Abu Qilabah: Si Penyabar yang Selalu Bersyukur[1]
Penulis: Azhar Rizki
Editor: Athirah Mustadjab
Abu Qilabah rahimahullah adalah seorang ulama tabi’in dan periwayat hadits senior, murid Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Tidak diketahui secara pasti tahun kelahiran beliau, tetapi demikian kiprah serta sirah Abu Qilabah tertulis rapi di pentas sejarah dan layak dijadikan qudwah.
Abu Qilabah Menjauhi Dunia
Beliau bernama Abdullah bin Zaid Al-Jarmi, berjuluk Abu Qilabah, termasuk jajaran ahli ibadah kebanggaan kota Bashrah dan tokoh zuhudnya. Lahir di kota Bashrah lalu hijrah ke negeri Syam dan menetap di sana hingga meninggal dunia. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari para sahabat.
Suatu ketika Qadhi (Hakim) Bashrah meninggal dunia. Hakim Agung Syuraih memberi isyarat agar mengangkat Abu Qilabah sebagai gantinya. Ketika mendengar berita penunjukan dirinya sebagai kandidat hakim Bashrah, Abu Qilabah menyingkir hingga sampai di daerah Yamamah. Di sana ia bertemu dengan Ayyub As-Sikhtiyani, yang kelak menjadi murid dekatnya. Ayyub mempertanyakan keputusan Abu Qilabah itu. Setelahnya, Ayyub mendapat jawaban, “Aku tidak menjumpai perumpamaan bagi seorang hakim yang paham (ilmu agama) kecuali seperti seorang yang tengah jatuh ke dalam samudra. Betapa pun bagusnya usahanya berenang, pasti akan tenggelam jua.”
Imam Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah juga bercerita, “Demi Allah, Abu Qilabah termasuk ulama fiqih yang memiliki akal sempurna. Aku dapati beliau adalah orang yang paling paham tentang qadha’ (peradilan), tetapi sangat menghindari (jabatan)-nya. Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih tahu di kota ini mengenai peradilan dibanding Abu Qilabah.”
Rasa Sabar dan Syukurnya
Imam Ibnu Hibban rahimahullah meriwayatkan kisah dari jalur Imam Al-Auza’i rahimahullah mengenai kesabaran dan rasa syukur seorang Abu Qilabah pada saat beliau berada di titik nadir.
Al-Auza’i meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad, bahwa dirinya berkisah, “Aku pernah keluar memeriksa daerah pinggiran pantai dalam rangka berjaga-jaga di perbatasan. Titik temu kami saat itu adalah kota Arisy, Mesir (di Semenanjung Sinai). Ketika aku sudah berada di garis pantai, aku menemukan sebuah kemah di tempat yang lumayan luas. Di dalam kemah itu terdapat seorang lelaki tua yang buntung kedua kaki serta tangannya. Pendengaran dan penglihatannya juga melemah. Anggota tubuhnya tidak ada yang berfungsi dengan baik kecuali lisannya saja. Dalam kondisi seperti itu lelaki tua tadi masih sempat mengucapkan, ‘Ya Allah, jadikanlah diriku masih bisa memuji-Mu dengan pujian yang kiranya dapat menyamai pemberian nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kau lebihkan diriku dari banyak makhluk-Mu yang lainnya.’”
Abdullah melanjutkan, “Demi Allah, aku akan datangi orang ini dan aku akan tanyakan mengenai sebab kalimat yang dia ucapkan tadi; apakah itu bersumber dari pemahaman yang baik, dari ilmu, ataukah ilham yang diberikan oleh Allah? Aku lantas mengucapkan salam padanya dan mulai bertanya, ‘Aku mendengarmu berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah diriku masih bisa memuji-Mu dengan pujian yang kiranya dapat menyamai pemberian nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kau lebihkan diriku dari banyak makhluk-Mu yang lainnya.’ Kiranya, nikmat apakah yang telah Allah limpahkan padamu sehingga engkau memuji Allah dengan sebabnya serta kelebihan apa yang membuat dirimu berterima kasih pada-Nya?’ Dia menjawab, ‘Tidakkah kau lihat, (aku tak peduli) apa pun yang Allah perbuat padaku. Andai Allah menyuruh langit untuk membakarku, memerintah gunung agar meremukkanku, memerintah lautan supaya menenggelamkanku, ataukah menyuruh bumi supaya ia bisa menelanku, tentu tidaklah akan bertambah kecuali rasa syukurku pada-Nya karena aku masih diberikan lisanku ini. Namun, karena bertepatan dengan kedatanganmu ke sini, aku memiliki permintaan padamu. Engkau bisa lihat sendiri keadaanku. Aku tak bisa melakukan apa pun secara mandiri. Sebenarnya aku memiliki seorang anak yang biasa membantuku berwudhu setiap kali waktu shalat tiba. Jika aku lapar atau haus, dia yang menyuapiku. Aku telah kehilangan dirinya selama tiga hari terakhir. Tolonglah, carikan dia untukku, semoga Allah merahmatimu.’ Aku (Abdullah) berkata, ‘Demi Allah, tidak ada orang yang memberikan bantuan kepada orang lain yang lebih mulia di sisi Allah pahalanya dibandingkan membantu kebutuhan orang sepertimu.’
Aku lantas mencari si anak. Tak berapa jauh dari kemah orang tua itu, aku temukan gundukan tanah berkerikil. Aku lihat daging si anak telah terburai dimangsa hewan buas. ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un …!’ kataku spontan. ‘Bagaimana aku bercerita dengan wajah lusuhku kepada orang tua itu?’ gumamku.
Di tengah perjalanan kembali, aku teringat dengan kisah Nabi Ayyub. Ketika aku sampai dan berbalas salam, dia bertanya, ‘Bukankah dirimu orang yang tadi?’
‘Benar,’ jawabku.
‘Bagaimana hasil pencarianmu tadi?’ tanyanya padaku.
Aku pun memberi pendahuluan, ‘Siapa yang lebih utama di sisi Allah; Nabi Ayyub ataukah dirimu?’
‘Jelas, Nabi Ayyub!’ jawabnya.
‘Apakah kau tahu bagaimana Rabbnya telah berbuat padanya? Bukankah Ayyub telah diuji pada harta, keluarga serta anak-anaknya?’ tanyaku.
Orang tua itu mengiyakan.
‘Lalu, bagaimana reaksi Ayyub?’ tanyaku lagi.
Orang tua itu menjawab, ‘Ayyub selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Rabbnya.’
‘Allah belum ridha sampai keluarga dekatnya dan semua orang yang mencintai Ayyub menjauhinya. Lalu, bagaimana Ayyub menghadapi itu semua?’ tanyaku.
Orang tua itu menjawab, ‘Ayyub selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Rabbnya.’
‘Allah masih belum ridha sampai Dia menjadikan Ayyub sasaran gunjingan dan hinaan semua orang yang melewatinya. Bagaimana sikap Ayyub kepada Rabbnya?’ tanyaku lagi.
Orang tua itu menjawab, ‘Ayyub selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Rabbnya. Tolong, persingkat maksudmu! Semoga Allah merahmatimu.’
Aku menjawab, ‘Sesungguhnya anak yang kau minta diriku untuk mencarinya, aku menjumpainya ada di atas tumpukan tanah dalam keadaan dagingnya sudah tercabik oleh binatang buas. Semoga Allah memberi banyak pahala atas musibahmu dan memberimu kesabaran.’
Abdullah melanjutkan, “Demi Allah, aku akan datangi orang ini dan aku akan tanyakan mengenai sebab kalimat yang dia ucapkan tadi; apakah itu bersumber dari pemahaman yang baik, dari ilmu, ataukah ilham yang diberikan oleh Allah? Aku lantas mengucapkan salam padanya dan mulai bertanya, ‘Aku mendengarmu berkata, ‘Ya Allah, jadikanlah diriku masih bisa memuji-Mu dengan pujian yang kiranya dapat menyamai pemberian nikmat-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kau lebihkan diriku dari banyak makhluk-Mu yang lainnya.’ Kiranya, nikmat apakah yang telah Allah limpahkan padamu sehingga engkau memuji Allah dengan sebabnya serta kelebihan apa yang membuat dirimu berterima kasih pada-Nya?’ Dia menjawab, ‘Tidakkah kau lihat, (aku tak peduli) apa pun yang Allah perbuat padaku. Andai Allah menyuruh langit untuk membakarku, memerintah gunung agar meremukkanku, memerintah lautan supaya menenggelamkanku, ataukah menyuruh bumi supaya ia bisa menelanku, tentu tidaklah akan bertambah kecuali rasa syukurku pada-Nya karena aku masih diberikan lisanku ini. Namun, karena bertepatan dengan kedatanganmu ke sini, aku memiliki permintaan padamu. Engkau bisa lihat sendiri keadaanku. Aku tak bisa melakukan apa pun secara mandiri. Sebenarnya aku memiliki seorang anak yang biasa membantuku berwudhu setiap kali waktu shalat tiba. Jika aku lapar atau haus, dia yang menyuapiku. Aku telah kehilangan dirinya selama tiga hari terakhir. Tolonglah, carikan dia untukku, semoga Allah merahmatimu.’ Aku (Abdullah) berkata, ‘Demi Allah, tidak ada orang yang memberikan bantuan kepada orang lain yang lebih mulia di sisi Allah pahalanya dibandingkan membantu kebutuhan orang sepertimu.’
Aku lantas mencari si anak. Tak berapa jauh dari kemah orang tua itu, aku temukan gundukan tanah berkerikil. Aku lihat daging si anak telah terburai dimangsa hewan buas. ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un …!’ kataku spontan. ‘Bagaimana aku bercerita dengan wajah lusuhku kepada orang tua itu?’ gumamku.
Di tengah perjalanan kembali, aku teringat dengan kisah Nabi Ayyub. Ketika aku sampai dan berbalas salam, dia bertanya, ‘Bukankah dirimu orang yang tadi?’
‘Benar,’ jawabku.
‘Bagaimana hasil pencarianmu tadi?’ tanyanya padaku.
Aku pun memberi pendahuluan, ‘Siapa yang lebih utama di sisi Allah; Nabi Ayyub ataukah dirimu?’
‘Jelas, Nabi Ayyub!’ jawabnya.
‘Apakah kau tahu bagaimana Rabbnya telah berbuat padanya? Bukankah Ayyub telah diuji pada harta, keluarga serta anak-anaknya?’ tanyaku.
Orang tua itu mengiyakan.
‘Lalu, bagaimana reaksi Ayyub?’ tanyaku lagi.
Orang tua itu menjawab, ‘Ayyub selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Rabbnya.’
‘Allah belum ridha sampai keluarga dekatnya dan semua orang yang mencintai Ayyub menjauhinya. Lalu, bagaimana Ayyub menghadapi itu semua?’ tanyaku.
Orang tua itu menjawab, ‘Ayyub selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Rabbnya.’
‘Allah masih belum ridha sampai Dia menjadikan Ayyub sasaran gunjingan dan hinaan semua orang yang melewatinya. Bagaimana sikap Ayyub kepada Rabbnya?’ tanyaku lagi.
Orang tua itu menjawab, ‘Ayyub selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Rabbnya. Tolong, persingkat maksudmu! Semoga Allah merahmatimu.’
Aku menjawab, ‘Sesungguhnya anak yang kau minta diriku untuk mencarinya, aku menjumpainya ada di atas tumpukan tanah dalam keadaan dagingnya sudah tercabik oleh binatang buas. Semoga Allah memberi banyak pahala atas musibahmu dan memberimu kesabaran.’
Orang tua itu langsung berdoa, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak pernah menjadikan seorang pun dari keturunanku makhluk yang bermaksiat pada-Nya sehingga ia diazab di neraka ….’ Dirinya pun mengucapkan istirja’ sambil menangis tersedu-sedu. Tak berapa lama dia pun wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un .
Lelaki seperti ini keadaannya, jika aku tinggalkan pasti akan dimangsa hewan buas. Jika aku urusi sendiri, aku juga tak bisa apa-apa. Lalu aku tutupi jasadnya dengan kain yang ada di atasnya. Aku duduk sambil menangis di dekat kepalanya. Saat itu, tiba-tiba empat orang perampok mendatangiku. Mereka semua bertanya, ‘Wahai hamba Allah, kenapa dirimu?’
Aku lantas menceritakan kisahku bersama orang tua itu serta kisahnya.‘Buka kain yang menutupi wajahnya! Siapa tahu kami kenal dengan orang ini.’ pinta mereka.
Aku lantas membuka penutup wajahnya. Tiba-tiba orang-orang tadi mendekat dan menciumi dua mata lalu kedua tangannya. Mereka berkata, ‘Demi ayahku (menjadi tebusan), mata yang selalu menundukkan pandangan dari yang haram. Demi ayahku (menjadi tebusan), badan yang selalu bersujud saat semua manusia tidur lelap.’Aku heran dan bertanya, ‘Siapakah orang ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah Abu Qilabah Al-Jarmi, murid Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma. Sungguh, beliau sangat mencintai Allah dan Nabi-Nya!’
Setelah itu, kami memandikannya, mengafaninya dengan beberapa lembar kain yang ada, menshalatinya, lalu menguburkannya.
Kemudian, orang-orang tadi pergi. Aku juga kembali ke pos jaga. Tatkala malam sudah larut, aku letakkan kepalaku di peraduan. Diriku bermimpi melihat orang tua itu berada di sebuah taman dari taman-taman surga. Dia mengenakan dua helai kain dari kain perhiasan surga sambil membaca (firman Allah), ‘Keselamatan atas kalian dengan sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baik tempat kesudahan itu.’[2] Aku bertanya, ‘Bukankah Anda adalah orang tua kemarin? Bagaimana Anda mendapatkan semua kenikmatan ini?’ Ia menjawab, ‘Allah memiliki tingkatan-tingkatan yang tidak bisa dicapai kecuali dengan kesabaran saat tertimpa musibah, rasa syukur ketika keadaan lapang bersamaan dengan selalu merasa takut kepada Allah dalam keadaan sendiri maupun ramai.’”
Abu Qilabah rahimahullah wafat pada tahun 104 Hijriah di tanah Syam.