Kesehatan
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Obesitas : Musuh di Balik Pola Hidup Modern

Kontributor : Nurul Hikmah Ilyas, S.Ft. Ftr.

Redaktur : dr. Avie Andriyani


Di banyak rumah, tubuh yang semakin berisi sering disambut candaan ringan. “Sedikit gemuk, tanda makmur,” begitu kira-kira. Namun, di balik pipi yang tampak sehat dan perut yang mulai menonjol, bisa tersembunyi risiko kesehatan yang pelan-pelan mengintai. Candaan-candaan tersebut harusnya menjadi kilas balik untuk memulai hidup sehat sejak dini. Yuk, kita simak artikel kesehatan terkait obesitas di Majalah HSI edisi 86 kali ini, untuk memulai hidup sehat itu!


Gaya Hidup Sehat Seorang Muslim

Apakah anda sering memesan fast food secara online? Juga sering scrolling hp sambil rebahan? Jika menjadi kebiasaan dan terus berulang setiap harinya, hal tersebut akan berpengaruh pada kenaikan berat badan dan bisa menjadi pemicu obesitas di masa depan. Salah satu gaya hidup sehat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah meninggalkan sifat rakus pada makanan, mencegah diri dari berlebihan dan sifat mubazir pada makanan.

Salah satu hadits terkait larangan makan berlebihan disampaikan oleh Abu Karimah Al-Mighdad bin Ma’diy Karib, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada wadah lebih buruk yang diisi oleh anak Adam kecuali perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa makanan yang bisa menegakkan tulang sulbinya (tulang punggung). Jika dia harus makan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napasnya.” (HR. At-Tirmidzi: 2380).

Apa itu Obesitas? dan Bagaimana Mengenalinya?

Obesitas adalah penyakit kronis dan kompleks yang ditandai penumpukan jaringan lemak secara berlebih sehingga menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan. Obesitas ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 25 kg/m2 dan lingkar pinggang (waist circumference) >90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk perempuan. Yang mana IMT normal bagi dewasa adalah sekitar 17,5-22,9 kg/m2, dengan lingkar pinggang normal kurang dari 80 untuk wanita dan kurang dari 90 untuk laki-laki. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Kemenkes RI, tercatat lebih 68 juta orang dewasa hidup dengan obesitas pada tahun 2025.

Adapun tanda atau gejala yang umum pada orang dengan obesitas, yaitu penumpukan lemak di tubuh terutama pinggang, mudah berkeringat, mendengkur, sesak napas, susah tidur, mudah lelah, kesulitan melakukan kegiatan sederhana, nyeri persendian, gangguan psikologis seperti kurang percaya diri dan enggan bersosialisasi.

Penyebab Obesitas yang Sering Terjadi di Keluarga

Penyebab utama obesitas yaitu ketidakseimbangan energi, asupan energi yang lebih banyak daripada energi yang digunakan oleh tubuh, sehingga kelebihan energi tersebut disimpan dalam lemak yang dapat berkembang menjadi kelebihan berat badan dan obesitas. Faktor lain penyebab obesitas yaitu genetik, stres kronik, kualitas tidur yang buruk, gangguan hormonal dan kondisi medis tertentu.

Faktor lingkungan atau sosial dapat memengaruhi pilihan makanan individu menjadi tinggi kalori dan gula, faktor ini mencakup penggunaan media sosial yang tinggi sehingga memengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi dan juga dapat mengurangi aktivitas fisik. Pola makan yang tidak seimbang karena mengonsumsi karbohidrat dan lemak tinggi namun minim serat dan protein, mampu memicu penimbunan lemak pada tubuh. Minuman manis berlebih akan mendongkrak asupan gula sehingga menyebabkan lonjakan kadar gula dalam darah. Faktor lain yaitu karena minimnya edukasi gizi.

Kurangnya aktivitas fisik (inaktivasi fisik atau sedentari) diidentifikasi oleh WHO sebagai salah satu faktor utama global yang berkontribusi terhadap tidak hanya prevalensi obesitas, tetapi juga penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga penyakit kejiwaan. IMT cenderung meningkat sejak usia muda. Pada usia lanjut, akan terjadi penurunan massa otot disertai peningkatan kadar lemak tubuh. Riskesdas tahun 2018 menunjukkan prevalensi obesitas meningkat 29,6% pada usia 40-44 tahun.

Rumah menjadi contoh utama bagi gaya hidup. Orang tua bertanggung jawab atas makanan yang dibeli dan disajikan di rumah. Orangtua juga dapat memengaruhi tingkat aktivitas fisik keluarganya. Kurangnya aktivitas fisik karena perubahan gaya hidup digital membuat anggota keluarga semakin jarang bergerak. Rata-rata anak muda jaman sekarang bisa menghabiskan lebih dari 8 jam per hari di depan layar, belajar online, bekerja secara virtual, ataupun untuk bermain game dan scroll media sosial. Padahal, WHO menyarankan setidaknya kita melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.

Dampak Jangka Panjang Obesitas Bagi Kesehatan

Obesitas mampu meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di usia muda, gangguan hormon dan kesuburan, masalah kepercayaan diri juga kesehatan jantung, hipertensi, stroke, kanker, penyakit sendi hingga mental. Obesitas juga bisa memengaruhi stamina dan kualitas hidup, karena secara tidak langsung obesitas mengurangi mobilitas gerak seseorang. Penurunan mobilitas ini berpotensi mengurangi partisipasi dalam kegiatan sosial dan produktif yang berdampak negatif bagi kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Selain itu, masalah obesitas juga dapat menjadi beban kesehatan pada keluarga dalam jangka panjang. Riwayat obesitas tidak hanya berhenti di orang tua, seperti ayah atau ibu saja. Namun bisa menurun kepada anak-anak lewat genetik. Faktor genetik memengaruhi metabolisme tubuh dan cara tubuh menyimpan lemak. Namun, faktor genetik biasanya berinteraksi dengan lingkungan, termasuk pola makan dan aktivitas fisik yang mempengaruhi berat badan seseorang. Lingkungan sekitar yang tidak mendukung gaya hidup sehat, seperti seringnya mengonsumsi fast food dan gaya hidup sedentari juga meningkatkan risiko obesitas kepada keturunannya.

Pencegahan dan Penanganan Obesitas

Beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mencegah dan mengurangi obesitas, antara lain:

Perbaiki pola makan. Dimulai dengan menyajikan makanan sehat dan membatasi akses pada makanan olahan tinggi lemak dan gula. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan tentang nutrisi kepada anggota keluarga yang lain, dengan itu anggota keluarga mampu memahami pentingnya pilihan makanan yang tepat. Lengkapi nutrisi harian dengan gizi seimbang terutama konsumsi serat, air putih yang cukup dan real food, sebaiknya menghindari fast food dan ‘teman-temannya’.

Olahraga rutin, mendorong anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan fisik yang menyenangkan dan memberikan waktu untuk bermain di luar rumah dapat membantu menjaga mereka tetap aktif dan sehat. Berolahraga rutin dengan intensitas sedang membantu membakar kalori dan mencapai berat badan ideal. Rekomendasi WHO yaitu, 150 menit dalam seminggu atau 30 menit per hari. Jenis latihan fisik yang dapat dilakukan seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang.

Konseling. Konseling dapat membantu mengelola stres dengan baik guna menghindari stress eating, yaitu kebiasaan makan sebagai respon terhadap stres.

Medikamentosa. Jika obesitas mencapai derajat yang membutuhkan penanganan lanjut, maka disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis yang berkompeten.

Penutup

Walaupun obesitas termasuk pada penyakit kronis dan komplek, tetapi obesitas bisa dicegah dan dikendalikan dengan menerapkan gaya hidup sehat dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Maka sepantasnya, sebagai hamba yang berakal, kita sepatutnya menjaga amanah kesehatan yang dikaruniakan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Salah satu caranya dengan menjaga berat badan ideal, hanya mengonsumsi makanan sehat dan rutin berolahraga. Berat badan yang berlebih akan membuat tubuh semakin berat dan cepat lelah saat beraktivitas, sehingga menjadi malas beribadah. Seorang hamba hendaknya selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur dengan memanfaatkannya untuk mencari ridha Allah.

Referensi

  1. Al-Manhaj. 2020. Petunjuk Rasulullah dalam Menjaga Kesehatan. Diakses dari https://almanhaj.or.id/14986-petunjuk-rasulullah-dalam-menjaga-kesehatan.html
  2. Al-Manhaj. 2020. Nikmat Sehat dan Waktu Luang. Diakses dari https://almanhaj.or.id/14163-nikmat-sehat-dan-waktu-luang.htm
  3. Azhari, Fauzan. 2025. Pahami Mitos dan Fakta Seputar Obesitas. Diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/pahami-mitos-dan-fakta-seputar-obesitas?srsltid=AfmBOoo2L0EWqttuN5BWvQjYZaEryo61GLCUoSGgXZYUhbJpqR0yEWHA
  4. Colombia Asia. 2025. Mencegah Obesitas Pada Anak-Anak di Indonesia: Pentingnya Peran Orangtua!. Diakses dari https://columbiaasia.co.id/artikel/kesehatan/mencegah-obesitas-pada-anak-anak-di-indonesia-pentingnya-peran-orang-tua/
  5. Dinas Kesehatan DIY. 2025. Obesitas di Indonesia: Tantangan Kesehatan yang Semakin Meningkat. Diakses dari https://dinkes.jogjaprov.go.id/artikel/detail/obesitas-di-indonesia-tantangan-kesehatan-yang-semakin-meningkat
  6. Gharrieni, Ratu, etc. 2023. Faktor Risiko Penggunaan Media sosial pada Obesitas. Medula Volume 13 No. 1.
  7. Kementrian Kesehatan RI. 2025. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.01.07/MENKES/509/2025.
  8. Heartology. 2024. Waspadai Obesitas! Ketahui Penyebab dan Dampaknya yang Mengancam Kesehatan Anda. Diakses dari https://heartology.id/health-library/content/waspadai-obesitas-ketahui-penyebab-dan-dampaknya-yang-mengancam-kesehatan-anda/
  9. Murzen, Robby. 2025. Gejala Obesitas. Diakses dari https://www.alodokter.com/obesitas/gejala
  10. Murzen, Robby. 2025. Penanganan Obesitas. Diakses dari https://www.alodokter.com/obesitas/pengobatan
  11. PAPDI. 2025. Konsensus Tata Laksana Multidisiplin Obesitas Pada Dewasa. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.
  12. Widyastuti, Eka. 2025. awas Obesitas: Kurang Gerak di Era Digital. Diakses dari https://rri.co.id/kesehatan/1601061/awas-obesitas-kurang-gerak-di-era-digital