Menerima Takdir Perpisahan
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
Bermula dari keinginan hati untuk memiliki pasangan, berharap mendapatkan seorang yang bisa menenangkan hati dan melangkah bersama menuju Allah Ta'ala. Banyak doa yang diutarakan, banyak istikharah yang dilakukan, hingga akhirnya muncul keyakinan “Dialah takdirku.”
Awalnya, prosesnya tampak baik-baik aja. Ada senyum keluarga yang ikut bahagia, ada tangan yang berjabat di akad, doa-doa yang mengiringi dan harapan yang melambung tinggi. Dua hati berjanji, bersumpah akan menjaga satu sama lain, saling menasihati dalam kebaikan.
Hari-hari pertama pernikahan dipenuhi dengan tawa dan canda. Setiap pagi terasa baru, setiap senyum menjadi penghibur hati. Tapi seiring waktu, kenyataan mulai menampakkan wajah aslinya. Perbedaan kecil menjadi besar. Cara bicara, cara menanggapi masalah, cara melihat hidup, semuanya bisa memicu perselisihan.
Di sinilah ujian muncul “Apakah cinta kepada Allah Ta’ala lebih diutamakan atau lebih kepada pasangan?” Ujian ini bukan hanya soal rasa sakit atau kehilangan, tapi tentang tauhid di dalam hati. Sebab, kadang perpisahan bukan hanya tentang putusnya ikatan dengan pasangan, tetapi juga menyebabkan retaknya hubungan hati dengan Allah Ta'ala. Tidak sedikit yang terjatuh dalam keadaan ini. Mereka marah, merasa Allah Ta'ala tidak adil atau menyesali doa-doa yang dulu dipanjatkan. Sebagian orang merasa dunia ini sepi dan tak berarti lagi, lalu mencari hiburan di tempat yang salah melalui maksiat, bahkan seorang wanita yang dulu menutup aurat, setelah perpisahan dia melepas jilbabnya, bahkan mengenakan pakaian yang terlihat vulgar. Sedangkan yang laki-laki memilih untuk melampiaskan kesedihan dan kesepiannya dengan mencari pengganti pasangannya yang hilang berupa wanita yang diharamkan baginya.
Setiap muslim dan muslimah hendaknya memahami bahwa kehilangan pasangan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, ia bisa menjadi sarana Allah Ta'ala menguatkan hati dan memperbaiki hubungan dengan-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 155)
Banyak ujian yang diberikan Allah Ta'ala kepada hamba-Nya, termasuk di antaranya kehilangan pasangan berupa kematian atau berpisah hidup. Seseorang yang sabar dan kembali kepada Allah saat ruma tangganya berakhir menunjukkan iman yang kokoh. Orang yang marah, dendam atau mencari hiburan duniawi yang melanggar syariat menunjukkan hatinya bergantung kepada makhluk, bukan kepada Allah Ta'ala.
Perpisahan, meski pahit, adalah panggilan untuk kembali menjadi hamba Allah Ta'ala yang menjadikan-Nya nomor satu di dalam hati. Pasangan yang dulu menjadi pusat perhatian dan yang menemani hidup, kini telah menghilang, seringkali muncul kekosongan. Sungguh, kekosongan itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk diisi dengan hubungan yang lebih erat dengan Allah Ta'ala.
Umat Islam, sejak masa sahabat hingga tabi‘in pernah menghadapi kehilangan, mereka mengajarkan satu prinsip hidup yaitu hubungan di dunia ini hanya sementara, sehingga mereka meskipun sedih atas perpisahan yang mereka hadapi, mereka tetap menerimanya dengan hati yang rela sepenuhnya terhadap takdir Allah Ta'ala.
Di antara kisah perpisahan yang terjadi di zaman sahabat adalah apa yang terjadi pada seorang sahabat Nabi yang istrinya meminta bercerai, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas,
جَاءَتْ امرَأَةُ ثَابِت بْنِ قَيْس بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّه مَا أَنقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِيْنٍ وَلاَ خُلُقِ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا
Istri Tsabit bin Qais bin Syammas radhiyallahu anhuma mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam “Wahai Rasulullah, saya tidak mencela akhlak maupun agama Tsabit bin Qais. Tetapi saya tidak ingin berbuat kufur.” (HR.Al-Bukhari nomor 5276)
Kufur di sini maksudnya adalah tidak menunaikan kewajiban sebagai istri, sebab paras suaminya terlihat tidak menarik, sehingga ia khawatir tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai istri. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menanggapi “Bersediakah kamu mengembalikan kebun darinya?” Kebun itu adalah mahar pernikahan dari Tsabit untuknya.
Istri Tsabit menjawab, “Iya.”
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Tsabit “Ambillah kebun yang dikembalikannya, dan ceraikan dia!” Tsabit pun menerima kebun itu dan menceraikan istrinya.
Ada pula istri yang ditinggalkan suaminya karena menemukan wanita lain, ini terdapat pada kisah 11 suami, di antaranya kisah Abu Zara’. Ummu Zara’ berkata, suamiku perhatian kepadaku, aku diberi perhiasan dan dibuat gemuk karena banyak diberi makan. Ia menggembirakanku, memberikan kemewahan untukku maka akupun gembira.
Aku didapatkan Abu Zara’ dalam keadaan miskin, ia menikahiku dan memindahkanku ke rumah yang mewah. Ia punya kendaraan mewah, punya banyak ternak, punya banyak pembantu dan biji-bijian. Ia sangat baik kepadaku, ia tidak pernah mencelaku, aku dimanja, aku nyaman bersama Abu Zara’.
Ibu mertuaku adalah orang kaya, ia kaya dan dermawan. Anak laki-laki suamiku adalah lelaki yang kurus dan hidup sederhana, ia makan sekadarnya saja. Sedangkan anak wanitanya adalah seorang gadis yang cantik, ia juga berbakti kepada orang tuanya. Budak wanita suami adalah wanita yang memiliki sifat mulia, tidak pernah menyebarkan aib kami, selalu menjaga amanah yang kami berikan kepadanya.
Aku sangat mencintai suamiku Abu Zara’ namun sayang ia menceraikanku setelah bertemu seorang wanita yang sudah memiliki dua orang anak, ia tertarik kepadanya dan lebih memilih wanita itu daripada diriku.
Setelah aku diceraikan oleh Abu Zara’, aku menikah dengan seorang laki-laki terkemuka, seorang kesatria pemberani, ia sangat baik kepadaku. Ia banyak memberiku, berapa pun banyak pemberiannya tetap sedikit dalam pandanganku dibandingkan dengan apa yang telah diberikan oleh Abu Zara’ untukku. (Disarikan dari HR.Al-Bukhari nomor 5364)
Kita juga menemukan kisah seorang laki-laki yang bersedih atas pilihan istrinya untuk berpisah, Ibnu Abbas berkata,
كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِى، وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ، فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم لِعَبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم لَوْ رَاجَعْتِهِ؟ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِى قَالَ : إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ، قَالَتْ لاَ حَاجَةَ لي فِيهِ.
Seolah-olah aku melihat Mugits mengikuti Barirah di belakangnya sambil menangis dan air matanya mengalir hingga membasahi jenggotnya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Abbas, “Wahai Abbas tidakkah kamu takjub terhadap kecintaan Mughits kepada Barirah dan kebencian Barirah kepada Mughits?
Karena merasa iba terhadap yang menimpa Mugist, Nabi pun berkata kepada Barirah “Bisakah kamu kembali kepadanya?” Barirah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku untuk rujuk?” Beliau bersabda “Aku hanya kasihan pada Mugits." Ia menjawab, ”Saya tidak lagi membutuhkan dirinya.” (HR. Al-Bukhari nomor 5283)
Mugits dan Barirah dulunya adalah sepasang suami istri, mereka sama-sama berstatus sebagai budak. Ketika Barirah merdeka, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memberikan pilihan padanya, apakah dia tetap ingin hidup dengan Mugits yang masih budak atau berpisah dengannya, Barirah pun memilih untuk berpisah.
Mugits sangat mencintai istrinya namun Barirah tak lagi memedulikannya. Lihat, bagaimana dalamnya cinta Mugits pada Barirah. Seolah ia mengikuti mantan istrinya itu di lorong-lorong Madinah, menyusuri jejaknya sedangkan air matanya mengalir dengan sangat deras. Ia berharap Barirah kembali ke padanya, namun Barirah sedikit pun tak menginginkannya.
Masih banyak kejadian perpisahan di zaman para sahabat radiyallahu ‘anhum, ada yang karena kematian, bahkan disebabkan penghianatan. Namun, tidak ditemukan satu pun dari mereka meratapi perpisahan itu, menyalahkan takdir, apalagi memilih jalan maksiat untuk melampiaskan emosi dan kesedihan mereka.
Bagaimana cara menghadapi perpisahan, agar urusan agama dan akhlak tetap terjaga?
Di antara cara yang baik dalam menghadapi ujian kehilangan pasangan adalah sebagai berikut:
Pertama, kembali kepada Allah dengan perbanyak zikir, shalat, dan membaca Al-Qur`an. Hati yang terhubung dengan Allah tidak akan hancur karena manusia.
Kedua, menerima takdir dengan menyadari bahwa setiap kehilangan adalah ujian dari Allah dan harus menerimanya dengan kerelaan penuh.
Ketiga, mengambil pelajaran dengan introspeksi diri, memperbaiki ibadah dan menumbuhkan ketakwaan di dalam hati.
Keempat, menjaga diri dari maksiat, jangan mencari hiburan atau pelampiasan amarah seperti .menikahi orang fasik hanya untuk membalas mantan pasangan.
Dengan cara ini, seorang muslim dapat menjadikan perpisahan sebagai sarana memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya.
Dari perpisahan yang terjadi, mari kita coba memahami hidup ini, ia tidak selalu berjalan sesuai rencana kita. Ada yang menikah dengan harapan bahagia selamanya, tetapi Allah Ta'ala menakdirkan perpisahan. Ada yang menyangka pasangannya akan menjadi penghibur hatinya hingga akhir hayatnya, tapi kenyataannya ia hanyalah amanah sementara. Setiap muslim harus mamahami bahwa setiap perpisahan merupakan bagian dari ketetapan Allah Ta'ala. Siapa pun yang marah, dendam, atau mencari pengobat hati di tempat yang salah, menunjukkan kelemahan tauhidnya dan keimanannya terhadap takdir. Sebaliknya, siapa saja yang ridha dan kembali kepada Allah Ta'ala, menggambarkan kekuatan tauhid di dalam hatinya karena perpisahan mengajarkannya bahwa pasangan bukanlah segalanya. Sandaran sejati hanya kepada Allah Ta'ala.
Di akhir penjelasan ini, mari kita yakini bahwa setiap .orang yang kehilangan memiliki kesempatan untuk menemukan pengganti yang lebih baik. Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً (٣)
Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar bagi kesulitannya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Kuncinya adalah menghadapi kehilangan itu dengan takwa dan tawakal. Semoga Allah membawa langkah kita ke jalan kebahagiaan setelah berada dalam kesedihan dan menunjukkan jalan keluar dari segala permasalahan yang dihadapi. Amin.
Referensi
Al-Qur`an Al-Karim
Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, .Darul Hadis, 2004, Kairo, Mesir.