Tausiyah Ustadz
Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://youtu.be/9XOEQq30oDQ?si=-6CNKAEyFrC97_vc

Adab dan Akhlak Penuntut Ilmu

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitriah


Sebagaimana telah kita ketahui bersama, di antara amalan yang paling utama dari sekian banyak amalan lainnya adalah thalabul 'ilm (menuntut ilmu agama).

Para ulama menyebutkan amalan yang merupakan amalan yang paling utama, di antaranya adalah:

  1. thalabul 'ilm;
  2. dzikrullah;
  3. jihad fi sabilillah.

Ketiga amalan ini merupakan amalan yang paling banyak disebutkan oleh para ulama dan paling banyak ganjarannya. Namun, apabila dibandingkan dari ketiganya, maka pendapat yang lebih kuat, amalan yang paling afdhal adalah thalabul 'ilm.

Disebutkan oleh para ulama, di antara sebabnya yakni karena dua amalan yang lain — dzikrullah dan jihad fi sabilillah— keduanya membutuhkan ilmu. Ini menujukkan keutamaan ilmu di atas dzikrullah dan jihad fi sabilillah.

A. KEUTAMAAN ILMU AGAMA

Keutamaan ilmu agama, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an, bahwasanya Allah akan mengangkat orang yang berilmu.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰت

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar: 9)

Pertanyaan tersebut sifatnya adalah pengingkaran, yakni artinya tidak sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.

Masih terdapat banyak dalil tentang keutamaan menuntut ilmu, tetapi kita cukupkan dengan dua dalil ini.

B. ADAB DALAM MENUNTUT ILMU

Di dalam menuntut ilmu agama, ada adab (etika) yang akan membantu seseorang dalam mendapatkan ilmu. Menuntut ilmu agama termasuk amal shalih, sehingga kita didorong dan dianjurkan untuk mengerjakannya.

Perlu diketahui bahwa menuntut ilmu termasuk amal shalih. Oleh karenanya, amal shalih tidak akan diterima oleh Allah, kecuali terpenuhi dua syarat, yaitu ikhlas karena Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, seorang penuntut ilmu wajib memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu.

Adab Pertama: Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Orang yang menuntut ilmu karena Allah Ta'ala akan mendapatkan pahala. Adapun orang yang menuntut ilmu karena dunia karena ingin dikatakan seorang alim, ingin manusia berpaling kepadanya, atau karena niat dunia yang lain maka dia hanya mendapatkan hal yang menjadi tujuannya. Boleh jadi, dia menjadi terkenal atau mendapatkan keinginan dunia yang lain. Akan tetapi, dia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah, bahkan itu bisa menjadi ancaman bagi dirinya di akhirat kelak.

Sebagaimana dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ،أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارِ

"Barang siapa yang mencari ilmu dengan tujuan untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama, ingin mendebat orang-orang yang bodoh, atau ingin agar manusia berpaling kepadanya maka Allah akan memasukan dia ke dalam neraka." (Dikeluarkan oleh An-Nasa’i di dalam Sunan-nya. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani.)

Di dalam hadits lain disebutkan,

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

"Seseorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an maka kenikmatan-kenikmatannya akan didatangkan dan diperlihatkan kepadanya, lalu ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyainya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur'an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur'an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca Al-Qur'an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut disebutkan فَقَدْ قِيْلَ (sungguh telah dikatakan) yang maknanya: “Benar. Engkau mendapatkan hal yang engkau inginkan. Manusia mengatakan bahwa engkau adalah seorang 'alim dan seorang qari.”

Riya’ dan niat yang salah dalam menuntut ilmu merupakan sebab masuknya seseorang ke neraka. Ini menjelaskan tentang pentingnya seseorang menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu agama. Menjaga keikhlasan perlu perjuangan karena hati manusia senantiasa berbolak-balik, sehingga kita perlu berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia menjaga keikhlasan kita.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، إِنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

"Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih dahsyat dan lebih berat daripada niatku sendiri karena niat tersebut senantiasa berganti-ganti."

Demikianlah, adab pertama adalah ikhlas dalam menuntut ilmu.

Adab Kedua: Mengamalkan Ilmu

Salah satu bentuk niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah adanya keinginan untuk mengamalkan ilmu tersebut karena tujuan utama mendatangi majelis ilmu adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh.

Apabila seseorang menuntut ilmu tidak disertai dengan mengamalkan ilmu, maka ini membahayakan dirinya. Allah menyifatkan orang-orang Yahudi yakni mereka dimurkai oleh Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

"Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7)

Orang-orang Yahudi dimurkai oleh Allah karena mereka berilmu tetapi mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut. Mereka mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, tetapi mereka tidak mau beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan di dalam Al-Qur'an bahwa mereka mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ

"Mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." (QS. Al-Baqarah: 146)

Kemudian, mereka diumpamakan seperti keledai sebagaimana disebutkan di surah Al-Jum'uah. Allah Ta’ala berfirman,

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tiada memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Jumu'ah: 5)

Mereka menemukan nama dan penyebutan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tertulis di dalam Injil dan Taurat, tetapi mereka tidak beriman. Mereka memiliki ilmu, tetapi mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut.

Seseorang tidak bisa menjadi seorang yang berilmu jika dia tidak mengamalkan ilmu tersebut.

Demikianlah, adab kedua di antara adab-adab dalam menuntut ilmu adalah beramal dengan ilmu yang kita dapat. Sedikit ilmu yang kita amalkan lebih baik daripada banyak ilmu tetapi tidak diamalkan.

Abu Abdurrahman As-Sulami, salah seorang tabi'in, mengatakan,

حَدَّثَنا مَن كان يُقرِئُنا مِن أصْحابِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، أنَّهم كانوا يَقتَرِئونَ مِن رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَشْرَ آياتٍ، فلا يَأخُذونَ في العَشْرِ الأُخرى حتى يَعلَموا ما في هذه مِن العِلْمِ والعَمَلِ، قالوا: فعَلِمْنا العِلْمَ والعَمَلَ.

Di dalam hadits lain disebutkan,

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

"Seseorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an maka kenikmatan-kenikmatannya akan didatangkan dan diperlihatkan kepadanya, lalu ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyainya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur'an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur'an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca Al-Qur'an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut disebutkan فَقَدْ قِيْلَ (sungguh telah dikatakan) yang maknanya: “Benar. Engkau mendapatkan hal yang engkau inginkan. Manusia mengatakan bahwa engkau adalah seorang 'alim dan seorang qari.”

Riya’ dan niat yang salah dalam menuntut ilmu merupakan sebab masuknya seseorang ke neraka. Ini menjelaskan tentang pentingnya seseorang menjaga keikhlasan dalam menuntut ilmu agama. Menjaga keikhlasan perlu perjuangan karena hati manusia senantiasa berbolak-balik, sehingga kita perlu berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia menjaga keikhlasan kita.

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، إِنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

"Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih dahsyat dan lebih berat daripada niatku sendiri karena niat tersebut senantiasa berganti-ganti."

Demikianlah, adab pertama adalah ikhlas dalam menuntut ilmu.

Adab Kedua: Mengamalkan Ilmu

Salah satu bentuk niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah adanya keinginan untuk mengamalkan ilmu tersebut karena tujuan utama mendatangi majelis ilmu adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh.

Apabila seseorang menuntut ilmu tidak disertai dengan mengamalkan ilmu, maka ini membahayakan dirinya. Allah menyifatkan orang-orang Yahudi yakni mereka dimurkai oleh Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

"Bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7)

Orang-orang Yahudi dimurkai oleh Allah karena mereka berilmu tetapi mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut. Mereka mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, tetapi mereka tidak mau beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan di dalam Al-Qur'an bahwa mereka mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ

"Mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." (QS. Al-Baqarah: 146)

Kemudian, mereka diumpamakan seperti keledai sebagaimana disebutkan di surah Al-Jum'uah. Allah Ta’ala berfirman,

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tiada memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Jumu'ah: 5)

Mereka menemukan nama dan penyebutan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tertulis di dalam Injil dan Taurat, tetapi mereka tidak beriman. Mereka memiliki ilmu, tetapi mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut.

Seseorang tidak bisa menjadi seorang yang berilmu jika dia tidak mengamalkan ilmu tersebut.

Demikianlah, adab kedua di antara adab-adab dalam menuntut ilmu adalah beramal dengan ilmu yang kita dapat. Sedikit ilmu yang kita amalkan lebih baik daripada banyak ilmu tetapi tidak diamalkan.

Abu Abdurrahman As-Sulami, salah seorang tabi'in, mengatakan,

حَدَّثَنا مَن كان يُقرِئُنا مِن أصْحابِ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، أنَّهم كانوا يَقتَرِئونَ مِن رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَشْرَ آياتٍ، فلا يَأخُذونَ في العَشْرِ الأُخرى حتى يَعلَموا ما في هذه مِن العِلْمِ والعَمَلِ، قالوا: فعَلِمْنا العِلْمَ والعَمَلَ.

"Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan kami Al-Qur’an berkata bahwa mereka dahulu mempelajari sepuluh ayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak menambah sepuluh ayat lainnya sampai mereka memahami ilmu dan amalan dari ayat-ayat tersebut. Mereka berkata, 'Kami pun memahami dan mengamalkan (ayat tersebut).’" (HR. Ahmad no. 23482)

Oleh karena itu, disebutkan bahwa apabila ada di antara mereka yang menghafal surat Al-Baqarah, maka dia menjadi orang yang mulia, orang yang memiliki kedudukan di mata para sahabat karena jika sudah menghafal berarti dia sudah mengilmu segala sesuatu yang ada di dalam surat Al-Baqarah (ilmu tentang tauhid, fiqih, zakat, puasa, haji, jual beli, dan lain-lain) karena semua itu disebutkan di surah Al-Baqarah.

Adab Ketiga: Sabar

Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran. Jika seseorang tidak sabar, dirinya tidak akan mendapatkan ilmu. Bentuk-bentuk kesabaran yang dimaksud sebagai berikut.

1. Kesabaran saat menghadiri majelis ilmu

Disebutkan bahwa Al-Khatib Al-Baghdadi pernah membaca Shahih Al-Bukhari dalam tiga kali pertemuan di hadapan gurunya. Dua pertemuan pertama dilakukan sejak setelah maghrib sampai waktu shalat subuh tiba. Malam kedua juga demikian, dari setelah maghrib, sampai datangnya waktu shalat subuh. Pada pertemuan ketiga, dari pertengahan siang, sampai maghrib, lalu dilanjutkan setelah maghrib, hingga datang waktu shalat subuh. Inilah contoh ulama yang sabar bermajelis ketika menuntut ilmu.

2. Kesabaran ketika menghafal

Jika ingin mendapatkan ilmu, kita harus menghafal Al-Qur'an karena Al-Qur'anul Karim adalah sumber ilmu. Di dalamnya banyak pelajaran (fiqih, ushul fiqih, lughah, dan berbagai disiplin ilmu lainnya). Selain itu, seorang penuntut ilmu diharuskan menghafal hadits. Ini semua memerlukan kesabaran. Kewajiban seorang penuntut ilmu adalah bersabar tidak boleh berputus asa.

C. MENGGUNAKAN WAKTU SEBAIK MUNGKIN

Apabila seseorang ingin mendapatkan ilmu agama, hendaknya dia menjadi orang yang “bakhil” di dalam masalah waktu, yakni sukar menghamburkan waktunya. Dia harus memanfaatkan sebagian besar waktunya dalam hal seperti:

  • menghadiri majelis ilmu;
  • mencatat ilmu;
  • murajaah ilmu; dan
  • menghafal ilmu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu, yaitu nikmat kesehatan dan waktu senggang." (HR. Bukhari no. 6412)

D. MENCARI SAHABAT DALAM MENUNTUT ILMU

Teman dan sahabat sangat memiliki pengaruh. Apabila seorang penuntut ilmu memiliki teman yang rajin, berusaha untuk hadir di majelis ilmu, dan bersemangat untuk mencatat serta bertanya, maka sedikit-banyak itu akan mempengaruhi dirinya. Jika dia melihat temannya semangat, dia pun akan termotivasi untuk semangat. Begitu pun sebaliknya, jika temannya malas, dirinya juga akan terbawa malas karena terpengaruh dengan sifat-sifat buruk temannya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang memilih teman yang bersemangat di dalam menuntut ilmu karena yang demikian akan membantunya dalam mempelajari ilmu agama.

E. JAGALAH ADAB TERHADAP GURU

Hendaknya penuntut ilmu memiliki adab yang baik terhadap gurunya, di antaranya:

  • ketika berbicara dengan gurunya,
  • ketika berperilaku di hadapan gurunya, dan
  • ketika duduk bersama gurunya, baik ketika di majelis ilmu maupun di luar majelis ilmu.

Ini semua penting untuk diperhatikan karena sunnah para ulama yang diwariskan dari generasi ke generasi, bahwa mereka senang menyampaikan ilmu dan berlapang dada di dalam menyampaikan ilmu kepada orang yang beradab di hadapannya.

Berikut adalah penjelasan tentang adab dalam berinteraksi dengan guru:

1. Hendaknya seseorang menghormati dan menjaga kehormatan seorang guru. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِف لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

"Bukan termasuk golongan kami: orang yang tidak menghormati tetua di antara kami, tidak menyayangi yang anak muda di tengah kami, serta tidak mengenal hak orang alim di antara kami." (Shahih Al-Jami’ no. 5443. Hadits hasan.)

Hal ini menandakan kewajiban seseorang memberikan hak kepada orang-orang yang berilmu.

2. Menjaga cara duduknya ketika bersama gurunya, misalnya tidak memanjangkan kakinya ke arah guru atau tidak bersandar ketika sedang berada di majelis gurunya.

3. Hendaknya ketika berbicara dengan gurunya dengan ucapan yang baik, memanggil guru dengan gelar yang sepantasnya, misalnya mengatakan, "Yaa Ustadzi. Yaa Ustadzana.”

4. Ketika berada di dalam majelis, hendaknya mendengar dengan baik dan tidak menyibukkan diri dengan perkara-perkara lain yang tidak bermanfaat.

5. Membuka kitab dengan hati-hati.

6. Tidak memotong ucapan ketika gurunya berbicara.

Demikianlah di antara adab seseorang kepada gurunya.

F. MELAKUKAN RIHLAH DALAM MENUNTUT ILMU

Kemudian di antara adab dalam menuntut ilmu adalah melakukan rihlah atau perjalanan dalam rangka menuntut ilmu. Ini merupakan sunnah para ulama, yang juga telah dilakukan pada masa sebelumnya oleh para sahabat radhiyallahu 'anhum.

Disebutkan bahwa seorang sahabat, yaitu Jabir ibnu Abdillah radhiyallahu ’anhu, melakukan perjalanan panjang selama satu bulan hanya untuk mencari satu hadits. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan atsar tentang Jabir bin Abdillah,

"Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sedangkan aku tidak mendengar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, –pen)."

Jabir berkata, "Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais." Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, "Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di pintu." Penjaga itu masuk dan menyampaikan pesan itu kepada Abdullah bin Unais. Abdullah bertanya, "Jabir bin Abdillah?" Aku menjawab, "Ya, benar!" (Begitu tahu kedatanganku), Abdullah bin Unais bergegas keluar, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya."

Aku berkata kepadanya, "Telah sampai kepadaku sebuah hadits, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishash (pembalasan atas kezaliman di hari kiamat, –pen.). Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dahulu meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya."

Abdullah bin Unais berkata, "Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seluruh manusia atau hamba nanti akan dikumpulkan di hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhma.’ Kami bertanya, ‘Apa itu buhma?’ Beliau menjawab, ‘(Artinya) tidak membawa apa pun.’

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menyeru mereka dengan suara yang semua mendengar, ‘Aku adalah Al-Malik (Maharaja)! Aku adalah Ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan hamba)! Tidaklah pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni neraka untuk masuk ke dalam neraka sementara masih ada hak penghuni surga pada dirinya, hingga Aku meng-qishash-nya (yakni diselesaikan hak penghuni surga itu darinya). Tidak pantas pula bagi siapa pun dari kalangan penghuni surga untuk masuk ke dalam surga sementara masih ada hak penghuni neraka pada dirinya hingga Kuselesaikan hak penghuni neraka itu darinya, meskipun hanya sebuah tamparan."

Kami bertanya, "Bagaimana caranya menunaikan hak mereka sedangkan kita menemui Allah ‘Azza Wajalla dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak memiliki apa pun?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Diselesaikan dengan kebaikan dan kejelekan yang kita miliki."

Ini semua menunjukkan betapa dahulu para sahabat sudah mencontohkan rihlah di dalam menuntut ilmu. Selain itu, riwayat di atas memperlihatkan bahwa di antara sunnah para ulama zaman dahulu adalah melakukan perjalanan panjang demi menuntut ilmu. Salah satu kisah terkenal adalah rihlah Imam Syafi'i rahimahullah yang datang dari Mekkah ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik rahimahullah, kemudian selanjutnya Imam Syafi’i berpindah ke kota lain untuk belajar dengan ulama-ulama yang lain.

Di antara hikmah rihlah menuntut ilmu adalah orang yang merantau untuk menuntut ilmu biasanya lebih mampu berkonsentrasi dalam belajar.

G. JAUHI MAKSIAT

Ilmu yang kita pelajari memiliki wadah. Wadah ilmu adalah al-qalbu. Ketahuilah, kemaksiatan adalah hal yang mengotori qalbu seseorang. Ilmu adalah sesuatu yang mulia sehingga memerlukan tempat yang bersih. Apabila hati orang tersebut dalam keadaan kotor, maka ilmu tidak akan lama tinggal di dalam hati orang tersebut. Seseorang yang menginginkan agar ilmu menetap di dalam qalbu-nya (tidak hilang begitu saja) hendaknya menjauhkan dirinya dari kemaksiatan. Allah Ta’ala mengatakan,

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

"Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 282)

Ayat ini menunjukkan sebab Allah mengajarakan ilmu kepada seseorang yakni jika dia bertakwa. Di antara makna takwa adalah menjauhi kemaksiatan.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah suatu saat merasakan hafalannya melemah, kemudian beliau mendatangi gurunya, yaitu Waqi', untuk mengadukan kondisi beliau. Lantas gurunya menganjurkan Imam Syafi’i agar meninggalkan kemaksiatan. Waqi’ berpesan bahwa ilmu adalah cahaya dari Allah, dan cahaya dari Allah tidak akan diberikan kepada orang yang senang bermaksiat.

H. PENUTUP

Demikianlah pemaparan mengenai adab yang perlu dijaga oleh seorang penuntut ilmu dalam usahanya tatkala mengumpulkan ilmu syar’i. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya yang istiqamah di atas ilmu dan adab. Berbekal dua kemuliaan tersebut, kita berharap agar Allah Ta’ala mengumpulkan kita di Surga Firdaus bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Amin.

0