Generasi Cahaya

Tips Memilih Circle:
Karena Teman adalah Cermin Diri

Reporter: Nurul Hikmah

Redaktur: Gema Fitria

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud No. 4833, Tirmidzi No. 2378, hadits hasan)[1]

Pernah nggak sih kamu ikut-ikutan kebiasaan, gaya bicara, sampai tren fashion circle kamu? Karena terbawa arus pertemanan, akhirnya kebiasaan, cara berpikir, dan pandangan terhadap banyak hal cenderung mengikuti arus, supaya tidak berbeda sendiri dan tidak ketinggalan.

Circle adalah lingkungan sosial, pertemanan yang terbentuk karena adanya kesamaan minat, hobi, tujuan, nilai, ataupun cara pandang yang membuat kita merasa cocok satu sama lain. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan dukungan sosial dari orang lain terutama teman–teman yang sebaya. Pertemanan bisa membawa kamu kepada hal baik, tapi bisa juga kepada hal negatif.

Jadi, di circle seperti apa kamu berada saat ini?

Teman adalah Pengaruh. Disadari atau Tidak

Tanpa kita sadari, circle pertemanan membentuk kebiasaan, prioritas, hingga pilihan gaya hidup seseorang. Interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus membuat lingkungan pertemanan memainkan peran penting dalam memengaruhi cara pandang, keputusan, dan arah hidup.

Naifa, santri HSI Angkatan 211, merasakan betul kuatnya pengaruh lingkungan yang positif.

“Alhamdulillah, punya circle yang baik bikin aku lebih semangat memperbaiki diri. Aku jadi lebih menjaga adab, lebih berhati-hati dalam bersikap, dan lebih termotivasi untuk belajar agama. Lingkungan yang positif itu kerasa banget pengaruhnya, karena membuat hati lebih tenang, keputusan lebih terarah, dan langkah hidup jadi lebih ringan dijalani,” ujarnya kepada Majalah HSI.

Hal senada disampaikan Mudafi’ah. Ia mengaku mengalami banyak perubahan positif ketika berada di lingkungan yang suportif.

“Saya melihat diri saya banyak berubah menjadi lebih baik ketika berada di lingkungan yang tidak banyak mengomentari. Saya jadi lebih bebas memperbaiki diri tanpa khawatir mendengar ucapan seperti ‘kenapa tiba-tiba sok alim’ atau ‘sok rajin’. Di lingkungan yang punya kebiasaan baik, saya terdorong untuk ikut memiliki kebiasaan baik dan tidak mau kalah dengan yang lain,” tuturnya.

Sementara Lea, santri asal Bogor yang saat ini duduk di kelas IX, mengungkapkan bahwa teman yang rajin belajar membuatnya ikut termotivasi. “Karena kita jadi ingin bisa seperti dia,” katanya singkat.

Pengaruh serupa juga dirasakan Tyara. Ia menceritakan bagaimana circle-nya membantunya bangkit saat sempat terpuruk karena nilai pelajaran.

“Teman-teman yang menyemangati ketika nilai jelek. Yang awalnya sedih dan patah semangat, jadi semangat lagi. Jadi punya pandangan bahwa nilai bukan segalanya, dan bisa semangat lagi belajar,” ceritanya.

Luthfi, santri HSI kelahiran 2009, pun merasakan perubahan gaya hidup berkat teman-temannya. “Dulu saya tidak terlalu peduli dengan kesehatan dan olahraga. Tapi karena punya teman yang hobi olahraga, sekarang jadi ikut ketularan. Alhamdulillah, jadi lebih terjaga kesehatannya dan makan juga tidak sembarangan. Badan jadi lebih fit,” tuturnya.

Membangun Circle yang Menguatkan

Tidak sedikit teman-teman yang merasakan langsung bagaimana lingkungan pertemanan mampu menjadi ruang tumbuh, tempat saling mengingatkan, dan sumber semangat dalam memperbaiki diri. Pengalaman mereka berikut ini menjadi potret nyata betapa circle yang tepat dapat menguatkan langkah dan menenangkan hati.

Naifa misalnya, ia mengaku sangat bersyukur memiliki sahabat yang berbakti kepada orang tua, menghormati saudara, dan senantiasa berbuat baik kepada sesama. Kebiasaan baik yang ia lihat setiap hari membuatnya terdorong untuk meneladaninya.

“Biasanya kami berkumpul dari rumah ke rumah, meski tidak terlalu sering karena kami satu tempat kerja dan hampir setiap hari bertemu. Sesekali kami juga menyempatkan diri untuk menghadiri kajian bersama,” tuturnya.

Mudafi’ah pun membagikan pengalaman yang tak kalah inspiratif. Ia pernah berada di fase di mana dzikir pagi dan petang sering terlewat. “Saya punya teman yang rutin mengingatkan dzikir pagi dan petang melalui status WhatsApp. Dalam hati saya berpikir, kecil kemungkinan dia hanya mengingatkan orang lain tanpa mengamalkannya. Dari situ saya jadi termotivasi, bahkan meminta teman saya untuk ‘mengabsen’ dzikir saya. Alhamdulillah, dengan cara itu saya kembali bisa merutinkan dzikir pagi dan petang.”

Ia juga menceritakan perubahan sikapnya setelah berada di lingkungan yang lebih tenang. “Dulu saya sangat mudah tersulut emosi, hal sepele saja bisa membuat saya uring-uringan. Lalu saya banyak berinteraksi dengan teman-teman yang hampir tidak pernah marah dan selalu enjoy menghadapi masalah. Sejak saat itu saya mulai belajar untuk tidak mudah marah, baik dalam hal kecil maupun besar.”

Dalam keseharian, Mudafi’ah dan circlenya rutin belajar dan memurojaah materi kuliah bersama. Ia merasakan energi positif yang besar setiap kali majelis belajar itu berakhir, membuatnya lebih bahagia dan bersemangat menjalani aktivitas lain.

Sementara itu, Lea dan Tyara menjadikan belajar bersama sebagai kegiatan favorit saat berkumpul. Mereka merasa lebih mudah memahami pelajaran dan lebih bersemangat menyelesaikan tugas ketika berada di tengah circle yang saling menguatkan.

Belajar dari Teladan Nabi tentang Teman Baik

Circle pertemanan memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan dan arah hidup seseorang. Lingkungan yang baik dapat menuntun pada kebaikan, saling menasihati, dan menguatkan dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, circle yang negatif berpotensi menyeret pada perilaku menyimpang, seperti menunda kewajiban, gemar berlebihan dalam gaya hidup, hingga kebiasaan buruk yang merusak diri.

Sejumlah santri HSI memaknai teman baik sebagai sosok yang menghadirkan kebaikan dalam hidup. Naifa menyebut teman baik sebagai sahabat yang saling menasihati, menyemangati dalam belajar agama, dan menjaga persahabatan karena Allah. Mudafi’ah menekankan pentingnya teman yang mau mengingatkan dengan cara yang lembut dan mengajak untuk introspeksi. Sementara Tyara dan Luthfi melihat teman baik sebagai mereka yang mau mendengarkan tanpa menghakimi serta mendukung kita menjadi versi terbaik diri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi yang senantiasa meninggalkan aroma kebaikan, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi yang membawa dampak merugikan (HR. Al-Bukhari dan Muslim).[2] Hadis ini mengajarkan bahwa teman akan memberi warna pada nilai, sikap, dan arah hidup kita. Karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk memilih sahabat yang saleh dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Tips Menimbang Calon Anggota Circle

Memilih circle pertemanan bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi juga tentang arah hidup. Circle yang baik bukan hanya menjadi tempat berbagi tawa, tetapi juga ruang tumbuh yang membantu menguatkan iman, akhlak, dan nilai hidup.

1. Tujuan Pertemanan yang Jelas

Pertemanan tidak semata untuk hiburan atau kebutuhan sosial. Circle yang baik membuat langkah terasa lebih ringan, bukan semakin berat. Tujuan pertemanan seharusnya memperkuat keimanan, menegakkan nilai kebenaran, dan menumbuhkan kesabaran.

2. Adab dan Akhlak Anggota Circle

Memilih teman sangat menentukan pembentukan karakter. Keliru memilih circle dapat membawa pada kerugian dunia dan akhirat. Karena itu, penting untuk memilah teman yang memiliki adab dan akhlak yang baik.

3. Kesamaan Nilai

Circle yang baik tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan terhadap nilai-nilai kebaikan sesuai ajaran Islam, seperti jujur, saling percaya, loyal, menghargai, berempati, serta saling mendukung.

4. Saling Menguatkan, Bukan Saling Menjatuhkan

Teman yang baik ingin tumbuh bersama. Mereka hadir saat senang maupun sedih, menguatkan ketika salah satu terjatuh, dan ingin sukses bersama tanpa saling menyikut atau menjatuhkan.

5. Batasan yang Jelas

Circle yang sehat saling menghargai privasi, memahami batasan, menjaga rahasia, menghormati waktu, serta bijak dalam memilih topik pembicaraan.

6. Rekam Jejak Kebiasaan

Waktu yang sering dihabiskan bersama membuat kita tanpa sadar menyerap gaya bicara, kebiasaan, dan pola pikir teman-teman kita. Kebiasaan orang terdekat sangat mungkin “menular”, baik maupun buruk.

Naifa mengaku telah berusaha menerapkan poin-poin tersebut dalam pertemanannya. “Insyaallah, poin satu sampai lima sudah aku jalankan. Aku merasakan keikhlasan dalam pertemanan, saling menghargai dan saling peduli. Kami memiliki nilai dan pemikiran yang selaras, sehingga saat salah satu sedang sedih, yang lain berusaha menguatkan. Kami juga saling menghormati batasan, misalnya ketika ingin keluar bersama tetapi salah satu tidak mendapat izin orang tua, kami tidak saling memaksa,” paparnya.

Sementara Luthfi mengaku sepakat dengan poin-poin tips di atas dan ia sendiri mengaku telah memilih berteman dengan mereka yang sefrekuensi, beradab, memiliki kesamaan nilai, serta saling menghormati privasi dan batasan, seperti tidak merokok dan membiasakan shalat berjamaah di masjid. Ia pernah menjauh dari circle yang kurang baik saat SMP karena teman-temannya gemar balapan. Ia memilih menjaga diri agar terhindar dari pengaruh buruk, karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

Dr. Laurence Steinberg Psikolog perkembangan remaja dari Temple University, Amerika Serikat menyebutkan bahwa lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor terkuat yang memengaruhi pembentukan karakter remaja. Maka kita perlu berhati-hati memilah.[3]

Memilih circle bukan sekadar memilih teman, tetapi memilih arah langkah dan masa depan. Circle yang baik membantu kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih taat, lebih beradab, dan lebih kuat secara mental, sedangkan circle yang keliru bisa menyeret pada kebiasaan yang mengikis iman dan akhlak.

Maka, menimbang dan memilah circle adalah bentuk ikhtiar menjaga diri. Dengan memilih lingkungan pertemanan yang sehat, kita sedang menanam investasi untuk ketenangan hati, keteguhan iman, dan keselamatan dunia hingga akhirat, insyaallah.