Menuntut Ilmu Kewajiban Seumur Hidup
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M. A.
Khotbah Pertama
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ شَرَّفَ الْعِلْمَ وَأَهْلَهُ، وَرَفَعَ بِهِ أَقْوَامًا، وَجَعَلَهُ نُوْرًا لِلْقُلُوْبِ وَحَيَاةً لِلْبَصَائِرِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيْمَانِ، وَنَسْأَلُهُ زِيَادَةَ الْعِلْمِ وَثَبَاتَ الْيَقِيْنِ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهٌ أَمَرَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، إِمَامُ الْعُلَمَاءِ، وَقَائِدُ الْمُتَّقِيْنَ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ هِيَ أَسَاسُ الْعِلْمِ، وَمِفْتَاحُ الْفَهْمِ، وَسَبَبُ الْقَبُوْلِ وَالْهُدَى، وَمَنْ فَقَدَ التَّقْوَى حُرِمَ بَرَكَةَ الْعِلْمِ وَنَفْعَهُ
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Ketahuilah bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi yang singgah di telinga, bukan pula sekadar hafalan yang tersimpan di kepala dan bukan hanya wawasan yang membuat seseorang pandai berbicara. Ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati seorang hamba yang dengannya ia mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara sunnah dan bid’ah, serta antara petunjuk dan kesesatan.
Tanpa ilmu, iman menjadi rapuh. Tanpa ilmu, ibadah mudah menyimpang. Tanpa ilmu, seseorang bisa merasa paling benar, padahal ia sedang melangkah di jalan yang salah.
Allah Ta’ala sejak awal menurunkan wahyu telah menegaskan bahwa agama ini dibangun di atas ilmu. Wahyu pertama yang turun bukan perintah shalat, bukan perintah puasa, melainkan perintah untuk membaca dan belajar. Allah Ta’ala berfirman,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan.” (QS. Al -‘Alaq: 1)
Jalan menuju Allah harus ditempuh dengan ilmu, bukan dengan kebodohan, perasaan atau sekadar tradisi. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman-Nya,
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Hal ini karena orang berilmu lebih dekat kepada Allah daripada orang beriman lainnya.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Rasulullah menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban yang tidak boleh ditawar, menuntut ilmu bukan pilihan tapi keharusan. Beliau bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224)
Kewajiban ini tidak gugur hanya karena usia bertambah, jabatan meningkat, atau kesibukan dunia yang menumpuk. Justru semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kebutuhannya terhadap ilmu agama sehingga kewajiban menuntut ilmu juga semakin bertambah.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Pada zaman ini, kita hidup di tengah kemudahan teknologi. Kajian tersedia di gawai, ceramah bisa didengar sambil bekerja, dan ilmu seakan berada dalam genggaman tangan. Namun, kemudahan ini justru melahirkan penyakit baru: merasa cukup dengan ilmu yang sedikit. Budaya serba instan membuat sebagian orang mengira bahwa ilmu bisa diraih tanpa kesungguhan, kesabaran, dan adab.
Potongan video pendek dianggap sudah cukup untuk merasa paham dalam urusan agama. Merasa sudah jadi ahli ilmu, berani mengkritik para ulama dengan membuat video atau tulisan di media sosial. Sungguh, ini adalah bentuk buruknya adab seseorang.
Banyak orang berani berbicara tentang halal dan haram hanya bermodal potongan video pendek. Banyak yang merasa cukup dengan mendengar satu ceramah, lalu menyimpulkan sendiri hukum agama. Bahkan, ada yang merasa tidak butuh guru, tidak butuh majelis, cukup belajar sendiri dari layar gawai atau komputer. Padahal, para ulama sepakat bahwa ilmu tanpa guru rawan menjerumuskan seseorang.
Bandingkan kondisi ini dengan generasi salaf. Mereka memahami bahwa ilmu adalah sesuatu yang mahal dan agung. Mereka memperhatikan adab, bukan hanya memiliki ilmu dalam bentuk pengetahuan semata.
Abdullah bin Mubarak menuturkan,
كَادَ الْأَدَبُ أَنْ يَكُوْنَ ثُلُثَيِ الدِّينِ
“Hampir saja adab itu sepertiga bagian dari agama.” (Shifatus Shafwah, 1/330)
Adab memiliki kedudukan besar dalam agama. Tanpa adab yang baik, ilmu seolah tidak berguna bagi pemiliknya.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Kita harus memahami bahwa ilmu tidak mungkin diraih dengan sikap tergesa-gesa. Ilmu bukan produk instan yang bisa dikonsumsi satu kali cidukan. Ilmu adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan dan pengorbanan. Oleh karena itu, para ulama salaf selalu menanamkan kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah usaha dan perjuangan seumur hidup.
Wahai, para pemuda Islam!
Ketahuilah bahwa masa muda adalah masa paling berharga untuk menuntut ilmu. Jangan habiskan masa muda hanya untuk menikmati hiburan, menonton layar tanpa manfaat dan perdebatan kosong tanpa makna. Para ulama besar memulai perjalanan ilmunya sejak usia belia seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Nawawi, Ibnul Jauzi, dan ulama lainnya. Mereka menyadari betapa berharga masa muda sehingga mereka gunakan pula untuk hal yang paling berharga yaitu meraih ilmu sebanyak-banyaknya.
Jika masa muda berlalu tanpa ilmu, penyesalan akan datang ketika menua. Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu luang, sehat dan kesempatan hidup sebelum datang kesibukan, sakit dan kematian.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Selain kesungguhan dalam menuntut ilmu, ada perkara besar yang sering dilupakan, yaitu mengamalkan ilmu. Sungguh, Ilmu yang tidak diamalkan bukan hanya tidak bermanfaat, bahkan bisa menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Betapa berbahaya ilmu yang berhenti pada lisan dan pengetahuan semata, tanpa tercermin dalam amal perbuatan. Ilmu yang sejati adalah ilmu yang menundukkan hati, membenahi akhlak, dan mendorong ketaatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al-Qur’an itu menjadi hujjah (pembela) bagimu atau hujjah (musuh) atasmu.” (HR. Muslim nomor 223).
Sehingga, siapa saja yang mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah lalu mengamalkannya, ia akan selamat. Namun siapa yang mengetahuinya lalu mengabaikannya, maka ilmu itu akan menuntutnya pada Hari Kiamat.
Oleh karena itu, tujuan menuntut ilmu bukanlah untuk memperbanyak informasi, memenangkan perdebatan, atau mendapatkan pengakuan manusia. Tujuan ilmu adalah agar kita semakin takut kepada Allah dan semakin taat kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut, tawaduk dan amal saleh. Jika ilmu justru melahirkan kesombongan, meremehkan orang lain dan malas beramal, patut kita khawatirkan keikhlasan dan kebenaran ilmu tersebut.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Mulailah mengamalkan ilmu dari hal-hal yang paling dekat. Jika kita tahu keutamaan shalat berjamaah, jagalah shalat berjamaah. Jika kita tahu bahaya ghibah, tahanlah lisan. Jika kita tahu kewajiban menuntut ilmu, sediakan waktu khusus untuk belajar agama secara rutin sesuai dengan keadaan, kemampuan, dan kebutuhan kita.
Khotbah Kedua
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْعِلْمِ وَالْهِدَايَةِ، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَجْعَلَ مَا عَلَّمَنَا حُجَّةً لَنَا لَا عَلَيْنَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْعِلْمَ لَا يُطْلَبُ لِلتَّفَاخُرِ، وَلَا لِلتَّصَدُّرِ، وَلَكِنْ يُطْلَبُ لِلْعَمَلِ وَالْخَشْيَةِ.
Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.
Menuntut ilmu tidak mengenal kata pensiun atau selesai belajar. Anak Imam Ahmad bernama Shalih menyatakan, “Seorang laki-laki melihat ayahku membawa tinta, kemudian ia bertanya, ‘Wahai Abu Abdillah, kamu sudah mencapai kedudukan tinggi, bahkan engkau imam kaum muslimin, mengapa engkau masih belajar?’ Ayahku menjawab, ‘Aku akan selalu membawa tinta sampai aku masuk kubur.” (Manaqib Imam Ahmad: 37)
Bahkan, banyak ulama yang masih belajar di masa tua mereka hingga nafas terakhir mereka. Selama nyawa masih dikandung badan, selama itu pula kewajiban menuntut ilmu melekat pada diri kita.
Jangan sampai kita sibuk menyiapkan harta untuk masa depan dunia, namun lalai menyiapkan ilmu untuk masa depan yang sebenarnya yaitu akhirat. Jangan sampai kita rajin bekerja, tetapi malas menghadiri majelis ilmu, sebab ilmu adalah bekal terbaik untuk bertemu Allah.
Di akhir khotbah ini mari kita bershalawat untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum melanjutkan doa. Sebagaimana Allah perintahkan dalam Al-Qur’an,
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَيَقِيْنًا، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا لَا عَلَيْنَا
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Referensi
- Sunan Ibni Majah, Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Manaqib Imam Ahmad, Ibnul Jauzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.