Catatan Sang Qawwam
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)


Pagi Bapak-Bapak: Antara
Kopi, Ibadah, dan Amanah

Reporter: Ridzky Aditya Saputra

Redaktur : Hilyatul Fitriyah


Pagi itu datang lagi. Langit masih basah oleh sisa hujan semalam, tatkala Irfan menyapu wajahnya dengan selimut. Sayup-sayup ia mendengar suara adzan Subuh berkumandang. Menandakan hari baru telah dimulai. Setelah berwudhu dan memakai gamis, ia pun membuka pintu rumahnya. Aroma bekas hujan yang menyatu dengan aspal, menjadi perpaduan sempurna. Rasa kantuknya hilang bersamaan dengan langkah kaki yang menerobos jalanan becek itu.

Setibanya di masjid, ia sudah disambut pemandangan menakjubkan. Ada kakek tua yang sedang shalat qobliyah subuh di shaf pertama. Ada pula seorang ayah muda yang baru datang dengan berbonceng tiga di atas motornya. Tak ketinggalan gelak tawa bocah kecil yang berlarian di atas karpet masjid. "Dunia begitu sibuk. Luar biasa Allah mengatur aktivitas di pagi ini," Irfan bergumam.

Bagi para bapak seperti Irfan, pagi hari bukanlah sekadar rutinitas. Ia merupakan lembaran baru yang menuliskan tentang kehidupan, tanggung jawab, dan ibadah dalam satu tarikan napas. Jika ia mau, Irfan bisa tetap menarik selimut hangatnya seperti sebagian orang meninggalkan sholat Subuhnya. Bila berkehendak, ia pun bisa saja sholat di rumah untuk sekadar menuntaskan kewajibannya. Namun, Irfan memilih untuk ikut terlibat dalam hiruk-pikuk pagi yang mulai bising dengan suara knalpot kendaraan.

Di Balik Secangkir Kopi Hangat

Jam di tangannya menunjukkan pukul 05.12 WIB. Sembari mengaduk gelas kopinya, Irfan mengetuk pintu kamar Tiara, putrinya yang berusia 7 tahun. "Nak, sudah sholat Subuh?" tanya Irfan pelan. Tiara pun menjawab, "Alhamdulillah sudah Abi, tadi berjamaah dengan Umi."

Sebenarnya Irfan sudah tahu, rutinitas sholat berjamaah istrinya dan sang putri tercintanya, Tiara. Namun, pertanyaan itu selalu disampaikan berulang, agar buah hatinya tahu betapa pentingnya perkara sholat. Gelas kopinya masih hangat. Aromanya menyebar menerobos pintu dapur. "Umi sedang apa? Ada yang perlu Abi bantu?" ucap Irfan sembari menatap istrinya yang sibuk memasak. Sang istri pun mengangguk, menandakan butuh bantuan Irfan dalam menuntaskan pekerjaan rumahnya.

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Embun malam yang menyatu dengan sisa gerimis membuat tangan Irfan reflek bersedekap. Ia sudah selesai membantu istrinya mencuci piring dan menyiapkan sarapan. Ia juga telah memastikan keluarganya untuk tak ketinggalan berdzikir pagi. Kini Irfan memantik starter motornya untuk dipanaskan, sembari meletakkan gelas kopinya yang tinggal separuh di meja teras.

Sambil menunggu putrinya siap berangkat sekolah, pikiran Irfan mulai menerawang jadwal kegiatannya hari ini. Di hadapannya sudah ada bayang-bayang hari itu sejak pagi hingga pulang bekerja. Bagi sebagian orang, pagi hari mungkin hanyalah sebuah rutinitas. Tapi bagi para bapak, pagi adalah momen paling sakral. Dia adalah titik dimulainya putaran waktu bersama keluarga yang tidak akan pernah bisa kembali.

Antara Amanah dan Ibadah

Sembari menarik gas motornya, Irfan berpamitan dengan sang istri, "Abi berangkat dulu ya Mi, jaga diri di rumah. Doakan Abi ya." Anggukan istrinya, mengisyaratkan sebuah harapan sekaligus tawakalnya kepada Allah, agar Irfan dapat kembali pulang.

Pagi itu, kajian Ustadz Nuzul Dzikri ia dengarkan melalui earbud kecil di telinga kirinya. Menurutnya, macet Jakarta terlalu "sadis" untuk sekadar dilalui sambil melamun di atas motor. "Supaya perjalanan enggak terasa lama, saya suka setel kajian atau murottal pas naik motor. Ceramah umum saja. Yang penting enggak jenuh dengan macet, dan pastinya diniatkan ibadah menambah ilmu supaya berpahala," ungkap Irfan.

Tiga puluh menit berlalu, ia sampai ke sebuah kios parfum. Sudah tiga tahun terakhir, Irfan berikhtiar mencari rezeki lewat usaha parfum dekat sebuah pasar. Pintu teralis digeser, Irfan memasukinya sambil mengucap salam. Waktu menunjukkan pukul 08.45 WIB, kios itu 15 menit lagi harus buka. "Allahu akbar," Irfan membuka dua rakaat Sholat Dhuha.

Empat rakaat Dhuha sudah rutin ia lakukan selama setahun terakhir. Sebagian besar, dikerjakan di tempat usahanya sebelum waktu buka. Ia meyakini, amalan sederhana ini dapat membuka pintu keberkahan dari usaha parfumnya. Jika tidak berlebih, namun pasti tercukupi.

"Saya meyakini Sholat Dhuha ini 'membawa keberkahan rezeki'. Entah kenapa, sejak rutin setahun terakhir, saya enggak pernah merasakan kekurangan. Pasti cukup, pasti," santri ARN 220 ini yakin menjawab.

Menjalani Pagi dengan Tenang

Pagi yang sama di Kota Bandung. Ketika waktu syuruq menyapa Iqbal dan keluarganya. Mereka duduk melingkar di meja makan. Di hadapan Iqbal ada istrinya, Farah, serta dua buah hatinya, Uwais dan Rumaysho. Mereka bercengkerama sembari sarapan. Sebelum kesibukan datang untuk memisahkan mereka pagi itu.

"Pah, Ruma jorok tuh. Ambil makanan yang jatuh barusan terus langsung dimakan," kata si sulung Uwais. Rumaysho berdecak kesal. Dia merasa apa yang dilakukan sudah benar. "Adek Ruma sudah benar, kata Nabi Muhammad, kalau ada makanan yang jatuh, kita bersihkan lalu makan saja. Ini sunnah," Iqbal menengahi.

Ruma pun menghentak sendoknya ke piring. Mengisyaratkan ia sedang di atas kebenaran, "Tuhkan. Weeek aku benar." Keributan kecil itu terhenti ketika suara ponsel Iqbal berdering cukup keras. Sebuah pesan singkat masuk dari rekan kerjanya. "Jangan lupa bawa dokumen Pak Adi, tadi kamu ditanyain di grup. Tapi kayaknya belum baca ya?" bunyi isi pesan tersebut.

Iqbal sontak bergegas mengecek ulang ke meja kerja. Ia memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam tas, dan bersiap pergi bekerja. "Yuk, anak-anak kita berangkat, sudah siap semua?" seru Iqbal sembari mengambil kunci mobilnya.

Ketenangan pagi bukan berarti tanpa wara-wiri. Ia hadir di tengah-tengah kesibukan untuk mencairkan dinginnya batasan antara anak dan orangtua. Seorang bapak mungkin lelah dan tergesa, tapi di balik itu semua ada sebuah niat yang kokoh: menjadi sosok pelindung keluarga dan pengemban amanah dari Allah 'Azza wa Jalla.

Tips Memulai Pagi

Dari kisah Irfan dan Iqbal, dua bapak-bapak muda, terbingkai banyak pelajaran berharga. Bahwasanya, dunia begitu sibuk namun tidak berarti melalaikan. Ada banyak upaya yang bisa dilakukan agar dunia kita bernilai akhirat. Tidak sulit, tetapi perlu sedikit usaha meraihnya.

Bagi Irfan, memulai pagi sama seperti memasuki wahana bermain Dufan atau Disneyland. Kita akan menghadapi keriuhan dan antrean. Namun, ada sebuah akses VIP yang bisa diperoleh tanpa antre, tanpa lelah dan hanya sedikit usaha.

"Memulai pagi yang indah itu bagi saya adalah Sholat Subuh berjamaah ke masjid. Kalau subuh dan qobliyah subuhnya aman, rasanya akan lebih mudah melalui hari. Ibarat masuk Dufan atau Disneyland kita itu jalur super VIP kalau sudah Sholat Subuh berjamaah. Sebaliknya, kalau subuhnya telat atau berantakan, hari itu rasanya jadi berat dan terjal," ujarnya.

"Oh iya, jangan lupakan kopi hangat, doa istri dan anak. Pahitnya rasa kopi hilang, tiap kali melihat senyuman mereka, mood booster banget," Irfan menambahkan.

Pun begitu dengan Iqbal. Menurutnya, memulai pagi dengan hati berbinar dapat memberi efek positif pada ibadah maupun pekerjaan. Selain itu, quality time bersama keluarga di meja makan selama 10 menit, mampu menumbuhkan kenangan hingga sepuluh tahun ke depan.

"Bounding dengan keluarga itu penting. Makan bareng sebelum aktivitas kerja atau sekolah, itu menjadi penyemangat ketika kita mau memulai hari yang terasa berat," kata Iqbal.

"Dan usahakan juga jangan marah di pagi hari. Walau kadang kita lihat anak atau istri yang tidak sesuai, coba tahan jangan marah. Kalau sudah marah pagi, duh, efek negatifnya bisa melekat sampai seharian penuh," ia mengakhiri.

Tangan Bekerja, Hati Beribadah

Pagi memang selalu kembali, namun ia tidak pernah sama. Setiap hari para bapak akan memulainya dengan niat dan hati yang penuh harap akan keberkahan. Karena di balik setiap pagi yang sibuk, ada jutaan bapak yang sedang menjemput cintanya Allah lewat sebuah tanggung jawab. Ada tangan yang bekerja, tetapi juga hati yang beribadah. Tak lupa, di sana pula, ada doa-doa dari para istri yang terucap lirih di setiap kepergianmu di pagi hari dan menanti menyambutmu dengan raut bahagia di sore hari.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla memudahkan langkahmu untuk menjemput rezeki yang baik dan halal, wahai Sang Qowwam. Engkaulah penjaga pagi dan pengemban amanah keluarga.