Mutiara Nasihat Muslimah
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Muslimah dan Harmoni Lingkungan

Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Hidup di lingkungan yang harmonis adalah dambaan setiap orang. Bagaimana tidak? Lingkungan yang harmonis akan menciptakan ketenangan batin yang memudahkan aktivitas serta ibadah kita dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara tentang keharmonisan lingkungan, tentu hal ini erat kaitannya dengan kehidupan bertetangga.

Islam memandang hubungan bertetangga sebagai perkara yang agung. Sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah hadits shahih bahwasanya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menyampaikan, Jibril terus-menerus mewasiatkan kepada beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tentang tetangga, sampai-sampai beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengira bahwa tetangga akan mendapat hak waris.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ุงูŽ ุฒูŽุงู„ูŽ ุฌูุจู’ุฑููŠู’ู„ู ูŠููˆู’ุตููŠู’ู†ููŠ ุจูุงู„ู’ุฌูŽุงุฑู ุญูŽุชู‰ ุธูŽู†ูŽู†ู’ุชู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุณูŽูŠููˆูŽุฑู‘ูุซู‡

โ€œJibril selalu berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira bahwa dia (Jibril) akan menetapkan warisan baginya.โ€ (HR. Bukhari no. 5669 dan Muslim no. 2625)[2]

Wasiat ini menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Sebab faktanya, percekcokan kecil dalam lingkup bertetangga sering kali menumbuhkan mudarat yang lebih besar, yang bahkan sebenarnya itu semua bermula dari perkara yang dianggap sepele, semisal dari tutur kata yang tidak dijaga.

Peran Muslimah dalam Menciptakan Harmoni Lingkungan

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, wanita kerap menjadi simpul komunikasi dan sumber informasi di lingkungan sosial. Boleh jadi melalui kegiatan arisan, grup-grup WhatsApp, atau jenis perkumpulan yang khas diikuti oleh ibu-ibu pada umumnya. Tak ayal, dari sanalah informasi mengalir begitu cepat. Di situlah pintu kebaikan maupun keburukan sama-sama terbuka.

Ketika akhlak, adab, dan ketakwaan senantiasa dijaga di manapun kita berada, maka biidznillah yang akan dipantulkan di dalam keseharian adalah lisan serta tulisan yang terjaga. Tak hanya itu, buah manis yang akan dipanen ialah ketenangan dan kehangatan suasana dalam kehidupan sosial dan bertetangga. Akan tetapi, ketika obrolan mulai melencengโ€”membahas aib, terlampau jauh mengurusi kehidupan pribadi orang lain, atau turut menyebarkan desas-desus yang belum tentu benarโ€”maka bibit-bibit ketidakharmonisan lingkungan itu mulai tumbuh. Tanpa disadari, hal tersebut juga perlahan menggerogoti ketenangan batin, mengaburkan fokus di dalam beraktivitas, serta merenggut kenikmatan tatkala beribadah, bahkan tak sedikit pula yang berimbas pada keharmonisan antar anggota keluarga.

Ketahuilah duhai akhawati fillah, sungguh kenyataannya, setiap muslimah memiliki peluang yang besar untuk menjadi pembawa ketenteraman. Bagaimana itu? Dengan akhlak kita yang indah, keramahan, membangun suasana positif, pandai mengatur diksi, pembicaraan yang sesuai porsinya, juga rasa empati atau kepekaan hati kita yang kuat. Seperti halnya pembahasan yang telah lalu tentang bagaimana seorang Muslimah berhias dengan perangai yang baik. Dengan hal-hal itulah insyaallah wanita mampu meredam banyak potensi gesekan dalam kehidupan bersosial, biidznillah. Tentu, ini semua bukan semata-mata agar kita dipandang baik, melainkan karena kita sadar bahwa keharmonisan lingkungan sangat memengaruhi kualitas hidup kita yang bertujuan untuk beribadah kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Bermula dari Obrolan yang Tak Berarah, Berakhir sebagai Ghibah

Fenomena ini adalah kenyataan yang tak bisa dielakkan. Fakta tersebut bukan untuk saling menunjuk (red: menyalahkan), akan tetapi sebagai bentuk muhasabah, saling berbenah diri bersama-sama. Biasanya, obrolan yang dimulai dengan kalimat, โ€œAku dengar katanyaโ€ฆโ€ atau โ€œSebenarnya bukan maksudku membicarakan, tetapiโ€ฆโ€ sering kali berujung pada ghibah, fitnah, bahkan namimah.

Ghibah adalah membicarakan seseorang dengan sesuatu yang ia tidak sukai meskipun fakta, dan apabila sesuatu tersebut tidaklah benar (bukan fakta), maka itu artinya fitnah. Sementara namimah adalah adu domba, yakni menyampaikan perkataan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan atau dampak yang merusak, "mengompori" hubungan antara mereka.[2] Keduanya adalah dosa besar[3] yang kerap dianggap sepele, karena seringnya itu semua dikemas dalam suasana โ€œsekadar obrolan ringanโ€. Allah โ€˜Azza wa Jalla telah memberikan peringatan di dalam firman-Nya:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธูŽู‘ู†ูู‘ ุฅูู†ูŽู‘ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ุธูŽู‘ู†ูู‘ ุฅูุซู’ู…ูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌูŽุณูŽู‘ุณููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุบู’ุชูŽุจู’ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถู‹ุง ุฃูŽูŠูุญูุจูู‘ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ูŽ ู„ูŽุญู’ู…ูŽ ุฃูŽุฎููŠู‡ู ู…ูŽูŠู’ุชู‹ุง ููŽูƒูŽุฑูู‡ู’ุชูู…ููˆู‡ู ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุชูŽูˆูŽู‘ุงุจูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ

โ€œHai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.โ€ (QS. Al-Hujurat: 12)

Pentingnya Menjaga Lisan bagi Muslimah

Sesungguhnya Islam telah mengajarkan adab yang sederhana dan jelas dalam menjaga lisan. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุขุฎูุฑู ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุงุŒ ุฃูŽูˆู’ ู„ููŠูŽุตู’ู…ูุชู’

โ€œBarang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.โ€ (HR. Bukhari no. 6019 dan Muslim no. 47)[4]

Lebih tegas lagi, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุถู’ู…ูŽู†ู’ ู„ููŠ ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ู„ูŽุญู’ูŠูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฑูุฌู’ู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽุถู’ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ

โ€œBarang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), niscaya aku menjamin surga baginya.โ€ (HR. Bukhari no. 6109)[5]

Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah salah satu amalan penting yang harus kita perjuangkan demi keselamatan diri di akhirat. Maka sudah semestinya bagi para muslimah untuk bersungguh-sungguh dalam melatih dirinya dalam menjaga lisan, bukan hanya perihal pemilihan diksi (semisal tidak berkata kasar), tetapi juga dalam memilih topik, niat berbicara, dan dampak dari setiap ucapan yang keluar dari lisan tersebut agar tidak menyakiti hati siapapun bahkan menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Wahai Saudariku, sadarilah bahwa selama kita tidak memiliki kesungguhan dan tekad yang kuat untuk menjaga amal-amal shalih yang dilakukan, maka sepanjang itu pula kita akan lalai dalam menjaga tutur kata dan tulisan jemari kita. Sejatinya, dosa yang disebabkan karena lisan (dan tulisan), akan menggerogoti amal-amal shalih seseorang. Kita berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang muflis (red: bangkrut) di akhirat disebabkan lisan yang tak terjaga.

Tips Menghindari Obrolan yang di Luar Batas

Menolak atau mengalihkan pembicaraan yang mulai melenceng di tengah-tengah perkumpulan memang bukanlah perkara yang mudah. Diperlukan diksi dan sikap yang bijak agar tidak melukai perasaan atau merusak suasana, namun tetap tegas dalam menjaga prinsip.

Ketika situasi itu terjadi, setidaknya ada beberapa contoh kalimat penolakan halus yang bisa kita gunakan demi menghindari mudarat misalnya, โ€œSaya kurang nyaman kalau membahas iniโ€, โ€œKita doakan saja, ya, semoga urusan mereka dimudahkanโ€, dan lain sebagainya.

Jika obrolan itu tetap berlanjut, tidak ada salahnya kita menghindar atau pamit secara halus dari perkumpulan tersebut dengan menyampaikan dalih yang masuk akal, demi menyelamatkan diri kita dari dosa dan dampak buruk yang tidak kita inginkan.

Menyikapi Tetangga yang Sensitif atau Mudah Tersinggung

Fakta di lapangan yang harus kita pahami adalah tidak semua orang memiliki tingkat kedewasaan emosional yang matang. Ada orang yang mudah tersinggung, mudah salah paham, kurang pandai bersosialisasi, dan lain sebagainya. Maka, senantiasa meminta pertolongan kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla agar diberi taufik dan dibiasakan dalam menjaga lisan, akhlak, dan adab di lingkungan sosial adalah hal yang tak boleh luput dari doa-doa dan usaha kita. Itu adalah salah satu kunci utama dari keharmonisan lingkungan.

Langkah berikutnya, usahakan untuk menjadi pribadi yang tenang, tidak reaktif saat terjadi suatu gesekan dalam lingkungan sosialโ€” seperti bertetangga. Tidak semua hal harus selalu langsung ditanggapi dan diklarifikasi, apalagi dengan menggebu-gebu. Nyatanya, dalam keadaan emosi, seseorang cenderung tidak dapat berpikir dengan jernih karena dikuasai oleh hawa nafsunya, sehingga sering kali malah melakukan tindakan atau mengucapkan kata-kata yang justru memperkeruh suasana. Ini menunjukkan pentingnya untuk memiliki sifat al-hilm dan al-anaah.

Apa itu al-hilm dan al-anaah? Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya,

ุฅูู†ูŽู‘ ูููŠู’ูƒูŽ ุฎูŽุตู’ู„ูŽุชูŽูŠู’ู†ู ูŠูุญูุจูู‘ู‡ูู…ูŽุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุญูู„ู’ู…ู ูˆูŽุงู„ุฃูŽู†ูŽุงุฉู

โ€œSesungguhnya kamu memiliki dua akhlak yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu sifat al-hilm (mampu menahan emosi) dan al-anaah (sikap tenang dan tidak tergesa-gesa).โ€ (HR. Muslim no. 17)[6]

Selain mengusahakan dua sifat ini, menurunkan ego untuk mengalah dan tetap berusaha berbuat baik kepada pihak yang โ€œbermasalahโ€ juga bisa menjadi upaya yang bernilai pahala yang besar di sisi Allahโ€”jika kita mengikhlaskan niat karena-Nyaโ€”karena kita tahu bahwa mengalah dan menurunkan ego itu berat, terlebih lagi untuk terus berusaha berbuat baik kepada seseorang yang sedang bermasalah dengan kita.

Kendati hukum asalnya ialah yang bersalah yang meminta maaf, akan tetapi, terkadang kita perlu mencapai level tertinggi dari menghadapi konflik. Bukan lagi tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan siapa yang mampu bermuhasabah diri dan mengusahakan perdamaian karena mengharapkan Wajah Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Menjadi Penengah Sekaligus Teladan

Ketika berada di suasana lingkungan yang tidak ideal, seorang muslimah dapat mengambil peran sebagai penengah jika diperlukan. Bukan untuk membela salah satu pihak, melainkan untuk menjaga ikatan persaudaraan, serta untuk kemaslahatan yang jauh lebih besar, yakni ketenangan hidup dan nikmat beribadah kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Akhawati rahimakunnallah, hendaklah kita terus berusaha dan memohon pertolongan dari Allah agar senantiasa dimudahkan untuk menjaga lisan, menjauhi ghibah, fitnah dan namimah, serta memberikan teladan yang nyata dalam berakhlak baik. Tunjukkan bahwa akhlak yang baik adalah sumber ketenangan hidup dan sebab baiknya kualitas ibadah kita kepada Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Selain itu, ingatlah duhai akhawati fiddin, bahwa seorang ibu adalah teladan pertama bagi anak-anaknya. Maka, cara seorang ibu dalam berbicara tentang tetangga, menyikapi konflik, menjaga lisan dan akhlak akan terekam kuat dalam ingatan mereka serta biidznillah akan membentuk karakter mereka kelak. Rumah yang dipupuk dengan akhlak dan adab yang baik, insyaallah akan menumbuhkan generasi yang menciptakan kedamaian lingkungan.

Dampak Positif Menjaga Harmoni Lingkungan

Ketika akhlak dan lisan saling dijaga, maka suasana lingkungan menjadi lebih hangat, hati lebih tenang, ibadah lebih khusyuk, dan hubungan sosial yang lebih sehat. Dengan demikian, lingkungan yang damai juga akan mempererat persaudaraan yang tak lain menjadi ladang pahala bagi kita semua.

Percayalah bahwa di setiap keramahan tutur kata yang baik, dan usaha kita mengontrol diri dalam menyikapi โ€œgesekanโ€ atau konflik di lingkungan sosial, insyaallah akan bernilai pahala yang besar di sisi Allah โ€˜Azza wa Jalla ketika kita mengikhlaskan niat karena-Nya. Ingatlah selalu sabda Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berikut,

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ููู’ู‚ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽูƒููˆู†ู ููู‰ ุดูŽู‰ู’ุกู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฒูŽุงู†ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูู†ู’ุฒูŽุนู ู…ูู†ู’ ุดูŽู‰ู’ุกู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุดูŽุงู†ูŽู‡ู

โ€œSesungguhnya kelembutan tidaklah diberikan pada segala urusan melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan ditarik dari tiap urusan kecuali akan menjadikannya burukโ€. (HR. Muslim no. 2594)[7]

Mungkin ada kalanya terasa berat, namun ingatlah bahwa untuk memanen buah-buahan yang manis, harus ada usaha untuk merawatnya dengan baik. Maka, membiasakan diri dengan hal-hal yang tadi telah disebutkan, insyaallah kelak akan berbuah manis, yakni keharmonisan lingkungan, nikmat beribadah, hingga ketenangan abadi di surga bagi orang-orang yang berimanโ€”sebuah balasan dari Rabb Tabaraka wa Taโ€™ala, atas upayanya menjaga ukhuwah dan akhlak yang baik ketika di dunia.

Semoga Allah โ€˜Azza wa Jalla menjadikan kita semua sebagai bagian dari penghuni surga itu, dengan menjadi muslimah penyubur kedamaian, perawat harmoni, dan teladan yang baik di setiap lingkungan, di mana pun kita berada. Amin. Waffaqanallah.


Referensi

  1. Al-Qurโ€™anul Karim.
  2. Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Maktabah Syamilah.
  3. Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.
  4. Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin Abdirrahman Al-โ€˜Ammar, Kunuz Riyadhis Shalihin, diakses darihttps://waqfeya.net.