Sistem Pendaftaran Santri, Sebuah Rekaman Perjalanan HSI

Reporter: Reza Firdaus

Editor: Dian Soekotjo


Allah berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik [QS. Al Ankabut: 69]

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihaat, segala puji hanyalah milik Allah, yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. 2025, HSI sampai pada kurun 12 tahun. Perjalanan yang tak mungkin dikatakan singkat, tapi agaknya juga bukan usia matang. Dalam dunia yayasan atau lembaga pendidikan, 12 tahun nampaknya adalah usia yang masih sangat belia.

Pada 2013 ketika dimulai, HSI adalah kumpulan beberapa puluh penuntut ilmu. Tanpa pendaftaran ketat yang dibatasi waktu, juga tanpa web canggih memuat soal dan materi yang bisa diakses dari manapun dan kapan pun. Proses belajar nampak masih sederhana.

Seiring perjalanan, banyak hal tumbuh. Kini, santri-santri penuntut ilmu telah ratusan ribu jumlahnya dari berbagai pelosok tempat, baik negeri sendiri hingga mancanegara. Pendaftaran tidak lagi bisa kapan pun karena telah tertata setahun dua kali pada masa penerimaan saja. Liputan kali ini, Majalah HSI hendak berkilas balik. Dengan memutar rekaman perjalanan proses pendaftaran, mudah-mudahan terbit rasa syukur atas pencapaian.

Pendaftaran Melalui WA

Kita tahu bahwa sistem pendaftaran Program Reguler di HSI berbasis website. Calon santri dengan mudah bergabung. Hanya dengan mengisi beberapa data dan klik daftar, masuk sudah. Namun, itu cerita ‘angkatan-angkatan sekarang’ atau versi terbaru. Dulu, para santri generasi awwalun atau mereka yang belajar ketika HSI mula-mula dibentuk, bergabung dalam program belajar tauhid ini sekadar melalui WA.

Ukhtuna Witri Ummu Ibrahim, salah satu generasi awal yang masih menjadi santri aktif hingga hari ini, punya kenangan tersendiri. Ia menuturkan bahwa dirinya mengenal HSI dari kiriman seorang teman melalui pesan pribadi. Sang teman rajin memberikan audio-audio materi ilmu dari Ustadzuna Dr. Abdullah Roy. Karena tertarik ikut belajar, Mbak Witri, begitu Ukhtuna Witri Ummu Ibrahim akrab disapa, berinisiatif meminta kontak pemilik audio kepada sang teman. Dari teman inilah, Mbak Witri mendapat kontak seorang yang memperkenalkan diri sebagai Ummu Maryam, pengelola grup belajar HSI.

“Setelah wapri, akhirnya ana dimasukkan ke grup WA. Dan setiap hari dapat kiriman audio,“ Mbak Witri bernostalgia. Awalnya, Mbak Witri memilih mustami atau sebagai santri pendengar saja, karena memang pilihan itu diberikan kepada semua anggota grup. Boleh mengikuti program yang berarti bersedia mengikuti serangkaian ujian, boleh juga sekedar menyimak audio-audio materi. Namun, akhirnya Mbak Witri ditawari Ummu Maryam untuk ikut program belajar. Mbak Witri setuju.

Dari bertambahnya intensitas komunikasi, barulah Mbak Witri yang tinggal di Tuban itu, mengetahui bahwa Ummu Maryam adalah istri Ustadzuna Dr. Abdullah Roy, yang bahkan kala itu, turut mengelola grup HSI akhwat. Angkatan Mbak Witri menjadi angkatan paling senior di HSI. Beliau dan kawan-kawan itu mendapat NIP ARN134 atau ART134 yang berarti Angkatan 134. Angka 134 menjadi kode tahun bergabung di HSI, dimaksudkan untuk santri yang mendaftar HSI tahun 2013 dan 2014. Dua angkatan ini sengaja digabung sekarang, karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak.

‘War’ Pendaftaran Era 191

Dari tahun ke tahun setelah 2013, HSI terus membuka penerimaan santri baru. Rata-rata dengan metode yang sama, yaitu melalui informasi dari mulut ke mulut serta pendaftaran melalui WA saja. Perubahan signifikan dimulai akhir 2018 untuk mereka yang akan mulai belajar awal tahun 2019, di mana pendaftaran mulai dilakukan dengan melibatkan website.

“Tapi sistemnya bukan seperti sekarang,” Ukhtuna Alfi Ummu Azkiya mengenang. Ummu Azkiya adalah salah satu santri pemegang NIP ART191 yang artinya mulai belajar di HSI pada Januari 2019. “Dulu zaman saya, musti standby di web,” Ummu Azkiya memulai ceritanya. “Webnya itu khusus. Sudah diumumkan sebelumnya bahwa kita harus ke sana dan nunggu dibuka pendaftaran pada satu tanggal tertentu… saya udah lupa. Plus jam tertentu. Seingat saya siang sepertinya,” Ummu Azkiya nampak semangat menceritakan perjalanan awalnya belajar di HSI. Ia berkenan menceritakan momen pendaftaran HSI dengan kalimat-kalimat panjang.

Menurut ibu 4 putri dan nenek 2 cucu ini, beliau mengetahui pendaftaran HSI dari sebuah poster di Facebook. “Saya sebelumnya atas izin Allah sudah mengikuti kajian-kajian Ustadz Roy, jadi ketika tahu HSI itu dibimbing Ustadz, saya langsung tekat daftar,” paparnya. Ummu Azkiya mengaku sempat ragu mendaftar ketika awal masuk web gara-gara membaca data pengunjung web demikian banyak. “Jadi data pengunjung web itu ditampilkan di pojok. Saya gak nyangka yang standby banyak bahkan dari luar negeri. Di sana dicantumkan lokasi pengakses,” Ummu Azkiya menambahkan. Menurut ingatannya, beberapa negara asing yang menjadi asal para pengakses web waktu itu, ada dari Arab Saudi, Singapura, Hongkong, dan tercantum juga Malaysia. “Ya gara-gara itu, saya sempat hopeless waktu lama gak dapet-dapet balesan,” ujarnya kemudian.

Ummu Azkiya menjelaskan bahwa santri HSI angkatannya waktu itu, diharuskan mengirim pesan dengan format tertentu ke salah satu nomor admin yang tersedia, kemudian menunggu balasan bahwa pendaftaran berhasil. “Tapi kita tidak boleh mengulang proses, selama belum dapat balasan dari HSI, dan tidak semua balasan menyatakan berhasil. Ada juga yang harus mengulang proses dari awal. Jadi penuh dag dig dug…hahaha… Apalagi masuknya susah,” ungkap Ummu Azkiya dibarengi tawa.

Dari proses awal yang nampak perlu kesabaran itu, Ummu Azkiya juga santri-santri yang sekarang menjadi Angkatan 191, harus menunggu beberapa hari hingga dihubungi nomor HSI yang mengabarkan bahwa pendaftaran berhasil dan diminta menunggu untuk dimasukkan dalam grup-grup WA. “Kita menunggu maksimal seminggu kalau tidak salah. Kalau dalam waktu seminggu itu sudah dihubungi HSI, Alhamdulillah, berarti berhasil. Kalau lebih dari seminggu tidak juga dihubungi, ya… gagal berarti. Coba lagi pendaftaran berikutnya,” Ummu Azkiya menjelaskan.

Pengalaman sama turut dirasakan Akhuna Darwis dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Pemilik NIP berawalan ARN191 ini juga menuturkan pengalaman serupa. “Tahu HSI dapat info dari teman melalui grup WA,” ujar Akhuna Darwis. Meski pendaftaran dilalui dengan proses yang terbilang tidak mudah, Akhuna Darwis jujur mengakui bahwa awal belajar di HSI, dirinya belum terlalu serius.

“EH dikerjakan tapi terkadang tidak. Belum berusaha untuk meluangkan waktu dan ketika ada kendala tidak berupaya lebih. Belum merasa kehilangan ketika ada KBM atau evaluasi yang terlewat,” tuturnya kemudian.

Era Pendaftaran Sistem Website Penuh

Perubahan kembali terjadi pada pendaftaran santri-santri HSI setelah Angkatan 191. Secara bertahap, pendaftaran beralih ke website. Berangsur, tidak diperlukan lagi petugas yang perlu memverifikasi data santri hingga dinyatakan terdaftar sebagai peserta Program Reguler.

Ukhtuna Santi dari angkatan pertama tahun 2023 atau penyandang NIP ART231 sempat berkenan membagi pengalamannya. "Pendaftaran saya waktu itu tinggal klik daftar, Mbak," ujar guru Matematika sebuah SMP swasta di Bandung tersebut kepada Majalah HSI. "Sama sekali tidak rumit, Alhamdulillah," imbuhnya. "Seingat saya, hanya diminta nama dan nomor WA," akunya. "Data-data lain, baru diminta setelah kita masuk grup, dan diisikan masing-masing ke profil yang ada di web," ujarnya menjelaskan. Menurut ibu muda yang baru dikaruniai satu bayi perempuan itu, data yang diminta untuk melengkapi profil pun tidak banyak, hanya alamat domisili, kewarganegaraan, dan status pernikahan. "Jumlah anak ada juga seingat saya, kalau status pernikahan kita sudah menikah," tambahnya. Ia kembali menegaskan bahwa pendaftaran HSI terbilang cukup simpel dan memudahkan orang bergabung. "Alhamdulillah, tidak panjang prosedurnya," timpalnya kemudian.

Hal ini dibenarkan Akhuna Abu Uwais Ridwan Naullah. Selain pendaftaran, beliau juga merasakan bahwa sistem penyajian materi maupun ujian makin rapi dan memudahkan di HSI. Santri Angkatan 221 asal Jakarta ini, menceritakan kendala yang pernah ia hadapi saat awal belajar di HSI.

“Dulu sempat sakit kurang lebih dua pekan dan pada waktu itu pembelajaran di HSI sedang Evaluasi Akhir,” tuturnya. “Qadarullah, ana tidak bisa ikut EA-nya. Dan ana tidak lulus ke silsilah berikutnya,” Akhuna Abu Uwais menyambung. “Alhamdulillah, ana diundang kembali untuk ikut levelling santri,” kisahnya. Sehingga, dari sistem levelling tersebut, Akhuna Abu Uwais tetap bisa belajar hingga hari ini.

“Maasyaa Allah begitu efektif, mudah, dan fleksibel mendaftar di HSI dan proses belajarnya juga. Salah satu alasan ana terus belajar di HSI, ya karena waktunya begitu fleksibel, insyaallah tidak ada kendala yang berarti, selama kita mau dan niat dalam mencari ilmu syar’I,” ujarnya terdengar demikian bersemangat.

Perubahan Sistem Ujian

Selain sistem pendaftaran, tata cara ujian di HSI juga mengalami perubahan. Mbak Witri dan teman-teman satu angkatannya, sepertinya paling merasakan transisi ini.

“Mekanisme ujian dulu itu berbeda,” Mbak Witri mengemukakan. “Soal dikirim wapri ke peserta lalu peserta menjawab lewat wapri juga melalui istri Ustadz,” sambung Mbak Witri menggambarkan gaya ujian di masa awal ia bergabung.

Menurut Mbak Witri, jawaban santri kemudian dikoreksi langsung oleh Ustadzuna. “Nanti hasil ujian diumumkan di grup, yang mana apabila nama kita tidak tercantum, berarti nilai kita Rasib,” kenangnya. Setelah pengumuman hasil ujian, menurut Mbak Witri, masa itu, Ustadzuna bahkan berkenan masuk ke grup untuk melakukan tanya jawab, baik untuk memberi kesempatan santri yang bertanya, maupun untuk mengajukan pertanyaan kepada santri sebagai upaya muraja’ah.

Jelas berbeda memang dengan sistem saat ini yang banyak urusan belajar santri dilakukan berbasis online melalui web. Tetap perlu kita syukuri karena jelas metode tahun 2013 itu tak mungkin lagi diterapkan masa ini, mengingat jumlah santri HSI yang telah mencapai ratusan ribu peserta aktif. Apapun kondisinya, bagaimanapun fasilitas termasuk kendala-kendalanya, jangan berhenti menuntut ilmu, Wahai Saudaraku. Karena selain kewajiban, menuntut ilmu adalah jalan yang membawa kita pada kemudahan meraih jannah, insyaallah, biidznillah. Mari amalkan firman Allah,

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Beribadahlah kepada Tuhanmu, sampai bertemu kematian [QS. Al-Hijr : 99]

Selamat belajar, teman-teman…

0