Mutiara Nasihat Muslimah


Menjadi Muslimah Penuntut Ilmu di Era Digital, Mengapa Tidak?


Penulis: Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


Di antara nikmat besar di zaman ini ialah luasnya jalan dan kesempatan untuk menuntut ilmu bagi muslimah. Jika dahulu para wanita salaf harus menempuh perjalanan demi menghadiri sebuah majelis, kini seorang muslimah dapat menggenggam puluhan kelas, bahkan ratusan pelajaran hanya dengan satu perangkat di tangannya. Namun, kemudahan ini tidak serta merta menghapus pentingnya adab, prioritas, dan keseriusan. Justru, bersamaan dengan kemudahan yang dirasakan di era digital ini, terdapat pula tantangan yang menyertainya, yakni distraksi. Oleh karenanya, seorang muslimah sangat membutuhkan niat yang benar, kesungguhan, ketekunan, dan tekad yang kuat agar ilmunya berkah, bermanfaat serta semakin mendekatkan dirinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla—terlepas dari seluruh distraksi yang menjadi rintangan.

Teladan “Ulama Perempuan” di Kalangan Para Salaf

Sejarah Islam memiliki banyak kisah muslimah yang menjadi rujukan ilmu. Mereka bukan hanya aktif sebagai pelajar, tetapi juga sebagai guru, perawi, juga penasihat umat. Salah satunya yang paling terkenal keilmuannya ialah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, seorang pakar dan guru para sahabat radhiyallahu ’anhum.

Ilmu merupakan ciri khas yang menonjol dari seorang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Keilmuan beliau sangat luas dan matang dalam setiap hal yang berkaitan dengan agama, semisal ilmu tafsir, hadits, dan fikih. Hal ini yang membuat Imam Hakim menuliskan dalam kitabnya Al-Mustadrak bahwa seperempat ilmu syariat diambil dari ‘Aisyah.[1]

Para pembesar sahabat pun tatkala menghadapi kesulitan dalam memahami agama, seperti pada saat mereka diminta untuk berfatwa, maka mereka akan mendapatkan ilmunya pada ‘Aisyah. Mengenai hal ini, Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Sama sekali tidak ada suatu kesulitan atas kami sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hadits beliau, lantas kami bertanya pada ‘Aisyah, melainkan kami akan mendapatkan ilmu tentang hadits itu dari sisinya.”[2]

Az Zuhri juga mengatakan, “Kalau saja ilmu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha itu dikumpulkan lalu dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu yang dimiliki oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha itu lebih unggul”.[3]

Perempuan Salaf yang Menuntut Ilmu di Tengah Kesibukan Rumah Tangga

Barangkali, pernah terlintas di dalam benak kita, manakala peran sebagai istri dan ibu telah diemban, seolah-olah memiliki waktu untuk menuntut ilmu hanyalah sebuah angan. Namun, ketahuilah Saudariku, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha merupakan contoh nyata perempuan salaf yang menuntut ilmu di tengah kesibukan rumah tangga. Sebagai istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibu dari beberapa anak, aktivitas beliau tentu tidak terlepas dari urusan domestik. Akan tetapi, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi perempuan berilmu dan faqih. Ilmu Ummu Salamah diperoleh melalui kebersamaan sehari-hari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah, dari dialog, pertanyaan, dan pengamatan langsung terhadap praktik ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini tampak dari banyaknya hadits yang beliau riwayatkan terkait persoalan privat seperti haid, mandi janabah, dan ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah. Berbekal dengan kedalaman pemahaman beliau radhiyallahu ‘anha, para ulama menempatkan Ummu Salamah sebagai wanita yang berakal, faqih, dan menjadi rujukan dalam sejumlah persoalan fikih. Beliau juga aktif bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjelaskan hukum kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Para sahabat dan ulama senior dari kalangan tabi’in kala mendapatkan masalah terkait agama, mereka bertanya pada Ummu Salamah, sampai-sampai Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (2:203) menyatakan bahwa Ummu Salamah dianggap sebagai yang paling faqih dari kalangan para sahabat wanita. Ini menunjukkan bahwa perempuan pun dapat berperan aktif dalam majelis ilmu dengan tetap menjaga ‘iffah dan adab.

Tantangan Belajar bagi Muslimah di Era Digital

Tak hanya membawa kemudahan, era digital juga datang sebagai bentuk ujian yang tidak dialami oleh generasi terdahulu. Bagaimana ujian tersebut berwujud?

1.   Distraksi Digital

Notifikasi, scrolling tiada henti, hingga multitasking yang dipaksakan, menjadi musuh utama untuk fokus dalam belajar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” Sesungguhnya hanya ulul albab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9)

Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk selalu meluruskan niat dalam belajar. Ketika kita senantiasa memperbaharui niat kita, berusaha meluruskan niat belajar kita di setiap harinya, maka itu akan membuahkan kesungguhan pada diri kita dalam memohon pertolongan kepada Allah, agar dimudahkan untuk bersabar serta fokus dalam belajar.

2.   Fenomena FOMO Ilmu

Banyak dari kita mungkin yang merasa harus ikut banyak kelas ini dan itu, kajian-kajian daring yang beragam, program menghafal matan dari A sampai Z, program muraja’ah Al-Qur’an, dan lain sebagainya, dan insyaallah semuanya sangat baik. Namun, kita juga perlu memahami “ukuran gelas” kita. Jangan sampai, hanya karena perasaan takut tertinggal dengan orang lain, hingga pada akhirnya kita tidak menyerap apapun. Mengenai hal ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

قِيْمَةُ كُلُّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ

“Nilai yang dimiliki oleh setiap orang ada pada keahliannya.”[4]

3.  Tekanan Sosial dan Self-Doubt

Perasaan tidak cukup pintar, tidak sebanding dengan teman-teman satu circle, atau merasa tertinggal, sering kali justru membuat sebagian muslimah berhenti atau merasa putus asa dalam belajar. Ketahuilah, akhawati fiddin, Allah tidak menilai siapa yang paling cepat paham dalam belajar, melainkan siapa yang ikhlas, konsisten, dan berkah ilmunya karena diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tips dan Adab Menuntut Ilmu Secara Daring

Tatkala kita sudah menata kembali niat dan motivasi kita dalam menuntut ilmu, maka selanjutnya pahamilah bagaimana langkah-langkah yang perlu kita perhatikan dalam menuntut ilmu di era digital ini. Berikut di antaranya:

1.  Memilih Guru yang Tsiqah dan Bermanhaj Lurus

Pastikan memilih guru yang dikenal akidahnya lurus dan memiliki sanad atau latar belakang keilmuan yang jelas. Berhati-hatilah dalam mengambil rujukan (sumber) ilmu agama ini. Viralitas atau popularitas bukanlah tolok ukur kebenaran. Akhawati fillah, mohonlah taufik dari Allah, kemudian telusuri latar belakang pembina atau pengajar yang akan kita jadikan sebagai rujukan untuk belajar ilmu syar’i.

2.  Tidak Menyebarkan Materi Sebelum Memahami

Berbagi faedah kajian itu boleh. Akan tetapi, menyebarkan rekaman atau ringkasan sebelum adanya izin kepada guru, atau belum sepenuhnya memahami, justru akan menimbulkan kerancuan. Maka, alangkah baiknya apabila kita meminta koreksi dari guru ketika hendak menyebarkan faedah yang kita dapatkan darinya.

3.  Adab Bertanya dan Berkomentar

Hindari komentar yang kurang berfaedah, atau bahkan yang menimbulkan perdebatan/kegaduhan. Sampaikan pertanyaan kepada ustadz/ustadzah ketika sudah dipersilakan dengan singkat, jelas, sopan (diawali dengan salam dan diakhiri dengan doa kebaikan), serta tidak memotong pembahasan.

4.  Menjaga Kamera dan Mikrofon

Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kamera dan audio dalam keadaan mati. Jangan sampai disebabkan kelalaian kita dalam memerhatikan dua hal tersebut, membuat wajah atau suara kita menjadi pengganggu suasana belajar.

5.  Menghindari Interaksi yang Tidak Perlu

Sebisa mungkin menghindari agar tidak perlu mengirim pesan pribadi kepada non-mahram, baik itu Ustadz, admin laki-laki, apalagi peserta lain. Jika ada kendala, utamakan untuk mencari admin perempuan, karena hal ini insyaallah lebih menenangkan dan lebih menjaga diri kita.

Strategi Efektif Belajar di Era Digital

Menuntut ilmu bukan alasan untuk mengabaikan rumah, orang tua, suami, maupun anak-anak. Kabar baiknya, keutamaan dan keberkahan waktu seorang muslimah justru tampak ketika ia mampu menyeimbangkan kewajiban menuntut ilmu agama di tengah banyaknya aktivitas, pada tiap-tiap peran yang ia jalani. Saudariku, cobalah terapkan beberapa cara berikut untuk mengatur strategi belajarmu:

1.  Manajemen Waktu

Akhawati rahimakunnallah, susunlah jadwal belajar sesuai ritme pekerjaan rumah, serta kenali waktu luang. Contohnya, menyelipkan jadwal kelas pada waktu di mana anak tidur, atau jadwalkan pula di waktu biasanya pekerjaan rumah telah selesai, dan lain sebagainya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)[5]

Sebuah hidden gem dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni waktu pagi, di mana merupakan waktu emas untuk memulai segala aktivitas kita.

2.  Prioritaskan Kelas Inti

Memilih dengan ukuran. Buatlah skala prioritas kebutuhan ilmu kita. Saudariku, rasa semangat yang tinggi itu baik, namun harus dibarengi dengan kemampuan yang kita miliki. Tidak perlu mengikuti semua kelas, tetapi pilihlah satu atau dua pelajaran inti yang paling dibutuhkan, untuk menyempurnakan pemahaman sebagai seorang hamba Allah ‘Azza wa Jalla maupun menyempurnakan ibadah-ibadah wajib, semisal pelajaran akidah, tauhid, fikih ibadah, fikih haid, dan seterusnya. Materi tambahan boleh, tetapi jangan sampai mengganggu fokus kelas-kelas yang menjadi prioritas.

3.  Jangan Lupakan Adab dalam Bermajelis

Mungkin ini yang sering kali dilalaikan oleh penuntut ilmu di zaman sekarang: kurangnya adab dalam bermajelis, apalagi majelis yang tidak bertatap muka secara langsung. Menyimak penjelasan guru sambil memasak, sambil bersih-bersih, apalagi sambil menggulirkan jari jemari di laman media sosial. Hal ini bukanlah sesuatu yang patut dilakukan oleh penuntut ilmu. Pada akhirnya, ketidakfokusan tersebut membuat kita terhalangi untuk mendapatkan pemahaman yang benar-benar utuh. Selain kurangnya pemahaman, hal yang demikian juga dikhawatirkan akan mengurangi keberkahan ilmu akibat tidak adanya adab kepada guru. Sudah sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk menghadiri majelis ilmu dalam keadaan siap, bersih, rapi, wangi, tenang, dan hadir secara “kaaffah”, yakni hadir dengan hati dan raga sepenuhnya, sebagaimana halnya ketika menghadiri majelis ilmu di masjid.

4.  Teknik Pomodoro[6] atau Time-Blocking

Tak ada salahnya bila kita mencoba mengatur pola belajar kita dengan memberikan durasi 25 menit fokus + 5 menit istirahat. Selain itu, gunakan blok waktu tertentu. Misalnya: pukul 19.00-19.30 untuk menyimak dan mencatat materi fikih. Adapun pukul 20.00–20.30 untuk menyimak dan mencatat materi tauhid, dsb.

5.  Aktif Mencatat Pelajaran

Jangan hanya menonton atau menyimak pelajaran dengan pasif. Tulislah definisi, dalil, faedah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ

“Jagalah ilmu dengan menulis.” (Ash-Shahihah no. 2026. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)[7]

6.  Jangan Pernah Lupa Tetapkan Waktu Muroja’ah

Ulangi materi yang sudah dipeajari setiap harinya untuk memperkuat pemahaman dan ingatan. Di saat muroja’ah, kita juga bisa menggunakan teknik pomodoro atau time-blocking seperti yang sudah dicontohkan di atas.

7.  Menguatkan Pemahaman dengan Berdiskusi

Cari satu atau dua teman belajar satu kelas atau satu halaqah untuk saling berdiskusi agar semakin memperkuat pemahaman dan saling menjaga semangat dalam terus belajar.

8.  Sempurnakan Pemahaman dengan Amal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

“Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya, neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ibnu Majah no. 259. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)[8]

Sadarilah, wahai akhawati fillah, ini merupakan sebuah ancaman bagi orang-orang yang salah niat dalam menuntut ilmu, mereka belajar bukan untuk diamalkan, melainkan untuk berbangga diri. Maka setiap kali kita selesai belajar atau kajian, tanyakan pada diri kita, “adakah satu faedah atau pelajaran yang bisa aku amalkan hari ini?”

Belajar Boleh dari Mana Saja, namun Adab dan Keberkahan Ilmu Jangan Sampai Dilupakan

Dunia digital hanyalah wasilah, ia bisa menjadi pintu kebaikan atau pintu fitnah, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Para ulama perempuan dahulu menuntut ilmu dengan pengorbanan yang lebih besar dari kita karena minimnya fasilitas. Adapun kita di zaman ini, subhanallah, telah Allah bukakan akses yang luar biasa mudah.

Maka sudah sepatutnya bagi seorang muslimah di zaman ini untuk memaksimalkan kesungguhan, menjaga fokus, dan menjaga adab dalam bermajelis ilmu meski secara daring.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberkahi setiap waktu dan ilmu yang kita pelajari, dan menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari, no. 71 dan Muslim, no. 1037)

Wa billahit taufiq, wallahu a’lam bishshawab. Waffaqanallah.


Referensi:

  1. Al-Qur’anul Karim.
  2. Imam Abu Daud, Sunan Abi Daud, Maktabah Syamilah.
  3. Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Maktabah Syamilah.
  4. Al-Albani, Silsilatul Ahaditsish Shahihah, Maktabah Syamilah.
  5. Abu Manshur ats-Tsa’labi, Durar al-Hikam, Maktabah Syamilah.
  6. Zarkasyi, Badruddin., Al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu ‘Aisyah ‘ala Shahabah, Maktabah Syamilah.
  7. Thahmuz, Abdul Hamid., (2018), Aisyah, Ibu dan Guru Ummat Muslim, Depok: Fathan Media Prima.
  8. Ruangguru, 2023, Teknik Pomodoro, Bantu Tingkatkan Konsentrasi Belajarmu!, www.ruangguru.com, diakses 15 Desember 2025, dari https://www.ruangguru.com/blog/teknik-pomodoro-teknik-belajar-yang-dapat-bantu-tingkatkan-konsentrasimu