🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Ramadhan: Saat Allah Menyembuhkan Kita

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Athirah Mustadjab


Ada masa dalam hidup ketika manusia tampak baik-baik saja, tetapi jiwanya letih tanpa suara. Hari-hari berlalu dengan ritme cepat, target demi target tercapai, namun hati terasa kering dan kosong. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang melelahkan fisik dan batin, Allah tidak membiarkan hamba-Nya tersesat terlalu jauh. Dia menghadirkan Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi waktu penyembuhan. Sebuah undangan Ilahi untuk berhenti sejenak, menata ulang hidup, dan kembali pulang sebagai hamba yang utuh. Artikel ini mengajak pembaca menelusuri cara Ramadhan menjawab kelelahan manusia modern, menyembuhkan luka batin, menata kembali orientasi hidup, serta mengembalikan puasa pada hakikatnya sebagai jalan menuju ketakwaan dan pemulihan diri yang menyeluruh.

Antara Kekosongan Batin dan Kebutuhan akan Pemulihan

Kehidupan modern bergerak dengan ritme yang semakin cepat dan reaktif, membuat manusia hidup di tengah banjir informasi, tuntutan produktivitas, dan target yang seolah tak berujung; banyak yang tampak sibuk, aktif, dan berhasil secara lahiriah, namun menyimpan kejenuhan dan kekosongan batin, hingga kelelahan mental menumpuk dan tertutupi oleh rutinitas, hiburan, serta distraksi harian. Dalam situasi seperti ini, dosa-dosa kecil perlahan dianggap biasa, ucapan kasar, ghibah, menunda kebaikan, dan berlebihan dalam hiburan terjadi berulang tanpa disadari, hingga hidup berjalan dalam mode autopilot, mengikuti arus duniawi tanpa arah yang jelas, jarak dengan Al-Qur’an dan dzikir kian melebar, dan ibadah pun sering berhenti pada formalitas tanpa benar-benar menyentuh hati dan menghidupkan ruh.

Realitas ini bukan sekadar perasaan individual, tetapi tercermin dalam data sosial. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, bahwa lebih dari 19 juta penduduk dewasa mengalami gangguan mental-emosional[1]. Angka ini menunjukkan bahwa kegelisahan batin telah menjadi persoalan serius di tengah masyarakat. Banyak jiwa kehilangan keseimbangan, tetapi tidak tahu ke mana harus mencari penyembuhan.

Pertanyaannya kemudian: apa yang sebenarnya terjadi? Kita terus berlari dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tetapi ke mana arah hidup ini menuju? Mengapa batin terasa gersang meski fisik tampak sehat dan kebutuhan materi terpenuhi? Secara spiritual, manusia modern haus akan kedamaian. Secara jasmani, tubuh juga memerlukan pemulihan. Inilah paradoks kehidupan masa kini: hidup cepat, tetapi kehilangan ketenangan. Dari realitas inilah kita memahami bahwa manusia sejatinya membutuhkan tiga hal mendasar,

Pertama, ketenangan jiwa. Dalam hiruk-pikuk dunia, manusia memerlukan momen untuk menghentikan gemuruh dan kembali mendengar suara hatinya. Ilmu psikologi modern menekankan pentingnya relaksasi dan mindfulness untuk menjaga kesehatan mental.[2]

Dalam Islam, ibadah, terutama dzikir dan puasa, berfungsi sebagai refleksi spiritual yang menenangkan jiwa. Bahkan lembaga kesehatan dunia menekankan pentingnya refleksi dan ketenangan batin selama Ramadhan untuk menjaga kestabilan emosi.[3]

Kedua, kesehatan badan. Secara fisik, dunia saat ini menghadapi krisis kelebihan konsumsi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 1,9 miliar orang dewasa di dunia mengalami kelebihan berat badan, dan sekitar 600 juta di antaranya mengalami obesitas[4].

Pola makan berlebihan dan gaya hidup tidak seimbang memicu meningkatnya penyakit kronis. Dalam konteks ini, puasa tampil sebagai ibadah yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman. Penelitian modern menunjukkan bahwa puasa intermiten membantu menurunkan berat badan, menstabilkan gula darah, mengurangi hormon lapar, serta menekan stres oksidatif[5]. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat, membersihkan diri, dan memperbaiki sistem metabolisme.

Ketiga, kejelasan orientasi hidup. Banyak manusia hari ini hidup tanpa arah yang jernih, terjebak dalam siklus mengejar dunia tanpa sempat bertanya untuk apa semua itu. Ramadhan hadir sebagai ruang jeda: waktu untuk berhenti, merenung, dan mengevaluasi prioritas hidup. Dengan menyucikan niat, memperbaiki kesalahan, dan memperkuat hubungan dengan Allah, pikiran menjadi lebih jernih. Manusia diajarkan untuk bersyukur, lebih peka terhadap penderitaan sesama, dan membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan.

Singkatnya, yang dibutuhkan manusia bukan sekadar istirahat fisik atau hiburan sesaat, melainkan keseimbangan menyeluruh: ketenangan jiwa, kebugaran raga, dan arah hidup yang benar. Inilah tujuan agung disyariatkannya puasa, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ﴾ 

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi jalan ilahi untuk memulihkan manusia dari kelelahan batin, kekacauan hidup, dan kehilangan makna.

Perspektif Islam tentang Penyembuhan Jiwa

Dalam psikologi modern, konsep healing banyak diarahkan pada meditasi, yoga, dan mindfulness. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik ini efektif menurunkan stres, menenangkan pikiran, dan membantu pengelolaan emosi[6]. Namun, pendekatan tersebut umumnya berhenti pada ketenangan mental. Ia membantu meredakan kegelisahan, tetapi belum menyentuh dimensi terdalam manusia, yaitu ruh dan hubungan dengan Tuhan[7]. Karena itu, ketenangan yang dihasilkan sering bersifat sementara; ketika tekanan hidup kembali muncul, kegelisahan pun mudah kembali[8].

Islam sejak awal telah menghadirkan konsep healing yang menyeluruh. Dalam pandangan Islam, manusia bukan hanya terdiri dari tubuh dan pikiran, tetapi juga qalb dan ruh. Karena itu, penyembuhan sejati tidak cukup berhenti pada teknik pernapasan atau kesadaran diri, melainkan pada pengembalian hati kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa dzikir adalah sebab langsung ketenangan jiwa, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

﴿اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ﴾ 

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d : 28)

Ketenangan ini merupakan puncak yang dicari oleh orang-orang beriman, bahkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang telah mencapai derajat iman tertinggi, namun tetap memohon ketentraman hati (QS. Al-Baqarah : 260). Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan jiwa dalam Islam bertumpu pada kuatnya hubungan dengan Allah; ketika hati terputus dari-Nya, kegelisahan mudah muncul, dan ketika hubungan itu diperbaiki, ketenangan sejati tumbuh dari dalam, meski hidup berada dalam keterbatasan.

Di sinilah Ramadhan hadir sebagai bulan healing total: lapar dan haus bukan tujuan, melainkan sarana untuk melemahkan dominasi jasad agar ruh kembali memimpin. Puasa meredam kegaduhan batin, menundukkan nafsu dan ego, sekaligus menanamkan kesabaran, qanaah, dan empati terhadap sesama bagi siapa pun yang menjalaninya sebagai ibadah, bukan kebiasaan. Ia adalah klinik gratis dan olahraga jiwa; sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa itu perisai,” (HR. Bukhari, no. 1894)

Beliau menyampaikannya secara mutlak, tanpa membatasi bentuk perlindungan atau penjagaan tertentu, sehingga mencakup perlindungan dari segala sesuatu yang dapat membahayakan tubuh dan jiwa[9]. Inilah perbedaan mendasar Ramadhan dengan meditasi modern: Ramadhan tidak sekadar menenangkan, tetapi menyucikan dan menata hati agar tunduk pada aturan Ilahi.

Puncak healing Ramadhan tampak dalam i‘tikaf. Jika meditasi mengajak manusia menarik diri dari hiruk-pikuk dunia untuk menemukan ketenangan batin, maka i‘tikaf mengajak seorang hamba mengasingkan diri bersama Allah. Diam di masjid, memperbanyak dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan munajat adalah terapi ruhani yang diajarkan langsung oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dalam i‘tikaf, hati dilepaskan dari tuntutan dunia dan disambungkan kembali dengan sumber makna hidup. Ini adalah spiritual detox bukan sekadar menenangkan, tetapi menyembuhkan luka eksistensial yang paling dalam.

Selain i‘tikaf, Ramadhan juga mengajarkan healing melalui shalat malam, doa, dan Al-Qur’an. Jika meditasi modern bertujuan self-healing, maka ibadah Ramadhan membentuk God-centered healing. Jiwa tidak dipaksa menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi diserahkan kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Di sinilah letak keunggulan Islam: healing bukan beban ego, melainkan buah dari tawakal.

Dengan demikian, Ramadhan sejatinya adalah silabus penyembuhan jiwa yang utuh: puasa sebagai latihan kontrol diri, shalat sebagai stabilisasi batin, Al-Qur’an sebagai cahaya penyembuh, dan i‘tikaf sebagai puncak rekonstruksi rohani.

Di tengah dunia yang gelisah dan kelelahan mental, Islam tidak menolak sains, tetapi menjadi fondasi yang menunjukkan bahwa wahyu Ilahi ternyata telah lebih dahulu menuntunkan aplikasi yang belakangan juga dipaparkan dalam ilmu sains. Ia menawarkan jalan healing yang lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih abadi, jalan yang tidak hanya membuat manusia tenang, tetapi juga kembali menjadi hamba Allah.

Anugerah Ramadhan

Bulan Ramadhan sesungguhnya adalah anugerah dan pertolongan khusus Allah bagi hamba-Nya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أبْوَابُ الجَنَّةِ، وغُلِّقَتْ أبْوَابُ جَهَنَّمَ، وسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu”. (HR. Bukhari, no. 3277 dan Muslim, no. 1079)

Sebuah malam dalam Ramadhan (Lailatul Qadar) lebih baik dari seribu bulan. Ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulihkan diri, karena energi spiritual digandakan dan dosa-dosa dihapuskan.

Sayangnya, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara cara generasi salaf dalam menyambut Ramadhan dengan kondisi kita saat ini. Bagi para salaf, Ramadhan adalah musim emas yang diburu dengan penuh kesungguhan. Mereka mengisinya dengan amal terbaik: memperbanyak tilawah hingga ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari sekali, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma[10]. Selain itu, mereka juga memperbanyak i‘tikaf dan qiyamul lail; bahkan diceritakan bahwa setelah selesai shalat malam di bulan Ramadhan, mereka bergegas meminta hidangan sahur karena khawatir waktu fajar segera tiba[11], sebuah gambaran betapa hidupnya malam-malam Ramadhan mereka dengan ibadah.

Sebaliknya, fenomena kontemporer menunjukkan sebagian remaja dan dewasa kita tidak lagi menganggap puasa sebagai kewajiban serius. Tren “mokel” (membatalkan puasa secara terang-terangan) yang viral di media sosial mencerminkan lemahnya kesadaran akan esensi puasa[12]. Padahal Ramadhan itu bulan yang suci, tapi malah dijadikan bahan candaan untuk tidak berpuasa. Hal ini jelas menodai nilai ibadah puasa.

Esensi Ramadhan tampak ketika ritme hidup diatur ulang: jam makan berubah mengikuti sahur dan berbuka, hawa nafsu tidak lagi berada di pusat kendali, dan dunia tidak ditinggalkan, tetapi diurus dengan prioritas akhirat. Pada bulan inilah Allah melimpahkan keberkahan dan pengampunan; ibadah wajib seperti puasa, shalat tarawih, dan zakat fitrah menjadi sarana penyucian diri, sementara amalan sunnah seperti qiyam, witir, sedekah, dan tilawah Al-Qur’an dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَن قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا واحْتِسَابًا، غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

“Barang siapa melaksanakan salat malam pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759)

Puasa berfungsi seperti shock therapy yang menahan laju nafsu berlebih, menertibkan hawa nafsu dengan aturan Ilahi, serta melatih pengendalian diri. Melalui puasa, kita dilatih sabar dan disiplin, iman diuji, dan hati dilunakkan oleh rasa lapar sehingga lebih peka berempati kepada yang kekurangan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

الصومُ نِصفُ الصَّبرِ

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi, no. 3519 dan beliau menilainya hasan) Inilah penyembuhan sejati, bukan pelarian sementara, tapi pembaruan holistik roh dan jasad.

Puasa dan Semua Manfaatnya

Di dunia modern, puasa bukan lagi hal asing bagi para praktisi kesehatan. Banyak orang mempraktikkan intermittent fasting demi menurunkan berat badan dan meningkatkan metabolisme. Faktanya, penelitian Harvard melaporkan bahwa puasa intermiten membantu menurunkan berat badan sekitar 250 kalori per hari, mengurangi hormon lapar (ghrelin), serta menurunkan tekanan darah. Puasa juga terbukti menurunkan stres oksidatif (penyebab kerusakan sel) dan meningkatkan biomarker penuaan yang sehat[13]. Semua temuan ini menunjukkan tubuh merespons puasa dengan detoksifikasi alami: mengganti sel rusak, memperbaiki jaringan, dan mengurangi risiko penyakit degeneratif.

Islam telah mensyariatkan puasa jauh sebelum ilmu pengetahuan modern menemukannya. Dalam literatur ilmiah terkini, puasa diketahui merangsang autofagi, proses biologis di mana sel tubuh membersihkan dan memperbaiki diri sendiri. Autofagi ini membantu regenerasi sel dan detoksifikasi tubuh, sehingga risiko penyakit degeneratif menurun[14].

Secara metabolik, puasa mengubah sumber energi tubuh dari glukosa menjadi lemak, membantu menurunkan berat badan, menstabilkan gula darah, serta memperbaiki profil lipid (kolesterol)[15]. Singkatnya, puasa Ramadhan memberikan kesempatan “reset” bagi fisik: berat badan terkontrol, gula darah stabil, dan tekanan darah turun.

Dari sisi mental dan emosi, puasa juga bermanfaat. Studi literatur mengindikasikan puasa mengurangi hormon stres (kortisol) sekaligus meningkatkan hormon kebahagiaan (serotonin dan endorfin), sehingga menekan perasaan cemas dan depresi[16]. Penelitian meta juga menemukan bahwa puasa Ramadhan menurunkan kecemasan dan depresi tanpa menambah rasa lelah[17].

Dengan kata lain, puasa membantu kita lebih tenang dan bahagia secara batin. Komunitas muslim yang berpuasa bersama dan saling berbagi santapan berbuka juga merasakan nilai sosial yang besar; berbuka dan salat tarawih bersama memperkuat ikatan kekeluargaan dan mengurangi rasa kesepian.

Kesimpulannya, berbagai kajian internasional menegaskan bahwa puasa Ramadhan memadukan manfaat duniawi dan ukhrawi: tubuh yang kelebihan beban menemukan detoks alaminya, sementara iman yang letih memperoleh ketenangan dan diarahkan kembali menuju ketakwaan. Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَن صامَ رَمَضانَ إيمانًا واحْتِسابًا غُفِرَ له ما تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 2014 dan Muslim, no. 760)

Hadits ini adalah sebuah penegasan bahwa puasa yang dijalani dengan iman dan keikhlasan melahirkan perbaikan diri yang utuh.

Ramadhan yang Menyembuhkan Vs Ramadhan yang Gagal

Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahwa tidak setiap puasa secara otomatis melahirkan keselamatan dan penyembuhan batin. Ibnu Al-Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa puasa yang hakiki bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan menahan seluruh anggota tubuh dari dosa: lisan dijaga dari dusta dan ucapan keji, perbuatan dijauhkan dari maksiat, serta kehormatan diri dipelihara. Dengan puasa seperti inilah ucapan menjadi bermanfaat, sikap menenangkan, dan kehadiran membawa kebaikan bagi orang lain; itulah hakikat puasa yang disyariatkan.

Dalam realitasnya, tidak semua orang merasakan “penyembuhan” dari Ramadhan. Ada yang meraih pahala dan perubahan positif, tetapi ada pula yang membiarkannya berlalu tanpa bekas, dan perbedaan itu sering kali bermula dari niat yang lurus serta konsistensi dalam amal-amal kecil setiap hari. Ketika Ramadhan dijadikan momentum peningkatan ibadah, seperti bangun malam untuk tadarus, memperbanyak sedekah, dan menjaga lisan, muncullah “keajaiban-keajaiban kecil”: hati kian lembut, arah hidup semakin jelas, dan ketakwaan tumbuh perlahan, sebagaimana makna yang ditegaskan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

يقول الصِّيامُ أي ربِّ منعتُهُ الطَّعامَ والشَّهواتِ بالنَّهارِ فشفِّعني فيهِ ويقولُ القرآنُ منعتُهُ النَّومَ باللَّيلِ فشفِّعني فيهِ قالَ فَيشفَّعانِ

“Puasa berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka terimalah syafaatku untuknya.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka terimalah syafaatku untuknya.’ Maka keduanya pun diberi syafaat.’” (HR. Ahmad, no. 6626; dinilai sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Inilah buah Ramadhan yang hanya diraih oleh mereka yang memaknainya dengan benar.

Sebaliknya, ada pula yang melewati Ramadhan hanya dengan sekadar menahan lapar. Bukannya menyucikan diri, puasa justru dipakai sebagai pembenaran untuk pesta kuliner saat berbuka dan sahur. Televisi dan media sosial kadang memperlihatkan pemandangan makan-makan di kafe atau warung pinggir jalan tanpa rasa segan. Istilah “failed fasting” menjadi nyata ketika Ramadhan hanya dijadikan alasan bermalas-malasan di siang hari demi berbuka mewah. Fenomena semacam ini menghilangkan esensi Ramadhan sebagai proses perbaikan holistik.

Perbedaan hasil Ramadhan, sesuai niat awalnya, memang sering terasa dramatis. Mereka yang berhasil, biasanya tidak berubah secara drastis, tetapi mengalami pergeseran batin yang halus namun konsisten: amarah lebih mudah diredam, waktu ibadah terasa lebih lapang, niat hidup menjadi lebih bersih, dan kesadaran merawat tubuh, melalui pola makan seimbang serta aktivitas ringan, tumbuh sebagai bagian dari amanah diri. Ramadhan bagi mereka adalah proses kembali menemukan jati diri. Sebaliknya, kegagalan Ramadhan tampak ketika lebaran justru menjadi titik balik menuju kebiasaan lama, tanpa jejak peningkatan iman atau kedekatan kepada Allah.

Tidak sedikit orang mengenang Ramadhan hanya sebagai diet musiman, bukan perjalanan rohani yang membentuk kepribadian. Padahal Islam menghendaki Ramadhan menjadi jalan keluar dari jebakan dunia, menuju kedewasaan iman dan kematangan takwa. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) ditegaskan tujuan puasa: agar kamu bertakwa. Jika Ramadhan berlalu tanpa penyucian hati dan penguatan hubungan dengan Allah, sesungguhnya kita telah melewatkan sebuah anugerah besar yang seharusnya mengubah arah hidup.

Penutup

Ramadhan adalah kesempatan emas yang Allah anugerahkan untuk penyembuhan diri. Ia tidak diciptakan untuk menyiksa, melainkan untuk membersihkan dan memperbarui hati, pikiran, dan tubuh. Di bulan ini, amal-amal saleh dilipatgandakan, dosa-dosa dihapus, dan iman diberi ruang untuk tumbuh kembali.

Karena itu, Ramadhan seharusnya tidak dijalani sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai momentum memperkuat keimanan dan menata ulang arah hidup. Siapa yang melewatinya dengan kesadaran akan keluar dengan hati yang lebih lembut dan jiwa yang lebih tenang. Inilah makna yang ditegaskan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,

مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به، فليسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dosa, dan sikap bodoh (maksiat), maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari, no. 6057)

Demikian yang bisa penulis jelaskan bagaimana Ramadhan menjadi penyembuh jiwa. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah subhanahu wata’ala dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi Taufiq Ila Aqwamith Thariq.

Referensi

  1. Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  2. Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba’ah ‘isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
  3. Sunan At-Tirmidzi, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
  4. Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, Dar Al-Hadits, Kairo, Cet. 1, Tahun 1416 H/1995 M.
  5. As-Sunan Al-Kubra, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali Al-Baihaqi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah-Beirut, Cet. 3, Tahun 1424 H/2003 M.
  6. Al-Wabil Ash-Shayyib Wa Rafi’ul Kalim At-Thayyib, Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qaid, Dar ‘Atha’atul Ilm, Riyadh-KSA, Cet. 5, Tahun 1440 H/2019 M.
  7. Mukhtashar Qiyamil Lail Wa Qiyam Ramadhan Wa Kitabil Witr, Abu Abdillah Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, Hadits Akadimi-Pakistan, Cet. 1, Tahun 1408 H/1988 M.
  8. Aṣ-Ṣiḥḥah an-Nafsiyyah fi al-Islam, Dr. Sa‘id al-Bakur. https://www.albayan.co.uk/MGZarticle2.aspx?ID=6536&utm. Diakses 10 Januari 2026.
  9. Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia. 7 Oktober 2021, https://kemkes.go.id/id/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia#:~:text=Riset%20Kesehatan%20Dasar%20,dari%2015%20tahun%20mengalami%20depresi. Diakses 10 Januari 2026.
  10. WHO EMRO – Protect your mental health during Ramadan: Meditate and reflect. https://www.emro.who.int/mnh/news/protect-your-mental-health-during-ramadan-meditate-and-reflect.html#:~:text=Meditate%20and%20reflect%20this%20Ramadan. Diakses 10 Januari 2026.
  11. The Health Benefits of Intermittent Fasting | Harvard T.H. Chan School of Public Health. 24 September 2025, https://hsph.harvard.edu/news/the-health-benefits-of-intermittent-fasting/. Diakses 10 Januari 2026.
  12. “Mokel: Lelucon Membatalkan Puasa yang Viral di Media Sosial.” Gaya hidup, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20250318082043-284-1210001/mokel-lelucon-membatalkan-puasa-yang-viral-di-media-sosial. Diakses 10 Januari 2026.
  13. Alvarado-García, Paul Alan Arkin, dkk. “Effect of a mindfulness program on stress, anxiety, depression, sleep quality, social support, and life satisfaction: a quasi-experimental study in college students.” Frontiers in Psychology, vol. 16, Februari 2025, hlm. 1508934. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1508934.
  14. Simpati, Rilla, dan Retno Sugesti. “Pengaruh Konsumsi Fast Food, Asupan Sarapan Pagi dan Aktivitas Fisik terhadap Kejadian Obesitas pada Remaja Putri.” SIMFISIS Jurnal Kebidanan Indonesia, vol. 1, no. 1, Agustus 2021, hlm. 1–11. https://doi.org/10.53801/sjki.v1i1.1.
  15. Semnani-Azad, Zhila, dkk. “Intermittent Fasting Strategies and Their Effects on Body Weight and Other Cardiometabolic Risk Factors: Systematic Review and Network Meta-Analysis of Randomised Clinical Trials.” BMJ, vol. 389, Juni 2025, hlm. E082007. https://doi.org/10.1136/bmj-2024-082007.
  16. Hooi, Ling Yut, dkk. “Effects of Mindfulness Breathing Meditation on Stress and Cognitive Functions: A Heart Rate Variability and Eye-Tracking Study.” Scientific Reports, vol. 15, no. 1, Oktober 2025, hlm. 37185. https://doi.org/10.1038/s41598-025-23727-z.
  17. Chachignon, Philippine, dkk. “Mindfulness beyond Secularization: Beliefs across Meditators and Non-Meditators Reflect a Consensus on Personal Development over Health and Spirituality.” PLOS One, disunting oleh Jaber Alizadehgoradel, vol. 20, no. 9, September 2025, hlm. e0331021. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0331021.
  18. Sharma, Pulkit, dkk. “Contemporary Perspectives on Spirituality and Mental Health.” Indian Journal of Psychological Medicine, vol. 31, no. 1, Januari 2009, hlm. 16–23. https://doi.org/10.4103/0253-7176.53310.
  19. Dwi Larasati. “KESEHATAN DI BULAN RAMADHAN: PENGARUH PUASA TERHADAP KESEHATAN FISIK DAN MENTAL.” Jurnal Dinamika Sosial dan Sains, vol. 2, no. 2, Maret 2025, hlm. 490–97. https://doi.org/10.60145/jdss.v2i2.128.
  20. Elsahoryi, Nour Amin, dkk. “Impact of Ramadan Fasting on Mental Health, Body Composition, Physical Activity, and Sleep Outcomes Among University Students.” Healthcare, vol. 13, no. 6, Maret 2025, hlm. 639. https://doi.org/10.3390/healthcare13060639.    
759