Menjadikan Anak Sebagai Penyeru Kebaikan
Penulis: Indah Ummu Halwa
Editor: Za Ummu Raihan
Membiasakan anak jeli terhadap hal yang ma'ruf atau munkar adalah salah satu bentuk pendidikan yang baik, sehingga mereka peka dan tidak mudah terbawa.
Bekal bagi Orang Tua
1. Doa
Senantiasa melazimkan doa atas urusan kita adalah hal penting. Sebab, para orang tua tentu membutuhkan kekuatan dan kemampuan untuk mendidik anak-anaknya. Tidak ada yang mampu memberikan semua itu kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan kesungguhan di waktu-waktu mustajab, agar memberikan kepada kita taufik dalam mendidik mereka. Selanjutnya, memohonkan taufik untuk anak-anak agar mereka mudah dididik, hati mereka dilunakkan sehingga mudah dibentuk dan tumbuh sebagai generasi rabbani. Oleh karena itu, doa adalah hal pertama yang wajib kita lakukan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
2. Bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Menjauhi Maksiat
Kemudian, para orang tua juga wajib bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi segala perkara yang mengundang murka-Nya. Sebab, salah satu perkara yang menyebabkan kita sulit mendidik anak-anak kita adalah dosa-dosa yang kita lakukan, baik dosa di hadapan orang banyak maupun saat sendirian.
Ketika orang tua istiqamah, hal ini akan mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, Allah ‘Azza wa Jalla akan melindungi anak keturunan kita, dan anak-anak keturunan kita pun akan mencontoh kebaikan yang kita biasakan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21)
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman, Khidr berkata:
وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَـٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi: 82)
3. Mengerahkan Seluruh Daya Upaya
Kita juga wajib berusaha dengan keras, mengerahkan seluruh tenaga, pikiran, materi, teori, dan segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan pendidikan mereka. Tidak akan ada yang sia-sia di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla jika kita meniatkan segala apa yang kita kerahkan dengan ikhlas karena-Nya semata. Baik itu materi, teori, pikiran, tenaga, maupun kesabaran, semuanya, insya Allah, biidznillah, akan Allah ganti dengan pahala, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al-Hakim)
4. Anak Kita, Tanggung Jawab Kita
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:
أَدِّبِ ابْنَكَ، فَإِنَّكَ مَسْئُولٌ عَنْ تَأْدِيبِهِ وَتَعْلِيمِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ بِرِّكَ وَطَاعَتِهِ لَكَ
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”
5. Upgrade Ilmu
Kedua orang tua juga wajib meningkatkan ilmu agama dan ilmu pendidikan anak. Orang tua harus memiliki bekal yang cukup agar mereka mampu memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Ibaratnya, "apabila orang tua adalah teko, maka anak-anak adalah cangkirnya." Apa yang bisa orang tua "tuangkan ke dalam cangkir" jika teko itu kosong? Maka, isi teko harus lebih penuh dibandingkan cangkir-cangkirnya.
Sebagaimana kita ketahui bersama, zaman selalu berubah, teknologi berkembang, dan lingkungan senantiasa dinamis. Jika ilmu orang tua tertinggal, mereka akan dikalahkan oleh anak-anak, diremehkan, diabaikan, atau bahkan kehilangan otoritasnya. Apalagi jika orang tua tidak mendidik anak-anaknya dengan akhlak Islami.
6. Mengutamakan Pendidikan Tauhid untuk Anak-Anak
Sebagai orang tua yang bercita-cita memiliki generasi rabbani yang kuat mental dan unggul akhlaknya, kita wajib membekali anak-anak dengan pendidikan tauhid. Dengan tauhid, secara tidak langsung kita mengajarkan mereka untuk menyatakan bahwa yang haq adalah haq, dan yang bathil adalah bathil, tanpa takut pada celaan orang-orang yang mencela. Mereka akan berani menyampaikan kebenaran karena Allah ‘Azza wa Jalla, selama yang disampaikan adalah kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍۢ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ يُجَـٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيم
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka bersikap lemah lembut terhadap orang yang beriman, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)
7. Iming-Iming Pahala
Mengiming-imingi anak-anak dengan segudang keutamaan apabila mereka berusaha melakukan amar ma’ruf nahi munkar, baik dengan tangan maupun lisan mereka, merupakan motivasi yang baik. Namun, jika tidak memungkinkan, setidaknya hati kita mengingkari kemunkaran.
Menjadi penyeru kebaikan adalah perintah Allah. Allah berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Allah juga menjanjikan pahala bagi penyeru kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik daripada unta merah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
8. Memberikan Fasilitas kepada Anak-Anak untuk Belajar Islam
Jika orang tua merasa kesulitan atau memiliki ilmu yang terbatas dalam mendidik anak-anak, ada solusi lain, yaitu memfasilitasi mereka untuk belajar agama. Orang tua dapat mengusahakan pendidikan agama melalui lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an yang sesuai usia dan kebutuhan anak.
Selain itu, orang tua juga dapat memberikan alat peraga yang relevan atau memondokkan anak ke pesantren. Pesantren dapat menjadi pilihan yang baik bagi anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan dasar, terutama pesantren yang bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah sesuai pemahaman para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
9. Menjaga Hati
Selain bekal lahiriah, anak-anak tentu membutuhkan pendidikan batiniah sebagai persiapan menghadapi kenyataan di lapangan. Menyampaikan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah perbuatan mulia yang kita yakini manfaatnya. Namun, kita juga harus waspada terhadap hati kita sendiri. Ketika kita berhasil menyampaikan kebaikan dengan baik, lalu ada orang yang mengikuti petunjuk yang kita berikan, kita tidak boleh merasa jumawa.
“Wah, kita pandai, cerdas, dan mampu mengajak orang lain dengan ajakan yang baik. Semua ini karena usaha keras kita.” Tidak begitu, wahai putra-putriku. Semua keberhasilan itu semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memudahkan dan melunakkan hati mereka sehingga mau menerima ajakan kebaikan kita. Ingatkan diri kita sendiri dan mereka, tidak ada yang bisa kita sombongkan. Tanpa pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang dapat kita lakukan, dan tidak ada hati yang akan menerima dakwah kita.
Pendidikan hati berikutnya adalah menjaga keikhlasan. Menjadi duta kebenaran terkadang adalah tugas yang berat dan penuh tantangan. Anak-anak harus dipahamkan mengenai konsekuensi yang mungkin mereka hadapi saat menyampaikan kebenaran di tengah-tengah kerusakan. Sampaikan saja walau hanya satu ayat dari apa yang kita yakini. Jika ajakan itu diterima, maka ucapkan alhamdulillah. Namun, jika mereka dihina atau ditolak, tidak perlu merasa terluka.
Yakinkan anak-anak bahwa hidayah adalah hak mutlak Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah pemilik hidayah, dan Dialah yang berhak memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Yang terpenting adalah kita telah mengerahkan usaha kita dengan ikhlas karena Allah. Tidak ada dosa yang tertanggung pada kita jika kebenaran sudah disampaikan dengan benar, tetapi orang lain tidak mau menerimanya.
Anak-anak Menjadi Penyeru Kebaikan
Setelah anak-anak diberi pendidikan dan pelajaran tentang konsekuensi ilmu yang telah kita ketahui, bahwa ketika kita memiliki ilmu, maka wajib bagi kita untuk menyampaikannya, walau hanya satu ayat, kita dapat memberikan gambaran dan arahan tentang bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta kepada siapa saja kita harus menyampaikannya.
• Menasihati Orang Tua dan Saudara
Orang tua dan saudara adalah bagian terdekat dari kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita akan sering melihat, mendengar, dan merasakan banyak hal yang kadang-kadang tidak sesuai dengan ilmu yang telah disampaikan kepada mereka. Sebagai anak yang telah terdidik dengan baik, ia akan peka terhadap peristiwa di sekitar. Ini terjadi karena adanya pendidikan kecintaan kepada Allah. Sebab rasa cinta kepada orang tua, saudara, atau keluarga, justru akan mendorong anak-anak untuk menyelamatkan agama orang-orang yang mereka kasihi dan tidak ingin orang tua serta keluarganya terjerumus dalam kesesatan. Dengan begitu, keluarga tidak hanya akan berkumpul di dunia, tetapi juga di Jannah-Nya.
• Menasihati Teman
Teman adalah orang-orang yang memiliki peran penting dalam kehidupan anak-anak. Pertemanan sangat berperan dalam membentuk kepribadian mereka. Oleh karena itu, salah satu usaha baik bagi orang tua adalah memilihkan teman dan lingkungan yang baik bagi anak-anak. Dengan demikian, tidak akan terlalu sulit untuk saling mengingatkan antara mereka karena dasar pendidikan yang telah sama. Kita katakan kepada mereka bahwa, tidaklah kita berteman kecuali karena Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, anak-anak akan menyadari pentingnya saling menasihati agar kita dan teman-teman kita sama-sama selamat di dunia dan akhirat.
Jangan sampai, demi keridhaan teman, kita dimurkai Allah ‘Azza wa Jalla karena mendiamkan kemaksiatan, atau bahkan membantu mereka melaksanakan kemaksiatan tersebut. Tidaklah seorang anak yang shalih menasihati temannya kecuali karena Allah, agar kita dan teman-teman kita menjadi teman yang beriringan di dunia dan akhirat.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh, maka peganglah erat-erat.”
• Menjadi Teladan di Lingkungan Keluarga dan Pergaulan
Karakter yang telah tertanam dengan kuat akan melahirkan istiqomah, menjadikan anak-anak sebagai motivator kebaikan. Aktivitas keseharian yang baik dan akhlak yang mulia akan menarik orang lain untuk menjadikan anak-anak sebagai teladan, minimal bagi anak-anak mereka. Misalnya, ketika mendengar ungkapan dari orang lain, “Kakak itu loh, dek, minumnya sambil duduk dan memegang gelasnya dengan tangan kanan, baik itu... coba adek juga meniru yuk, umma juga nih.” Ungkapan-ungkapan semisal dan dukungan orang tua akan menjadi motivasi bagi anak untuk istiqomah dan terus berusaha menjadi lebih baik.
• Bersyukur
Anak-anak perlu menyadari bahwa semua yang kita lakukan adalah berkat hidayah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, kita wajib mensyukuri nikmat hidayah ini. Dengan hidayah ini, kita diberikan kemudahan untuk tetap lurus di atas ridha Allah, menjadi penyeru kebaikan, dan menjadi motivator bagi orang lain. Di luar sana masih banyak anak-anak yang kurang beruntung karena terlantar pendidikan agamanya. Sungguh, ini adalah anugerah tak terhingga dari Allah ‘Azza wa Jalla.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Sumber:
- https://tafsirweb.com
- Muhammad Nur Ichwan Muslim. Artikel Muslim.Or.Id. “Pendidikan Anak Tanggung Jawab Siapa?”. Diakses pada Ahad, 12 Januari 2025, pukul 23.11 WIB. https://muslim.or.id/20835-pendidikan-anak-tanggung-jawab-siapa.html. Copyright © 2025 muslim.or.id
- Raehanul Bahrain. “Hadis Tentang Sahabat”. Diakses pada Ahad, 12 Januari 2025, pukul 23.41 WIB. https://muslim.or.id/45173-hadits-tentang-sahabat.html. Copyright © 2025 muslim.or.id