Santunan Dhuafa HSI BERBAGI: Wujudkan Amanah Zakatmu Menjadi Nyata
Reporter: Leny Hasanah
Redaktur: Subhan Hardi
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. At-Taubah: 60]
Zakat bukan sekadar angka yang ditunaikan, melainkan amanah yang Allah tetapkan dengan batasan yang jelas dan hikmah yang dalam. Ia adalah jalan pertolongan yang Allah bukakan bagi mereka yang berada dalam kesempitan, sekaligus sarana penyucian harta dan jiwa kaum muslimin. Oleh karena itu, penyalurannya menuntut kehati-hatian, keadilan, dan empati yang utuh.
Melalui Program Santunan Dhuafa (SDF) 2025, HSI BERBAGI berupaya menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Program ini menjadi ikhtiar untuk menghadirkan zakat kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Dari ratusan permohonan yang masuk, tersimpan banyak kisah tentang perjuangan, keterbatasan, dan harapan yang dipanjatkan dalam diam.
Kekhawatiran Menjadi Doa
Ketika kekhawatiran akan kesanggupan mengembalikan pinjaman mulai menghantui, Ummu Ufaira memilih jalan yang tidak mudah. Santri Angkatan 241 ini memilih mengakui keterbatasan dan mengupayakan bantuan.
Di tengah ikhtiarnya memenuhi biaya pendidikan anak-anak, ia memberanikan diri mengajukan permohonan kepada HSI BERBAGI untuk pertama kalinya, sejak bergabung di keluarga besar HSI AbdullahRoy.
Kisahnya menjadi satu dari 529 permohonan yang terdaftar dalam Program SDF HSI BERBAGI 2025.
Amanah yang Kian Besar
Program SDF 2025 digulirkan pada 27 Oktober 2025. Tak lama setelahnya, HSI BERBAGI yang menaungi Program SDF, resmi ditetapkan menjadi Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas). Penetapan ini menandai babak baru dalam pengelolaan zakat yang selama ini telah dijalankan, sekaligus memperluas tanggung jawab yang diemban.
Jika sebelumnya HSI BERBAGI telah berikhtiar menghimpun dan menyalurkan dana zakat, maka dengan status Laznas, amanah tersebut kini dijalankan dalam kerangka yang lebih luas dan terstruktur. Tidak hanya memastikan zakat tersalurkan, tetapi juga menjamin ketepatan sasaran, kepatuhan terhadap regulasi, serta akuntabilitas yang semakin tinggi kepada umat dan Allah Ta‘ala.
Amanah yang kian besar ini tercermin dalam pelaksanaan Program SDF 2025 yang menghimpun antusiasme luas dari masyarakat. Dalam kurun 12 hari sejak diumumkan melalui grup-grup belajar HSI, media sosial HSI BERBAGI, serta laman edukasi HSI AbdullahRoy, tercatat 529 permohonan bantuan masuk.
Ketua Program SDF HSI BERBAGI 2025, Abu Saudah, menjelaskan bahwa tingginya jumlah pemohon mencerminkan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih serta masih terbatasnya lapangan pekerjaan. Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengelolaan zakat yang amanah dan tepat sasaran tetap sangat dibutuhkan oleh umat.
Verifikasi Tepat Sasaran
Agar zakat benar-benar sampai kepada yang berhak, setiap permohonan dalam Program SDF 2025, dipastikan melalui proses pemeriksaan dan verifikasi yang cermat. Tahap awal dilakukan untuk memastikan kesesuaian kondisi pemohon dengan kriteria mustahik yang telah ditetapkan.
Dari 529 permohonan yang masuk, sebanyak 26 pemohon tidak dapat melanjutkan proses karena dinilai tidak termasuk kategori fakir atau miskin, tidak bersedia dipublikasikan, atau tidak menyetujui pengelolaan data oleh HSI BERBAGI. Dengan demikian, sebanyak 503 berkas dinyatakan memenuhi kriteria awal dan ditindaklanjuti ke tahap berikutnya.
Proses verifikasi kemudian dilakukan secara bertahap. Seiring pendalaman data dan klarifikasi kondisi pemohon, sebanyak 223 permohonan dinyatakan gugur. Beberapa penyebab di antaranya ialah pemohon dinilai tergolong mampu, telah menerima bantuan zakat dari HSI BERBAGI dalam satu tahun terakhir, atau sedang mengajukan bantuan pada program lain yang berjalan.
“Sebagian pemohon telah menerima bantuan, sementara lainnya masih dalam proses verifikasi lanjutan,” ujar Abu Saudah.
Dalam pelaksanaannya, Tim SDF kerap dihadapkan beragam kondisi pemohon. Salah satu hal yang paling mengesankan adalah ketika tim menemukan banyak pemohon yang berada dalam keterbatasan ekonomi, tetapi tetap menjaga kejujuran dan tidak melebih-lebihkan kondisi mereka.
Sementara menurut Abu Saudah, dari sisi Tim SDF, proses verifikasi selalu berarti kondisi yang menguji. “Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara empati dan objektivitas, di tengah keterbatasan kuota serta beragamnya kondisi pemohon,” imbuhnya.
Dari Mustahik Menuju Muzaki
Program SDF kali ini, menetapkan kuota 200 kepala keluarga sebagai penerima manfaat. Harapannya jumlah tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Masih menurut ketua program, Abu Saudah, SDF 2025 terbuka bagi santri aktif HSI maupun masyarakat umum atas rekomendasi santri HSI. “Program ini difokuskan untuk membantu kaum fakir dan miskin sesuai syariat Islam,” ujarnya.
“Visi kami tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga berikhtiar membantu mustahik agar kelak menjadi muzaki. Penerima yang kemudian berubah menjadi pemberi,” ungkap Abu Saudah memaparkan visi program yang tengah diembannya.
Hingga kini, realisasi penyaluran dana SDF telah mencapai Rp 510.334.000,00. Dana tersebut menjangkau 136 pemohon yang berhasil lolos proses verifikasi. Jika ditotal beserta anggota keluarga pemohon, sejumlah dana itu telah dirasakan oleh 631 jiwa dari berbagai daerah di Indonesia.
Datang di Waktu yang Tepat
Bagi Ummu Ufaira, proses pengajuan dan verifikasi yang dijalani terasa tidak memberatkan. Santri yang belajar di HSI sejak awal 2024 ini, hanya diminta menyiapkan persyaratan dan menyampaikan kondisi apa adanya. Kejujuran tersebut justru memudahkan proses verifikasi.
Alhamdulillah, bantuan yang diterimanya datang di waktu yang tepat. Menjelang Ramadhan kini, ia dapat melunasi sebagian biaya pendidikan anak-anaknya. Selain itu, ia juga dapat kembali memutar modal usaha kecil yang sempat terhenti karena sakit, setelah sebelumnya habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan penuh syukur, Ummu Ufaira menyampaikan terima kasih kepada Tim HSI BERBAGI dan para muhsinin yang telah menyisihkan rezekinya. Baginya, bantuan ini bukan sekadar santunan, melainkan penguat untuk terus berikhtiar dan bertahan di tengah ujian kehidupan.
”Semoga kebaikan yang disalurkan melalui HSI BERBAGI menjadi pahala jariyah di sisi Allah Ta’ala, serta membawa keberkahan bagi para donatur dan keluarga mereka,” kata Ummu Ufaira yang berdomisili di DKI Jakarta.
Rasa syukur serupa juga disampaikan Ummu Rizky, penerima manfaat yang menetap di Jawa Barat. Santri HSI Angkatan 232 tersebut mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para muhsinin fi sabilillah yang telah membantu meringankan kesulitan ekonomi keluarga.
“Semoga Allah membalas setiap kebaikan Bapak dan Ibu dengan pahala yang berlipat ganda, melapangkan rezeki, serta memberikan keberkahan dalam setiap langkah. Bantuan ini sangat berarti bagi saya dan keluarga. Jazaakumullahu khairan katsiran,” tuturnya.
Masyaallah, melalui zakat yang antum dan antunna titipkan kepada LAZ HSI BERBAGI, banyak saudara-saudara kita terbantu. Mari ikut ambil bagian dengan senantiasa menyalurkan zakat melalui LAZ HSI BERBAGI. Semoga setiap rupiah yang disalurkan menjadi sebab hadirnya keberkahan, keringanan, dan pahala yang langgeng mengalir. Allahumma Aamiin.