Tausiyah Ustadz
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)

Urgensi Tauhid dalam Membangun Rumah Tangga

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitria


Mengetahui Pengertian Tauhid

Secara singkat, tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam rububiyah Allah, nama dan juga sifat-Nya, serta di dalam uluhiyah Allah.

Tauhid rububiyah yakni mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan seluruh urusan alam semesta. Seorang hamba meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya yang menciptakan, menguasai, dan mengatur segala sesuatu.

Tauhid juga mencakup makna mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yaitu dengan meyakini bahwa Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan, dan sifat-sifat tersebut mencapai puncak kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh makhluk mana pun.

Tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Tauhid rububiyah serta tauhid asma' wa sifat menuntut seseorang untuk menauhidkan Allah dalam uluhiyah-Nya. Dengan kata lain, tauhid uluhiyah merupakan puncak dari seluruh bentuk tauhid. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika disebutkan istilah tauhid secara umum, sering kali yang dimaksud adalah tauhid uluhiyah.

Kita juga telah memahami betapa agungnya kedudukan tauhid dalam agama Islam. Tauhid adalah inti ajaran Islam, fondasi seluruh ibadah, dan tujuan utama diutusnya para rasul serta diturunkannya kitab-kitab Allah.

Melalui tauhid, seseorang dapat memperoleh syafaat pada hari kiamat, diampuni dosa-dosanya, dan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Tauhid yang benar akan menghasilkan buah-buah manis di dalam kehidupan rumah tangga, berikut di antaranya:

1. Kebahagiaan di Dunia bagi Orang yang Bertauhid

Allah memberikan kebahagiaan di dunia bagi keluarga yang bertauhid. Mereka akan merasakan kehidupan yang penuh ketenangan, ketenteraman, dan keharmonisan.

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَة

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

2.  Tauhid dan Kebahagiaan Keluarga di Surga

Setiap ayah dan ibu tentu menginginkan kebahagiaan bersama keluarganya. Tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Seorang ayah yang masuk ke dalam surga pasti ingin agar istrinya, anak-anaknya, dan orang tuanya juga bersamanya di sana.

Namun, tidak mungkin mereka dapat berkumpul di surga kecuali semuanya dalam keadaan bertauhid. Ayahnya bertauhid, ibunya bertauhid, anak-anaknya pun bertauhid, barulah mereka dapat dikumpulkan bersama di surga yang penuh kebahagiaan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِين

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Tur: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga yang sama-sama beriman dan bertauhid akan dikumpulkan bersama di surga, mendapatkan kebahagiaan sejati berupa kebersamaan abadi dalam kenikmatan yang kekal.

3.  Fondasi Keluarga yang Bertawakal kepada Allah

Keluarga yang bertauhid akan senantiasa bertawakal kepada Allah dalam seluruh urusan mereka, baik urusan dunia maupun urusan agama. Mereka yakin bahwa manfaat dan mudarat hanya ada di tangan Allah.

Seorang ayah ketika bekerja, bertawakal kepada Allah.

Seorang anak ketika belajar, bertawakal kepada Allah.

Seorang ibu ketika mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya, bertawakal kepada Allah.

Mereka semua memahami bahwa tawakal harus dengan mengambil sebab, kemudian tetap berusaha, dan hanya bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۗ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِه

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.” (QS. At-Talaq: 3)

Mereka pun yakin bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari pekerjaan atau bisnis semata. Maka meskipun manusia berusaha menghalangi rezekinya, jika Allah telah menetapkannya, tidak ada yang dapat mencegahnya. Inilah buah indah dari tauhid uluhiyah, yaitu ketenangan hati, kebahagiaan keluarga, kecukupan rezeki, dan akhirnya kebersamaan abadi di surga.

4.  Lahirlah Kebahagiaan dalam Keimanan dan Rasa Syukur yang Menambah Nikmat

Terkadang, seorang suami telah seharian berusaha keras mencari rezeki, namun pulang tanpa membawa hasil. Dalam keadaan seperti ini, istri yang bertauhid tidak akan marah atau mengeluh. Ia tidak akan menyalahkan suaminya karena ia paham bahwa manfaat dan mudarat semata-mata datang dari Allah. Sebaliknya, ia akan menenangkan dan menguatkan hati suaminya dengan ucapan yang lembut, penuh keimanan dan kesabaran.

Kata-kata lembut dan penuh iman dari seorang istri yang bertauhid akan menjadi penghibur besar bagi suami yang lelah seharian berjuang. Lelah yang ia rasakan bisa hilang seketika karena ketenangan yang terpancar dari keimanan istrinya. Inilah buah dari tauhid dan tawakal yang benar.

Ketika suatu hari suaminya pulang membawa rezeki yang banyak, istri yang bertauhid pun tidak akan sombong atau lalai. Ia akan mengingatkan suaminya dengan penuh syukur.

Inilah gambaran seorang istri shalihah yang bertauhid. Ia bukan hanya bersabar di saat kekurangan, tetapi juga bersyukur di saat kelapangan. Dengan ketulusan dan keimanannya, ia membantu suaminya untuk tetap mengingat Allah dalam setiap keadaan.

Sikap seperti ini membawa kebaikan besar bagi rumah tangga. Rasa syukur akan menambah kebahagiaan, memperkuat cinta, dan menjadi sebab bertambahnya nikmat yang Allah limpahkan kepada keluarga tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُم

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Makna Tawakal dalam Kehidupan Seorang Istri

Seorang istri yang bertauhid dan memahami makna tawakal akan menyadari bahwa suaminya hanyalah sebab, sedangkan Allah-lah yang menentukan hasilnya. Ketika suaminya keluar rumah untuk mencari nafkah, ia memahami bahwa rezeki datang dari Allah. Bukan semata-mata dari usaha manusia.

Mungkin suatu hari suaminya sudah berusaha seharian, namun pulang tanpa membawa uang. Istri yang bertauhid tidak akan marah, mengeluh, atau menyalahkan suami. Sebaliknya, ia akan menenangkan dan menasihati suaminya dengan penuh kasih.

Ia akan berkata dengan lembut,

"Ini semua sudah takdir Allah. Mungkin hari ini belum rezekinya. Insyaallah esok Allah akan memberikan rezeki yang lebih baik." Ucapan seperti ini akan menghibur hati suami. Lelahnya bekerja seharian bisa hilang hanya karena kata-kata penuh iman dan kesabaran dari istrinya yang shaliha.

Begitu pula ketika suami pulang membawa rezeki yang banyak, seorang istri yang bertauhid akan tetap sadar bahwa semua itu adalah karunia Allah. Ia tidak merasa bangga berlebihan, tapi justru bersyukur dan mengingatkan suaminya untuk bersyukur.

Ia bisa berkata, "Alhamdulillah, ini semua dari Allah. Yuk, kita sisihkan sebagian rezeki ini untuk bersedekah — kepada tetangga, anak yatim, atau orang tua. Sebagai wujud syukur kita kepada Allah."

Begitu pula ketika suami pulang membawa rezeki yang banyak, seorang istri yang bertauhid akan tetap sadar bahwa semua itu adalah karunia Allah. Ia tidak merasa bangga berlebihan, tapi justru bersyukur dan mengingatkan suaminya untuk bersyukur.

Ia bisa berkata, "Alhamdulillah, ini semua dari Allah. Yuk, kita sisihkan sebagian rezeki ini untuk bersedekah — kepada tetangga, anak yatim, atau orang tua. Sebagai wujud syukur kita kepada Allah."

Sikap seperti ini akan membuat suami semakin mencintainya. Ia merasa didampingi oleh istri yang bukan hanya setia, tetapi juga menguatkan imannya dan menjaga keluarganya dalam ketaatan.

Istri yang bertauhid akan menumbuhkan ketenangan dan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Ia membantu suaminya untuk bersabar saat sulit, dan bersyukur saat lapang. Dengan tawakal dan syukur, Allah akan menambah nikmat dan kebahagiaan bagi keluarga tersebut.

Teladan Wanita Bertauhid dan Bertawakal

1. Kisah Ibunda Nabi Ismail, Hajar ‘alaihimassalam

Beliau adalah potret wanita shalihah, wanita yang bertakwa dan bertauhid, yang bertawakal hanya kepada Allah. Wanita seperti inilah yang melahirkan anak-anak yang berani, tegar, dan memiliki keyakinan yang teguh kepada Rabb-nya.

Anak yang tumbuh dalam asuhan tauhid tidak akan menjadi anak yang pengecut atau penakut. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh — karena sejak kecil diajarkan untuk bergantung kepada Allah, bukan kepada makhluk. Maka tanamkan dalam hati anak-anak kita firman Allah:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّه

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)

Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ.

“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu, mereka tidak akan dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.” (HR. at-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Jika kalimat-kalimat ini terus diperdengarkan kepada anak-anak kita, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tegar, dan bertawakal kepada Allah. Bukan menjadi anak yang mudah takut atau putus asa.

Sebagaimana halnya kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Di usia 14 tahun, ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut berperang di jalan Allah. Saat itu Perang Uhud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum mengizinkannya karena masih muda. Ketika Perang Khandaq terjadi dua tahun kemudian, barulah beliau diizinkan ikut berjihad.

Di usia yang masih belasan tahun, ia sudah memiliki keberanian menawarkan diri untuk berperang bersama kaum muslimin. Dari mana datangnya semangat dan keberanian itu?

Dari tauhid yang tertanam kuat di hatinya. Dari tawakal yang diajarkan sejak kecil — keyakinan bahwa tidak ada yang bisa memberi manfaat atau mudharat, kecuali Allah.

2. Kisah Ibunda dari Imam Al-Bukhari rahimahumullah

Kisah ini menjadi contoh yang sangat indah. Ketika kecil, Imam Al-Bukhari pernah kehilangan penglihatannya. Sang ibu sangat sedih, tetapi beliau tidak berputus asa. Ia terus-menerus berdoa dan merengek kepada Allah agar penglihatan putranya dikembalikan.

Doa itu tidak sia-sia Allah mengabulkannya. Penglihatan putranya kembali, dan kelak anak itu menjadi salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam, penyusun kitab Shahih Al-Bukhari, kitab hadits paling shahih setelah Al-Qur’an.

3. Kisah Syaikh Abdurrahman As-Sudais, Imam Masjidil Haram

Dikisahkan bahwa doa ibunya sangat berperan besar dalam perjalanan hidup beliau. Dari doa seorang ibu yang tulus, lahirlah seorang imam di masjid paling mulia di muka bumi.

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa doa seorang ibu yang bertauhid, yang benar-benar menggantungkan harapannya kepada Allah, bisa menjadi sebab besar datangnya keberkahan dan kemuliaan bagi anak-anaknya.

Jadikanlah Diri Kita Keluarga yang Rajin Berdoa

Ada pula seorang ibu yang dikenal memiliki anak-anak yang rajin menjaga shalatnya. Ketika ditanya rahasianya, beliau menjawab:

Aku sering membaca doa Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrāhīm: 40)

Perbandingan dengan Keluarga yang Tidak Bertauhid

Pada akhirnya, akan jelas perbedaan antara keluarga yang bertauhid dengan keluarga yang tidak bertauhid. Keluarga yang tidak bertauhid, mereka tidak memohon kepada Allah, tetapi justru berdoa kepada selain Allah, mendatangi dukun, perbuatan seperti ini adalah kesyirikan, dosa terbesar yang membatalkan iman dan Islam. Sedangkan keluarga yang bertauhid akan melakukan hal-hal sebaliknua. Mereka menjauhi kesyirikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Sungguh tidak dapat dipungkiri akan pentingnya peran tauhid di dalam segala aspek kehidupan, tanpa terkecuali di dalam kehidupan rumah tangga. Semoga Allah menjadikan bagi kita kekokohan dalam tauhid dan keimanan, sehingga lahirlah buah-buah manis yang dapat senantiasa dipanen dalam kehidupan rumah tangga yang kita jalani. Demikian beberapa hal yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Hadza wallahu a’lam.