Agile Coaching Menjadikan Pengurus HSI Makin Tangkas
Reporter: Reza Firdaus
Editor: Happy Chandraleka
Dalam upaya peningkatan kapasitas dan efektivitas kerja pengurus, HRD-HSI meluncurkan sebuah inisiatif penting berupa pembekalan Agile Coaching bagi seluruh pengurus HSI. Program ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah transformasi cara berpikir dan berkolaborasi, sejalan dengan nilai-nilai keorganisasian yang adaptif dan lincah.
Ketika ditanya mengenai nilai Agile yang dirasa selaras dengan visi dakwah, Ketua Divisi HRD HSI, Bapak Krisnaji Sunyoto, menyebut bahwa pada dasarnya Agile adalah mindset untuk tidak takut menghadapi perubahan. Pendekatan ini berfokus pada latihan coaching dan mentoring, dua kemampuan yang sangat penting dalam membina kapasitas tim.
Untuk merealisasikan program ini, HSI menjalin kemitraan strategis dengan Hijrah Coach, sebuah lembaga yang berpengalaman dalam menerapkan pendekatan Agile dalam lingkungan dakwah dan organisasi Islam. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan konteks pengurus HSI.
Pertengahan Juni lalu, telah diselenggarakan kegiatan Sosialisasi Agile secara daring melalui Zoom. Acara ini menghadirkan narasumber utama Bapak Heru Nur Ihsan, selaku Ketua Yayasan HSI AbdullahRoy, dan diikuti oleh peserta dari berbagai divisi yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pendekatan kerja yang lebih dinamis dan kolaboratif.
Agile: Lebih dari Sekadar Metode, Ini Soal Mindset
Dalam pemaparannya, Pak Ihsan menegaskan bahwa Agile bukan hanya sekadar metode atau sistem kerja, melainkan sebuah cara berpikir atau pola pikir yang menuntut kelincahan dalam menghadapi perubahan, keterbukaan terhadap masukan, dan kecepatan dalam mengambil keputusan. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip siklus kerja yang pendek, evaluasi terus-menerus, dan penciptaan hasil yang nyata dan bernilai.
Menurut beliau, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan perencanaan jangka panjang tanpa fleksibilitas. Justru, kemampuan untuk cepat menyesuaikan diri terhadap situasi dan kebutuhan terkini menjadi kunci keberhasilan di era kerja modern yang penuh ketidakpastian.
“Agile mengajarkan kita bahwa perubahan itu bukan musuh, tapi bagian dari proses. Yang penting adalah bagaimana kita meresponsnya secara cepat dan tepat,” ungkapnya.
Perubahan Budaya Menuju Kolaborasi Sejati
Salah satu hal penting yang disampaikan adalah perlunya perubahan budaya kerja, dari pola lama yang kaku dan berjenjang menjadi lingkungan yang lebih terbuka dan kolaboratif. Dalam kerangka Agile, peran pimpinan bukan lagi sebagai pengendali tunggal, tetapi sebagai pendukung dan pendamping bagi pertumbuhan tim.
Beliau juga memperkenalkan dua pendekatan praktis yang biasa digunakan dalam Agile, yaitu Scrum dan Kanban. Keduanya membantu tim dalam merancang alur kerja yang lebih efisien, memantau perkembangan tugas secara visual, dan mengurangi hambatan yang memperlambat kinerja.
Scrum melibatkan tim kecil yang bekerja dalam siklus waktu tetap atau sprint selama dua minggu, dengan peran-peran seperti Scrum Master atau pendamping proses, Product Owner atau penentu prioritas kebutuhan, dan tim pengembang yang mandiri.
Sedangkan Kanban lebih fokus pada visualisasi alur kerja melalui papan yang berisi kolom seperti to do atau hal yang akan dikerjakan, in progress artinya yang sedang dikerjakan, dan done atau selesai. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi hambatan dan memastikan beban kerja tetap seimbang.
Tantangan dalam Implementasi dan Strategi Mengatasinya
Meski membawa banyak manfaat, penerapan pendekatan Agile tidak terlepas dari berbagai tantangan. Beberapa hambatan yang kerap muncul antara lain ketidaksiapan mental terhadap perubahan, pemahaman yang belum utuh mengenai prinsip-prinsip Agile, serta kurangnya sinergi antar tim atau antar bagian.
Untuk mengatasi hal ini, Pak Ihsan menganjurkan agar penerapan Agile dilakukan secara bertahap, dimulai dari proyek percontohan yang berskala kecil. Dari proyek ini, organisasi dapat melakukan evaluasi efektivitas, melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan, dan secara bertahap memperluas penerapan ke area yang lebih luas. Selain itu, pendampingan serta pelatihan dianggap sangat penting agar perubahan ini benar-benar menyentuh akar budaya kerja dan tidak berhenti hanya pada permukaan teknis.
Senada dengan itu, Ketua Divisi HRD HSI, Pak Aji, menegaskan pentingnya pelatihan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. “Training merupakan investasi masa depan untuk menyiapkan kompetensi masa depan. Jadi evaluasinya tidak bisa dinilai saat ini. Namun, training ini tidak akan berhenti karena ini adalah salah satu dari banyak kompetensi yang harus dikuasai pengurus,” ujarnya.
Dengan kombinasi pendekatan bertahap dan investasi berkelanjutan dalam pelatihan, diharapkan penerapan Agile di lingkungan organisasi tidak hanya menjadi metode kerja, tetapi juga bagian dari transformasi budaya yang lebih menyeluruh.
Harapan dan Langkah Lanjutan
Dalam kesempatan terpisah, Pak Aji menyampaikan perkembangan terbaru pelaksanaan program Agile Coaching di tubuh HSI. “Hingga saat ini, program Agile Coaching telah diselenggarakan sebanyak 5 batch. Seluruh batch dilaksanakan secara luring di lokasi berbeda,” paparnya.
Selanjutnya, ia merinci pelaksanaan masing-masing sesi pelatihan sebagai berikut. Batch pertama digelar di Solo pada 18–19 Januari 2025, disusul oleh batch kedua di Jakarta pada 22–23 Februari 2025. Selanjutnya, batch ketiga berlangsung di Bandung pada 26–27 April 2025, kemudian batch keempat kembali diadakan di Solo pada 24–25 Mei 2025. Terakhir, batch kelima diselenggarakan di Jakarta pada 28–29 Juni 2025. “Masing-masing batch dilaksanakan selama dua hari, atau setara dengan 14 jam pelatihan intensif,” ujar Pak Aji memberi penjelasan.
Pak Aji juga menyatakan bahwa ada harapan agar para peserta memahami bahwa Agile bukanlah hal eksklusif untuk dunia teknologi, tetapi dapat diterapkan di berbagai bidang kerja. “Pendekatan ini dipercaya mampu mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan kualitas kolaborasi, serta membangun tim yang mandiri, adaptif, dan berorientasi pada hasil yang nyata,” imbuhnya.
Pak Aji juga menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang. Karena itu, evaluasi dampaknya tidak bisa dilihat secara instan, namun akan terlihat dalam penguatan budaya organisasi dan efektivitas kerja tim ke depan.
“Sejauh ini, total sebanyak 55 peserta dari HSI telah mengikuti pelatihan mewakili berbagai bagian dan peran strategis di dalam organisasi,” ungkap Pak Aji. Ia menambahkan bahwa peserta pelatihan Agile Coaching dari HSI, merupakan kepala divisi, pemimpin grup, maupun individu yang lulus seleksi penyelenggara.
Menanggapi antusiasme peserta serta kebutuhan untuk memperluas jangkauan, panitia merencanakan batch keenam secara khusus ditujukan bagi peserta akhwat. Pelatihan ini dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 26–27 Juli 2025 dengan jumlah peserta terbatas, guna menjaga kualitas interaksi dan kenyamanan suasana belajar.
Rencana Berkelanjutan dan Dukungan Lintas Lembaga
Untuk batch yang akan datang, pelatihan direncanakan tetap diselenggarakan secara kolaboratif oleh Hijrah Coach, HSI, dan mitra seperti IOU (Islamic Online University). Format pelatihan akan tetap mengedepankan pendekatan praktis dan partisipatif seperti sebelumnya. Adapun peserta ditentukan oleh pihak penyelenggara, dan berasal dari berbagai lembaga dakwah yang memiliki kesamaan visi dalam penguatan tata kelola organisasi.
Terkait pembiayaan program, menurut penuturan Pak Aji, sistem yang diterapkan bersifat fleksibel. “Setiap batch ada yang mendapat beasiswa penuh, ada juga yang membiayai sendiri. Sebagai contoh, batch 5 telah dibiayai oleh IOU (Islamic Online University),” jelasnya. Model pembiayaan seperti ini mendukung keterbukaan akses bagi berbagai jenis peserta, baik dari internal HSI maupun dari lembaga mitra.
Membantu Membangun Tim Dakwah dengan Ilmu Psikologi Terapan
Dalam kesempatan terpisah, Founder Hijrah Coach, Coach Daru Dewayanto, MCM., MCC., ICE-AC, memaparkan secara mendalam tujuan, struktur isi, serta nilai strategis dari program pelatihan yang dirancang khusus bagi para pemimpin lembaga dakwah dan pendidikan. Hal ini diutarakannya dalam kegiatan Sosialisasi Beasiswa Agile Hijrah Coaching yang merupakan bagian dari kolaborasi antara Hijrah Coach, HSI, dan IOU (Islamic Online University) pada Selasa, 17 Juni 2025, secara daring melalui platform Zoom. Menurutnya, pelatihan ini bukan sekadar ajang motivasi atau kursus public speaking, melainkan program berbasis ilmu psikologi terapan yang bertujuan utama membangun dan memperkuat tim.
“Kita tidak belajar ilmu diniyah di sini. Justru teman-teman yang hadir sudah menguasai ilmu syar’i. Yang kita pelajari adalah ilmu untuk mendukung dakwah agar berjalan lebih baik khususnya di sisi pengembangan manusia dan organisasi,” tegas Coach Daru.
Coach Daru menegaskan bahwa pelatihan ini tidak bertujuan untuk mencetak public speaker ataupun motivator, meskipun kemampuan komunikasi peserta dijamin akan meningkat.
“Coaching itu bukan soal semangat pagi-pagi, bukan orasi. Tapi kemampuan membimbing seseorang agar mereka menemukan solusi dan bergerak dari dalam dirinya sendiri,” jelasnya.
Menurutnya program ini menggunakan pendekatan coaching profesional yang telah terakreditasi secara internasional, melalui standar Agile Coaching. Metode ini berakar pada applied psychology dan telah digunakan luas di lingkungan korporasi global. Kini, pendekatan tersebut dibawa ke ranah dakwah untuk memperkuat kepemimpinan dan kolaborasi dalam organisasi Islam.
Program Bersertifikasi Resmi dan Terakreditasi Internasional
Hijrah Coach, sebagai lembaga penyelenggara, disebut oleh Coach Daru sebagai satu-satunya institusi di Indonesia yang memiliki kewenangan untuk memberikan sertifikasi Agile Coaching berstandar internasional.
“Ilmu ini bukan karangan kami. Agile Coaching adalah framework global yang sudah digunakan di banyak negara. Kami hanya menjembatani agar bisa diakses oleh para pemimpin lembaga Islam yang ingin bertumbuh,” ujarnya.
Selanjutnya, Coach Daru menjelaskan bahwa selama dua hari pelatihan, peserta akan dibekali beragam kemampuan penting yang dapat langsung diterapkan dalam konteks kepemimpinan dan kerja tim. “Salah satu kompetensi utama yang akan diasah adalah kemampuan membimbing individu maupun tim untuk menyelesaikan permasalahan secara mandiri. Pendekatan ini berbeda dari metode instruktif konvensional karena lebih menekankan pada pemberdayaan dan kemandirian berpikir,” ujarnya.
Selain itu, peserta juga akan belajar bagaimana menjalankan peran sebagai pemimpin yang mampu melahirkan pemimpin baru atau yang ia sebut sebagai creating the next leader. Menurutnya, keberlanjutan organisasi sangat bergantung pada kemampuan seorang pemimpin dalam mempersiapkan generasi berikutnya melalui pola pikir pembinaan, bukan sekadar pengarahan.
Aspek penting lain yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah keterampilan mengelola konflik serta proses perubahan organisasi. Coach Daru menilai bahwa perubahan adalah keniscayaan dalam setiap struktur lembaga, dan oleh karena itu, para pemimpinnya perlu dibekali alat yang tepat untuk merespons dinamika tersebut secara bijak dan efektif.
Di samping itu, para peserta juga akan dilatih untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dua arah secara empatik dan mendalam. Kemampuan ini dianggap vital, terutama dalam proses pembinaan tim yang sering kali membutuhkan lebih dari sekadar instruksi — melainkan pemahaman, kepekaan, dan keterampilan menggali potensi.
Pelatihan ini juga mengusung nilai ikhtiar profesional dalam jalur dakwah, yang diharapkan bernilai ibadah bila dijalankan dengan niat dan proses yang benar.
“Kita tentu berharap pertolongan Allah dalam membangun organisasi. Tapi ikhtiar itu bagian dari ibadah juga. Coaching adalah alat bantu untuk berikhtiar secara lebih terstruktur,” tambahnya.
Untuk Siapa Program Ini?
Lebih lanjut, Coach Daru menegaskan bahwa program Sertifikasi Agile Hijrah Coaching dirancang secara khusus bagi mereka yang berada di garis depan pengelolaan dan pengembangan lembaga dakwah maupun pendidikan Islam. Peserta yang menjadi sasaran utama adalah para pimpinan lembaga, ustadz dan ustadzah yang memimpin unit kerja atau tim pengajar, serta para aktivis, relawan, dan penggerak organisasi keislaman lainnya. Tak ketinggalan, program ini juga relevan bagi para pengajar yang ingin memperkuat kapasitas kepemimpinan dan kolaborasinya di lingkungan kerja masing-masing.
Dengan pendekatan profesional dan nilai-nilai Islam yang tetap dijaga, beasiswa Agile Hijrah Coaching menjadi kesempatan langka bagi para praktisi dakwah untuk mempelajari alat bantu kepemimpinan berbasis coaching secara ilmiah dan berstandar internasional. Program ini bukan hanya untuk memperkuat strategi dakwah, tetapi juga untuk membangun tim dan organisasi yang sehat dan berkelanjutan.
“Kalau kita ingin dakwah kita berkelanjutan, maka kita harus mulai berinvestasi pada tim dan manusia yang menggerakkannya,” tutup Coach Daru.