Pelatihan Musyrif, Pilar Sentral di Balik Layar KBM HSI
Reporter : Ridzky Aditya Saputra
Redaktur : Happy Chandraleka
Dua kali dalam setahun, HSI membuka pendaftaran santri baru. Pada masa itu, poster-poster digital segera disebar ke berbagai lini masa, menggugah semangat menuntut ilmu dan menggaungkan keutamaannya sebagai jalan pintas menuju surga. Semuanya bukan sekadar euforia, melainkan kabar gembira tentang peluang meraih pahala jariyah.
Para santri yang telah merasakan manfaat ilmu pun kerap menjadi duta tak resmi, mengajak keluarga dan teman agar suasana belajar yang guyub di HSI dapat dirasakan lebih luas. Bagi mereka, momen penerimaan santri baru bukan hanya pendaftaran, tetapi pintu perubahan menuju hidup yang lebih tertata dan bernilai ibadah.
Di balik gegap gempita itu, ada proses krusial yang kerap luput dari sorotan. Sebuah ruang sunyi bernama Pelatihan Musyrif yang berdiri sebagai fondasi keberlangsungan penerimaan santri baru HSI.
Di Balik Layar Penerimaan Santri Baru
Sebelum pendaftaran dibuka, Divisi KBM terlebih dahulu menyiapkan para sukarelawan pengelola grup. Calon Musyrif datang dari beragam latar belakang, usia, dan domisili. Ada yang berstatus mahasiswa, bahkan ada juga pensiunan. Mereka berasal dari berbagai tempat, dari ujung Timur hingga Barat Indonesia, bahkan orang Indonesia yang tengah berdomisili di negeri seberang. Perbedaan itu luruh dalam satu kesadaran yang sama, yakni semangat melayani santri HSI.
Ketika santri baru telah berdatangan dan masuk ke grup-grup diskusi, ratusan notifikasi dan pertanyaan segera mengalir. Semuanya berlangsung hampir bersamaan. Namun, mulai dari pertanyaan teknis, perihal akses materi, hingga reminder tata tertib grup tampaknya selalu menjadi chaos yang terkelola.
Kerap terlihat ramai, dinamis, tapi sistematis. Di sinilah peran Musyrif diuji. Mereka dituntut sigap, komunikatif, dan tetap menjaga adab. Tantangan teknis, verifikasi data, hingga santri yang belum memahami alur belajar merupakan dinamika yang lazim di fase awal.
Mengapa Training Musyrif Dibutuhkan?
Puluhan ribu santri angkatan baru datang hampir bersamaan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) HSI. Meski proses belajar berlangsung daring, tapi mustahil rasanya jika para santri baru dilepas begitu saja. Platform digital membutuhkan tata kelola sebagaimana ruang kelas fisik memerlukan pendamping.
Koordinator KBM Reguler HSI Grup Ikwan, Akhuna Addo WP atau yang kerap disapa Pak Addo, menuturkan peran penting para Musyrif. Menurutnya, keberadaan Musyrif tak hanya untuk mendampingi santri, melainkan sebagai cerminan HSI.
“Kami perlu menyiapkan Musyrif yang bisa mencerminkan HSI kepada santri baru. Mereka harus paham tata tertib, apa maksudnya, bagaimana menerapkannya, apa sanksi bagi pelanggar, dan bagaimana menerapkan sanksi tersebut. Mereka juga perlu paham alur belajar dan teknis web sehingga bisa membantu santri jika ada kendala,” ujar Pak Addo saat berbincang dengan Tim Majalah HSI.
“Semua itu perlu diberikan dalam sesi pelatihan sebagai pembekalan. Sebagaimana kita juga perlu berbekal sebelum perjalanan panjang, demikian juga para Musyrif perlu berbekal sebelum bertugas,” ia menambahkan.
Dalam struktur KBM, admin berfungsi sebagai penyambung antara santri dengan HSI. Mereka juga menjadi titik temu dalam menghadapi kendala dan pertanyaan. Oleh karena itu, pelatihan Musyrif atau admin begitu sentral dalam terselenggaranya proses belajar dan mengajar yang nyaman.
”Diibaratkan jembatan, maka mereka adalah gerbangnya. Landasan awal yang dilalui untuk menyambung aspirasi santri dengan KBM. Mereka yang lebih mengenal HSI dibanding santri tentunya dan mereka juga yang pertama ditanya oleh santri tentang HSI. Jadi kedudukan mereka sangat penting dalam alur komunikasi antara KBM dan santri, demikian pula sebaliknya,” jelas Pak Addo.
“Sejauh ini, hasil pelatihan sudah mencukupi insyaallah, walau masih jauh untuk dikatakan sempurna. Karenanya kami terus melakukan perbaikan dan terus upgrading. Kami berusaha agar struktur bukan sebagai tingkatan atasan dan bawahan, tapi kami saling kerja sama agar tujuan KBM tersampaikan dengan baik dan santri bisa belajar dengan nyaman,” ucap santri HSI yang telah belajar sejak awal 2015 ini.
Apa Saja yang Diajarkan dalam Training Musyrif?
Menurut salah satu Penanggung Jawab (PJ) ARN251, Akhuna Eko Putera, menuturkan bahwa materi yang diberikan dalam training Musyrif dirancang untuk menjawab semua kebutuhan di lapangan. Para Musyrif tidak hanya dibekali pemahaman teknis, melainkan juga pemahaman secara mental dan bersikap. Di antaranya adalah bagaimana cara menyapa, merespon dan menyikapi keluhan, sebagai cerminan dari nilai dakwah di HSI.
Akhuna Eko menyatakan bahwa materi training demikian beragam, “Materi teknis seperti pemahaman KBM HSI, syarat dan kewajiban pengurus, tata tertib HSI, cara menghitung nilai, mengelola WhatsApp Grup, teknik Spreadsheet dan web admin. Kemudian ada juga materi kepemimpinan tentang bagaimana menjadi anggota tim yang efektif. Lalu Silsilah BPSMIA (Bagaimana Para Sahabat Menuntut Ilmu Agama), hingga materi komunikasi efektif, yaitu adab komunikasi online, dan pencerahan sebagai pengurus HSI.”
Dalam proses akhir, para calon Musyrif akan melalui sebuah tes simulasi untuk memastikan pemahaman mereka terhadap SOP dan prinsip adab telah memadai. Calon pengurus akan dibagi dalam kelompok kecil dengan beberapa mentor. Di tahap ini, mentor akan membahas detail materi yang diberikan.
Para mentor akan membagi pengalaman mereka ketika bertugas mengawal grup belajar, tentang kendala yang ditemukan, serta bagaimana mengatasinya. Simulasi akan diadakan selama satu pekan. Dalam simulasi tersebut, calon Musyrif akan melakukan tugas-tugas untuk persiapan angkatan baru dan silsilah pembuka. Dimulai dengan adanya prosedur calon santri masuk ke grup, perangkat pembuka grup, lalu dilanjutkan dengan simulasi Silsilah Pengagungan Terhadap Ilmu.
“Sebagai santri dalam simulasi ini adalah mentor lain, yaitu mentor yang tidak bertugas untuk calon pengurus terkait. Para ‘santri' ini akan berpola seperti santri baru yang mungkin curiga ketika disapa, tidak mau masuk grup dan banyak bertanya. Kemudian ketika masuk grup, mereka akan melakukan pelanggaran, seperti forward berita, menggunakan emoticon wajah, kemudian left grup, dan sebagainya,” ungkap Akhuna Eko.
“Dengan simulasi ini, calon pengurus akan benar-benar merasakan dan memahami bagaimana suasana bertugas nantinya,” ujar santri dari Angkatan 182 ini menggambarkan.
Pasca training, Divisi KBM segera mengumumkan mereka yang lolos. Menurut Akhuna Eko ada beberapa indikator yang menentukan seorang Musyrif dinilai siap terjun mendampingi santri. Indikator-indikator itu terbagi atas penilaian teknis, hasil evaluasi Silsilah BPSMIA, dan penilaian interaksi dengan para ‘santri’ yang diperankan oleh para mentor.
“Penilaian calon pengurus dibagi menjadi tiga, yaitu penilaian mentor, penilaian silsilah BPSMIA, dan penilaian materi teknis. Mentor juga memberikan catatan terhadap masing-masing calon pengurus, siapa yang sudah siap bertugas dan siapa yang belum,” papar Akhuna Eko.
Dampak Training Terhadap Kelancaran KBM
Keberhasilan proses orientasi santri baru dalam KBM HSI tidak hadir secara tiba-tiba. Dari kacamata pengurus KBM, kesiapan admin cukup berkaitan dengan keberhasilan pendampingan santri. Kemudian adanya evaluasi yang menyeluruh, juga memiliki andil besar bagi kualitas Musyrif.
Evaluasi ini tidak terhenti setelah pelatihan berakhir. Setelah musyrif baru resmi bertugas, proses berlanjut dengan persiapan angkatan santri baru.
“Setelah training selesai, ketika calon pengurus sudah resmi menjadi pengurus, maka akan langsung dilanjutkan dengan persiapan angkatan. Tim inti pelatihan akan ikut di sesi awal ini sehingga bisa koordinasi dan mendapat masukan dari PJ angkatan tentang kinerja dari pengurus baru. Koordinator ARN dan koordinator leveling juga bagian dari tim inti pelatihan dan secara aktif melakukan evaluasi dan memberi masukan ketika pelatihan sedang berjalan dan juga setelah pelatihan selesai,” kata Akhuna Eko.
Siap Bertugas
Pelatihan Musyrif Angkatan 261 memberikan gambaran nyata tentang kesiapan calon pengurus KBM HSI. Dari proses training tersebut, mereka mendapatkan ilmu dan pengalaman yang utuh sebagai musyrif. Hal itu diungkapkan Akhuna Imam Munandar yang baru saja menuntaskan pelatihan Musyrif Angkatan 261.
Keinginan untuk terlibat aktif dalam kegiatan HSI muncul di benak Akhuna Imam saat membaca berita lowongan sebagai Musyrif di grup. Awalnya ia ragu mampu lolos seleksi atau tidak, meski memiliki latar belakang mengurus santri di sebuah pesantren di Aceh.
“Ana latar belakang pesantren mengurus santri. Awalnya ragu, karena baru setahun belajar. Sewaktu mendaftar enggak terlalu berharap, tetapi alhamdulillah diumumkan lolos seleksi pertama. Kemudian masuk pelatihan, diberikan materi tentang web admin, cara menghadapi permasalahan di grup, hingga dibuatkan grup pelatihan,” ujar Akhuna Imam.
“Ini adalah ladang pahala jariyah. Hal ini memotivasi saya, karena kalau untuk berdakwah lewat ceramah ana merasa enggak ada kemampuan. Tetapi dengan ini (menjadi Musyrif HSI) insyaallah ana punya kesempatan mendapatkan pahala jariyah,” tuturnya.
Santri Angkatan 251 tersebut juga merasakan adanya perbedaan dalam menangani santri di pesantren dengan santri daring HSI yang dirasakannya melalui pelatihan. Beberapa faktor seperti domisili, usia, dan status sosial lainnya menjadi hal yang perlu diperhatikan seorang Musyrif menurutnya.
“Kebetulan ana di pesantren di bagian kesiswaan, menangani sekitar 160 siswa. Kalau di pesantren kita berhadapan langsung dengan santri. Keseharian dan wataknya juga kita tahu. Nah, kalau di HSI kita enggak tahu usianya. Bisa jadi yang kita hadapi lebih tua dari orangtua kita sendiri, atau rupanya bisa jadi orang yang lebih berilmu. Oleh karena itu, salah satu pelajaran yang ana dapatkan adalah agar kita selalu bersikap rendah hati.” Akhuna Imam memaparkan.
Terakhir, Akhuna Imam berharap ilmu yang didapatkan dari training bisa diterapkannya dengan baik. Ia berkeinginan memberikan bimbingan terbaik kepada santri baru HSI. Akhuna Imam juga mengungkapkan harapannya, “Mudah-mudahan santri baru bisa belajar secara tuntas. Kalaupun tidak tuntas, bisa tetap mengikuti leveling, tetap semangat belajar.”
Di balik kelancaran KBM HSI, ada peran penting yang kerap luput dari sorotan. Keberadaan Musyrif dan Musyrifah ibarat pilar tak terlihat yang menjaga ritme dan ketertiban KBM di HSI. Peran mereka sangatlah sentral dalam menentukan wajah sebuah angkatan sejak hari pertama KBM dimulai.
Musyrif atau Musyrifah memang bekerja dari balik layar tanpa pamrih. Namun dari tangan merekalah ribuan perjalanan ilmu dimulai dan ditata dengan kesabaran, dijaga dengan adab, dan diharapkan berujung pada amal jariyah yang terus mengalir. Kalau antum ingin aliran pahala serupa, jangan lewatkan training Musyrif-Musyrifah yang kontinyu diadakan ya… Mari ikut berperan serta dalam dakwah yang hak. Baarakallahu fiikum..