Khotbah Jumat
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)

Tidak Ada Pasangan yang Sempurna

Penulis: Abu Ady

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M. A.

Khotbah Pertama

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الزَّوَاجَ سَكِيْنَةً لِلْقُلُوْبِ، وَرَحْمَةً لِلرُّوْحِ، وَمَوَدَّةً بَيْنَ الْأَزْوَاجِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى النِّعْمَةِ الزَّوْجِيَّةِ الَّتِي بِهَا تَسْتَقِرُّ الْحَيَاةُ، وَبِهَا تُحْفَظُ الْأَنْسَابُ، وَتَكْثُرُ الْأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِيْنَ وَسَبَبُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Nikmat pernikahan merupakan nikmat terbesar Allah Ta'ala untuk hamba-Nya, karena pernikahan bukan sekadar penyatuan dua fisik manusia, tetapi penyatuan dua jiwa yang berbeda agar saling melengkapi untuk meraih kebhagiaan di dunia dan akhirat. Dalam rumah tangga, Allah mengajarkan kita makna sabar, syukur dan saling menerima pasangan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sumber ketentraman dan kebahagiaan bukanlah kesempurnaan pasangan, melainkan rasa kasih dan sayang yang Allah tanamkan dalam hati suami dan istri. Oleh karena itu, wahai hamba Allah, jika engkau telah diberi pasangan, ketahuilah itu adalah nikmat besar. Mungkin tidak sempurna, tapi ia adalah takdir hidup yang Allah Ta'ala pilihkan dan titipkan untukmu. Jadikanlah sebagai pasangan yang harus dicinta dan disayang agar kalian berdua mencapai tujuan yang diinginkan dalam pernikahan yang telah ditunaikan.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Betapa banyak rumah tangga yang hancur bukan karena adanya kesalahan, tetapi karena ketidakmampuan menerima kekurangan kecil dari pasangannya sendiri. Ada suami yang menuntut istri tanpa menyadari tuntutan itu mustahil untuk dipenuhi. Ada istri yang menuntut suami tanpa memahami keadaan suaminya. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan arahan untuk umatnya dalam sabda yang berbunyi,

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia akan ridha dengan sifatnya yang lain.” (HR. Muslim nomor 1469)

Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadis ini. Hendaknya seorang suami tidak membenci istrinya. Sebab, jika ia mendapati pada istrinya satu akhlak yang tidak ia sukai, pasti ia juga akan menemukan akhlak lain yang ia ridhai, misalnya istri memiliki sifat keras, tetapi ia adalah wanita yang taat beragama, ia wanita yang cantik, seorang yang menjaga kehormatan, lembut kepada suaminya, atau sifat baik lainnya. (Al-Minhaj 10/58)

Ini adalah kunci penting untuk kelanggengan rumah tangga. Jangan jadikan satu kekurangan menutupi seribu kelebihan. Lihatlah sisi baiknya, sebagaimana engkau juga ingin dilihat dari sisi baikmu. Rumah tangga yang baik adalah tentang sikap menjadi pasangan yang saling menutupi kekurangan dan saling memperbaiki diri untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Ketahuilah bahwa setiap kekurangan yang engkau temui pada pasanganmu adalah ujian keimanan untukmu. Mengharapkan rumah tangga tanpa ujian dan kekurangan adalah sebuah kemustahilan yang tidak akan pernah tercapai. Syukurilah apa yang engkau dapatkan dari pasanganmu agar Allah tembah nikmat-Nya untuk dirimu dan keluargamu. Allah Ta'ala berfirman,

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Adapun kekurangan yang ada pasanganmu, bersabarlah menghadapinya karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‌

إِنَّ ‌الْمَرْأَةَ ‌خُلِقَتْ ‌مِنْ ‌ضِلْعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Ia tidak akan bisa lurus denganmu dalam segala hal. Jika engkau ingin menikmati kebersamaan dengannya, nikmatilah dia sebagaimana adanya, meskipun padanya ada kekurangan. Namun jika engkau berusaha meluruskannya secara paksa, engkau akan mematahkannya dan mematahkannya berarti menceraikannya.” (HR. Muslim, nomor 1468)


Imam An-Nawawi berkata, “Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk memperlakukan wanita dengan lemah lembut, berbuat baik kepada mereka, bersabar terhadap kekurangan akhlak mereka, menerima kelemahan akal mereka, membenci sikap menceraikan mereka tanpa alasan, serta memahami bahwa tidak mungkin mereka menjadi sempurna sepenuhnya. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj 10/57)

Bila seorang suami menemukan kekurangan pada istrinya, ia jangan tergesa-gesa berpisah dengannya, sebab bisa jadi apa yang tidak ia sukai itu mengandung banyak kebaikan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa`: 19)

Syaikh As-Sa’di berkata, wahai para suami, kalian hendaknya tetap mempertahankan istri-istri kalian meskipun kalian membenci mereka, karena di dalam hal itu terdapat banyak kebaikan. Di antaranya adalah melaksanakan perintah Allah dan menerima wasiat-Nya yang mengandung kebahagiaan dunia dan akhirat.

Termasuk dalam hal ini adalah memaksa diri untuk bersabar, meskipun tidak mencintai istri, merupakan bentuk mujahadah (usaha) bagi jiwamu dan berakhlak dengan akhlak mulia. Bisa jadi kebencian itu hilang dan berganti dengan cinta, sebagaimana hal ini sering terjadi. Bisa jadi Allah memberi dari istri tersebut seorang anak yang shalih yang memberi manfaat bagi kedua orang tuanya di dunia dan akhirat. Semua ini berlaku selama masih memungkinkan untuk mempertahankan pernikahan dan tidak membahayakan. Namun, jika perpisahan sudah tidak bisa dihindari dan tidak ada tempat lagi untuk mempertahankannya, maka mempertahankan pernikahan tidaklah wajib. (Tafsir As Sa’di, 154)

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Cinta dalam berumah tangga bukan tentang sempurna, tetapi tentang saling menyempurnakan. Maka jangan jadikan rumah tangga sebagai ajang siapa yang menang dan lebih hebat dari yang lain, tetapi bagaimana setiap pasangan bisa menerima kekurangan pasangannya dan mudah memaafkan. Sebab, cinta sejati tumbuh dari dua jiwa yang saling merendah, bukan saling menundukkan.


Khutbah Kedua

اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَوَدَّةَ بَيْنَ الْأَزْوَاجِ، وَالْحِلْمَ سَبَبًا لِسَعَادَةِ الْحَيَاةِ، وَالْعَفْوَ دَرَجَةً مِنْ دَرَجَاتِ الْمُتَّقِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Rumah tangga adalah amanah besar dalam kehidupan kita. Allah Ta'ala tidak menuntut kita memiliki pasangan tanpa cela, tetapi menuntut kita untuk saling memperbaiki dengan iman dan cinta. Ketika dua insan saling bersabar dan bersyukur, rumah mereka akan menjadi surga untuk mereka di dunia sebelum memasuki surga yang sesungguhnya di akhirat.

Maka, wahai para suami dan istri, jangan berhenti untuk saling memahami. Jangan cepat berkata, “Kita sudah tidak cocok lagi,” tapi berusahalah untuk menerima kekurangan pasanganmu dan perbaiki kesalahan secara bersama. Terkadang, masalah bukan pada pasanganmu, tetapi pada hatimu yang kurang sabar atau pada sudut pandangmu yang selalu saja mencari kekurangan istri.

Di akhir khutbah ini, mari kita bershalawat untuk Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita dan seluruh kaum muslimin. Tak lupa, kita doakan para pemimpin kita agar diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimudahkan dalam mengurus urusan umat dan diberi kemampuan untuk menegakkan keadilan serta menjaga kemaslahatan rakyat.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اللٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكِيْنَةً وَمَوَدَّةً وَرَحْمَةً، اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الشَّاكِرِينَ الصَّابِرِينَ.

اللٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِي بُيُوْتِنَا وَلَا فِي قُلُوْبِنَا، اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Referensi

  • Tafsir As Sa’di, Syaikh As-Sa’di, Dar Ibn Hazm, Beirut, cetakan pertama, tahun 2003.
  • Sahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Minhaj, Imam Nawawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.