Tetanggamu, Jembatan Menuju Surga atau Neraka
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc,. M.A
Khotbah Pertama
ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، وَنَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ يَحْفَظُونَ حُقُوقَ الْجِيرَانِ وَيَكُفُّونَ أَذَاهُمْ، فَإِنَّ حُسْنَ الْجِوَارِ مِنْ أَعْلَامِ الْإِيمَانِ وَسَبَبٌ لِدُخُولِ الْجِنَانِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ الْجَارَ شَاهِدًا عَلَى الْعَبْدِ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنِ الْآدَابِ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى ٱللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ تَقْوَى ٱللّٰهِ زَادُ ٱلْمُتَّقِيْنَ، وَسَبَبُ ٱلْفَوْزِ فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Tema khotbah kita hari adalah sebuah sikap dan perilaku yang diremehkan sebagian orang, namun ia bisa menjadi tolok ukur keimanan seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahkan penentu surga dan nerakanya, yaitu akhlak terhadap tetangga.
Manusia sering menyangka bahwa ibadah saja cukup untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia menganggap shalat malamnya adalah lampu yang menerangi jalannya ke surga, puasanya seperti tameng dari api neraka, sedekahnya seperti hujan berkah yang menumbuhkan kebaikan. Ia lupa kalau semua itu bisa runtuh hanya karena hal yang mungkin dianggap sepele yaitu ketika ia menyakiti tetangganya dengan lisannya, perbuatannya, atau dengan sikap yang kadang dianggap hal remeh. Padahal di sisi Allah Ta'ala itu perkara yang sangat besar.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Ketahuilah! Tetangga memiliki hak besar dari setiap kita. Berbuat baik dan berakhlak mulia kepada tetangga adalah wasiat Jibril kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sampai beliau mengira tetangga akan menjadi ahli waris. Beliau bersabda,
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتّىٰ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
"Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku perihal tetangga hingga aku mengira ia akan dijadikan sebagai ahli waris." (HR. Al-Bukhari nomor 5669 dan Muslim nomor 2625)
Lihatlah, wahai hamba Allah, Jibril yang merupakan pemimpin para malaikat, mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berulang kali hanya untuk menyampaikan pesan tentang tetangga. Bukankah ini menunjukkan bahwa tetangga bukan sekadar orang yang tinggal dekat dengan kita, tetapi ia adalah bagian dari amanah keimanan?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Apa yang terjadi jika seseorang tidak memuliakan tetangganya? Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan ancaman keras dengan berkata,
وَاللّٰهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللّٰهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللّٰهِ لَا يُؤْمِنُ
"Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak beriman!"
Para sahabat bertanya siapa yang dimaksud, lalu beliau menjawab,
الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
"Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya." ( HR. Al-Bukhari nomor 5670)
Tidak beriman maksudnya tidak sempurna imannya. Hal ini bukan disebabkan seseorang tidak shalat, tidak puasa, bukan pula karena meninggalkan sedekah, tetapi karena tetangganya tidak aman dari gangguannya. Ini adalah peringatan bagi kita semua bahwa ibadah tidak berdiri sendiri tanpa akhlak sosial.
Betapa banyak orang memelihara ibadah, tetapi tidak memelihara akhlak terhadap tetangganya. Akibatnya, ia merusak bangunan keimanannya sendiri.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdapat contoh nyata hubungan dengan tetangga menjadi penyebab masuk surga atau neraka. Hal ini terjadi pada dua orang wanita. Satu wanita sangat rajin ibadah, satu lagi ibadahnya biasa saja. Namun ternyata surga dan neraka mereka tidak dilihat dari banyaknya ibadah, melainkan oleh akhlak terhadap tetangganya, sebagaimana dalam sebuah hadits,
إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا
Disebutkan kepada Nabi seorang wanita yang banyak shalat, puasa dan sedekah, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya.
فَقَالَ: هِيَ فِي النَّارِ
Beliau bersabda, "ia di neraka".
Kemudian disebutkan wanita lain,
فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا
Ia hanya melakukan shalat wajib, berpuasa Ramadan dan bersedekah sedikit, namun ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.
فَقَالَ: هِيَ فِي الْجَنَّةِ
Beliau bersabda, "ia di surga". (HR. Ahmad nomor 9675 )
Wahai kaum muslimin, hadits ini bukan hanya kisah, tetapi peringatan keras bahwa seluruh ibadah bisa sia-sia jika seseorang menyakiti tetangganya. Rasulullah tidak mengatakan "ibadahnya kurang", tetapi beliau langsung mengatakan, wanita itu di neraka.
Maka jangan remehkan gosip kecil, bisikan buruk, atau komentar pedas terhadap tetangga.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Pada zaman sekarang, gangguan terhadap tetangga semakin banyak bentuknya. Ada tetangga yang mengganggu dengan suara keras, misalnya memutar musik tanpa peduli orang sekitar. Ada yang memarkir kendaraan seenaknya di depan rumah orang lain. Ada yang membuang sampah hingga menyusahkan orang yang berkekatan dengan rumahnya. Ada yang membiarkan anak-anak membuat keributan hingga mengganggu kenyamanan. Ada pula yang suka mengintip urusan tetangga, menyebarkan kabar tanpa kepastian, membesar-besarkan kesalahan kecil, hingga akhirnya merusak keharmonisan.
Semua itu adalah bentuk gangguan yang dapat membuat keimanan seorang muslim cacat. Jika akhlak kita buruk terhadap tetangga, jangan-jangan itu tanda bahwa amal kita belum diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khotbah Kedua
ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
أَمَّا بَعْدُ،
فَاتَّقُوا اللّٰهَ عِبَادَ اللّٰهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، وَأَنَّ مِنْ أَعْظَمِ صُوَرِ التَّقْوَى حُسْنَ الْخُلُقِ مَعَ الْجِيْرَانِ، فَإِنَّهُ دَلِيْلُ صِدْقِ الْإِيمَانِ، وَسَبَبٌ لِرِضْوَانِ الرَّحْمٰنِ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan keterikatan iman dengan memuliakan tetangga,
ومَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باِللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Al-Bukhari nomor 5673 dan Muslim nomor 47)
Di antara bentuk memuliakan tetangga adalah berakhlak baik kepadanya, tidak menyakiti atau mengganggu, dan memberi kebaikan. Sebab, bertetangga bukan hanya tidak mengganggu, tetapi juga memberikan manfaat. Mengucapkan salam, menanyakan kabar, memberi makanan, saling membantu dalam kesulitan, menolong ketika ada keperluan mendesak dan bahkan sekadar tersenyum adalah bentuk kebaikan bertetangga.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Marilah kita jujur kepada diri sendiri. Tanyakan dengan tegas:
Apakah ada tetangga yang pernah saya sakiti? Apakah ada tetangga yang pernah saya remehkan? Apakah ada tetangga yang saya abaikan ketika ia membutuhkan pertolongan? Apakah ada tetangga yang mendiamkan saya karena merasa tersakiti? Apakah ada tetangga yang tidak nyaman karena sikap atau perilaku saya?
Jika jawabannya “ya”, hari ini adalah saatnya memperbaiki diri. Jangan biarkan tetangga mengadu kepada Allah pada hari Kiamat. Jangan biarkan air mata tetangga menjadi sebab hisab yang berat. Jangan biarkan keluhan kecil tetangga menjadi api neraka yang menyala di akhirat.
Mulailah perbaikan dari hal-hal kecil: ucapkan salam, minta maaf jika pernah salah. Berikan hadiah walaupun sederhana, tawarkan bantuan ketika ia membutuhkan dan yang paling penting, jangan menyakitinya lagi.
Surga itu kadang sangat dekat, yaitu di pintu rumah tetangga kita. Sementara itu, neraka pun bisa sedekat mulut orang yang mengeluarkan ucapan buruk dan meluncur terhadap tetangga.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Muliakanlah tetanggamu, niscaya Allah memuliakanmu. Tenangkanlah tetanggamu, niscaya Allah menenangkan hatimu. Lembutlah kepada tetanggamu, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala membahagiakan hidupmu. Semoga Allah menjadikan tetangga-tetangga kita saksi kebaikan kita, bukan saksi keburukan kita.
Di akhir khotbah ini, mari kita bershalawat untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan kita lanjutkan dengan doa untuk diri kita dan orang tua kita, seluruh kaum muslimin serta berdoa agar kita menjadi orang yang memuliakan tetangga.
ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي ٱلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِوٰلِدِيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.
ٱللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَزَكِّ نُفُوْسَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِلَىٰ جِيرَْانِهِمْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.
ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْ حُسْنَ ٱلْجِوَارِ سَبَبًا لِدُخُولِنَا ٱلْجَنَّةَ، وَلَا تَجْعَلْ سُوْءَ ٱلْخُلُقِ سَبَبًا لِخِزْيِنَا يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. واشْكُرُوْهُ عَلٰى نِ عَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
Referensi
- Shahihul Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Musnad Ahmad, Imam Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah.