Bimbing ia untuk tetap tenang, tidak menyerah, dan mencari solusi. Misalnya, saat anak ingin marah, sedih, atau menunggu sesuatu, ajari dia untuk bersabar dan menerapkan coping mechanism, misalnya melakukan aktivitas bermanfaat sembari menunggu, seperti beristigfar, membaca buku, mewarnai, atau bermain.

Tatkala anak diajari untuk bersabar atas kekecewaan atau kegagalan, iringi dengan nilai-nilai islami, yaitu:

  • Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar.
  • Jika seorang hamba bersabar, Allah pasti akan mengganti hal yang luput darinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
  • Allah Maha Mengetahui hal terbaik bagi hamba-Nya. Pada saat itu, mungkin anak belum mengetahui hikmah di balik kekecewaan atau kegagalan tersebut. Namun, suatu saat nanti, insyaallah dia akan mengetahui hikmahnya.
  • Bimbing anak untuk melafalkan doa berikut ini,
  • إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا
  • "Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)[3]

Keempat, Tanamkan Konsep Tawakal yang Benar

Biasakan anak untuk berdoa sebelum melakukan setiap aktivitas, terlebih pada momen-momen penting atau yang berkesan dalam hidupnya, misalnya sebelum ujian sekolah atau perlombaan. Jelaskan dan berikan pemahaman bahwa tugas manusia adalah berdoa dan berusaha sebaik mungkin. Apa pun hasilnya nanti, itu pasti yang terbaik dari Allah.


Itulah inti tawakal. Berusaha dengan meraih sebab, kemudian menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan bentuk tawakal yang dituntunkan oleh-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Apabila shalat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak memerintahkan kita untuk semata berserah diri, tetapi Dia juga memerintahkan kita untuk menempuh sebab dan melakukan usaha. Dengan demikian, ketika anak menginginkan sesuatu, alih-alih langsung memberikan keinginan mereka secara instan, lebih baik ajari anak untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar keinginannya dikabulkan, kemudian memberikan tugas atau syarat tertentu pada anak yang harus dia penuhi sebagai bentuk usahanya untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan (selagi tidak bertentangan dengan syariat). Apabila anak telah melakukan dua hal tersebut, yaitu berdoa dan berusaha, barulah orang tua memberikan hal yang dia inginkan tadi.

Apabila anak terbiasa dengan hidup yang “serba terpenuhi dan serba instan”, dikhawatirkan bahwa jiwa akan akan ditumbuhi oleh benih-benih sifat buruk. Para orang tua hendaknya mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إن الولد مبخلة مجبنة مجهلة محزنة

"Sesungguhnya anak bisa membuat (orang tua) menjadi pelit, pengecut, bodoh, dan sedih." (HR. Al-Hakim. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no. 1990)[4]

Jika orang tua menjadikan perasaannya semata sebagai penunjuk arah, niscaya pola didiknya akan membawa efek negatif. Buktinya, sikap yang tidak didasari oleh ilmu dan sikap hikmah akan membuat orang tua mengambil langkah yang justru menjerumuskan dirinya dan anaknya ke jalan keburukan. Al-Manawi merinci hubungan sebab-akibat antara keberadaan anak dengan jalan yang ditempuh oleh orang tua:[5]

  • Orang tua menjadi kikir dalam menginfakkan harta untuk orang yang benar-benar membutuhkan.
  • Orang tua menjadi pengecut, sehingga dia lari dari hijrah dan jihad.
  • Orang tua menjadi bodoh karena waktunya habis hanya untuk mencari nafkah, sehingga tidak lagi meluangkan masa untuk menuntut ilmu syar’i.
  • Orang tua menjadi sedih ketika anak sakit, atau ketika anak meminta sesuatu tetapi orang tuanya tidak bisa menuruti.

Semua hal yang dialami oleh orang tua tersebut bersumber dari sikapnya yang terlalu sayang dan lembut terhadap anaknya. Benar, Islam memang memerintahkan kita untuk bersikap lembut kepada anak, tetapi Islam juga memberikan batasan agar kelembutan itu tidak berlebihan dan melampaui batas. Untuk itu, tiada jalan lain, orang tua terkadang harus bersikap tegas dan berwibawa agar jiwa anak tidak berkepanjangan dalam kenakalan dan penyimpangannya.[6]

Kelima, Bangun Kompetensi Anak

Sebagaimana konsep tawakal yang disertai dengan usaha, tentu orang tua juga perlu untuk berusaha untuk membekali anaknya dengan pendidikan atau keahlian yang bisa membantu anak dalam menggali dan mengasah minat dan bakatnya. Diharapkan, kompetensi itu akan menjadi pegangannya untuk menjalani kehidupannya secara mandiri.

Tak cukup dengan membangun kompetensi anak, orang tua juga perlu membangun kepercayaan diri anak dimulai dari hal sederhana sesuai jenjang usianya, seperti membantu orang tua memasak, mencuci kendaraan, menyapu, dan sebagainya. Dengan begitu, dalam jiwanya insyaallah akan perlahan-lahan tumbuh keyakinan bahwa – dengan pertolongan Allah – dirinya mampu untuk melakukan berbagai hal tanpa perlu selalu bergantung pada orang lain.[7]

Dengan mempraktikkan lima kiat ini semoga anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada para orang tua dalam mendidik buah hati tercinta untuk menggapai kesuksesan dunia juga akhiratnya. Amin.


Referensi

  1. Islamic Parenting: Pendidikan Anak Metode Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Abdurrahman, Jamal. Solo: Penerbit Aqwam.
  2. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  3. Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam. Ibnu Rajab Al-Hanbali. Al-Maktabah Asy-amilah.
  4. Faidh Al-Qadir. Abdur Rauf Al-Manawi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  5. Shahih Muslim. Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  6. Resilience for Teens: 10 Tips to Build Skills on Bouncing Back from Rough Times. American Psychological Association. Diakses melalui https://www.apa.org/topics/resilience/bounce-teens
  7. Building Resilience: The 7 Cs. Ken Ginsburg. Diakses melalui https://parentandteen.com/building-resilience-in-teens
0