Mutiara Al-Quran

Akhlak Mulia: Buah dari Ilmu yang Benar

Penulis: Azhar Rizki, Lc.

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc.


Tafsir Ringkas

Allah Ta’ala memulai surah Al-Qalam dengan menyebut huruf “nun” yang Dia lebih mengetahui hakikat maknanya. Setelahnya, Allah Ta’ala bersumpah dengan menyebut qalam (pena) serta takdir yang ia catat, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang gila, sebagaimana dituduhkan oleh Quraisy. Dengan demikian, seakan-akan Allah Ta’ala mengatakan kepada mereka bahwa tidaklah mungkin Muhammad ini gila karena dirinya mendapat nikmat berupa wahyu dan petunjuk dari Rabbnya serta pahala besar yang terus mengalir, dan dia dikaruniai kepribadian atau akhlak yang agung.

Dalam ayat setelahnya, Allah Ta’ala hendak menguatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta melanjutkan bantahan-Nya kepada orang-orang Quraisy yang menuduh beliau dengan sifat-sifat yang jelek, semisal kegilaan, yaitu “Kamu (wahai Nabi) dan mereka pasti akan bisa melihat, siapakah di antara kalian yang gila dan diuji dengan musibah kesesatan karena sesungguhnya Rabbmu yang lebih tahu siapa di antara kalian yang tersesat dari kebenaran dan siapa yang berada di atas petunjuk.”[1]

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir rahimahullah mengenai kepribadian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lalu menjawabnya secara lugas, “Apakah engkau sudah membaca Al-Qur’an?” Sa’ad mengiyakan. Aisyah melanjutkan,

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِىِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

“Sesungguhnya akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an.”[2]

Maknanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang paling sempurna dalam mempraktikkan isi Al-Qur’an, mematuhi rambu-rambunya, beradab dengan etika yang ada di dalamnya, paling bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya, paling mampu mentadabburinya, serta paling bagus dalam membacanya.[3]

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti berada pada level yang sempurna dan paling ideal dalam setiap akhlak yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Secara panjang lebar, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskannya, “Rasulullah ialah pribadi yang mudah, lembut, dan akrab dengan manusia. Beliau akan memenuhi undangan siapa pun, membantu dalam membereskan urusan orang yang datang meminta bantuan, menjaga perasaan siapa pun yang meminta dengan tidak membiarkannya pulang dengan tangan hampa. Jika para sahabat hendak melakukan sesuatu, beliau akan menyetujui dan ikut serta di dalamnya jika tak mengandung perkara yang haram. Apabila Rasul berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu, beliau tak pernah menceritakannya selain kepada para sahabat, bahkan beliau ajak musyawarah dan meminta pendapat mereka.”[5]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskannya juga menyebutkan, “Rasul selalu menerima kebaikan mereka yang berbuat baik dan memaafkan keburukan mereka yang berbuat buruk. Beliau senantiasa memperlakukan rekan semajelisnya dengan interaksi yang sangat baik dan istimewa. Beliau tidak akan bermuka masam di depannya, tidak berbicara dengan kasar, tak pernah menyimpan kebaikan akhlak terhadap lawan bicaranya (antusias), tidak pernah mengkritik kesalahan ucap atau kasarnya verbal dari lawan bicara, bahkan beliau akan berbuat baik kepadanya secara maksimal serta berusaha sekuat tenaga untuk menerima itu semua. Semoga salawat dari Allah selalu tercurah atas beliau.”

Dengan kata lain, Nabi berperilaku serta berbudi pekerti dengan isi Al-Qur’an. Segala sesuatu yang dipuji oleh Al-Qur’an, itulah yang diridhai oleh beliau. Sebaliknya, segala sesuatu yang dibenci oleh Al-Qur’an, itulah yang yang dibenci oleh beliau.[6]

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Dalam surah Al-Qalam ayat 4, Allah Ta’ala memerintah kita agar meneladan akhlak dan kepribadian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, termasuk hal yang wajib bagi kita ialah mempelajari dan mengetahui akhlak serta perangai tersebut secara rinci sebab bagaimana pun kita tidak akan bisa meneladan beliau secara sempurna, kecuali dengan itu semua.[7]

Makna akhlak yang baik ialah berperangai dengan akhlak yang sesuai syariat serta beretika dengan adab yang Allah didik para hamba-Nya sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, “Yaitu melakukan apa saja yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang. Dengan demikian, secara otomatis, beramal dengan kandungan Al-Qur’an telah menjadi tabiat yang tak dapat terpisahkan dari Nabi. Inilah akhlak terbaik, terpuji dan paling indah. Oleh sebab itu, bisa juga dikatakan bahwa seluruh ajaran agama adalah akhlak (perangai).”[8] Imam Ath-Thabari menandaskan, “Itulah adab (etika) Al-Qur’an yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi. Itulah agama Islam dengan seluruh syariatnya.”[9]

Banyak orang yang memisahkan antara akhlak dan ilmu lantaran pemahaman yang sempit, padahal keduanya tidaklah boleh sama sekali dipisahkan atau dipertentangkan. Bagaimana pun, perangai dan adab yang baik akan timbul dari ilmu yang benar. Sebaliknya, ilmu yang benar merupakan salah satu perangai yang diperintahkan untuk dicari dan dimiliki oleh orang yang beriman. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh ulama bahwa semua ajaran Islam adalah akhlak. Selanjutnya, dari sini pula kita ketahui bahwa sumber kerancuan itu berasal dari sempitnya pemahaman kita terhadap akhlak yang baik menurut agama Islam, sehingga dengan itu kita memisahkan antara ilmu syariat dan akhlak.[10]

Salah satu contoh mengenai keterikatan kuat antara ilmu yang benar dan akhlak yang baik, kita dapat memahami firman Allah tentang sifat orang yang berilmu, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya, hanyalah ulama.”[11] Syaikh As-Sa’di menjelaskan, “Maka siapa saja yang semakin tahu tentang Allah, dirinya akan semakin takut kepada-Nya. Sedangkan buah dari rasa takutnya itu, ia akan berhenti berbuat maksiat serta sibuk mempersiapkan diri untuk hari pertemuan dengan Allah yang ia takuti.”[12] Lihatlah bagaimana ilmu yang benar akan membuahkan akhlak yang mulia.

Etika dan tata krama kepada sesama manusia, apakah juga bisa disebut sebagai akhlak yang mulia menurut Islam? Jawabnya adalah belum tentu, selama perbuatan itu tidak didasari dengan niat menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika satu-satunya sumber akhlak yang baik ialah Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita harus mempraktikkan akhlak itu didasari keimanan terhadap perintah Allah. Begitu pun sebaliknya, ketika kita hanya melakukan tata krama di hadapan manusia tanpa ada motivasi iman di dalamnya, itu belum dianggap oleh syariat sebagai akhlak yang mulia. Sebab, Rasulullah telah mengaitkan iman dengan akhlak yang baik, “Sifat malu dan keimanan itu adalah satu pasang, jika salah satunya hilang, lenyap pula yang lainnya.”[13] Kesimpulannya, akhlak yang baik tak cukup hanya berdasarkan sisi kepantasan jika dipandang oleh orang lain, namun harus berdasar keimanan.

Puncak dari keagungan akhlak, tatkala semua perbuatan kita hanya kita tujukan mencari ridha Allah Ta’ala. Al-Qurthubi menukil dari Al-Junaid yang mengatakan, “Akhlak Rasulullah disebut agung karena hasrat beliau tidak lain hanyalah tertuju untuk Allah.”[14]

Referensi:

  • Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Abdurrahman Nashir As-Sa’di, Dar Ibnul Jauzi, Arab Saudi.
  • Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an, Ibnu Jarir Ath-Thabari, tahqiq oleh Ahmad Syakir, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, Dar ‘Alam Al-Kitab, Arab Saudi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tatimmah Adhwa’ Al-Bayan, ‘Athiyah Muhammad Salim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Akhlaq An-Nabawiyah Al-Mu’aththirah, Salim bin ‘Id Al-Hilali, Dar Ash-Shumai’i, Arab Saudi, cet. ke-2, tahun 2008.
  • Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Zainuddin Ibnu Rajab Al-Hanbali, tahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Dar Ihya’ Turats Al-‘Arabi, Lebanon, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • At-Tafsir Al-Muharrar, diakses di tautan https://dorar.net/tafseer/68/1
0