🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Wisuda Baitul Qur’an: Garis Start Estafet Ilmu

Reporter : Dian Pujayanti

Redaktur : Ridzky Aditya Saputra


يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu, beberapa derajat [QS Al Mujadalah: 11]


Al-Qur’an adalah suluh yang menuntun langkah manusia. Tanpanya, arah kehidupan menjadi buram dan perjalanan mudahpun berujung tersesat atau nyasar. Oleh karena itu, mempelajari Al-Qur’an bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar bagi setiap muslim yang mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat. Allah pun meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu, termasuk yang mempelajari Al-Qur’an.

Kesadaran ini melahirkan satu pemahaman penting bahwa belajar Al-Qur’an tidak pernah mengenal garis akhir. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesinambungan, pengamalan, dan upaya meneruskan cahaya ilmu. Maka, wisuda Baitul Qur’an tidak dimaknai sebagai penanda selesai belajar, melainkan sebagai garis start bagi amanah baru.

Baitul Qur’an (BQ) HSI Abdullah Roy hadir sebagai wadah pembelajaran Al-Qur’an secara offline dan berjenjang, berlandaskan aqidah yang lurus dan pemahaman salafus shalih. Hingga kini, kelas-kelas fisik BQ telah tersebar di 12 kota di berbagai wilayah Indonesia. Akhir tahun lalu, BQ menggelar wisuda di sejumlah kota. Wisuda tersebut menjadi potret ikhtiar kolektif dalam menyiapkan generasi pembelajar Al-Qur’an yang siap melanjutkan estafet ilmu, dari ruang belajar menuju kehidupan nyata.

Wisuda BQ Majalengka

Wisuda BQ Luwu

Wisuda sebagai Amanah, Bukan Garis Finish

Dalam perjalanannya, BQ HSI telah meluluskan ratusan santri dari beragam latar belakang. Ukhtuna Widy Nurhaliza Diputri, Ketua Divisi BQ HSI, menjelaskan bahwa sejak berdiri pada November 2024 hingga akhir 2025, BQ HSI telah meluluskan lima angkatan dengan total 269 santri. Jumlah tersebut meliputi 10 santri ikhwan, 20 santri anak, dan 239 santri akhwat. Profesi para santri demikian beragam. Ada guru sekolah, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dan lainnya.

Seyogianya, wisuda bukan sekadar penanda selesainya target pembelajaran, melainkan tonggak awal pengamalan dan transformasi ilmu. Ustadzah Widy menegaskan, “Ini merupakan bentuk apresiasi kepada wisudawan dan wisudawati sekaligus pengambilan ikrar bahwa mereka akan senantiasa menghidupkan Al-Qur’an dalam dada mereka, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi contoh bagi masyarakat sekitar.”

Ustadzah Widy melanjutkan, “Penyerahan syahadah dan plakat bukan hanya simbol kelulusan, tetapi juga pengukuhan amanah yang harus diemban seumur hidup sebagai penuntut ilmu Al-Qur’an.”

Wisuda BQ Tarakan

Dalam prosesi wisuda tampak hadir keluarga dan kerabat santri sebagai saksi perjuangan. Bagi sebagian santri, momen ini menjadi pencapaian yang tak terbayangkan, terutama mereka yang belum pernah belajar di pesantren.

Ilmu yang diperoleh tidak lantas menjadikan semua lulusan sebagai pengajar. Namun, setiap orang dapat mengambil peran dalam dakwah sesuai kapasitasnya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.”

Mengenal Baitul Qur’an (BQ) HSI

BQ HSI merupakan program pembelajaran Al-Qur’an secara luring dan berjenjang di bawah naungan Yayasan HSI Abdullah Roy. Berawal dari program HSI Qismu Ta’limil Qur’an (QITA) Akhwat, BQ HSI kemudian resmi berdiri sebagai divisi tersendiri pada November 2024 dan berkembang berkat peran para alumni yang menjadi pionir di daerah masing-masing. “Alhamdulillah, sekarang sudah 12 cabang Baitul Qur’an HSI yang tersebar di Indonesia,” ungkap Ustadzah Widy.

BQ HSI memfokuskan diri pada pembelajaran Al-Qur’an berbasis talaqqi, mencakup tahsin, tajwid, serta ilmu-ilmu pendukung, dengan penekanan kuat pada tauhid dan adab sesuai manhaj salaf.

“Di BQ, belajar Al-Qur’an tidak hanya soal bacaan, tapi juga kesabaran, kelembutan, dan keteladanan akhlak,” tutur Ustadzah Fitri Ummu Azhar, pendiri BQ HSI cabang Tasikmalaya. Pendekatan ini menjadikan proses belajar tidak sekadar teknis, tetapi juga pembinaan karakter dan keilmuan yang menyatu dengan kehidupan. Terlihat ada tanggung jawab yang tidak ringan dipikul para pengajar.

Wisuda BQ Tasikmalaya

Mengajar Al-Qur’an: Amanah yang Tidak Pernah Ringan

Menjadi pengajar Al-Qur’an di Baitul Qur’an bukan sekadar manjalankan peran mengajar, tetapi memuat perjalanan panjang menjaga amanah. Di ruang-ruang halaqah, tampaknya para asatidz belajar bahwa mengajarkan Al-Qur’an menuntut kesungguhan lahir dan batin, sebab satu kelalaian niat bisa mengaburkan cahaya ibadah.

“Sebab kita tahu, riya' itu halus, samar. Ia bagaikan semut hitam yang berjalan ditengah kegelapan malam. Ia bisa hadir di sela-sela niat baik, menyamar sebagai rasa syukur, lalu perlahan menguasai hati. نعوذ بالله، نسأل اللّٰه السلامة والعافية. Hadits tentang orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam api neraka, salah satunya adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an agar dipuji, sering menghantui langkah saya,” tutur Ustadzah Gusniati, salah satu asatidz dari BQ cabang Bone.

Wisuda BQ Bone

Kerikil ujian tak jarang hadir dalam bentuk keterbatasan diri. “Salah satu tantangan kami juga adalah kelemahan dan keterbatasan ilmu,” aku Ustadzah Gusniati dengan jujur. Hadits ‘كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ’ terus terngiang, mengingatkan bahwa di hadapan mereka bukan sekadar santri, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Kesadaran akan beratnya amanah ini membuat para pengajar Al-Qur’an berjalan di antara rasa takut dan harap. Ustadzah Ummu Muhammad ad-Dify, Kepala BQ HSI Cabang Payakumbuh, mengungkapkan, “Keikhlasan adalah perkara hati yang harus terus dijaga dan diperbaharui.”

Wisudah BQ Payakumbuh

Sementara di hadapan para santri, ujian hadir dalam beragam rupa seperti rasa futur, keterbatasan waktu belajar, hingga harapan ingin segera diwisuda. Ustadzah Fitri Ummu Azhar, pendiri BQ HSI Cabang Tasikmalaya, bercerita tentang santri yang lelah dikoreksi atau hampir menyerah karena PR. “Namun, kondisi ini ana pandang sebagai sarana tarbiyah, bumbu-bumbu dalam mengajarkan Al-Qur’an. Kalau tidak ada ini, ana anggap tidak seru,” ujarnya. Dari sinilah para pengajar belajar bahwa kesabaran, doa, dan keikhlasan adalah bagian tak terpisahkan dalam perkara estafet ilmu Al-Qur’an.

Antara Kesabaran dan Keteguhan

Wajah para santri yang diwisuda menampilkan jejak perjuangan panjang. Tampaknya kesabaran dan keteguhan terus diupayakan hingga akhirnya mereka sampai pada titik wisuda. Ibu Aprilusiati, salah satu santri BQ HSI Cabang Payakumbuh dengan sabar menjalani proses belajar tahsin meski harus tiga kali naik kendaraan. Dari rumah naik ojek lalu menyambung angkot dua kali. Pernah pula harus berjalan kaki dari rumah, disertai hujan dan kabut pagi nan pekat. Sampai di simpang jalan barulah mendapatkan angkot. “Dalam hati saya berkata, mudahkan dan lancarkan, Ya Allah. Anak-anak saya juga memberikan semangat, begitu pula teman-teman seperjuangan Ibu yang terasa seperti saudara,” kenang Ibu berumur 50 tahun ini.

Selama belajar di BQ, perempuan asal Kubang, Kabupaten Lima Puluh Kota ini, mengaku terus bekerja keras. Seperti kala ia dituntut sempurna melafazkan huruf ع(‘ain). “Namun, Maasyaa Allah, Ustadzah sangat sabar dalam mengajarkannya. Saya sempat menangis karena tidak bisa mengucapkan dengan tepat. Akhirnya, berangsur-angsur saya bisa, walaupun belum pas dan belum sempurna,” tandasnya.

Delapan tahun lebih tua, ada Ibu Yen Elni Zaidalani, santri BQ HSI Cabang Payakumbuh, yang diuji dengan kondisi sakit di tengah tekadnya untuk terus mengaji. Ia bahkan membatalkan rencana kembali berdagang di Jakarta demi melanjutkan belajar Al-Qur’an. “Ya Allah, aku memutuskan untuk melanjutkan mengaji, tetapi sekarang aku sakit. Apakah Engkau tidak mengizinkan aku mengaji lagi?” ucapnya lirih. Allah menjawab doa itu dengan cara-Nya, sakitnya berangsur berkurang hingga akhirnya ia kembali sehat. “Alhamdulillah semua ini terjadi karena kelembutan Allah,” kenangnya, meski ia masih diuji dengan batuk yang kerap datang saat mulai membaca Al-Qur’an.

Dari Cabang Bone, Veronica Fauzia Kalapati atau Kak Vero datang dengan bacaan yang masih sangat dasar, tergesa, dan hambar. Namun di BQ HSI ia belajar membaca Al-Qur’an dengan menghadirkan hati, bukan sekadar huruf dan hukum tajwid. “Bagaimana mungkin gunung-gunung bisa hancur saat Al-Qur’an diturunkan padanya, namun hati kita tetap keras saat lisan membacanya?” tulisnya dalam testimoni yang dibacanya saat wisuda, mengutip nasihat guru sekaligus kepala cabang BQ Bone. Bagi Vero, BQ adalah tempat saling menguatkan saat futur dan lalai. Ketika dipercaya mewakili wisudawati, ia bergetar membaca pesan, “Wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya. Apakah Al-Qur’an akan tetap dijaga saat tidak ada setoran, jadwal, dan pengingat selain hati kita sendiri dan Allah?” Sebuah pengingat bahwa selepas wisuda, justru di situlah Al-Qur’an harus benar-benar hidup di dada.

Maka semoga Allah tidak melepaskan Al-Qur’an dari hidup para wisudawan. Jika lemah semoga Allah menguatkan dengan ayat-Nya. Jika lalai, mudah-mudahan senantiasa Allah bangunkan dengan kalam-Nya. Dan jika Allah memanggil kembali kepada-Nya, semoga dalam keadaan Al-Qur’an masih hidup di dada mereka. Aamiin Allahumma Aamiin.. Yuk, senantiasa menjadi hamba yang mempelajari Al-Qur’an.

Wisuda BQ Sumeddang