🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Strategi Hafalan Efektif

Reporter: Dian Pujayanti

Redaktur: Dian Soekotjo


Di tengah rutinitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan seiring bertambahnya bobot materi di Halaqah Silsilah Ilmiyah (HSI), banyak santri merasa terbebani karena menganggap materi ilmu terlalu padat dan perlu waktu berjam-jam hingga lembur untuk menguasai. Beberapa dari mereka ada yang tidak lulus, ada yang tertatih-tatih tapi tetap gigih berusaha belajar sekuat tenaga bertahan di HSI, dan ada pula yang sudah gugur lalu kembali bergabung melalui program levelling.

Sebenarnya ada pendekatan berbeda yang membuktikan hafalan kuat bisa dicapai tanpa harus mengorbankan waktu istirahat dan kegiatan lain. Dengan metode belajar terstruktur, pembagian target yang realistis, dan konsisten, insyaallah para santri akan berhasil meningkatkan kualitas hafalan. Santri dari berbagai latar belakang, apakah ia seorang guru, dokter, programer, desainer grafis, bahkan seorang ibu rumah tangga sekalipun.

Stigma di Masyarakat tentang Hafalan

Di tengah masyarakat, menghafal sering dipersepsikan sebagai kemampuan instan atau bakat bawaan. Ada pula yang menganggap hafalan hanya milik mereka yang memiliki banyak waktu luang. Padahal, menghafal adalah proses yang tumbuh perlahan, sedikit demi sedikit, melalui pengulangan yang terjaga.

Menghafal bukan sekadar aktivitas berulang, melainkan komitmen jangka panjang. Konsistensi berbeda dengan sekadar sering melakukan sesuatu. Seseorang bisa saja belajar setiap hari, tetapi tanpa pola yang terjaga dan tujuan yang jelas, hasilnya tidak akan optimal. Konsistensi menuntut kesinambungan kualitas dan irama yang stabil dalam waktu yang panjang.

Perlunya Menghafal Ilmu

Menghafal merupakan upaya menjaga kemurnian dan keberlangsungan ilmu. Ia bukan hanya sarana mengingat, tetapi juga bentuk penjagaan terhadap warisan ilmu agar tetap hidup dalam dada para penuntutnya. Dalam tradisi Islam, menghafal menjadi bagian dari budaya bersanad yang menyambungkan ilmu dari generasi ke generasi.

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A dalam pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm menjelaskan bahwa menghafal memudahkan ilmu dipanggil kembali kapan saja, memperdalam pemahaman, serta menguatkan iman. Hal ini tentu memudahkan seseorang dalam mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.

Beliau menegaskan, “Kalau dia tidak berusaha untuk menghafal maka apa yang dia dapatkan itu tidak akan bermanfaat, akan hilang begitu saja. Maka harus kita keluarkan tenaga untuk menghafal. Dulu kita belajar ilmu umum saja kita semangat untuk menghafal, kenapa ketika kita belajar agama kemudian kita bermalas-malasan dalam menghafal.”

Setelah memahami urgensi menghafal, lalu metode apa saja yang dapat diterapkan oleh seorang penuntut ilmu agar hafalannya lebih efektif dan bertahan lama?

Chunking: Memecah Hafalan agar Lebih Ringan

Chunking adalah teknik memecah materi besar menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan diingat. Satu halaman tidak ditelan sekaligus, tetapi dibagi per beberapa baris. Satu ayat diurai per frasa. Dengan cara ini, otak tidak merasa dibebani, melainkan diajak melangkah setahap demi setahap. Metode ini juga selaras dengan pola penyampaian materi di HSI yang dibagi per halaqah dan silsilah dalam durasi singkat.

Ukhtunna Wiwit Rachmawati telah lama menerapkan teknik ini. Saat menghafal satu halaman berisi 15 baris, ia membaginya menjadi tiga sesi, masing-masing lima baris. Menurutnya, memecah hafalan membuatnya lebih fokus dan tidak mudah lelah. Mengikuti empat program KBM di HSI, ia merasa cara ini paling efektif agar hafalan panjang tidak terasa menyesakkan.

Hal serupa dilakukan Ukhtunna Deliana Dahlan. Dalam menghafal mutun dan pelajaran, ia terbiasa memilah materi menjadi bagian kecil sebelum mengulangnya. Cara ini membantunya memahami isi pelajaran dengan lebih terstruktur, termasuk saat ini ketika ia mempelajari Kitab Ath Thahawiyah bagian pertama.


Spaced Repetition: Menguatkan Ingatan dengan Jeda

Spaced repetition adalah metode menghafal dengan pengulangan yang diberi jarak waktu. Informasi tidak diulang terus-menerus dalam satu waktu, melainkan dikaji kembali dalam interval tertentu. Pola ini membantu memperkuat daya ingat jangka panjang karena otak diberi kesempatan untuk “mengingat kembali” sebelum lupa sepenuhnya.

Ukhtuna Geby menerapkan metode ini dalam kesehariannya. Ia mendengarkan audio materi berulang kali di sela aktivitas, bahkan saat berkendara. Setelah itu, ia menuliskan kembali ayat atau poin penting, lalu membacanya lagi pada waktu berbeda. Bagi santri angkatan pertama tahun 2022 ini, pengulangan terjadwal membuat hafalan lebih kokoh dan tidak cepat hilang.

Visualisasi: Mengikat Makna Lewat Gambar dan Simbol

Metode visualisasi memanfaatkan kekuatan gambar, simbol, coretan, atau mind map untuk membantu mengingat informasi. Tidak semua hafalan harus berbentuk paragraf rapi. Terkadang satu simbol kecil atau satu peta konsep sederhana sudah cukup menjadi pengingat yang efektif.

Ukhtunna Erlia Jasinta menjadikan visualisasi sebagai andalan di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus dokter. Ia membuat coretan dalil atau menandai kalimat penting saat mengikuti HSI dan mahad online. Meski tidak selalu sempat menulis lengkap, simbol-simbol tersebut membantunya menangkap inti materi. Sejak bergabung dengan HSI pada 2016, ia menemukan bahwa metode inilah yang paling realistis dan konsisten bisa ia jalankan.

Menulis Ulang: Memperdalam dengan Tangan dan Pikiran

Menulis ulang adalah strategi sederhana namun efektif. Setelah menyimak materi, santri menuliskan kembali isi pelajaran dengan redaksi yang sama atau diringkas sesuai pemahaman. Proses ini membantu memperkuat ingatan sekaligus memperjelas makna, karena menulis menuntut fokus dan ketelitian.

Nurul Hidayah dari Sleman memilih metode ini karena paling fleksibel dengan rutinitas kerjanya. Ia mendengarkan audio, lalu meluangkan 10–20 menit untuk menulis ulang sebelum mengerjakan soal. Menurutnya, cara ini memudahkan memahami penyampaian ustadz secara utuh.

Senada dengan itu, Fathimah Saleh Ali Jaber dari Lombok memulai dengan menyimak dan memahami, kemudian menghafal dalil serta kaidah sebelum menuliskannya kembali poin demi poin. Ia meyakini bahwa ilmu yang disertai hafalan dalil dan matan akan lebih kuat tertanam. Dengan landasan itulah, ia merasa nyaman dan mantap dalam perjalanan belajarnya.

Rutinitas KBM HSI yang Mendukung

Metode pembelajaran Halaqah Silsilah Ilmiyyah Abdullah Roy dirancang dengan pendekatan bertahap agar mudah diikuti di tengah kesibukan harian. Materi disampaikan secara terstruktur dan berkesinambungan melalui platform berbasis teknologi seperti WhatsApp grup, website resmi, dan aplikasi HSI. Setiap halaqah dikirim dalam bentuk audio singkat berdurasi 3–10 menit, Senin hingga Jumat, sehingga santri dapat belajar konsisten tanpa merasa terbebani dan lebih menekankan kualitas pemahaman daripada kuantitas materi.

Dalam satu tahun, pembelajaran dibagi menjadi beberapa sesi Silsilah Ilmiyah yang memberi ritme seimbang antara KBM berjalan, murojaah, evaluasi, dan masa persiapan sebelum naik ke sesi berikutnya. Sistem evaluasi diterapkan berjenjang dari harian, pekanan hingga akhir sesi sebagai sarana murojaah dan motivasi. Silabus pun disusun berdasarkan level, dimulai dari materi dasar hingga pembahasan kitab para ulama, agar santri memiliki pondasi yang kuat sebelum melangkah lebih jauh.

Ukhtunna Fauziana selaku Koordinator ART KBM Reguler menyampaikan bahwa metode ini dinilai paling ideal untuk mengakomodasi kebutuhan dan kesibukan ratusan ribu santri, meski tentu tidak ada sistem yang sempurna. Dengan pola bertahap, terstruktur, dan berjenjang ini, KBM HSI diharapkan menjadi wasilah lahirnya santri yang istiqamah dalam belajar aqidah, memahami materi secara mendalam, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu mendakwahkannya kembali kepada lingkungan sekitarnya.


884