Catatan Sang Qawwam

Ramadhan Sang Ayah : Amanah Besar di Balik Pintu Rumah

Reporter: Ridzky Aditya Saputra

Redaktur: Gema Fitria


Ramadhan kembali datang. Namun ia membawa warna berbeda bagi para ayah. Di satu sisi, ada pekerjaan yang wajib dituntaskan. Di sisi lain, ada amanah yang tak kalah besar, yaitu peran di tengah keluarga. Sebagai pemimpin, tanggung jawab seorang ayah dalam keluarga tidak berhenti dalam urusan nafkah.

Jangan lupa, ada keluarga yang menunggu kehadiran bukan sekadar kepulangan. Di bulan ketika pahala dilipatgandakan dan setiap detik bernilai ibadah, kehadiran ayah di rumah menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Ia adalah arah, ia adalah teladan, ia adalah penentu hangat atau tidaknya suasana iman dalam keluarga.

Menjalani peran yang tak mudah, para ayah perlu memiliki hati yang bahagia. Caranya cukup dengan hadir penuh di tengah keluarga. Membersamai sahur, mengajak berbuka dengan doa, memimpin shalat berjamaah, atau sekadar duduk mendengar tilawah anak-anak, bisa menjadi bagian pendidikan iman yang tak ternilai. Di bulan Ramadhan, momen-momen sederhana itu berubah menjadi ladang pahala yang luas. Itulah healing yang sesungguhnya. Sederhana, tapi mengayakan jiwa.

Bisa jadi, justru di situlah letak ketenangan yang selama ini dicari. Saat seorang ayah menyadari bahwa membimbing keluarganya menuju ketaatan adalah amal besar yang Allah lipatgandakan di bulan ini, ia tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga sedang menumbuhkan kebahagiaan yang jernih di dalam dirinya. Ramadhan bukan sekadar bulan sibuk dengan agenda, melainkan kesempatan emas untuk meneguhkan kepemimpinan di rumah dengan hati yang ikhlas dan tenang.

Kesibukan Ayah Selama Ramadhan

Detik waktu tak pernah berubah. Namun, hari-hari Ramadhan kerap terasa penuh bagi para ayah. Undangan berbuka mulai berdatangan. Berbagai kegiatan lain di tempat kerja atau di lingkungan tempat tinggal turut antri meminta perhatian. Tanpa disadari, tak sedikit justru seperti kurang faedah. Kelihatannya penting, tetapi kalau ditelaah sebenarnya minim keberkahan. Bukan karena niat menjalaninya yang keliru, melainkan terkadang ritme kesibukan dibiarkan berjalan begitu saja tanpa kesadaran untuk menakar dan memilah.

Padahal, Ramadhan bisa menjadi waktu tepat bagi para ayah untuk memulai kembali aktivitas berpahala di rumah. Kehadiran mereka menjelang waktu berbuka misalnya, memiliki dampak besar bagi keluarga, terutama dalam membangun suasana yang tenang dan tentram. Aktivitas berpahala pun tidak selamanya harus besar dan megah. Ia dapat berupa hal-hal kecil yang dilakukan secara tekun dan berkesinambungan.

“Beberapa tahun terakhir, saya mulai menyadari pentingnya pulang sebelum berbuka puasa. Istri dan anak-anak ternyata membutuhkan sosok ayah yang hadir, meski hanya untuk berbincang santai atau mengajak muraja’ah beberapa surat Al-Qur’an,” tutur Akhuna Ridho saat berbincang dengan Tim Majalah HSI.

Menata Kesibukan

Sejak tiga tahun terakhir, Akhuna Ridho berusaha merutinkan diri untuk pulang ke rumah selepas Ashar. Sebuah kebiasaan yang dulu terasa mustahil ketika ia masih bekerja di sebuah perusahaan bonafide di Jakarta. “Kala itu, saya paling cepat tiba di rumah selepas shalat Isya,” kenangnya.

“Energi saya sudah habis saat sampai di rumah. Istri dan anak-anak sudah selesai tarawih. Saya sendiri jangankan tarawih, untuk mengobrol dengan keluarga saja sudah tidak sanggup karena kelelahan,” ujarnya mengurai kembali rutinitasnya dulu. “Sabtu dan Ahad pun begitu. Akhir pekan hanya diisi tidur atau menonton seharian untuk ‘membayar’ lelah. Shalat berjamaah di masjid sering terlewat,” ungkapnya kemudian.

Santri HSI Angkatan 211 ini mengaku, penyesalan kerap datang ketika mengingat masa itu. “Dulu terlalu sering ikut acara buka puasa bersama di luar bersama teman. Mulai dari teman sekolah, kuliah, sampai teman kantor. Jadwalnya penuh. Waktu benar-benar habis, padahal obrolannya banyak yang kurang bermanfaat. Bahkan ada yang mengajak mabar game di handphone untuk menunggu waktu berbuka,” jelas Akhuna Ridho jujur.

Waktu memang tak bisa diputar kembali. Namun selalu ada ruang untuk memperbaiki diri. Karena itu, Ramadhan kini ia jadikan momentum untuk menebus kelalaian yang pernah terjadi. Ia tersebut berkomitmen tidak lagi melewatkan buka puasa bersama keluarga di rumah. Akhuna Ridho mencoba menerapkan prinsip sederhana, tiada hari tanpa ilmu dan kebersamaan.

Alhamdulillah, sekarang Allah mudahkan untuk terus berkumpul. Biasanya kalau sudah pulang, hal pertama yang saya tanyakan adalah muraja’ah hafalan anak-anak. Kami menghafal Al-Qur’an bersama. Nanti anak-anak akan diberi hadiah saat Lebaran kalau targetnya tercapai,” tutur ayah dua anak itu.

Ia pun merasakan dampaknya dalam suasana rumah.

“Istri kelihatan senang karena bisa menyiapkan hidangan berbuka dengan tenang. Sesekali kami membagikan ifthar sederhana bersama. Yang paling berharga, sekarang bisa shalat tarawih di masjid bersama istri dan anak-anak. Momen seperti ini benar-benar tidak bisa diganti dengan apa pun. Semoga Allah jaga terus kebersamaan kami.”

Kebiasaan Kecil yang Menghidupkan Rumah

Ramadhan adalah bulan terbaik. Setiap detiknya bernilai pahala, bahkan berlipat ganda dibanding bulan lainnya. Karena itu, sungguh merugi jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan dalam aktivitas dan kebiasaan kita.

Memulai perubahan memang tidak selalu mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Diperlukan kesungguhan hati untuk menghidupkan rumah melalui kebiasaan-kebiasaan kecil.

Rutinitas sederhana inilah yang mulai diterapkan oleh Akhuna Yuri. Ayah dua anak tersebut baru berhijrah dan mengenal Sunnah dalam dua tahun terakhir. Ramadhan tahun lalu menjadi Ramadhan paling berkesan dalam hidupnya.

“Sebelumnya saya belum pernah sebulan penuh tarawih. Alhamdulillah tahun lalu si kecil sudah bisa diajak ke masjid. Bahkan di sepuluh hari terakhir kami i’tikaf bersama. Ternyata nikmat sekali,” ujarnya.

Ia pun menatap Ramadhan berikutnya dengan harapan yang lebih besar.

Insyaallah, tahun ini ingin lebih baik lagi. Kita memulai dari kebiasaan kecil. Ibarat lomba, pemanasannya dari sekarang.”

Ramadhan sejatinya adalah momentum untuk menata ulang tujuan dan fokus hidup. Ia datang membawa kesempatan, lalu pergi meninggalkan jejak panjang dalam ingatan. Di dalamnya, para ayah diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk merenungi kembali sejauh mana perannya sebagai qawwam dalam keluarga.

Dari langkah ayah yang pulang lebih awal, dari tangan yang membangunkan sahur dengan lembut, hingga canda tawa menjelang berbuka, semuanya bernilai pahala di sisi Allah. Namun lebih dari itu, semua akan tersimpan dalam ingatan istri dan anak-anak, tentang seorang ayah yang memilih untuk hadir.

Dari situlah mereka belajar makna “rumah” yang sesungguhnya.


126