Fiqih

Adab-Adab yang Berkaitan dengan Buang Hajat

Penulis: Ustadz Ja’far Ad-Demaky

Editor: Athirah Mustadjab


Pendahuluan

Buang hajat adalah salah satu aktivitas manusiawi yang dilakukan oleh semua orang. Agama Islam telah mengajarkan segala sesuatu hingga masalah buang hajat, sebagaimana ucapan Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, “Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dan tidak ada satu burung pun yang mengepakkan sayapnya di udara kecuali beliau telah mengajarkan kepada kami tentang ilmunya.” (Miftahul Jannah Imam Suyuthi, hlm. 32)

Dalam pembahasan buang hajat, ada dua istilah yang perlu diketahui, yaitu istinja dan istijmar. Istinja adalah membersihkan sesuatu yang keluar dari “dua jalan”[1] dengan menggunakan air. Adapun istijmar adalah membersihkan dengan cara mengusap sesuatu yang keluar dari dua jalan dengan menggunakan sesuatu yang bersih, mubah, dan dapat membersihkan, misalnya: batu, kapas, tisu daun, kertas, kain, dan lain-lain. (Fiqih Muyassar, hlm. 9)

Adab-adab Buang Hajat

Sebagai agama yang memperhatikan kebersihan dan kesucian, Islam mendidik umatnya untuk memperhatikan adab-adab yang berkenaan dengan buang hajat. Di antaranya:

Adab pertama: Sebelum memasuki al-khala’ (kamar mandi/WC), disunnahkan untuk membaca,

بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”<

Doa ini berdasarkan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِتْرٌ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ

“Penghalang antara jin dan aurat Anak Adam, jika salah seorang dari kalian memasuki al-khala’, adalah mengucapkan, ‘Bismillah.’” (HR. Tirmidzi no. 606 -- ini adalah lafalnya -- serta Ibnu Majah no. 29)

Juga hadits Anas radhiyallahu ‘anhu; beliau berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak memasuki kamar kecil, beliau mengucapkan, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.’” (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari, 1:242, no. 142 dan Muslim no. 375)

Adab kedua: Disunnahkan untuk mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke kamar mandi. Adapun ketika keluar, maka disunnahkan untuk mendahulukan kaki kanan.

Perlu diperhatikan bahwa ini diqiyaskan dengan sunnah penggunaan kaki kanan untuk masuk masjid. (Lihat Syarhul Mumti’, 1:108)

Adab ketiga: Disunnahkan jika keluar darinya dengan mengucapkan,

غُفْرَانَكَ

“(Ya Allah, aku mengharap) ampunan-Mu.”

Berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha; dia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلاَءِ قَالَ: غُفْرَانَكَ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan, ‘(Ya Allah, aku mengharap) ampunan-Mu.” (HR. Abu Daud, no. 17 dan At-Tirmidzi, no. 7)

Adab keempat: Jika ingin buang air di tempat terbuka, maka disunnahkan untuk menjauh hingga tidak terlihat oleh orang lain.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu; dia berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَأْتِي الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يَرَى.

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak buang hajat di lapangan terbuka, melainkan beliau bersembunyi hingga tidak terlihat.” (HR. Abu Daud, no. 2 dan Ibnu Majah, no. 335)

Adab kelima: Disunnahkan untuk tidak mengangkat pakaian, kecuali setelah dekat dengan tanah.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ لاَ يَرْفَعُ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنَ اْلأَرْضِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya kecuali setelah dekat dengan tanah.“ (HR. Abu Daud, no. 17 dan At-Tirmidzi, no. 7. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib)

Adab keenam: Tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat, baik di lapangan terbuka maupun dalam bangunan.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوْا

“Jika kalian hendak buang hajat, janganlah menghadap dan membelakangi kiblat. Akan tetapi, menghadaplah ke arah timur atau ke barat.” (HR. Bukhari, no. 144 dan Muslim, no. 264)

Abu Ayyub berkata, “Kami datang ke Syam lalu kami melihat banyak kakus yang dibangun menghadap ke kiblat, sehingga kami berpaling darinya ke arah lain dan memohon ampun kepada Allah.”

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama: Apakah sunnah ini berlaku di luar ruangan atau di dalam ruangan juga karena terdapat hadits Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa beliau melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air kecil di rumahnya dengan menghadap ke arah Syam dan membelakangi kiblat.

Adab ketujuh: Dilarang buang hajat di jalan yang dilalui manusia, di tempat berteduh mereka, di bawah pohon yang berbuah, atau di saluran air.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوا المَلاعِنَ الثلاثةَ: البَرازَ في المَوَارِدِ، وقارِعَةِ الطَريقِ، والظّلِّ

"Menjauhlah dari tiga tempat yang terlaknat, yaitu buang hajat di saluran air, di tengah jalan, dan di tempat berteduh manusia.” (HR. Abu Daud, no. 26 dan Ibnu Majah, no. 328)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ. قَالُوْا: وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

“Jauhilah dua perkara yang mejabirngundang laknat.” Mereka bertanya, “Apakah dua perkara yang mengundang laknat itu, wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Orang yang buang hajat di jalan orang-orang atau di tempat berteduh mereka.” (HR. Muslim, no. 268)

Adab kedelapan: Dimakruhkan jika seseorang kencing di tempat mandinya

Dari Humaid Al-Himyari; dia berkata, “Aku menjumpai seorang yang telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Abu Hurairah menyertai beliau. Dia berkata,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُوْلَ فِيْ مُغْتَسَلِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami bersisir setiap hari dan kencing di tempat mandinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 238 dan Ahmad, no. 17012)

Adab kesembilan: Dilarang kencing di air yang tidak mengalir.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

“Beliau melarang kencing di air yang menggenang.” (HR. Muslim, no. 281)

Adab kesepuluh: Diperbolehkan kencing sambil berdiri jika ada maslahat, tetapi duduk/jongkok lebih utama.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ: ادْنُهُ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di tempat pembuangan sampah sebuah kaum, lalu beliau kencing sambil berdiri; aku pun menjauh. Beliau lantas berkata, ‘Mendekatlah!’ Lalu aku mendekat hingga aku berdiri di dekat kaki beliau. Beliau kemudian berwudhu dan membasuh bagian atas kedua khuf (sepatu panjang) beliau.” (HR. Al-Bukhari, no. 224 dan Muslim, no. 273)\

Dikatakan bahwa duduk lebih utama karena begitulah seringnya perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ، مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ جَالِسًا

“Barang siapa yang mengatakan kepada kalian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing, melainkan dengan duduk.” (HR. At-Tirmidzi, no. 12 dan An-Nasa’i, no. 29. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 201)

Perkataan Aisyah tidak menafikan riwayat yang dibawakan oleh Hudzaifah karena Aisyah hanya mengabarkan apa yang dia lihat dan Hudzaifah juga mengabarkan apa yang dia lihat. Sebagaimana diketahui (dalam kaidah) bahwa yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan karena pada pendapat yang menetapkan itu terdapat ilmu yang lebih banyak. (Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, hlm. 44)

Dalam memahami hadits ini para ulama berbeda pendapat:

  1. Kencing sambil berdiri dimakruhkan jika tanpa adanya kebutuhan. Ini adalah pendapat Aisyah, Ibnu Mas’ud, Umar, Abu Musa, Asy-Sya’bi, dan Ibnu Uyainah. Hanafiyah dan Syafi’iyah juga berpegang dengan pendapat ini.
  2. Kencing sambil berdiri diperbolehkan secara mutlak. Ini adalah pendapat Umar dalam riwayat lain, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, Sahl bin Sa’ad, Anas, Abu Hurairah, dan Hudzaifah. Ini pula yang menjadi pendapat Hanabilah.
  3. Apabila seseorang sulit kencing sambil duduk/jongkok karena air kencingnya tidak bisa keluar, maka dia boleh kencing sambil berdiri. Adapun jika dia tidak mengalami kesulitan apa pun jika kencing sambil duduk/jongkok, maka dia tidak boleh kencing sambil berdiri. Ini adalah pendapat Malik dan dikuatkan oleh Ibnul Mundzir.

Abu Malik berkata bahwa yang rajih adalah kencing berdiri itu tidak dibenci, selama seseorang tetap aman dari percikan air kencing tersebut. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1:82)

Adab kesebelas: Haram buang hajat di pekuburan kaum muslimin.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ أَمْشِيَ عَلَى جَمْرَةٍ، أَوْ سَيْفٍ، أَوْ أَخْصِفَ نَعْلِي بِرِجْلِي، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَمْشِيَ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ، وَمَا أُبَالِي أَوَسْطَ الْقُبُورِ قَضَيْتُ حَاجَتِي، أَوْ وَسْطَ السُّوقِ

“Sungguh aku berjalan di atas bara api, berjalan di atas pedang, atau menambal sendal dengan kakiku lebih aku sukai daripada aku berjalan di atas pekuburan kaum muslimin dan tidak peduli apakah di tengah kubur aku buang hajat atau di tengah pasar.” (HR. Ibnu Majah, no. 1567. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil, 1:102)

Adab kedua belas: Tidak boleh menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing. Juga tidak menggunakan kanan saat bercebok dengan air.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وإذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمسح ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَلاَ تمسح أحدكم ولا يتمسح بِيَمِيْنِهِ

“Jika salah seorang di antara kalian kencing, janganlah ia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya. Jangan pula ia cebok dengan tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhari, no. 5630 dan Muslim, no. 267)

Adab ketiga belas: Diperbolehkan bersuci dengan air, batu, atau yang serupa dengan batu. Akan tetapi, menggunakan air lebih utama.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu; dia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki kakus. Lalu aku dan anak lain yang seusia denganku membawakan beliau setimba air dan sebuah tombak kecil. Beliau lantas bersuci dengan air.” (HR. Muslim, no. 271)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ فَلْيَسْتَطِبْ بِهَا فَإِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian hendak buang hajat, hendaklah dia membawa tiga buah batu. Hendaklah ia bersuci dengannya karena itu mencukupinya.” (HR. Ahmad, 6:108 dan Ad-Daruqutni, no. 144)

Adab keempat belas: Tidak boleh menggunakan kurang dari tiga batu untuk membersihkan diri setelah buang hajat.

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Dikatakan kepadanya, “Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal hingga masalah buang air besar?” Dia menjawab,

أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِالْيَمِيْنِ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِرَجِيْعٍ، أَوْ بِعِظَمٍ

“Benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu, dan bersuci dengan kotoran atau tulang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 16; Abu Daud, no. 7; dan Ibnu Majah, no. 316)

Adab kelima belas: Tidak boleh bersuci dengan tulang atau kotoran.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu; ia berkata,

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَمَسَّحَ بِعِظَمٍ أَوْ بِبَعْرٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bersuci dengan tulang atau kotoran.” (HR. Muslim, no. 263)

Adab keenam belas: Dimakruhkan berbicara saat buang hajat, kencing di lubang, menghadap arah angin, dan membawa sesuatu yang mengandung zikir kepada Allah.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan,

أَنَّ رَجُلًا مَرَّ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ، فَسَلَّمَ. فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

“Sungguh seorang laki-laki lewat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing, tetapi beliau tidak menjawab salamnya.” (HR. Muslim, no. 370)

Dalam hadits Qatadah dari Abdullah bin Sirjis diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing di lubang. Qatadah ditanya tentang alasannya, kemudian beliau menjawab, “Sebutkan bahwa di tempat itu ada merupakan tempat tinggal jin.” (HR. Abu Daud, no. 29 dan An-Nasa’i, no. 34)

Alasan lainnya, karena tidak menutup kemungkinan bahwa di lubang tersebut ada hewan, sehingga jika seseorang kencing di sana maka hewan tersebut akan tersakiti. Mungkin juga, lubang tersebut adalah tempat tinggal jin, sehingga orang yang kencing di sana dapat menyakiti mereka semua.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah makruhnya masuk kakus dengan membawa sesuatu yang mengandung zikir kepada Allah kecuali jika memang ada keperluan. (Lihat Fiqih Muyassar, hlm. 12)

Bahayanya jika Seorang Muslim Tidak Memperhatikan Kebersihan Dirinya

Air kencing manusia adalah najis, sehingga badan, pakaian, atau tempat yang terkena najis harus dibersihkan. Jika tidak dibersihkan, itu bisa menjadi penyebab seseorang mendapat azab kubur.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkan diri kalian dari kencing karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur berasal darinya.” (HR. Ad-Daruqutni, no. 459. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melalui dua kubur, lalu beliau bersabda,

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بَيْنَ النَّاسِ بِالنَّمِيْمَةِ

“Sesungguhnya mereka berdua sedang diazab. Mereka diazab bukan karena dosa besar. Salah seorang di antara mereka diazab karena dia tidak bersuci dari kencingnya. Adapun yang satunya suka mengadu domba orang.” (HR. Al-Bukhari, no. 218 dan Muslim, no. 292)

Penutup

Islam datang dengan panduan yang menyeluruh, bahkan hingga aktivitas sederhana semisal buang hajat. Dengan mengamalkan syariat ini, insyaallah kebaikan akan meliputi kita semua. Amin.

Referensi:

  • Miftahul Jannah Imam Suyuthi.
  • Fiqih Muyassar.
  • Fathul Bari.
  • Shahih Al-Bukhari.
  • Shahih Muslim.
  • Syarhul Mumti’.
  • Sunan Abi Daud.
  • Sunan At-Tirmidzi
  • Sunan Ibnu Majah.
  • Sunan An-Nasa’i.
  • Silsilah Ash-Shahihah.
  • Al- Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz.
  • Shahih Fiqih Sunnah.
  • Irwaul Ghalil
  • Musnad Ahmad
  • Sunan Daruquthni
0