Aqidah

Adab Mulia Berasal dari Aqidah Shahihah

Penulis: Abu Ady

Editor: Athirah Mustadjab


Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan. Dalam keyakinan umat Islam aqidah merupakan fondasi utama dalam keimanan, sedangkan ibadah dan adab merupakan bentuk realisasi dari aqidah itu sendiri. Aqidah dan adab atau akhlak adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seorang yang memiliki aqidah yang lurus akan memiliki akhlak yang baik, sebaliknya akhlak yang baik merupakan buah dari aqidah yang lurus.

Islam sangat memperhatikan penerapan adab sebagaimana perhatian terhadap penanaman aqidah yang bersih. Dengan kata lain, adab tak kalah penting daripada ilmu. Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

‌ نَحْنُ ‌إِلَى ‌قَلِيلٍ ‌مِنَ ‌الْأَدَبِ ‌أَحْوَجُ ‌مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.” (Madarijus Salikin, 2:356)

Pernyataan tersebut bukan bermaksud meremehkan keutamaan ilmu, tetapi untuk menekankan pentingnya adab dalam kehidupan. Jika seseorang berilmu tetapi tidak memiliki adab, ilmunya tidak memberikan manfaat baginya.

Adab adalah Buah Aqidah

Adab dalam Islam membahas berbagai aspek. Adapun adab tertinggi adalah kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan merendahkan diri, beribadah ikhlas, dan tidak menyekutukan-Nya. Selanjutnya, adab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti ajaran dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aqidah yang benar akan melahirkan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala sehingga setiap kita akan berhati-hati dalam berperilaku. Sebaliknya, orang yang aqidahnya bermasalah tidak akan memperhatikan akibat dari perbuatannya, baik perilakunya terhadap Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun kepada sesama makhluk Allah Ta’ala.

Agama Islam selalu memerintahkan pemeluknya untuk memiliki akhlak mulia di setiap keadaan dan setiap waktu. Bahkan agama Islam diibaratkan berisi akhlak mulia, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,

‌الدِّينُ ‌كُلُّهُ ‌خُلُقٌ. فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ: زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ.

“Agama itu seluruhnya adalah akhlak mulia. Oleh sebab itu, barang siapa yang lebih baik akhlaknya darimu berarti agamanya juga lebih baik darimu.” (Madarijus Salikin, 2:294)

Seorang muslim yang baik akhlaknya adalah tanda agamanya baik pula, sedangkan agama yang baik didasari pada aqidah yang benar pula. [lihat Rubrik Utama]

Adab Buruk, Aqidah Buruk

Sebagian orang keliru dalam membatasi aqidah hanya pada keyakinan hati semata, sehingga adab tidak lagi diperhatikan. Pada kenyataannya, adab yang buruk justru bisa mengantarkan seseorang menuju neraka. Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ada seorang wanita yang dikenal karena banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Namun, dia menyakiti tetangganya dengan lisannya." Maka Rasulullah bersabda, "Dia di neraka." Kemudian dikatakan lagi, "Wahai Rasulullah, ada pula seorang wanita yang sedikit shalat, puasa, dan sedekahnya. Namun, dia hanya bersedekah dengan potongan keju kering dan dia tidak pernah menyakiti tetangganya dengan lisannya." Rasulullah bersabda, "Dia di surga."[1]

Jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu membuktikan bahwa aqidah, adab, dan ibadah adalah unsur yang saling berkaitan. Memisahkan ketiganya adalah kesalahan fatal. Dengan demikian, ucapan semisal, “Mulutnya memang kasar tetapi hatinya bersih,” adalah keliru sebab hati yang bersih akan melahirkan ucapan yang baik dan sopan.

Ahli tauhid yang berakidah lurus, dengan level tertingginya yaitu ihsan, akan merasa selalu diawasi Allah Ta’ala. Orang yang ihsan akan selalu berusaha menjaga semua perbuatan, ucapan, bahkan pikirannya. Tidak maukah kita menjadi orang yang memiliki karakter ihsan sebagaimana digambarkan dalam hadits berikut ini?

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau beribadah untuk Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari no. 50 dan Muslim no. 8)

Berkaca Diri

Pada zaman sekarang kita melihat adab sebagian kaum muslimin sudah sedemikian rusak. Adab terhadap Allah Ta’ala diterjang, misalnya mengabaikan atau meremehkan syariat. Adab terhadap sesama makluk pun diterabas, misalnya mudah berkata kotor, atau menginjak-injak kehormatan orang lain. Menggaungkan pentingnya memperbaiki adab tak mungkin dilakukan tanpa menggemakan pentingnya memperbaiki aqidah. Cara aplikatif yang dapat ditempuh untuk meraih tujuan tersebut adalah:

Menanamkan tauhid ke dalam jiwa anak-anak sedari dini. Bukan semata memberikan pengajaran agama sebagai bentuk wawasan, tetapi juga memahamkan dan menanamkan tauhidullah beserta tujuan penciptaan manusia di muka bumi.

Kaitkan semua adab dengan keyakinan kepada Allah, bahwa kita hidup dalam pengawasan-Nya dan kita akan diberi balasan di akhirat sesuai amal kita selama di dunia.

Didiklah anak maupun remaja dengan keteladanan karena aqidah dan adab lebih mudah diserap melalui contoh nyata dibandingkan penyampaian lisan. Contoh ini dilakukan oleh orang tua dan guru serta setiap orang yang memiliki tanggung jawab dalam mendidik.

Sumber Segala Kebaikan

Semoga kita semakin menyadari bahwa aqidah yang benar adalah sumber segala kebaikan dunia maupun akhirat. Tatkala seorang hamba memiliki aqidah yang benar, hati dan tubuhnya akan tunduk kepada Allah Ta’ala, sehingga lisannya tidak mengucapkan kecuali kebaikan, tangan dan kakinya akan terjaga dari melakukan keburukan. Akhirul kalam, perbaikilah aqidah kita, niscaya Allah Ta’ala akan memperbaiki adab dan akhlak kita.

Referensi:

  • Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Ahmad, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah
0