Tanya Ustadz
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)

Tanya Jawab

Bersama Al-Ustadz

Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullāh


Diberi suami yang tidak mampu memimpin, bagaimana husnudzan kepada Allah?


Assalamu’alaikum, Ustadz. bagaimana berprasangka baik kepada Allah ketika kita diberi suami yang tidak mampu memimpin anak dan istrinya untuk beribadah kepada Allah? Sebenarnya sudah dinasihati, namun belum ada perubahan. Mohon nasihatnya, Ustadz.

Jawab:

Ini pertanyaan yang bagus. Bagaimana cara kita berhusnudzan kepada Allah ketika pasangan hidup kita belum istiqamah shalatnya, belum disiplin, atau masih banyak melakukan kemaksiatan?

Bentuk husnudzan kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah ingin membuka pintu dakwah bagi pasangan kita, membuka pintu nasihat, serta memberi kesempatan kepada kita untuk beramal ma’ruf nahi mungkar. Allah ingin memberikan pahala dakwah di jalan-Nya, serta pahala kesabaran dalam proses tersebut.

Husnudzan lainnya adalah meyakini bahwa suatu saat Allah akan memberikan hidayah kepada pasangan kita. Banyak kejadian seperti ini, misalnya seseorang bekerja bertahun-tahun di tempat yang haram. Pasangannya tidak pernah putus menasihati, hingga akhirnya ia berkata, “Kami lebih sabar hidup miskin daripada engkau berada di sana dan memberi kami uang yang banyak.” Pada akhirnya, pasangan itu pun meninggalkan pekerjaan yang haram.

Maka perbanyaklah berhusnudzan kepada Allah. Semoga ini menjadi jalan dakwah bagi kita. Allahu a‘lam.


Anak murtad, bagaimana nasib kedua orang tuanya di akhirat?

Assalamu’alaikum. Beberapa tahun lalu ada anak perempuan yang kabur dari rumah dan menikah dengan lelaki non-muslim, sedangkan seluruh keluarganya tidak meridainya apalagi Allah. Ketika kami hendak membawanya kembali kepada keluarganya, ia menolak dan mengancam akan bunuh diri. Bagaimana nasib kedua orang tuanya di akhirat kelak?


Jawab:

Sebagai orang tua, kita harus melakukan kewajiban kita. Apabila hal ini sudah terjadi, maka kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan anak tersebut. Alasannya karena ia menikah dengan cara yang tidak sah, yaitu menikah dengan orang kafir dan tanpa wali.

Kita memberi nasihat agar ia kembali kepada Islam. Berikan harapan bahwa jika ia kembali, dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah. Sampaikan ancaman bahwa jika ia tetap dalam kekafirannya, maka kehidupan yang sengsara akan ia hadapi di dunia dan akhirat.

Berikan nasihat dengan cara yang baik dan penuh kesabaran, berbicara dari hati ke hati, serta iringi dengan doa agar Allah mengembalikan anak tersebut ke dalam Islam. Allahu a‘lam.


Bagaimana jika saya ditakdirkan tidak menikah?

Assalamu’alaikum. Bagaimana jika Allah menakdirkan saya tidak menikah? Mohon nasihatnya, Ustadz.


Jawab:

Jodoh akan datang jika memang sudah ditulis oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Jika takdirnya seseorang tidak mendapat jodoh, yang penting ia sudah berusaha. Ketika ia berdoa meminta jodoh, ia tetap mendapatkan pahala.

Yakinlah bahwa dalam setiap takdir Allah terdapat kebaikan. Masuk surga tidak disyaratkan seseorang harus menikah.

Mungkin di antara hikmahnya, dengan tidak menikah ia bisa lebih fokus beribadah kepada Allah ‘Azza wa jalla. Bisa jadi setelah menikah, ia justru menjadi lalai. Maka tetaplah berhusnudzan kepada Allah jika hal itu terjadi. Allahu a‘lam.


Mana lebih dulu: Ibadah, olahraga, atau mengurus anak?

Assalamu’alaikum. Sebagai ibu rumah tangga, mana yang harus didahulukan antara olahraga, mengurus anak, atau beribadah kepada Allah?


Jawab:

Insya Allah semuanya bisa dijamak. Tidak ada pertentangan antara hal-hal tersebut. Kita tetap dapat mendidik anak, mengurus rumah tangga, sekaligus menyisihkan waktu untuk berolahraga.

Orang yang diberi taufik adalah orang yang dituntun oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Buatlah jadwal untuk membagi waktu: untuk anak, olahraga, menuntut ilmu, dan ibadah. Semuanya bisa diatur. Semoga Allah memudahkan. Allahu a‘lam.