Tarbiyatul Aulad

Saatnya Memulihkan Kedekatan dan Menata Ulang Fitrah Anak

Penulis: Indah Ummu Halwa, Hawwina Fauzia

Editor: Za Ummu Raihan


Ayah-Bunda, Aba-Umma, rutinitas harian di luar bulan Ramadhan yang selama ini kita jalani tak jarang membuat diri kita merasa penat, bosan, dan lelah, baik secara jiwa maupun raga. Tanpa kita sadari, kondisi ini kerap berdampak pada menurunnya kualitas hubungan kekeluargaan. Hal tersebut tidak terkecuali terjadi pada keluarga muslim, khususnya dalam relasi antara orang tua dan anak. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Retaknya Relasi Orang Tua dan Anak di Era Modern

Hari ini, banyak keluarga hidup dalam satu atap, namun pada banyak momen anak tetap merasa seolah-olah dirinya sendirian. Meski ayah dan ibu hadir di ruang yang sama, perhatian dan pikiran mereka kerap teralihkan pada layar gawai. Ada yang sekadar melakukan scrolling untuk melepas penat, ada pula yang sedang menyelesaikan urusan dan pekerjaan masing-masing.

Akibatnya, ketika anak membutuhkan teman bermain atau tempat bercerita, bukan karena orang tua tidak mau menyimak, melainkan karena mereka sudah tidak mampu fokus memberikan perhatian penuh. Hal ini bisa disebabkan oleh kelelahan fisik akibat padatnya aktivitas, maupun kondisi mental yang masih dipenuhi oleh berbagai pekerjaan yang belum tuntas. Mau tidak mau, anak pun pada akhirnya hanya bermain dan bercerita dengan dirinya sendiri.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian orang tua justru memberikan fasilitas gawai dan sejenisnya kepada anak, bahkan ketika usianya masih di bawah umur. Hal ini sering kali dijadikan sebagai “jalan pintas” agar anak tampak “bahagia” secara instan dan tidak merasa sendirian.

Dalam ritme kehidupan modern yang sangat dipengaruhi oleh media sosial dan gaya hidup serba cepat tanpa disadari, pola asuh orang tua pun kerap bergeser menjadi bersifat transaksional. Anak merasa dicintai, diperhatikan, dan disayangi berdasarkan angka, prestasi, serta pencapaian lahiriah, khususnya yang bernilai duniawi. Ketika anak berhasil meraih prestasi, ia dipuji; namun ketika belum menunjukkan pencapaian yang nyata, ia justru ditekan.

Padahal, ketenangan jiwa dan rasa aman secara emosional merupakan kebutuhan dasar anak yang menjadi tanggung jawab orang tua, bahkan sebelum anak mampu bertumbuh dan berkembang secara optimal.

Selain itu, kelelahan orang tua baik secara fisik maupun mental sering kali memicu pola komunikasi yang reaktif. Bentakan menjadi mudah keluar, dan kesabaran semakin menipis. Dalam kondisi seperti ini, anak benar-benar kehilangan figur yang seharusnya menjadi tempat untuk “pulang”, merasa aman, dan terlindungi selama masa pertumbuhannya.

Fenomena inilah yang tanpa kita sadari, lama kelamaan akan terus menggerus ikatan emosional antara orang tua dengan anaknya, dan menimbulkan kerenggangan antara mereka. Padahal, relasi orang tua dan anak sangatlah mempengaruhi kualitas dalam tumbuh kembang anak. Dalam sebuah jurnal penelitian mengenai faktor perkembangan fungsi eksekutif anak, penulis memberikan hasil bahwa:

Berdasarkan temuan penelitian ini, orang tua perlu memberikan perhatian serius pada kualitas hubungan mereka dengan anak sejak usia dini. Interaksi orang tua dan anak dalam relasi keterikatan (attachment) berkontribusi besar terhadap pengorganisasian perkembangan kognitif anak, yang terbukti berpengaruh pada kemampuan anak dalam mengatur perilakunya—sebuah aspek penting dalam pendidikan anak usia dini. Kualitas keterikatan tersebut dapat ditingkatkan ketika orang tua mampu merespons kebutuhan anak secara tepat dan konsisten, serta menampilkan perilaku yang penuh kasih sayang dalam interaksi sehari-hari.[1]

Ramadhan: Momentum yang Tepat untuk Merawat Kembali Relasi Orang Tua dan Anak

Ramadhan sering dipahami oleh kebanyakan anak sekadar sebagai “bulan untuk beribadah serta menahan lapar dan dahaga”. Karena di bulan itu, anak-anak mulai dilatih untuk bangun sahur, belajar berpuasa, menunggu waktu berbuka, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya. Padahal selain tarbiyah yang bersifat fisik itu, orang tua juga perlu menyadari, bahwa di momen Ramadhan, Allah ‘Azza wa Jalla sejatinya sedang memberi banyak kesempatan bagi kita untuk memberi tarbiyah yang jauh lebih dalam, yakni memulihkan kedekatan emosional antara orang tua dan anak, serta menata ulang fitrah anak yang perlahan tergerus oleh ritme kehidupan modern, dengan pendekatan-pendekatan yang syar’i.

Di Antara Bentuk Tarbiyah (Selama Momentum Ramadhan) untuk Memulihkan Relasi Orang Tua dan Anak:

1. Quality Connection (Menemukan Kembali Momen Kebersamaan yang Berkualitas)

Pada hakikatnya, anak tidak menuntut orang tua yang serba sempurna. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran orang tua secara utuh—hadir dengan raga sekaligus hati. Oleh karena itu, momentum Ramadhan menjadi kesempatan berharga untuk menghidupkan kembali kebersamaan berkualitas yang mungkin sempat memudar.

Mulailah dengan menyediakan waktu khusus untuk benar-benar fokus bersama anak-anak. Misalnya, mengupayakan agar momen sahur dan berbuka dijalani bersama seluruh anggota keluarga, tanpa terpecah oleh kesibukan masing-masing, sembari membimbing anak dengan adab-adab yang menyertainya. Orang tua juga dapat mengajak anak melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid, saling menyimak bacaan Al-Qur’an, serta ber-murajaah hafalan bersama.

Ketika anak beribadah bersama orang tuanya, sesungguhnya mereka tidak hanya belajar tentang bacaan dan gerakan ibadah, tetapi juga merasakan hangatnya kebersamaan dalam ketaatan. Ibadah yang dilakukan secara kolektif inilah yang perlahan menjadi perekat jiwa, menyatukan kembali hati yang sempat merenggang akibat kesibukan dan jarak emosional.

Selain itu, sesekali orang tua dapat mengajak anak berbuka puasa di luar rumah apabila memungkinkan. Anak-anak juga sebaiknya dilibatkan dalam persiapan sahur dan berbuka bersama keluarga. Bahkan, membiasakan muhasabah singkat sebelum tidur, mendampingi anak berdoa, dan menutup hari dengan kebersamaan sederhana, merupakan langkah kecil yang bermakna besar dalam memulihkan kedekatan orang tua dan anak.

Dan yang tak kalah penting dalam poin ini, berusahalah kita menjadi orang tua yang lebih perhatian dan mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak kita di banding hari-hari sebelumnya. Karena sesungguhnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan jika ada dalam sesuatu, maka akan membuat sesuatu menjadi indah. Namun jika kelembutan itu lepas, maka akan membuat sesuatu jadi jelek.” (HR. Muslim, no. 2594)[2]

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah di dalam risalah singkat beliau “10 Pilar Pendidikan Anak” menyebutkan bahwa “Kelembutan dan Kasih Sayang” adalah salah satu di antara pilar penting dalam pendidikan anak.

“Sifat kasih sayang dan kelembutan ini wajib diberikan kepada anak-anak mulai mereka masih kecil dan terus menerus bersikap seperti itu ketika membersamai mereka. Sesungguhnya, itu adalah sebab dekatnya dan cintanya anak dengan orang tua mereka. Bersamaan dengan hadirnya kedekatan ini, lebih mudah bagi orang tua untuk mengarahkan anak-anaknya menuju kebaikan dan memudahkan orang tua dalam menasihati mereka. Itu juga memudahkan anak-anak untuk memenuhi dan menerima nasihat orang tuanya.
Sungguh banyak nash dari sunnah Nabi yang menjelaskan pilar ini. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin Ali dan Al-Aqra bin Habis duduk di sisinya lalu berkata, ‘Aku memiliki 10 anak dan tak seorang pun dari mereka yang aku cium’. Maka Rasulullah melihatnya lalu bersabda,

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Orang yang tidak menyayangi, tidak disayangi.” (HR. Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318).[3]

2. Uswah (Keteladanan)

Anak butuh melihat orang tua yang “sembuh” dan tenang. Di antara pilar pendidikan yang terpenting adalah “Uswah”. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, beliau juga mencantumkan “Keteladanan yang Baik” sebagai salah satu pilar penting dalam pendidikan anak. Beliau mengatakan,

“Ketika orang tua memerintahkan anaknya melakukan kebaikan, ia menjadi yang paling bersegera dalam melaksanakannya. Ketika ia melarang anaknya dari suatu keburukan, ia yang paling mejauhkan diri darinya. Jangan sampai ia bicara sesuatu namun perbuatannya menyelisihinya. Sikap ini akan menimbulkan perlawanan, pertentangan, dan keguncangan yang besar yang bisa mendorong anak untuk meninggalkan pengarahan dan bimbingan dari orang tua. Sang anak tidak akan mau mendengarkan nasihat dan bimbingan orang tuanya karena sesungguhnya jiwa itu secara naluri tidak mau peduli ucapan orang yang tidak mengamalkan ilmunya.[4]

3. Menilik Teladan dengan Berkisah: Menyembuhkan Jiwa Anak dari Pengaruh Figur “Semu”

Anak-anak masa kini tumbuh di tengah derasnya arus figur “semu”. Influencer, tokoh viral, dan idola dunia maya silih berganti hadir memenuhi ruang perhatian mereka. Sayangnya, tidak sedikit dari figur-figur tersebut yang tidak memberikan pengaruh positif, bahkan cenderung menjerumuskan pada hal-hal yang sia-sia dan bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

Oleh karena itu, momentum Ramadhan patut dimanfaatkan sebagai ruang untuk menghadirkan kembali kisah-kisah keteladanan yang sejati. Orang tua dapat meluangkan waktu untuk mengenalkan anak kepada perjalanan hidup para Nabi dan Rasul, para sahabat, serta para salafus shalih, kisah-kisah yang bukan sekadar cerita pengantar tidur, tetapi sarana pembentuk arah hidup dan karakter anak.

Ketika anak dibiasakan mengenal akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kesabaran para sahabat, serta kezuhudan generasi salaf, biidznillah, perlahan jiwanya akan terarah untuk mengenali siapa sosok yang benar-benar layak dijadikan panutan.

Inilah proses “healing” yang lembut: sebuah ikhtiar halus yang secara bertahap memindahkan kekaguman anak dari figur-figur semu menuju teladan terbaik yang hakiki.

4. Latihan Empati: Rasa Lapar Saat Puasa yang Menumbuhkan Kepekaan

Puasa tidak sekadar melatih anak untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi jalan lembut untuk menumbuhkan kepekaan hati. Ketika anak merasakan lapar, lalu didampingi dengan penjelasan yang penuh kasih, momen tersebut dapat berubah menjadi pelajaran berharga tentang empati. Anak mulai memahami bahwa tidak semua orang memiliki kemudahan untuk makan kapan pun mereka mau.

Di saat yang sama, orang tua dapat menanamkan makna kesabaran dan kemampuan mengendalikan diri. Anak belajar bahwa meskipun ia mampu untuk makan atau minum, tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Ada waktu untuk menahan, ada proses untuk belajar mengelola hawa nafsu dengan tenang dan sadar.

Peran orang tua dalam hal ini sangatlah besar. Bukan melalui nasihat panjang yang melelahkan, melainkan lewat keteladanan dan ajakan sederhana dalam keseharian. Misalnya, mengajak anak berbagi makanan dengan orang lain, mengajarkan untuk tidak menyia-nyiakan makanan, serta membiasakan hidup sederhana tanpa berlebihan saat berbuka maupun sahur.

Dari proses kecil namun konsisten inilah perlahan sisi egois yang mungkin tumbuh dalam diri anak akan melemah. Sebagai gantinya, akan tumbuh kepekaan sosial yang lahir dari hati, kesadaran, dan empati yang tulus bekal penting bagi anak dalam menjalani kehidupannya kelak.

Ketika Ramadhan Menjadi Sweet Memories untuk Anak

Tidak setiap Ramadhan meninggalkan kesan yang sama dalam ingatan anak. Ramadhan bisa menjadi bulan yang berlalu begitu saja, tanpa makna, ketika orang tua tidak berupaya menghadirkan suasana hangat di rumah dan tidak menumbuhkan ruh ibadah bersama anak-anak. Bahkan, bagi sebagian anak, Ramadhan justru tersimpan sebagai kenangan yang kurang menyenangkan orang tua yang lebih mudah marah, rumah yang terasa tegang, serta kelelahan menjalani hari dengan lapar dan dahaga tanpa pendampingan yang menenangkan. Sungguh, orang tua berada dalam kerugian jika Ramadhan berlalu dengan cara seperti ini.

Sebaliknya, Ramadhan yang berhasil adalah Ramadhan yang membuat anak merasa lebih dicintai, lebih dekat kepada Allah, lebih mengenal agamanya, dan menyimpan banyak memori indah bersama keluarganya. Ramadhan yang membuat anak merasakan kehangatan rumah, kelembutan orang tua, dan manisnya ibadah. Ramadhan yang kelak ia rindukan dan ingin ia jumpai kembali.

Maka wahai para Ayah-Bunda, Aba-Umma, ketika Allah masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, alangkah ruginya jika waktu-waktu berharga justru habis untuk tenggelam dalam media sosial atau kesibukan lain yang tidak menambah keimanan dan kedekatan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Terlebih jika di saat yang sama, anak-anak kita dibiarkan kehilangan arah dan kehausan akan kasih sayang, karena kelalaian orang tua dalam menunaikan tarbiyah yang seharusnya mereka terima.

Perlu kita sadari bersama, anak adalah anugerah sekaligus amanah terindah yang Allah ‘Azza wa Jalla titipkan kepada kita. Mendidik, merawat, dan memenuhi kebutuhan mereka baik secara materi, pendidikan, maupun emosional dengan sebaik-baiknya adalah tanggung jawab besar di hadapan Allah. Ia juga merupakan ibadah yang agung, yang kebaikannya akan terus mengalir, bahkan ketika kelak kita telah tiada. Kesadaran inilah yang akan menumbuhkan kembali rasa syukur dan kesungguhan kita untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak tercinta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberkahi Ramadhan kita, menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki keadaan kita, serta menjadikan kita dan anak keturunan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa hingga akhir hayat, aamiin.

Referensi:

  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.
  • Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, 10 Pilar Pendidikan Anak, Maktabah Abu Razin, diakses dari https://ebooksunnah.com
  • Yuliana Mukti, Donny Hendrawan, Early Education Matter: The Power of Child-Parent Attachment Quality In Predicting Child’s Executive Function, Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 11 No. 1 (2018), https://doi.org/10.24156/jikk.2018.11.1.74


119