Khotbah Jumat

Pendidikan Adab: Warisan Terbaik untuk Anak

Penulis: Abu Ady

Editor: Za Ummu Raihan


Khotbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kita bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala limpahkan kepada kita. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muḥammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tema khotbah kita kali ini adalah sebuah ungkapan yang cukup populer di kalangan para pengajar dan penuntut ilmu agama, bahkan dikenal pula oleh sebagian kalangan awam, yaitu "adab di atas ilmu" atau "adab lebih utama daripada ilmu."

Ungkapan ini disampaikan untuk mengingatkan kita akan pentingnya adab atau akhlak dalam kehidupan. Namun, sangat disayangkan, ungkapan ini terkadang disalahpahami hingga menimbulkan dampak negatif, seperti kemalasan dalam menuntut ilmu, enggan menghadiri majelis ilmu, bahkan ada yang mengira bahwa cukup memiliki adab tanpa harus berilmu. Pertanyaannya: benarkah adab lebih utama daripada ilmu? Ataukah justru adab dan ilmu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan? Ataukah keduanya justru bisa berjalan beriringan?

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Perlu kita ketahui bahwa ungkapan tersebut tidak berasal dari Al-Qur’an maupun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan merupakan nasihat dari ulama salaf. Di antaranya adalah perkataan Imam Malik rahimahullah kepada seorang pemuda Quraisy,

يَا ابْنَ أَخِي، ‌تَعَلَّمِ ‌الْأَدَبَ ‌قَبْلَ ‌أَنْ ‌تَتَعَلَّمَ ‌الْعِلْمَ

"Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu." (Gharaʾib Hadits Al-Imam Malik, no. 48)

Makna dari nasihat Imam Malik tersebut adalah bahwa adab merupakan fondasi dan pintu keberkahan dalam menuntut ilmu. Namun, hal itu bukan berarti adab bisa menggantikan ilmu atau menjadi alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Pada hakikatnya, adab yang benar dalam Islam pun harus dibangun di atas ilmu yang benar.

Tanpa ilmu, seseorang mungkin mengira dirinya telah beradab, padahal sejatinya ia menyimpang dari syariat dan jauh dari akhlak yang baik. Mempelajari adab terlebih dahulu dari ilmu maksudnya adalah dalam proses menuntut ilmu seseorang hendaknya memiliki adab yang baik. Barang siapa yang buruk adabnya, sulit baginya menjadi penuntut ilmu yang sejati.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Setiap muslim dan muslimah wajib untuk menuntut ilmu syar’i, khususnya ilmu agama yang wajib diketahui, misalnya ilmu tentang rukun iman dan rukun Islam. Demikian pula ilmu terkait muamalah seperti jual-beli, karena hampir setiap kita melakukannya. Adapun muslim dan muslimah yang hendak menikah perlu mempelajari ilmu pernikahan. Para orang tua perlu memahami ilmu dalam mendidik anak. Tentara wajib mengetahui ilmu jihad. Imam dan guru Al-Qur’an wajib menguasai ilmu Al-Qur’an, serta ilmu-ilmu lainnya sesuai dengan kondisi masing-masing.

Tentu setiap jenis ilmu memiliki adab yang menyertainya. Misalnya dalam jual-beli, selain mengetahui hukum halal dan haramnya, kita juga perlu memahami adab berjual-beli dalam Islam.

Setiap kita harus mengetahui apa saja yang wajib ia pelajari, kemudian bersegera untuk mempelajarinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‌طَلَبُ ‌الْعِلْمِ ‌فَرِيضَةٌ ‌عَلَى ‌كُلِّ ‌مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah, no. 224)

Dalam beribadah pun, kita diwajibkan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ibadah tersebut karena ilmu adalah syarat diterimanya ibadah, pelindung dari kesalahan pemahaman, dan penjaga kita dari kesesatan.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Saat ini tidak sedikit orang merasa cukup dengan adab tanpa memperhatikan ilmu, padahal adab yang tidak dibangun di atas ilmu bisa jadi tidak bernilai di sisi Allah. Tanpa ilmu, kita tidak tahu bagaimana adab yang benar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun kepada sesama manusia. Bisa saja yang dianggap adab hanyalah kebiasaan atau tradisi yang justru bertentangan dengan syariat.

Adab adalah perhiasan bagi orang yang berilmu, dan menjadi bukti nyata dari ilmu yang ia miliki. Namun tanpa ilmu, adab menjadi rapuh. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu syar’i dengan benar agar ia bisa beradab sesuai tuntunan Islam.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Saat ini, kita hidup di zaman yang penuh dengan penurunan kualitas adab. Ilmu tersebar luas dan mudah diakses, tetapi akhlak justru sering kali mengalami kemerosotan. Oleh karena itu, marilah kita satukan kembali dua kekuatan agung dalam Islam: ilmu dan adab. Jangan pernah memisahkan keduanya, dan jangan menjadikan salah satunya sebagai alasan untuk meninggalkan yang lain. Mempelajari adab dan mempelajari ilmu adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan.

Mari kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dan jadikan ilmu tersebut sebagai wasilah (sarana) untuk memperbaiki adab kita—baik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maupun kepada sesama manusia.

Di akhir khotbah ini, marilah kita bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta memanjatkan doa untuk diri kita sendiri, keluarga, dan seluruh kaum muslimin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِينَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. واشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ

Referensi:

  • Ibnu Al-Muzaffar. Ghara'ib Hadits Al-Imam Malik. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
0