Selasar Murabbiyah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Ramadhan Tanpa Lelah untuk Ibu: Keseimbangan Ibadah dan Tugas

Reporter: Putri Oktaviani

Redaktur: Gema Fitria


Ibu rumah tangga adalah profesi tanpa jam istirahat, tanpa jam pulang, apalagi cuti kerja. Pekerjaan menumpuk dari fajar hingga malam. Kondisi ini tidak hanya menjadikan tubuh runtuh. Namun hati ikut luruh.

Menjalani Ramadhan, rasanya tak jauh beda bagi ibu. Aktivitas bukannya mereda justru semakin tanpa jeda. Agar tetap dapat menikmati ibadah di bulan suci, para ibu perlu penyesuaian dan menjaga keseimbangan antara kegiatan dengan istirahat. Karena Rasulullah berpesan, “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu, …” (HR Bukhari) [1].

Ibu di antara Target dan Tanggung Jawab

Sebelum pagi, ketika orang lain masih terlelap, seorang ibu telah bangun lebih awal untuk menyiapkan sahur. Saat pagi menjelang, ia mengurus kebutuhan suami untuk bekerja dan keperluan anak-anak, baik yang sudah sekolah maupun yang belum. Kegiatan berlanjut dengan mengurus rumah membersihkan, merapikan, dan mencuci dalam keadaan lapar dan haus. Terkadang, ia menyelipkan dzikir serta mendengarkan kajian. Mendekati waktu Asar, ibu mulai menyiapkan iftar, berpacu dengan adzan Maghrib. Malam hari diisi dengan solat Tarawih, tak tertinggal membereskan sisa ifthar dan memulai persiapan sahur berikutnya.

Aktivitas yang tiada habis dan tugas yang menumpuk tentu membuat tubuh kelelahan. Meski bukan pekerjaan fisik yang berat, pekerjaan ringan yang dilakukan terus menerus terlebih tanpa istirahat tetap menguras tenaga. Ditambah di bulan Ramadhan, pekerjaan rumah tangga semakin banyak, dilakukan dalam keadaan berpuasa, dan waktu tidur yang kurang. Akibatnya, tubuh semakin mudah letih dan kekurangan energi.

Dalam kelelahan fisik, ibu juga mencemaskan apakah telah menjalankan peran dengan maksimal. Kecemasan bertambah dengan target ibadah Ramadhan, seperti mengkhatamkan tilawah al Qur’an, dan melaksanakan shalat sunnah rawatib. Perasaan kewalahan juga muncul akibat tugas yang tiada habisnya, dikejar waktu untuk menyiapkan iftar, dan rasa bersalah jika ibadah tidak maksimal. Keadaan semakin terasa berat jika peran ibu disepelekan oleh anggota keluarga yang lain. Dalam keadaan lelah, ibu menjadi lebih sulit untuk menahan emosi. Kesabaran pun menipis, sehingga masalah kecil terasa jauh lebih berat. Di antara lelah badan dan hati, ibu kesulitan untuk fokus antara tugas rumah tangga dan ibadah kepada Allah. Ia merasa serba salah: ingin ibadah tapi tubuh lelah; ingin istirahat tapi hati diliputi rasa bersalah.

Meskipun dipenuhi beragam tugas, Ramadhan adalah waktu yang mulia dan sayang untuk disia-siakan. Namun, target ibadah seharusnya tidak menjadi beban bagi ibu. Ramadhan adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menumbuhkan kesabaran, dan meningkatkan kualitas diri. Ibadah bukan semata tentang jumlah, tapi tentang keberkahan, ketenangan, dan kebahagiaan yang lahir dari setiap aktivitas sehingga dapat bernilai ibadah.

Mengenali Sumber Lelah Ibu

Tugas rumah tangga yang bertambah, waktu tidur yang berkurang, dan energi yang terbatas karena puasa disertai tuntutan keluarga dan sosial menjadi sumber utama kelelahan fisik seorang ibu. Tak ketinggalan, harapan dan standar untuk diri sendiri berupa target untuk menyelesaikan tugas dan ibadah, menambah kelelahan tidak hanya pada badan, namun juga pada hati. Ibu kerap menetapkan target ibadah dengan ekspektasi tinggi yang terkadang melebihi kapasitas diri. Tuntutan pada diri sendiri akan membuat pikiran tertekan, menimbulkan rasa tidak cukup dan tidak layak dan menyulitkan ibu untuk menentukan prioritas dan fokus pada tugas-tugas yang seharusnya sederhana. Pikiran bekerja tanpa henti, menilai diri sendiri, dan tidak memberi izin beristirahat. Akibatnya, ibu memaksa diri untuk tetap beribadah meskipun lelah sehingga kualitas ibadah menurun.

Selain itu, ibu ingin melaksanakan semua dengan sebaik mungkin. Ia terdorong untuk tampil sempurna tanpa kekurangan dalam melaksanakan tugas: rumah rapi, makanan tersaji, dan target ibadah tercapai. Dari sini muncul pertanyaan “Apakah ini sudah cukup?”. Kecemasan, rasa bersalah, dan penyesalan mulai tumbuh ketika tugas tidak sesuai harapan. Kualitas ibadah pun menurun karena fokus berlebihan pada kesempurnaan pencapaian bukan pada niat (keikhlasan) dan khusyuk (ketenangan). Akhirnya, ibu tidak menikmati kegiatan bahkan tak jarang bersitegang dengan anggota keluarga yang dirasa menuntut.

Banyak kendala yang dialami seorang ibu, salah satunya seperti yang dirasakan Ukhtuna Lisda Aprianti, santri HSI angkatan 212. Ia menuturkan “Ana lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurusi keluarga, sehingga target-target ana selama di Ramadhan kadang ndak tercapai. Shalat sunnah kadang banyak yang lewat karena anak nangis. Jangankan yang sunnah, yang wajib saja kadang ana keteteran. Qadarullah, ana sendiri di rumah yang jagain anak-anak.” Kendala yang lain dialami Ukhtuna Titi Hanifah, santri HSI angkatan 222. “(Banyak kendala) karena rasanya tugas-tugas rumah tangga nggak ada habisnya,” cerita ibu satu anak tersebut. “Biasanya anak minta main keluar, jadi pekerjaan rumah kadang nggak kepegang. Nyampe rumah juga sudah lelah. Berdoa dan banyak minta pertolongan Allah supaya Dimudahkan dalam mengurus rumah.”

Mengatur Tenaga, Waktu, dan Target Ibadah

Agar dapat beribadah dengan optimal selama bulan Ramadhan, ibu perlu menyeimbangkan antara tugas rumah tangga dan ibadah. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengatur prioritas ibadah. Pilah antara ibadah wajib dan ibadah sunnah, lalu dahulukan yang wajib dan jangan mewajibkan ibadah yang sunnah. Sebagaimana pesan Imam Nawawi, terdapat larangan keras untuk mengharamkan sesuatu yang tidak Diharamkan Allah dan mewajibkan sesuatu yang tidak Diwajibkan-Nya (Syarh Shahih Muslim).[2] Berdasarkan hal tersebut, ibu dapat membuat target ibadah harian yang lebih fleksibel: melaksanakan ibadah wajib terlebih dahulu, lalu ketika masih memiliki kesempatan dan tenaga, memprioritaskan ibadah sunnah. Juga siapkan ibadah-ibadah opsional yang bisa dilakukan ketika waktu luang. Tentukan target minimal yang realistis sedikit namun konsisten. Cara ini dipraktikkan oleh Ukhtuna Titi. Ia mengatakan “Biasanya sih pakai skala prioritas, yang kira-kira bisa ditunda ya ditunda. Kadang juga minta bantuan suami kalo pas suami senggang waktunya. Bagi-bagi tugas gitu. Kalau pas lelah ya istirahat.”

Target yang realistis berarti menyelaraskan niat, tujuan, dan kemampuan dengan kesadaran akan batasan diri. Karenanya penting untuk mengevaluasi keadaan serta kesiapan fisik dan mental dalam menjalankan target ibadah. Sesuaikan ibadah dengan kapasitas energi. Misalnya, pekerjaan rumah dapat dilakukan pada pagi hari ketika badan masih segar, sementara siang hari diisi dengan ibadah yang lebih ringan, seperti tilawah. Menyiapkan ifthar dapat dilakukan menjelang sore hari, dan solat Tarawih di malam hari dapat diselingi dengan istirahat di antara solat. Target ibadah yang fleksibel akan lebih mudah menyesuaikan dengan kondisi rumah tangga, seperti yang dilakukan Ukhtuna Lisda yang menyesuaikan jadwal anak untuk mengatur waktu. “(Mengatur waktu) ya berbagai cara. Entah itu menidurkan anak atau lebih awal bangunnya dan lebih lambat tidurnya. Tapi kadang kita sudah lelah juga mengurus anak-anak ini,” papar ibu yang kerap disapa dengan Ummu Maryam ini. “Ana sampai di titik ya udah ibadah itu ngga cuma solat (dan) puasa aja. Bahkan ngurus anak juga ibadah. Sempat kecewa sama diri sendiri juga dulu, sampai akhirnya ana melihat mengurus anak juga ibadah.”

Perlu disadari bahwa tidak ada makhluk yang sempurna, karena Allah Menciptakan manusia dalam keadaan lemah (An-Nisā’ (4): 28).[3] Ekspektasi yang terlalu tinggi pada diri sendiri akan menimbulkan tertekan dan beban, sehingga menghilangkan kenikmatan Ramadhan. Kecemasan yang muncul bisa jadi adalah was was dari setan yang mengurangi kualitas dan keikhlasan selama ibadah. Oleh karena itu, sisakan waktu untuk istirahat, baik bagi badan maupun hati. Istirahat pun masih bisa diisi dengan ibadah hati melalui dzikir, doa, syukur, dan tobat. Rasulullah mengingatkan, “Jika salah seorang dari kalian mengantuk ketika solat, hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya” (HR Bukhari Muslim).[4]

Kesehatan dan kebugaran selama bulan Ramadhan perlu dijaga agar ibadah bisa tetap optimal. Jangan sampai tubuh jatuh sakit ketika pintu-pintu surga Dibuka oleh Allah. Dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, energi tubuh akan lebih terjaga dan cukup untuk beraktivitas meskipun berpuasa. Asupan cairan juga perlu diperhatikan dengan mencukupi kebutuhan minum saat sahur dan berbuka. Dukungan suplemen dan vitamin dapat membantu menjaga daya tahan tubuh, sekaligus menopang asupan gizi yang kurang. Disertai olahraga ringan, sel dan otot akan lebih stabil sehingga mampu menyokong ibadah dan tugas rumah tangga. Ketika otak mendapat energi yang cukup, pengelolaan hormon stress akan lebih seimbang dan suasana hati (mood) lebih stabil.

Selain faktor dari dalam diri sendiri, faktor eksternal seperti keluarga dan lingkungan juga memengaruhi kondisi fisik dan hati. Ukhtuna Yoanita Astrid, santri HSI angkatan 221, dapat mengatur tenaga dan waktu dengan dukungan keluarga. Ia menuturkan, “Sejauh ini nggak terlalu capek sih, soalnya anak-anak sudah remaja. Jadi saya berdayakan buat bantu-bantu pekerjaan rumah yang gampang.” Selain itu, ibu asal Bantul ini juga tinggal di lingkungan yang saling mendukung dalam mencapai target Ramadhan. “Jam 9 atau 10 biasanya ada tadarusan Al Qur’an sama ibu-ibu kompleks (perumahan). Tiap Jum’at biasanya ngundang bapak ustadz untuk isi kajian jelang berbuka, (dan) dilanjut bukber warga kompleks (perumahan).”

Bahagia Tanpa Membandingkan

Kondisi fisik, mental, tanggung jawab, dan lingkungan setiap orang tidaklah sama. Tugas yang berat bagi seseorang mungkin terasa ringan bagi orang lain, dan sebaliknya. Seseorang mungkin kesulitan dalam satu ibadah, namun Allah Memudahkan ibadah yang lain. Membandingkan diri dengan orang lain cenderung membuat seseorang merasa gagal dan tertinggal, bukannya termotivasi. Terutama di media sosial, di mana orang sering menampilkan versi “sempurna” dari dirinya. Lebih baik jika fokus pada akun dakwah yang dapat meningkatkan semangat ibadah, sekaligus lebih menyesuaikan perhatian pada kapasitas diri sendiri. Terutama dengan kondisi rumah tangga seorang ibu yang berbeda-beda. “Kendala (saya) banyak. Apalagi saya adalah ibu dengan enam anak, yang satu masih balita dan satu baru lulus balita. Standar tetap dibuat agak longgar karena sikon (situasi dan kondisi, red) tidak selalu terkendali.” Ukhtuna Anis Rachmandari, santri HSI angkatan 221, berbagi kisah. “Kalau (target) Ramadhan tentunya beda sama hari biasa. Pertimbangannya adalah menilik antara harapan dan kemampuan diri. Kadang memang harapan bisa ini itu, tapi Qadarullah ada beberapa hal yang akhirnya membuat ngga bisa mencapai itu,” tambahnya. Membandingkan dengan diri yang lama, melihat proses yang telah dilalui, dan terus memperbaiki diri dengan bertobat. Hal itu akan melatih rasa syukur dan menumbuhkan sikap positif pada Allah.

Ibadah yang dilakukan dengan rasa cemas perlu ditata ulang. Memang Allah al-Hisab (Maha Menghisab/Menghitung), namun Allah tidak perhitungan. Matematika-Nya berbeda dengan logika manusia. Rasulullah bersabda, “Amal yang paling Dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit” (HR Bukhari & Muslim).[5] Utamakan kualitas daripada kuantitas, yaitu dengan memperbaiki niat dan keikhlasan hati. Ibadah sedikit namun konsisten hingga akhir Ramadhan lebih utama daripada ibadah besar namun kendor di pertengahan. Istikamah bisa dimulai dengan ibadah yang mudah dan ringan, dilakukan bertahap agar dapat membentuk kebiasaan dan menjadi rutinitas. Gunakan pengingat agar lebih terjadwal dan tetap termotivasi, seperti yang dilakukan Ukhtuna Anis, “(Pada Ramadhan) biasanya ada target. Jadi saya menetapkan to do list harian tugas rumah tangga dan ibadah. Dengan target (dan to do list) saya jadi lebih terarah dalam mengatur waktu.” Ibadah dalam ketenangan tanpa terburu-buru, akan menambah nikmat yang dirasakan. Contohnya membaca al Qur’an satu lembar sambil mentadaburi makna dan tafsirnya, atau solat sunnah dua rakaat tapi dengan doa yang khusyuk. Pendekatan ini lebih menekankan kualitas dan kekhusyukan, bukan sekedar jumlah rakaat atau halaman.

Ramadhan adalah bulan mulia yang datang bukan untuk menambah beban, namun sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri pada Allah, merawat hati, dan menikmati ibadah. Ramadhan bukanlah tentang berlomba dalam jumlah, tetapi tentang meningkatkan kebaikan. Allah Membuka pintu surga dan Menutup pintu neraka, sehingga tugas dan target ibadah sebaiknya tidak dijadikan beban yang menyiksa diri.

Tugas rumah tangga adalah jihad bagi seorang ibu.[6] Letih dan capai bisa menjadi ladang pahala. Namun bukan berarti tidak ada istirahat, karena istirahat bukan tanda kelemahan, namun memberikan hak tubuh yang perlu dipenuhi. Istirahatlah tanpa rasa bersalah. Jangan sungkan untuk meminta bantuan dari suami dan anak, bukan sekedar untuk meringankan diri sendiri, tapi agar mereka turut berkontribusi dalam urusan rumah. Manusia memang Allah Ciptakan lemah; Kekuatan hakiki hanya milik Allah. Mintalah pertolongan pada sang Maha Penolong, an-Nașīr dan al-Walī.

Referensi

  • Shahih al-Bukhari, Kitab Ash-Shaum dan Kitab An-Nikah.
  • An-Nawawi, Syarh Șhahīh Muslim, Dār Ihyā at-Turāth al-‘Arabī, jil.11, hlm. 9-10.
  • Al-Qur’an.
  • Shahih al-Bukhari no. 212 dan Shahih Muslim no. 786.
  • HR. al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6465; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 783.
  • Musnad al-Bazzār dan Musnad Abī Ya‘lā: riwayat tentang pahala bagi perempuan yang melakukan pekerjaan rumah tangga.


148