Siwak
Penulis: Ustadz Ja’far Ad-Demaky
Editor: Athirah Mustadjab
Pendahuluan
Sesungguhnya Islam mengajari kita kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian, maupun tempat. Di antara wujud kebersihan badan adalah kebersihan mulut, misalnya bersiwak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan mempraktikkannya secara langsung. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai siwak, bahkan menjelang beliau wafat pun beliau sempat bersiwak. Jika demikian halnya, hendaknya kita mempelajari tentang siwak, berusaha meneladani beliau, serta menghidupkan sunnah yang mulia ini.
Pengertian Siwak
Siwak diambil dari kata سَاكَ (saaka) jika menggosok – atau menggunakan kayu atau semisalnya – untuk gigi, menghilangkan warna kuning, dan selainnya.[1] Siwak adalah nama untuk dahan atau akar pohon yang digunakan untuk bersiwak. Dengan demikian, semua dahan atau akar pohon apa pun boleh kita gunakan untuk bersiwak jika memenuhi syarat berikut ini:
Harus lembut. Oleh sebab itu, batang atau akar kayu yang keras tidak boleh digunakan untuk bersiwak karena bisa merusak gusi dan email gigi.
Bisa membersihkan, berserat, dan bersifat basah. Oleh sebab itu, akar atau batang yang tidak berserat tidak bisa digunakan untuk bersiwak karena serat tersebut tidak berjatuhan ketika digunakan untuk bersiwak, sehingga bisa mengotori mulut.[2]
Keutamaan Siwak
Siwak merupakan sunnahnya para rasul ‘alaihimussalam. Yang pertama kali melakukannya adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.[3] Selain itu, bersiwak memiliki keutamaan yang lain, di antaranya:
1. Mengandung faedah duniawi dan ukhrawi
Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang sangat banyak, baik bersifat keduniaan -- yaitu berupa kebersihan, kesegaran, dan kesehatan mulut, putihnya gigi, hilangnya bau mulut, kuatnya gusi, dan lain-lain -- maupun faedah-faedah yang bersifat ukhrawi, yaitu ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb.” (Diriwayatkan Al-Bukhari secara mu’allaq di Kitab Shaum pada Shahih Al-Bukhari, 4:158; Ahmad, 6:47; dan Irwaul Ghalil, 1:105, no. 66)
Perhatikah hadits yang mulia di atas! Amalan yang ringan ternyata bisa mendatangkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pantas saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu bersemangat melakukannya. Oleh sebab itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ingin agar umatnya juga melakukan amalan yang sama, sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ
“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali mereka akan berwudhu.” (HR. Ahmad, 1:80; Shahihul Jami’, no. 5316; dan Irwaul Ghalil, no. 70)
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali mereka akan melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari, no. 887; Muslim, no. 252; Irwaul Ghalil, no. 70)
2. Bentuk taqarrub kepada Allah
Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah menjelaskan alasan kuatnya penganjuran untuk bersiwak ketika seseorang akan melaksanakan shalat, “Rahasia di baliknya adalah kita diperintahkan agar setiap kali kita ber-taqarrub kepada Allah, kita senantiasa berada dalam keadaan yang sempurna dan bersih, untuk menampakkan kemuliaan ibadah.”
Ada pula ulama yang berpendapat bahwa perkara ini, yaitu bersiwak ketika akan shalat, berhubungan dengan keberadaan malaikat -- mereka terganggu dengan bau yang tidak enak. Imam Ash-Shan’ani menyampaikan, “Dan tidaklah jauh (jika dikatakan) bahwa rahasia (di balik sunnah bersiwak) adalah digabungkannya dua perkara yang telah disebutkan (di atas) sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu.
مَنْ أَكَلَ الثَّوْمَ أَوِ الْبَصَالَ أَوِ الْكَرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا لأَنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ بَنُوْ آدَمَ
“Barang siapa yang memakan bawang putih, bawang merah, atau bawang bakung, janganlah dia dekati masjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan segala sesuatu yang mengganggu Bani Adam.” (HR. Muslim no. 876 dan 874. Lihat Taisirul ‘Allam Syarh ‘Umdatul Ahkam, 1:63)
3. Disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak bukan hanya ketika akan shalat, tetapi beliau juga bersiwak dalam berbagai keadaan, misalnya ketika hendak masuk rumah.
رَوَى شُرَيْحٌ بْنُ هَانِئِ قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَيِّ شَيِءٍ يَبْدَأُ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ بَيِتَهُ ؟ قَالَتْ : بِالسِّوَاكِ (رواه مسلم)
Syuraih bin Hani telah meriwayatkan; beliau berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang dilakukan pertama kali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau memasuki rumahnya?’ Beliau menjawab. ‘Bersiwak.’” (HR. Muslim, no. 253 dan Irwaul Ghalil, no. 72)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersiwak ketika bangun malam.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْسُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu; dia berkata, ‘Jika Rasulullah bangun pada malam hari beliau membersihkan (menggosok) mulutnya dengan siwak.’” (HR. Bukhari, no. 840; Muslim, no. 375; Abu Daud, no. 50; dan An-Nasa’i no. 1603 dan 1640)
Berdasarkan hadits السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ dapat dipahami bahwa dalam setiap keadaan pun seorang muslim boleh bersiwak. Pada hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutlakkannya dan tidak mengkhususkan bersiwak pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu, bersiwak boleh dilakukan setiap waktu.”[4] Selain itu, tidak pula disyaratkan bahwa bersiwak boleh dilakukan hanya ketika mulut dalam keadaan kotor. [5]
Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sangat bersemangat ketika bersiwak, sampai-sampai dari mulut beliau keluar bunyi seakan-akan beliau muntah.
عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ ، قَالَ : وَطَرْفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ ، وَهُوَ بَقُوْلُ أُعْ أُعْ وَالسِّوَاكُ فِيْ فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ
“Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu; beliau berkata, ‘Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang bersiwak dengan siwak yang basah.’ Kata Abu Musa, ‘Ujung siwaknya ada di atas lidahnya. Beliau bersuara, ‘Uh ... uh,’ dan pada saat itu siwak ada di mulutnya, seakan-akan beliau sedang muntah.”[6] (HR. Bukhari, no. 237. Hadits ini juga diriwaytkan dari sahabat Abu Burdah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu)
Di akhir hayatnya beliau shalallahu 'alaihi wa sallam masih menyempatkan diri untuk bersiwak. Ini menunjukkan besarnya keutamaan bersiwak. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyalahu ‘anha,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِيْقِ عَنْهُ عَلَى النَّبِيِّ وَ أَنَا مُسْنِدَتُهُ إلَى صَدْرِي – وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ – فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضِمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا أَحْسَنَ مِنْهُ. فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ : (فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى) ثَلاَتًا، ثُمَّ قُضِيَ عَلَيْهِ
وَ فِي لَفْظٍ: فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَ عَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ فَقُلْتُ آخُذُهُ لَكَ ؟ فَأَشَرَ بِرَأْسِهِ : أنْ نَعَمْ
“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha; beliau berkata, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menemui Nabi, sedangkan aku menyandarkan beliau di dadaku.” Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak. Rasulullah memandang siwak tersebut (dengan pandangan yang lama). Kemudian aku mengambil siwak itu dan menggigitnya (untuk dibersihkan, pen.) lalu aku merapikannya dan kuberikan kepada Rasulullah. Beliau pun menggunakannya untuk bersiwak. Aku tidak pernah melihat Rasulullah sebaik itu. Setelah Rasulullah selesai bersiwak, beliau mengangkat tangannya atau jarinya, lalu beliau berkata, ‘Kepada Ar-Rafiq Al-A’la,” sebanyak tiga kali. Kemudian beliau wafat.
Dalam riwayat lain ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, ‘Aku melihat Rasulullah memandang siwak tersebut, maka aku pun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata, ‘Aku ambilkan siwak tersebut untukmu?’ Maka Rasulullah mengisyaratkan dengan kepalanya (mengangguk) pertanda setuju.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berlandaskan dalil tersebut, sebagian ulama menjelaskan, “Para ulama telah sepakat bahwa bersiwak adalah sunnah muakkadah karena adanya anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, langgengnya beliau dalam mengamalkannya, kecintaan beliau terhadapnya, serta ajakan beliau untuk bersiwak.”[7]
Hukum Bersiwak
Menurut jumhur ulama, hukum bersiwak adalah sunnah, berdasarkan keumuman hadits Aisyah di atas.[8]
Manfaat Bersiwak
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan tentang faedah bersiwak, yaitu:[9]
- menyegarkan mulut,
- menguatkan gusi,
- menajamkan mata,
- menghindari gigi berlubang dan berwarna
- kuning,
- menyehatkan pencernaan,
- menjernihkan suara,
- membantu proses pelembutan makanan,
- melancarkan ketika berbicara,
- membuat semangat berzikir dan shalat,
- mengusir kantuk,
- membuat Allah ridha,
- menyenangkan malaikat, dan
- memperbanyak pahala.
Waktu-Waktu Dianjurkannya Bersiwak
Bersiwak dianjurkan pada semua waktu, tetapi lebih ditekankan lagi sewaktu:[10]
- berwudhu,
- hendak shalat,
- akan membaca Al-Qur’an,
- masuk rumah, dan
- bangun tidur pada malam hari untuk qiyamul lail.
Bolehkah Bersiwak Menggunakan Sikat Gigi Modern dan Pasta Gigi?
Sebagian ulama berpendapat bahwa menyikat gigi dengan sikat gigi modern tidaklah termasuk siwak yang disunnahkan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi. Akan tetapi, pendapat yang benar dalam hal ini bahwasanya jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka seseorang boleh bersiwak dengan menggunakan sikat gigi biasa karena ‘illah (penyebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi, membersihkan mulut, menyucikannya, dan memperindah.
Selain itu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam tidak membatasi bersiwak dengan penggunaan benda tertentu, bahkan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pernah besiwak dengan jarinya ketika beliau berwudhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أدْخَلَ أصْبِعَهُ عِنْدَ الْوُضُوْءِ وَحَرَّكَهَا
“Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya, pen.) ketika berwudhu dan beliau menggerak-gerakkannya.” (HR. Ahmad di Al-Musnad, 1:158)
Penutup
Demikian penjelasan tentang siwak. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk menghidupkan sunnah ini dan istiqamah dalam mengamalkannya.
Referensi:
- Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab. Yahya bin Syarf An-Nawawi.
- Ath-Thibbun An-Nabawi. Ibnul Qayyim.
- Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Wahbah Az-Zuhaili.
- Irwaul Ghalil. Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
- Mulakhash Fiqhi. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.
- Musnad Ahmad. Ahmad bin Hanbal.
- Syarhul Mumti’. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
- Shahih Al-Bukhari. Al-Bukhari.
- Shahih Muslim. Muslim bin Al-Hajjaj.
- Shahihul Jami. Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
- Shahih Fiqhis Sunnah. Sayyid Sabiq.
- Taisirul ‘Allam Syarh ‘Umdatul Ahkam. Abdullah Al-Bassam.