Menuntut Ilmu di Era Digital: Antara Kemudahan dan Kegigihan
Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.
Editor: Athirah Mustadjab
Di era digital, ilmu agama dapat diakses dengan sangat mudah, melalui video ceramah, e-book, dan artikel yang tersedia hanya dengan sentuhan layar. Kondisi ini sangat berbeda dengan masa para ulama terdahulu yang harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan sedikit pengetahuan. Namun, kemudahan ini memunculkan pertanyaan penting: apakah akses yang begitu mudah membuat kita semakin menghargai ilmu, atau justru membuat kita meremehkannya? Artikel ini membahas realitas tersebut, serta membandingkannya dengan kesungguhan para salaf dalam mencari ilmu.
Ilmu dalam Genggaman, Mengapa Kian Diremehkan?
Internet menjadikan ilmu sangat mudah diakses, layaknya perpustakaan dalam genggaman. Akan tetapi, kemudahan ini memunculkan efek samping: ketika pengetahuan terasa terlalu mudah didapat, ia sering dianggap murah dan kurang dihargai.
Generasi digital berpotensi terjangkiti perasaan “sudah tahu” dengan modal menonton satu video atau mencari jawaban di internet, padahal itu baru pengetahuan yang dangkal. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa akses informasi instan membuat orang merasa lebih pintar daripada kenyataannya[1]. Akibatnya, muncul ilusi belajar: banyak informasi di layar, tetapi sedikit penguasaan mendalam.
Fenomena pengetahuan instan, budaya serba cepat, dan konten singkat membuat banyak orang terbiasa belajar dari platform seperti TikTok dan Instagram Reels yang memanjakan dengan video 60 detik yang menghibur sekaligus “mengajarkan” sesuatu. Namun, konsumsi berlebihan konten dangkal menurunkan fokus dan daya kognitif, sebuah fenomena yang kini disebut brain rot. Gejalanya terlihat pada doomscrolling, kecemasan tanpa gawai, dan sulitnya menikmati bacaan atau kajian mendalam[2]. Akibatnya, generasi digital lebih sering mengonsumsi “fast food informasi” daripada ilmu yang membutuhkan fokus dan atensi yang panjang.
Distraksi Digital dan Krisis Konsentrasi
Era digital membuat penuntut ilmu semakin mudah terdistraksi. Notifikasi gawai memecah fokus, rekomendasi postingan media sosial pun terasa sayang untuk diabaikan, sehingga lahirlah kebiasaan multitasking yang kelewat kerap. Distraksi digital ini menjadikan proses belajar hanya terserap di permukaan karena perhatian terus terbelah antara materi pelajaran dan layar gawai[3].
Survei global Cambridge International menunjukkan bahwa 67% siswa di Indonesia menggunakan gawai di kelas. Angka ini lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain. Sebanyak 81% siswa menggunakannya untuk mengerjakan tugas, tetapi gangguan yang muncul tetap signifikan karena gawai juga menjadi pintu masuk media sosial dan pesan instan[4]. Dampaknya bukan sekadar waktu belajar yang terbuang, tetapi juga kesehatan mental. Sebuah riset menggambarkan kondisi ini sebagai continuous partial attention: otak selalu setengah fokus, setengah waspada pada notifikasi[5]. Ditambah lagi tren FOMO, yang membuat orang sibuk mengejar konten ilmu yang sedang tren tanpa menekuni satu disiplin secara tuntas. Akibatnya muncul ilusi kepahaman dan seringnya terpapar cuplikan, tetapi miskinnya pendalaman. Tak heran jika daya konsentrasi belajar, bahkan kekhusyukan ibadah, perlahan ikut melemah[6].
Lenyapnya Adab dan Etika di Majelis Maya
Di era digital, adab menuntut ilmu cenderung terkikis. Interaksi online membuat rasa hormat pada guru menipis, komentar kasar membuat hati teriris, dan debat kusir menjadikan norma kian terkikis. Banyak orang kini belajar agama tanpa guru dan sanad, hanya mengandalkan Google dan konten viral, padahal dalam Islam, selektif dalam memilih sumber ilmu adalah fondasi kebenaran; belajar tanpa bimbingan ibarat naik ke atap tanpa tangga, rentan tergelincir.
Patut disedihkan tatkala generasi sekarang menyepelekan pentingnya sanad. Ada yang berkata, “Yang penting ‘kan isi ceramah, tak perlu tahu gurunya belajar dari siapa.” Akibatnya, muncul ustadz karbitan yang viral bukan karena kemantapan ilmu, tetapi lebih pada kepiawaian retorika di media sosial. Lebih parah lagi, netizen muslim kadang terjebak fanatisme figur di dunia maya, memilih guru semata karena populer lalu membela membabi-buta, atau sebaliknya menghujat ulama lain dengan kata-kata kasar. Adab berbeda pendapat pun hilang; caci maki berseliweran di kolom komentar, bahkan kepada ulama sepuh sekalipun. Ini tentu berseberangan dengan akhlak salaf.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyatakan bahwa suatu masalah bersifat qath‘i tidaklah berarti mencela para mujtahid yang menyelisihinya, sebagaimana pada masalah-masalah yang juga diperselisihkan oleh para salaf.”[7]
Etika juga diuji dalam hal ghibah dan namimah online. Di forum atau grup, tampaknya orang semakin mudah menjelekkan ustadz/guru di belakangnya, atau menyebar fitnah ke sesama penuntut ilmu. Hilangnya rasa malu dan sikap santun adalah dampak sampingan era kebebasan digital, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
إذا لَمْ تَسْتَحْيِ فافْعَلْ ما شِئْتَ
“Apabila kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukanya.” (HR. Bukhari, no. 3483)
Hadits ini peringatan bahwa malu adalah benteng moral. Ketika benteng itu runtuh, adab pun luruh.
Perjuangan Salaf dalam Menuntut Ilmu
Coba bayangkan atmosfer keilmuan di masa lampau. Al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Al-Adab Al-Mufrad bercerita tentang seorang pemuda yang bernama Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia melakukan perjalanan sekitar satu bulan jauhnya untuk mendapatkan satu hadits dari Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu di Syam. Ketika tiba, Jabir berkata bahwa ia datang hanya untuk mendengar langsung hadits tersebut karena tak ingin wafat sebelum mengetahuinya[8]. Subhanallah, begitu tingginya penghargaan mereka terhadap satu ilmu, satu hadits pun dikejar hingga ratusan kilometer jauhnya! Abdullah bin Unais terperanjat melihat jarak yang ditempuh Jabir demi satu sabda Nabi.
Berpindah ke Imam Ahmad rahimahullah dalam menuntut ilmu, beliau mulai menuntut hadis ketika berusia enam belas tahun. Ia pergi ke Kufah pada tahun 183 H, dan itu adalah perjalanan pertamanya. Kemudian ia pergi ke Bashrah pada tahun 186 H. Lalu ia pergi menemui Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah di Makkah pada tahun 187 H; itulah tahun pertama ia menunaikan ibadah haji. Selanjutnya ia pergi menemui ‘Abdurrazzaq rahimahullah di San‘a’, Yaman, pada tahun 197 H, dan dalam perjalanan tersebut ia ditemani Yahya bin Ma‘in rahimahullah[9].
Bandingkan dengan kondisi kita sekarang: Kitab PDF bertebaran gratis, kajian live streaming tiap hari, tetapi apakah semangat mengejar ilmu itu sama? Ironisnya, justru ketika ilmu menghampiri lewat internet, kegigihan menjemputnya melemah. Tak perlu berjalan kaki berbulan-bulan, cukup duduk di rumah, tetapi berapa banyak dari kita yang mau duduk berjam-jam konsentrasi mendengarkan kajian utuh?
Berbeda dengan salaf yang bersusah payah demi ilmu, kita kerap puas dengan kemudahan dan enggan belajar secara tekun dan utuh. Perbandingan ini bukan untuk meratapi, melainkan menyadarkan bahwa ketekunan dan adab salaf tetap relevan. Di era serba cepat, kita perlu menghidupkan kembali penghormatan terhadap ilmu dan kesungguhan dalam mencarinya. Dahulu pernah dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan sebagian darinya kepadamu sampai engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya.”[10]
Ketekunan vs Serba Instan: Merajut Kembali Stamina Belajar
Di era serba-cepat, kita terbiasa hasil kilat, pesan kilat, belanja kilat, bahkan menjawab pertanyaan kilat lewat Google. Namun, sadarkah kita bahwa ilmu yang hakiki tidak bisa serba kilat? Ia seperti pohon yang tumbuh perlahan, perlu disiram rutin, dijaga dari hama, barulah berbuah mantap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ له به طَرِيقًا إلى الجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Para salaf memahami benar hal ini, mereka menempuh perjalanan jauh demi satu hadis, berguru bertahun-tahun pada satu syaikh, menahan lapar demi membeli tinta, dan membaca kitab hingga lampu minyak padam. Tantangan mereka adalah fisik dan jarak, tetapi ketangguhan mereka membuat ilmu benar-benar mengakar. Sementara itu, grit asatidzah masa kini bertempur dalam medan yang berbeda: tetap membuka kitab di sela amanah dakwah, konsentrasi untuk ilmu dan dakwah di antara kewajiban memenuhi nafkah untuk keluarga, istiqamah talaqqi di tengah jadwal padat, menjaga fokus dari riuh notifikasi, serta menundukkan diri untuk terus muraja’ah ketika dunia digital menggoda tanpa henti. Penelitian tentang grit dan keterlibatan akademik menegaskan bahwa dimensi perseverance (ketekunan jangka panjang) secara signifikan meningkatkan kualitas dan keterlibatan belajar[11], sejalan dengan spirit kesabaran salaf dan teladan keteguhan para asatidzah.
Berkaca dari semua itu, kita perlu membangun stamina belajar secara bertahap: menamatkan buku setebal apa pun selembar demi selembar, melatih fokus dari 15 menit lalu meningkat perlahan, serta menjauhkan gawai bahkan mematikan internet agar otak terbiasa dengan keheningan. Kita juga harus berdamai dengan bosan, karena ilmu kadang melelahkan dan tidak selalu menghibur. Di sinilah kegigihan diuji, tetap membaca saat mata letih, tetap menyimak saat hati jenuh sebab musuh terbesar belajar hari ini adalah diri sendiri yang mendamba hiburan instan.
Pepatah “man jadda wajada” mengajarkan bahwa hasil lahir dari kesungguhan; di era modern, kesungguhan itu tampak dalam disiplin belajar, menahan distraksi, dan mendahulukan kitab daripada layar. Oleh karena itu, konsistensi adalah kunci karena sesuatu yang kuantitasnya sedikit tetapi dilakukan secara ajeg akan lebih melekat daripada yang kuantitasnya banyak tetapi terputus. Alhasil, konsistensi akan membuat seseorang menjadikan belajar sebagai kebutuhan rohani, bukan lagi beban.
Hakikat Ilmu: Di antara Proses dan Kesabaran
Zaman boleh berubah dan teknologi terus berkembang, tetapi hakikat ilmu tetap sama: ia tidak betah berada di hati yang ingin serba cepat. Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar informasi, melainkan penempaan jiwa yang menuntut ketenangan, kesabaran, dan kesediaan menjalani proses panjang. Imam Malik rahimahullah menyatakan bahwa ilmu bukan diukur dari banyaknya bacaan, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati[12].
Sejalan dengan itu, riset pendidikan modern menunjukkan bahwa pemahaman mendalam hanya lahir dari belajar yang lambat, fokus, dan penuh perjuangan, bukan dari ringkasan instan atau kebiasaan multitasking[13].
Ulama salaf mengajarkan bahwa proses adalah inti pendidikan sejati. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menegaskan pentingnya mencatat, menghafal, dan mengulang[14], sementara Al-Qur’an sendiri menghadirkan kisah Musa dan Khidr ‘alaihimassalam sebagai pelajaran bahwa ilmu membutuhkan kesabaran (QS. Al-Kahfi: 67). Para ulama salaf, bahkan, menghabiskan puluhan tahun dalam pencarian ilmu dan menyimpulkan bahwa tak ada ilmu tanpa kesabaran. Ini ditegaskan pula oleh penelitian kontemporer yang membuktikan bahwa effortful learning membentuk daya ingat lebih kuat, pemahaman lebih dalam, dan kematangan sikap[15].
Ilmu sejati menuntut duduk lama, bukan sekadar secara fisik, tetapi juga mental: mengosongkan diri, tidak tergesa-gesa, dan rela mengulang sampai paham. Psikologi menyebutnya sustained attention, kemampuan fokus jangka panjang yang terbukti meningkatkan pemahaman hingga beberapa kali lipat[16].
Ringkasnya, proses lebih penting daripada hasil. Ia melatih kerendahan hati, membangun stamina belajar, menajamkan kehati-hatian memilih guru dan sumber, serta menumbuhkan keberkahan. Ilmu tidak memilih hati yang ingin serba cepat, tetapi menetap pada jiwa yang sabar menapaki perjalanan panjang menuju cahaya pemahaman.
Bijak Memanfaatkan Teknologi dan Tetap Menjaga Adab
Setelah mengurai masalah, tiba saatnya merumuskan solusi. Bagaimana generasi muda dapat memanfaatkan kemudahan era digital tanpa terperosok dalam distraksi dan sikap instan? Berikut ini beberapa kiat yang bisa diterapkan.
1. Fokus dari dasar dan jangan kebanyakan program.
Banyaknya kajian dan kelas online justru membuat proses pembelajaran menjadi tidak fokus dan hasilnya dangkal. Dengan demikian, mulailah dari dasar (aqidah, Al-Qur’an, ibadah, dan akhlak), pilihlah program belajar yang terstruktur, lalu tekunilah dengan sungguh-sungguh. Lebih baik sedikit tetapi dibarengi keistiqamahan ketimbang banyak tetapi berceceran tanpa keteraturan. Kunci belajar bukan banyak program, melainkan fokus, konsistensi, dan kedalaman pemahaman.
2. Membuat jadwal belajar rutin yang realistis.
Disiplinkan diri dengan alokasi waktu khusus untuk belajar setiap hari, misalnya pasang target satu jam setiap pagi atau setelah Isya tanpa gangguan. Patuhi jadwal ini layaknya menghadiri kelas formal untuk melatih diri menomorsatukan ilmu di atas hiburan. Namun, sesuaikan dengan kondisi tubuh, pekerjaan, dan tanggung jawab yang ada.
3. Batasi distraksi digital.
Ketika waktu belajar tiba, aktifkan mode do not disturb di ponsel atau gunakan aplikasi yang memblokir media sosial sementara. Bisa juga dengan memberi tahu teman bahwa pada jam tertentu Anda sedang tidak bisa dihubungi karena sedang belajar, sehingga Anda tidak tergoda untuk menjawab chat.
4. Literasi digital dan selektif dalam memilih sumber.
Kemudahan akses menuntut kita selektif dalam memilih sumber. Utamakan guru dan lembaga kredibel serta bermanhaj lurus, jauhi konten-konten dangkal atau penuh perdebatan, dan ikuti pembelajaran online dengan adab sebagaimana di majelis ilmu.
5. Seimbangkan belajar offline dan online.
Belajar online memang mudah, tetapi utamakan belajar tatap muka untuk menumbuhkan adab dan menjaga hidupnya roh ilmu. Di samping itu, gunakan materi digital sebagai pelengkap dan muraja’ah di rumah, bukan sebagai pengganti total.
6. Jaga adab di dunia maya.
Perlakukan guru di majelis online dengan penuh adab, sama seperti guru offline: bersikap sopan, hindari debat dan ghibah di belakang, serta biasakan tabayyun dan husnuzhan. Apabila ada sesuatu yang dirasa kurang tepat, ingatkan secara pribadi tanpa perlu diumbar ke publik.
7. Gunakan teknologi untuk halaqah ilmu.
Buatlah grup diskusi ilmiah dengan teman-teman penuntut ilmu untuk saling berbagi rangkuman buku, menghafal hadits bersama, atau setoran hafalan Al-Qur’an via Zoom. Banyak aplikasi pendukung belajar sunnah, seperti aplikasi hadits, Al-Qur’an interaktif, bekal Islam, hingga aplikasi majalah dan rekaman kajian. Gunakan teknologi ini untuk menambah intensitas belajar di sela kesibukan.
Penutup
Jangan lupa mohon pertolongan Allah dalam perjalanan menuntut ilmu ini. Era digital boleh canggih, tapi hidayah dan pemahaman tetap Allah yang beri. Panjatkan doa yang diajarkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an,
رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.” (QS. Thaha: 114)
Sebagai pengingat bahwa solusi zaman adalah menambah ilmu dengan adab dan usaha yang benar.
Menuntut ilmu tetap wajib di setiap era, bahkan menjadi jihad tersendiri di tengah godaan digital. Bukan mustahil generasi muda sekarang bisa lebih hebat dari generasi sebelumnya dalam menguasai ilmu, asalkan mau mengimbanginya dengan kegigihan dan kesungguhan seperti para salaf. Kemudahan teknologi adalah alat, sementara kunci utamanya tetap pada semangat, disiplin, dan adab kita sendiri.
Demikian yang bisa penulis jelaskan tentang menuntut ilmu di era digital dan membandingkannya dengan kesungguhan para salaf dalam mencari ilmu. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah subhanahu wata’ala dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi taufiq ila aqwamith thariq.
Referensi
- Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
- Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
- Al-Adab Al-Mufrad, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Takhrij sesuai hukum Syaikh Al-Albani, MaktabahAl-Ma’arif-Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1419 H/1998 M.
- Al-Manhaj Al-Ahmad Fi Tarajim Ash-habi Al-Imam Ahmad, Mujiruddin Abul Yumn Abdurrahman bin Muhammad Al-‘Ulaimi, Tahqiq Abdul Qadir Al-Arnauth, Dar Ash-Shadir, Beirut, Cet. 1, Tahun 1997 M.
- Al-Fatawa Al-Kubra, Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim Ibn Taimiyah Al-Harrani, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, Tahun 1408 H/1987 M.
- Tadzkirah As-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fi Adab Al-‘Alim Wa Al-Muta’allim, Badruddin bin Ibrahim Ibnu Jama’ah, Tahqiq Muhammad Hasyim An-Nadwi, Dairah Al-Ma’arif, Cet. Tahun 1354 H.
- Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlihi, Abu Umar Yusuf bin Abdul Bar, Tahqiq Abul Asybal Az-Zuhairi, Dar Ibn Al-Jauzi, KSA, Cet. 1, Tahun 1414 H/1994 M.
- Shaid Al-Khathir, Jamaluddin Abul Faraj Abdurrahman bin ‘Ali Al-Jauzi, Dar Al-Qalam, Damaskus, Cet. 1, Tahun 1425 H/2004 M.
- Hathaway, Bill. Online Illusion: Unplugged, We Really Aren’t That Smart | Yale News. 31 Maret 2015, https://news.yale.edu/2015/03/31/online-illusion-unplugged-we-really-aren-t-smart, Diakses 25 November 2025.
- Yousef, Ahmed Mohamed Fahmy, dkk. “Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A Review.” Brain Sciences, vol. 15, no. 3, Maret 2025, hlm. 283. https://doi.org/10.3390/brainsci15030283.
- Martin, Florence, dkk. “Digital Distractions in Education: A Systematic Review of Research on Causes, Consequences and Prevention Strategies.” Educational Technology Research and Development, Agustus 2025. https://doi.org/10.1007/s11423-025-10550-6.
- Indonesian students among the world’s highest users of technology.
- https://www.cambridgeinternational.org/news/news-details/view/indonesian-students-among-the-worlds-highest-users-of-technology-27-nov2018/?, Diakses 25 November 2025.
- Datu, Jesus Alfonso D., dkk. “Grit, Academic Engagement in Math and Science, and Well-Being Outcomes in Children during the COVID-19 Pandemic: A Study in Hong Kong and Macau.” School Psychology International, vol. 44, no. 4, Agustus 2023, hlm. 489–512. https://doi.org/10.1177/01430343221147273.
- Labibah Azzahra, dkk. “Trend FOMO Mahasiswa UIN Suska Riau.” Journal of Creative Student Research, vol. 2, no. 4, Juli 2024, hlm. 86–95. https://doi.org/10.55606/jcsr-politama.v2i4.3999.
- Mazid, Afrin, dkk. “How Deep Work Drives Student Engagement Amid Smartphone Distraction and Attention Control: A Mediation-Moderation Analysis.” Psychological Reports, September 2025, hlm. 00332941251377396. https://doi.org/10.1177/00332941251377396.
- De Bruin, Anique B. H. “Dealing with Desirable Difficulties: Supporting Students to Accept, Reduce, or Silence Effort.” Medical Science Educator, Oktober 2023. https://doi.org/10.1007/s40670-023-01911-y.
- Gallen, Courtney L., dkk. “Contribution of Sustained Attention Abilities to Real-World Academic Skills in Children.” Scientific Reports, vol. 13, no. 1, Februari 2023, hlm. 2673. https://doi.org/10.1038/s41598-023-29427-w.