Rumah Mungil pun Tetap Nyaman
Reporter: Loly Syahrul
Redaktur : Luluk Sri Handayani
Rumah, bagi seorang ibu, sang murabbiyah, bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Di sanalah seorang ibu menata hari-hari keluarga, mengatur sudut demi sudut agar menjadi sarang yang aman dan menenangkan bagi keluarga tercinta.
Namun, kebahagiaan dalam rumah tentu tak selalu sebanding dengan luas maupun kondisi fisik bangunan. Rumah yang lapang dengan berbagai fasilitas lengkap, belum tentu menghadirkan ketenteraman, sebagaimana rumah mungil pun mampu memancarkan kenyamanan bila sang empunya pandai menata. Dengan sentuhan kreativitas, ketelitian, dan niat ikhlas melayani keluarga, ruang yang terbatas bisa berubah menjadi tempat pulang yang hangat dan fungsional.
Dalam Rubrik Selasar Murabbiyah kali ini, Majalah HSI hendak mengajak para Ummahat menyelami seni menata rumah mungil agar tetap nyaman, rapi, dan menenangkan. Mari simak selengkapnya…
Kriteria Rumah Impian
Kriteria rumah impian sebenarnya sangat subjektif. Tiap kita mempunyai sudut pandang berbeda dalam menentukan rumah impian. “Rumah buat saya bukan saja sebagai tempat bernaung, tapi juga tempat kita bisa menjadi diri kita sendiri sepenuhnya. Di dalamnya mencakup perasaan emosional mendalam seperti rasa betah dan memiliki tempat pulang,” ujar Ukhtuna Tati Purnama santri HSI Angkatan 242.
Berbeda dengan Ukhtuna Tati, Ukhtuna Rika santri HSI Angkatan 201 menuturkan, “Nggak mewah, tapi mencukupi semua kebutuhan ruang dan ada privasi yang terjaga. Tempat tinggal yang enak membuat ana merasa ada ketenangan dan keberkahan.”
Rumah dengan Luas Terbatas
Sebagai orang beriman, kita patut meyakini bahwa rumah yang kita tempati hari ini adalah takdir terbaik yang Allah Ta’ala tentukan untuk kita. Bisa jadi belum sesuai dengan kriteria rumah impian yang kita harapkan. Namun, selama kita menerima dengan ridha dan rasa syukur atas setiap nikmat Allah Subhanahu Wa ta’ala, inysaallah, kita akan merasa tenteram tinggal di dalamnya.
Sementara, kondisi rumah yang belum sesuai impian, dapat disiasati dengan berbagai usaha. Termasuk ilmu penataan rumah yang mungkin menjadikan ukuran rumah yang terbilang sempit, terasa lebih lega. Penataan rumah dapat kita lakukan dengan cara mengelola ruang-ruang di dalamnya, meninjau fungsi dan kebutuhan ruang, mengelola manajemen barang, mengutamakan keteraturan, hingga mengupayakan kerapian.
Kerapian dan keteraturan tampaknya menjadi salah satu kunci di dalam rumah. Kondisi rapi dan teratur mudah-mudahan menjadi mood booster bagi seluruh penghuni rumah, sehingga menumbuhkan rasa betah dan nyaman.
Menata Ruang Sempit
Keterbatasan luas sebenarnya bisa mengundang kreativitas untuk menjadikan ruangan-ruangan sesuai tujuan yang diinginkan. Kenny Karli, seorang praktisi dunia arsitektur yang juga pemilik sebuah konsultan arsitek di Jakarta, merinci, “Yang perlu diperhatikan dalam menata ruangan sempit adalah pertama harus menerapkan konsep terbuka di dalam rumah, yaitu tidak perlu banyak sekat yang memberikan kesan sempit.”
Hal lain yang patut diperhatikan menurut Pak Karli, ialah perkara penempatan jendela. Alasannya karena selain sebagai ventilasi udara, jendela dapat memberikan cahaya cukup ke dalam ruangan sehingga memberi kesan luas dan terbuka.
“Pilih warna ruangan yang memberikan kesan luas, misalnya warna terang, warna-warna lembut, warna putih, atau warna abu muda,” ujarnya menjelaskan. “Yang tak kalah penting adalah pemilihan furnitur yang akan kita gunakan. Pilih furnitur yang ukurannya proporsional dengan rumah. Seperti, memilih sofa dengan model ramping,” imbuhnya kemudian.
Selanjutnya, Pak Karli mengimbau agar pemilik rumah menempatkan furnitur mengarah ke sirkulasi udara dengan tujuan memudahkan penghuni rumah dalam berinteraksi dan beraktivitas. Sementara soal hiasan, pemilik rumah dengan luas terbatas perlu bijaksana. “Hiasan di dalam rumah, yang diperlukan saja, secukupnya, dan tidak berlebih-lebihan. Bahwasannya seni tidak selamanya identik banyak. Sederhana bisa terlihat indah,” ungkapnya. Begitulah rekomendasi dari Pak Karli agar pemilik rumah dengan luas terbatas tak merasa rumahnya kian sempit akibat terlalu banyak barang maupun pernak-pernik.
Menata Rumah Mungil
Beberapa Ummahat santri HSI berkenan membagi pengalamannya menata rumah ke Majalah HSI.
Ukhtuna Yulisnawati dari Angkatan 211 salah satunya. Ia mengaku rajin membereskan barang-barang di rumahnya yang tak terlalu luas. “Sudah rumahnya sempit, jangan sampai barang-barang dibiarkan berserakan. Terasa tambah sumpek nantinya,” ujar ibu muda dengan dua balita di rumahnya itu. Meski demikian, warga Katulampa, Bogor, tersebut bukan berarti membatasi tumbuh kembang dua putra kecilnya yang tengah aktif mengeksplorasi sekitar.
“Anak-anak tetap bebas bermain karena memang masanya. Konsekuensinya bagi saya, ya harus rajin ngerapiin,” tuturnya. Ukhtuna Yulisnawati juga membiasakan diri meletakkan berbagai barang di rumah dalam wadah-wadah sehingga tertata dengan rapi. “Selain lebih rapi dan mudah untuk dicari, pemakaian wadah-wadah itu menjadikan rumah terkesan tidak banyak barang dan jadi lebih lega, karena wadah-wadah bisa kita letakkan dalam lemari penyimpanan,” tambahnya.
Sementara Ukhtuna Tati yang juga seorang arsitek, berbagi pengalaman menata rumah mungilnya. “Rumah harus bersih, simple, fungsional serta memperhatikan estetika yang sesuai dengan pemiliknya. Pertama-tama, ana menyatukan suasana kesan eksterior dan interior rumah lewat bukaan besar yang transparan dan meletakkan pohon-pohon hidup dengan matahari sedikit masuk ke dalam rumah,” ujarnya.
“Selanjutnya, saya memilih perabot berkaki yang memberikan kesan ruang lebih lega dan lapang,” Ukhtuna Tati menambahkan. Menurutnya, ia juga memilih perabotan yang multifungsi seperti menggunakan rak dinding atau lemari tinggi yang mampu menyimpan banyak barang agar tidak memakan tempat. Ukhtuna Tati juga memasang cermin di dinding-dinding atau sudut ruangan untuk memantulkan cahaya sehingga memberi kesan terang dan luas pada ruangan.
Istimewanya Rumah Mungil
Padatnya ruangan di rumah mungil, ternyata tidak selalu berarti minus. Rumah mungil ternyata mempunyai banyak sisi positif yang demikian menguntungkan. Ukhtuna Yanosya Putri dari Angkatan 222 merasakan rumah mungil justru memperkuat interaksi antar anggota keluarga. Semua anggota keluarga berada dalam jarak dekat, aktivitas lebih terpantau, serta komunikasi lebih sering terjadi. Hal ini diungkapkan Ukhtuna Yanosya Putri mengenang masa kecilnya. “Dulu di masa kecil, kami pernah tinggal di rumah kecil, di mana ruang makan menjadi ruang sentral kegiatan keluarga. Di situ tempat kami makan bersama, tempat belajar, tempat mengaji, dan tempat berbincang bersama. Keadaan rumah yang kecil justru alhamdulillah mampu mendekatkan kami satu sama lain. Suasana rumah menjadikan kami lebih terbuka dan mudah menyelesaikan persoalan di antara kami,” kenangnya. Pengalaman perempuan yang biasa dipanggil Nosa ini, membuktikan bahwa sempitnya ukuran rumah justru menjadikan para penghuninya lebih akrab, kompak, hangat satu sama lain, serta membentuk mereka menjadi pribadi yang bertenggang rasa dan mudah memahami orang lain.
Ukhtuna Siti Nurma punya pendapat lain perihal istimewanya rumah mungil. Menurut ibu dari empat putri ini, rumah mungil mengajarkan kesederhanaan. “Kita juga mikir-mikir, Mbak, kalau mau numpuk barang. Mau ditaruh di mana, biasanya itu dulu yang kepikiran kalau mau beli barang. Sehingga kami lumayan punya rem untuk konsumtif,” akunya. Selama ini, Ukhtuna Nurma dan suami kompak menerapkan aturan pembelian barang yang harus mereka patuhi bersama. “Saya dan suami sepakat untuk saat ini, kalau memang ada barang masuk, berarti kami usahakan ada yang keluar. Misalnya, anak-anak perlu membeli baju-baju baru, berarti ada baju lama yang harus dikeluarkan dari rumah. Mungkin didonasikan, atau kami bawa ke Rumah Daur Ulang Tekstil, atau ke komunitas upcycle,” tuturnya.
Menurut Ukhtuna Nurma, kebiasaan ini turut membawa dampak sangat positif bagi putri-putrinya. “Ketika anak-anak biasanya hanya tahu membeli barang baru, anak-anak saya alhamdulillah terbiasa dengan pemikiran lebih lanjut, bahwa lemari mereka terbatas, bahwa kalau mereka mau baju baru, atau barang baru lainnya artinya mereka harus menyiapkan tempat, yang artinya lagi mereka harus siap melepaskan barang-barang lamanya,” Ukhtuna Nurma berbagi pengalaman. “Mudah-mudahan ini latihan dini yang bisa membentuk pola hidup sederhana,” imbuhnya kemudian.
Menjaga Kenyamanan Rumah
Rumah, baik besar maupun kecil, tetap memerlukan perawatan. Salah satunya melalui kesadaran setiap penghuni untuk menjadikan kenyamanan sebagai kebutuhan, bukan sekadar pelengkap.
Ukhtuna Tati mencontohkan pengalamannya, “Kita perlu memiliki program pembersihan rutin di rumah, memperhatikan sirkulasi udara agar tetap baik, serta melakukan perbaikan berkala terhadap kebocoran dan kerusakan yang ada. Penyimpanan barang pun perlu diatur secara efisien dan dilakukan dengan konsisten. Selain itu, program satu masuk satu keluar atau decluttering sangat membantu untuk menghindari penumpukan barang yang tidak diperlukan. Decluttering dapat menghemat waktu dan tenaga kita saat mencari barang, sekaligus menjaga rumah dari kekacauan visual yang dapat mengganggu fokus dan konsentrasi.”
Pada akhirnya, rumah mungil akan selalu mengajarkan kita tentang rasa cukup dan tertib. Rumah mungil tidak menuntut kita untuk menambah ruang, tetapi menata ulang cara kita hidup di dalamnya. Ketika kita mulai memilah, merapikan, dan menyederhanakan, maka ruang terbatas pun berubah menjadi lebih fungsional dan bersahabat. Sebab rumah yang tertata baik bukan soal ukuran, melainkan tentang bagaimana ia memudahkan hidup orang-orang di dalamnya.
Mari kita syukuri nikmat Allah berupa tempat tinggal yang kita miliki hari ini, meski mungil atau terbatas, karena dari sanalah tumbuh ketenteraman, kebersamaan, dan ketenangan keluarga dari ridho Allah Ta’ala, insyaallah.