Pendidikan Adab: Warisan Terbaik untuk Anak
Reporter: Loly Syahrul
Editor : Hilyatul Fitriyah
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَب
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain [QS. Al-Insyirah: 7]
Hari Raya Idul Fitri identik dengan liburan bagi masyarakat negeri ini karena muslimin, Alhamdulillah, menjadi penduduk mayoritas. Libur lebaran akan diisi dengan mudik yang tampaknya telah menjadi adat. Rasa suka cita sepertinya bakal mengalahkan tenat akibat perjalanan jauh yang kudu ditempuh. Bahagianya berkumpul kembali dengan kerabat biasanya awet membekas di relung hati, seolah menepis lelah fisik dan psikis dari perjalanan liburan.
Momen kegembiraan sesaat selama liburan, seakan-akan menyedot waktu dan perhatian kita. Berbagai kenangan kebahagiaan, terkadang justru membuat sulit kembali ke rutinitas. Bagi sebagian orang, kondisi ini bisa terasa berat sebab aktivitas liburan tentu berbeda dengan kesibukan normal. Merubah ritme kehidupan dari santai ke serba terjadwal, dalam waktu yang terbilang singkat, tampaknya bukan perkara mudah.
Bagaimana dengan antum? Sering susah move on dari atmosfer liburan ke mode hari-hari normal? Dalam Rubrik Serba-Serbi kali ini, Majalah HSI hendak berbagi strategi agar kita dengan mudah kembali ke rutinitas tanpa kesulitan. Berbagai poin yang ditampilkan adalah pendapat para santri HSI. Mari simak liputan berikut ini…
Mengedepankan Rasa Syukur
Bersyukur merupakan salah satu ciri orang beriman. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur. Nikmat kesehatan, kecukupan rezeki, dan kelapangan waktu saat berlibur, juga merupakan karunia besar yang patut kita syukuri. Kita perlu meyakini bahwa nikmat tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasa syukur dapat membangkitkan spirit kita dalam melawan rasa malas dan meningkatkan semangat dalam melakukan setiap kegiatan. Saat mengedepankan rasa syukur, insyaallah, apapun peran yang tengah kita lakoni dalam kehidupan, akan sanggup kita jalani dengan ringan, biidznillah.
Ukhtuna Mustika, santri HSI dari Tasikmalaya, sependapat dengan hal ini. Menurutnya, rasa syukur akan menjauhkan kita dari mengeluh. “Insyaallah, yang namanya bersyukur, menjadikan kita tidak mencela berbagai ketetapan Allah. Termasuk waktu kita harus kembali pada rutinitas,” ujarnya.
“Kita bisa liburan saja, itu nikmat yang harus banyak-banyak disyukuri. Masih ada orang yang tidak bisa berlibur. Mungkin sakit atau sedang menjaga keluarga yang sakit, mungkin tidak cukup dana untuk berlibur, mungkin tidak mendapat libur dari tempat bekerjanya, mungkin dalam kondisi musibah seperti muslimin di pengungsian, dan banyak lainnya,” tutur Ukhtuna Mustika terdengar menggugah.
Libur lebaran lalu, ibunda empat anak ini mengaku juga demikian bersyukur karena meski tidak perlu jauh mudik karena tinggal satu kota, ia masih bisa bertemu Ayah-Ibunya dalam kondisi sehat wal’afiat.
Berdoa, Memohon Pertolongan Allah
Strategi lain agar cepat beradaptasi dengan kehidupan normal saat liburan usai, adalah memohon pertolongan Allah melalui doa. Doa ibarat senjata kaum muslimin karena Allah berjanji ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ , berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Maka berbagai kondisi kehidupan, mari kita mintakan jalan keluarnya hanya kepada Allah. Termasuk, ketika penat yang teramat seperti membelenggu hingga menjerumuskan kita pada kemalasan.
Mari panjatkan doa kepada Allah ta’ala, agar Allah melimpahkan keberkahan dalam setiap nikmat-Nya, serta memberikan keistiqamahan kepada kita dalam melaksanakan keataatan, sehingga kita bisa berkegiatan dan beribadah penuh semangat kapan pun masanya.
Strategi satu ini diakui ampuh oleh Ukhtuna Achi Ummu Shafiya. Santri yang telah belajar lebih dari empat tahun di HSI tersebut mengaku kerap menjadikan doa sebagai upaya utama kala ia bertemu berbagai pasal kehidupan. “Pokoknya berdoa itu harus, kapan pun, masalah apa pun,” tandasnya.
Ummu Shafiya merasakan perkara-perkara yang dihadapinya kerap terurai dengan sendirinya hingga terpecahkan. “Kalau kita berdoa, masalah itu seperti selesai sendiri. Ibaratnya ya..,” ujar ibu satu putri itu. “Allah akan menuntun kita kepada jalan keluar, cepat atau bertahap, insyaallah,” ungkapnya terdengar memompa motivasi.
Selepas libur lebaran lalu, Ummu Shafiya menyatakan juga memperbanyak doa demi bisa segera kembali ke jadwal-jadwal normal. “Kami tiba kembali ke rumah, pas sehari sebelum suami ana kembali masuk kerja. Lumayan banyak PR. Beres-beres bawaan, membersihkan rumah, pakaian kotor menumpuk, Shafiya tantrum setelah kembali ke rumah, belum lagi menyiapkan segala keperluan suami untuk kembali masuk kantor besok pagi, … Maasyaa Allah… Alhamdulillah, beres juga. Semuanya bisa terselesaikan, biidznillah,” terangnya berbagi cerita. “Ana perbanyak berdoa memohon pertolongan Allah,” tegasnya berbagi pengalaman.
Segera Kembali Produktif
“Kembali ke dunia nyata, berarti harus segera mengembalikan produktivitas diri sebab ada pekerjaan yang tertunda atau yang tertumpuk karena ditinggal libur lebaran dan jika dibiarkan menumpuk maka bisa menimbulkan masalah lain,” ujar Ukhtuna Ida Yulianti dari Angkatan 212. Ia memberikan penekanan pentingnya menjadi pribadi yang produktif setiap saat.
Mengikuti saran Ukhtuna Ida, artinya kita harus sesegera mungkin kembali pada kebiasaan-kebiasaan harian dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Seorang ibu rumah tangga misalnya, ia perlu mengondisikan diri agar kembali menangani segala tugas yang biasa dilakukannya. Seperti seandainya ia terbiasa memasak makanan untuk keluarga, maka hal tersebut sebaiknya segera dilakukannya sesuai jadwal biasa. Bukan malah menghindar dengan dalih sibuk membereskan sisa-sisa liburan.
Nampaknya, pekerjaan yang berkaitan dengan membereskan sisa liburanlah yang perlu disesuaikan waktunya tanpa mengotak-atik jadwal harian yang telah teratur. Kita berharap dengan kegiatan harian yang kembali dikerjakan seperti semula, rutinitas segera terbentuk. Dengan demikian insyaallah, tak perlu waktu berlarut-larut kita menyesuaikan diri, karena ritme kehidupan telah kembali seperti sedia kala.
Kompak Sekeluarga
Pada berbagai kesempatan, keluarga sepatutnya menjadi tim yang padu, termasuk ketika menghadapi masa pasca liburan. “Sebaiknya sekeluarga itu kompak dan saling membantu,” ungkap Ukhtuna Ummu Rahima. Sarjana Matematika yang memilih menjadi ibu rumah tangga penuh itu, berpendapat bahwa keluarga yang seia-sekata adalah modal yang ‘mahal’ menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Kalau serumah bisa kompak, insyaallah, suasana yang diinginkan mudah terbentuk. Pulang liburan umpamanya, kita kompak gak nuruti lelahnya badan dulu, tapi segera aktivitas seperti semula. Maka, insyaallah, PR-PR (pekerjaan rumah, red) dari liburan segera beres,” ujarnya kemudian.
Ummu Rahima kemudian menceritakan pengalaman pulang mudiknya pada kesempatan lebaran baru saja. Ia mengaku baru tiba kembali ke rumah sore hari, pada hari pertama anak sulungnya masuk sekolah.
“Kehabisan tiket kereta api untuk balik meskipun sebenarnya suami saya sudah memesan sejak awal puasa,” cerita Ummu Rahima. “Terpaksa ambil yang paling cepat dan dapatnya di hari pertama anak sekolah,” sambungnya.
Meski demikian, Ummu Rahima mengaku tidak mengalami kesulitan mengembalikan irama kehidupan kepada ritme normal. “Saya, suami, dan anak-anak membagi tugas,” tutur Ummu Rahima. Sebagai ibu, Ummu Rahima segera mengambil tanggung jawab menyelesaikan berbagai tugas rumah yang biasa dikerjakannya sebelum liburan. Tugas ini berdampingan dengan PR mencuci baju-baju kotor ‘oleh-oleh’ liburan. Sementara sang suami yang juga santri HSI, berkenan membantu menyelesaikan PR membersihkan rumah meski beliau kerjakan bertahap, di sela-sela rutinitas kembali membuka toko yang merupakan sumber pendapatan keluarga.
“Alhamdulillah, anak pertama saya juga sudah besar, sudah kelas 2 SMP. Dia sudah bisa menjaga adiknya yang baru dua tahun,” ujar Ummu Rahima. Dari cerita Ummu Rahima, sang kakak rela jam mainnya dikurangi demi menggantikan sementara peran ibunda mengasuh sang adik. Sementara itu Ummu Rahima bisa menyelesaikan tugas-tugas rumah lainnya. “Mencuci baju kotor, membersihkan koper-koper dan mengembalikan ke tempat penyimpanan, bersih-bersih rumah, mengantar dan membagikan oleh-oleh, Alhamdulillah beres dalam dua hari,” pungkasnya.
Istirahat Cukup, Makan Sehat, dan Kembali Olahraga
Setelah melakukan perjalanan panjang dari liburan lebaran apalagi jika menempuh jarak yang cukup jauh, terkadang menyebabkan jam istirahat kita berubah. Jika ingin segera mengembalikan ritme kehidupan menjadi normal, maka jam tidur hendaknya juga segera disesuaikan. Penuhi istirahat terlebih dahulu yang cukup, agar badan kembali bugar untuk mulai melakukan kegiatan normal.
Jadwal tidur pada saat liburan, biasanya jauh dari rutinitas. Masa liburan umumnya orang akan menghabiskan malamnya untuk bersantai dan memilih jam tidur lebih lambat. Mungkin berbagai alasan, salah satunya kesempatan ngobrol dengan keluarga yang dikunjungi, tapi, tak masalah. Setelah pulang ke rumah, upayakan jam tidur segera kembali kepada kebiasaan. “Jangan lupa tidur di awal waktu atau segera setelah Isya, bangun cepat di sepertiga malam terakhir, dan tidur siang,” ujar Ukhtuna Khairunnisa, santri Angkatan 202.
Dua langkah lain yang layak diambil demi mengembalikan kehidupan ke kebiasaan normal menurut Ukhtuna Khairunnisa, adalah menjaga asupan bergizi seimbang dan kembali berolahraga. Dari berbagai artikel konsultasi dokter di laman halodoc.com dan alodokter.com kita dapat mengetahui manfaat olahraga rutin diantaranya membantu mengembalikan kebugaran tubuh, meningkatkan energi, meningkatkan daya konsentrasi, dan memperbaiki suasana hati sehingga berdampak kepada peningkatan efisiensi kerja dan kreativitas.
“Liburan biasanya kita kulineran juga. Kadang yang kita makan makanan sehat, terkadang kurang. Saat pulang sebaiknya segera kembali menyantap makanan sehat ala rumahan yang dimasak sendiri, yang diperhatikan keseimbangan nutrisinya,” ujar lajang yang baru semester 4 di sebuah kampus farmasi itu.
Sepulang diajak kedua orang tuanya menyambangi sang nenek di Payakumbuh, lebaran lalu, bungsu dari empat bersaudara ini mengaku segera merutinkan 7000 langkah yang telah lama ia targetkan mengisi rutinitas hariannya. “Biar fit. Meskipun masih capek tapi dipaksakan biar gak keterusan malas,” ujar Ukhtuna Khairunnisa. Hari ketiga berada di rumah sepulang mudik ke Payakumbuh, warga Bekasi itu mengaku langsung melakukan kebiasaan berolahraga jalan kaki. Baginya badan yang sehat adalah kunci agar dirinya siap menyelesaikan berbagai pekerjaan, termasuk membereskan sisa-sisa liburan seperti menata kembali barang-barang bawaan liburan dan kembali pada rutinitas menuntut ilmu.
Dari beberapa strategi di atas, yang utama jangan lupa bertawakal menyandarkan segala usaha kita kepada Allah, agar mendapatkan hasil yang baik dan berkah, insyaallah. Semoga berbagai langkah di atas, dapat mendongkrak semangat kita kembali menjalani rutinitas harian selepas libur lebaran ya... Allah-lah sebaik-baik penolong. Mari memohon pertolongan Allah agar kita senantiasa dimudahkan terus produktif dan istiqamah menjalankan peran dan tugas sebagai hamba. Aamiin allahumma aamiin… Selamat mencoba..