Mutiara Hadits
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)

Penghargaan Iblis bagi Perusak Rumah Tangga

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ إِبْلِيسَ ‌يَضَعُ ‌عَرْشَهُ ‌عَلَى ‌الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً، أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ»

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengutus pasukan-pasukannya, maka yang paling dekat (kedudukan)-nya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah seorang dari mereka dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Ia (Iblis) berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang seorang lagi dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya (berhenti menggodanya) antara dia (suami) dan isterinya hingga aku memisahkan keduanya.’ Maka Iblis mendekatkannya kepadanya dan berkata, ‘Engkaulah yang hebat.”

Takhrij Hadits

Hadits ini shahih. Diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, nomor 2813 dengan lafalnya, Ahmad dalam Musnad-nya, nomor 14377, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, nomor 8347, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma.

Syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah dalam takhrij-nya terhadap kitab Musnad Imam Ahmad, (22:275) berkata, sanadnya kuat sesuai syarat Imam Muslim, para perawinya tsiqah (tepercaya).

Makna Umum Hadits

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu mengutus bala tentaranya dari kalangan jin untuk menebar fitnah dan menyesatkan manusia. Setiap setan kembali dan melapor tentang apa yang telah ia lakukan untuk menggoda manusia, Iblis menilai perbuatan mereka, namun ia tidak menganggap besar dosa-dosa seperti mencuri, minum khamar atau maksiat lainnya. Hingga datang salah satu di antara mereka dan berkata, “Aku tidak berhenti menggoda seseorang hingga aku berhasil memisahkannya dari istrinya.” Maka Iblis memujinya dan berkata, “Engkaulah yang paling hebat.”[1]

Syarah Hadits

Kalimat (إِنَّ إِبْلِيسَ ‌يَضَعُ ‌عَرْشَهُ ‌عَلَى ‌الْمَاءِ) maknanya sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air. Iblis disebut demikian karena berasal dari kata ablasa yang berarti putus asa dari rahmat Allah. Dulu namanya ‘azazil dan termasuk golongan malaikat yang disebut al-jinn, sebagaimana dalam QS. Al-Kahf ayat 50 menurut sebagian ulama, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma. Setelah Iblis durhaka, Allah melaknatnya dan menjadikannya setan.[2]

Kalimat “meletakkan singgasananya di atas air” bisa dipahami dengan dua kemungkinan, yaitu:

Secara harfiah, benar-benar menandakan kekuasaannya dan keangkuhan Iblis seperti penguasa yang punya tahta.

Secara simbolik, menggambarkan luasnya pengaruh dan kendali Iblis dalam menyesatkan manusia.[3]

Kalimat (يَبْعَثُ سَرَايَاهُ) maknanya Iblis mengutus pasukannya. Kata Sariyyah maknanya satuan kecil pasukan (maksimal sekitar 400 orang) yang dikirim pemimpin untuk menghadapi musuh. Disebut demikian sebab mereka pasukan terbaik, berasal dari kata sariy (mulia dan berharga).[4]

Hal ini sejalan dengan yang Allah gambarkan tentang tekad Iblis untuk menyesatkan manusia dari semua arah, sebagaimana dalam firman-Nya,

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (١٦) ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ

“(Iblis) berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17)

Salah satu sasaran utama Iblis adalah rumah tangga, karena di sanalah terletak pusat persatuan, ketenangan dan pengaruh besar bagi kehidupan manusia. Rumah tangga adalah medan strategis tempat setan berupaya menghancurkan unit terkecil masyarakat. Karena itu, menjaga keutuhan rumah tangga bukan sekadar urusan sosial atau hukum, tetapi juga ibadah dan jihad melawan godaan spiritual. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوٌّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia benar-benar sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Setan menyerang dari berbagai sisi, melalui tekanan ekonomi, pengaruh keluarga, media sosial, maupun rasa tidak puas yang dibiarkan tumbuh. Suami dan istri hendaknya memandang diri mereka sebagai satu tim yang saling menjaga, berkomunikasi dan memperkuat keimanan agar tidak terjebak dalam jebakan setan. Bila hubungan mulai goyah, jalan terbaik bukan menyerah, melainkan bertobat dan memperbaiki diri, karena memperjuangkan keutuhan rumah tangga adalah kemenangan di sisi Allah dan kekalahan bagi setan. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِن يُرِيدَآ إِصۡلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيۡنَهُمَآۗ

“Jika keduanya bermaksud memperbaiki (hubungan), niscaya Allah akan memberi taufik di antara keduanya.” (QS. An-Nisa’: 35)

Kalimat (‌فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً، أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً) maknanya paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya.[5] Kata fitnah berarti ujian dan cobaan dan disebut juga demikian untuk menyebut perbuatan maksiat, karena maksiat merupakan bentuk ujian bagi manusia.[6] Kalimat (فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ) maknanya kamu hebat dan berhasil melakukan dosa besar.[7]

Lihatlah betapa bangganya Iblis ketika salah satu pasukannya berhasil memisahkan suami dari istrinya. Dari sini, kita belajar bahwa menjaga rumah tangga bukan perkara sepele, sebab di sanalah setan berusaha menanamkan benih kebencian dan perpecahan. Karena itu, pasangan suami istri hendaknya membangun komunikasi yang terbuka dan saling memahami agar tidak memberi ruang bagi setan untuk menumbuhkan jarak di antara mereka. Suami dan istri perlu mengenali peran masing-masing serta berfokus pada kemenangan rumah tangga, bukan pada ego pribadi. Hubungan yang kokoh harus diperkuat dengan ikhtiar spiritual bersama, berdoa, beribadah, dan memohon perlindungan dari godaan setan, sebagaimana doa yang Allah ajarkan dalam firman-Nya,

رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ (٩٧) وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ

“Wahai Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung pula kepada Engkau wahai Rabbku, agar mereka tidak mendekati aku.” (QS. Al-Mu’minun: 97-98)

Pasangan suami istri juga hendaknya menghadapi setiap persoalan secara bijak dan bersama, bukan dengan saling menyalahkan. Perceraian seharusnya menjadi jalan terakhir setelah semua upaya perbaikan telah ditempuh dan perundingan menjadi buntu. Perceraian bukanlah solusi utama dan pertama. Sebab, mempertahankan rumah tangga adalah bentuk dakwah, kesabaran dan kemenangan sejati di sisi Allah. Nabi bersabda shallallahu 'alaihi wa sallam,

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian.” (HR. Abu Dawud, nomor 2178; Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, perawi-perawinya tsiqah) .

Kokohnya rumah tangga bukan sekadar urusan sosial, melainkan tanda keberhasilan menundukkan tipu daya setan. Iblis yang menempatkan singgasananya di atas air dan mengutus pasukannya paling bangga kepada yang berhasil memisahkan suami istri. Sebaliknya, pasangan suami istri yang menjaga keutuhan di tengah ujian justru merebut kemenangan sejati, baik dalam hubungan maupun dalam spiritualitas. Oleh karena itu, jangan biarkan setan tertawa atas kehancuran rumah tangga. Jadikan keluarga sakinah sebagai benteng iman dan sumber ketenangan bagi generasi dan masyarakat. Semoga Allah menjaga cinta, tanggung jawab dan kebersamaan dalam keluarga kita hingga menuju surga-Nya. Amin.


Faedah Hadits

  1. Gambaran tentang kemampuan Iblis dalam mencapai tujuannya untuk menyesatkan manusia.
  2. Iblis sangat gembira saat berhasil memisahkan pasangan suami istri.
  3. Perceraian adalah ujian spiritual, bukan sekadar masalah sosial.
  4. Memicu perpecahan rumah tangga termasuk dosa besar.
  5. Menjaga keharmonisan adalah bentuk jihad dan ibadah.
  6. Setan menyerang dari banyak arah: ekonomi, emosi dan ego.
  7. Komunikasi dan saling pengertian menjadi benteng utama.
  8. Keluarga sakinah adalah pelindung generasi dan umat.
  9. Krisis adalah peluang memperbaiki, bukan alasan berpisah.
  10. Bertahan dan memperbaiki rumah tangga berarti mengalahkan setan.

Referensi

  1. Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah Isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, cetakan tahun 1374 H/1955 M.
  2. Sunan Abi Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani, Tahqiq dan Takhrij Syu’aib Al-Arnauth, Dar Ar-Risalah Al-Alamiah, cetakan pertama, tahun 1430 H/2009 M.
  3. Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, Mu’asasah Ar-Risalah-Beirut, cetakan pertama, tahun 1416 H/1996 M.
  4. Syu'ab Al-Iman, Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi Al-Khurasani, Tahqiq Dr. Abdul ‘Ali Abdul Hamid, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh-KSA, cetakan pertama, tahun 1423 H/2003 M.
  5. Al-Kasyif ‘An Haqaiq As-Sunan Syarh Misykah Al-Mashabih, Syarafuddin Al-Husain bin Abdullah At-Thibi, Tahqiq Dr. Abdul Hamid Handawi, Maktabah Nizar Mushtafal Baz-KSA, cetakan pertama, tahun 1417 H/1997 M.
  6. Fath Al-Qarib Al-Mujib ‘Ala At-Targhib Wa At-Tarhib, Abu Muhammad Hasan bin ‘Ali Al-Fayyumi Al-Qahiri, Tahqiq Prof. Dr. Muhammad Ishaq Muhammad Alu Ibrahim, Maktabah Dar As-Salam-Riyadh, cetakan pertama, tahun 1439 H/2018 M.
  7. Al-Mafatih Fi Syarh Al-Mashabih, Mudh-hiruddin Al-Husain bin Mahmud bin Al-Hasan Al-Mudh-hiri, Tahqiq Nuruddin Thalib, Dar An-Nawadir-Kuwait, Cet. 1, Tahun 1433 H/2012 M.
  8. Website hadeethenc.com, https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/10569. Diakses tanggal 24 Oktober 2025.