Menemukan Teduh di Tengah Peluh: ramadhan sebagai Madrasah Pemulihan Jiwa Wanita
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Faizah Fitriah
Akhawati fillah, betapa cepatnya waktu berlalu, hingga tak terasa bulan Ramadhan sudah menyapa kita kembali di tahun ini. Dari hitungan hari menjadi pekan, kemudian berlalu menjadi bulan, hingga genap menjelma tahun. Sungguh, perjumpaan dengan bulan Ramadhan merupakan nikmat besar yang tidak semua hamba dapat merasakannya. Oleh karenanya, terhadap nikmat yang besar ini, sudah selayaknya kita menyikapi dengan rasa syukur kepada Allah โAzza wa Jalla, baik memuji-Nya dengan lisan (red: mengucap โAlhamdulillah, alladzi biniโmatihi tatimmus shaalihaatโ), juga dengan mewujudkan rasa syukur itu semaksimal mungkin ke dalam bentuk amal-amal shalih yang dijalankan oleh anggota badan yakni dengan berpuasa, shalat tarawih dan shalat-shalat sunnah lainnya, membaca Al-Qurโan, serta segala bentuk amal shalih lainnya yang disyariatkan. Tak hanya itu, begitu pula dengan aktivitas duniawi yang kita niatkan untuk mengharap pahala dari Allah โAzza wa Jalla.
Burnout Domestik: Realitas yang Dialami Banyak Wanita di Bulan Ramadhan
Suasana Ramadhan sering digambarkan sebagai bulan yang penuh dengan ketenangan dan kekhusyukan. Akan tetapi, bagi banyak muslimah, kenyataan di lapangan boleh jadi justru sebaliknyaโlebih padat, lebih โriuhโ dan penuh dengan peluh. Ya, di bulan itu, hari-hari seorang muslimah rasanya malah menjadi semakin sibuk di dapur. Sebelum semua anggota keluarga terjaga, para ibu dan istri sudah harus menyiapkan makan sahur, kemudian di waktu setelah ashar juga sudah mulai sibuk menyiapkan sajian untuk berbuka.
Tanpa melupakan bagaimana kesibukan lainnya di siang hariโsebagian mungkin ada yang masih bekerja, ada juga yang mengurus anak-anak kecilnya yang belum ikut berpuasa, sehingga harus tetap menyiapkan makanan mereka. Tentunya, kita semakin perlu untuk istiโanah kepada Allah manakala emosi merasa naik turun karena kelelahan fisik maupun pengaruh hormonal. Rasanya, pikiran kita tidak pernah berhenti untuk merencanakan kebutuhan-kebutuhan berikutnya untuk keluarga.
Sampai sini, mungkin perasaan kita sudah campur aduk, karena benar-benar mengalami hal yang baru saja dideskripsikan, hati bergejolak, memerintahkan otak untuk segera menagih solusi, โLalu, bagaimanakah solusinya?โ Mari kita simak bersama hingga akhir.
Ubah Self-Blaming Menjadi Self-Healing
Kemudian, di tengah semua kesibukan itu, diam-diam, muncul sebuah luka dalam sunyi, yaitu rasa bersalah karena merasa belum bisa mengoptimalkan ibadah, bahkan di saat bulan Ramadhan. Ada wanita yang merasa gagal mengoptimalkan lumbung pahala di bulan Ramadhan, sebab tak mampu memaksimalkan kuantitas ibadahnya, ada pula yang diam-diam merasa rendah diri ketika masa haid datang, seolah-olah sedang ditarik keluar dari โestafetโ mengumpulkan pahala.
Faktanyaโduhai akhawati fillahโjika kita kelola seluruh aktivitas selama Ramadhan ini dengan iman dan ilmu, maka sejatinya, Ramadhan adalah โmadrasah pemulihan jiwaโ untuk seluruh muslimin, termasuk pula bagi para wanita muslimah yang hidup dalam peran ganda, serta tuntutan tanpa jeda.
Bagaimana Ramadhan Menjadi โMadrasah Pemulihan Jiwaโ?
1. Fenomena Membandingkan โRamadhan Estetisโ: Antara Maya dan Realitas
Media sosial sering menyajikan gambaran Ramadhan yang estetisโsahur yang tenang, meja makan yang rapi, tilawah berlembar-lembar, dan rumah yang selalu tertata. Tanpa sadar, dari sanalah muncul perbandingan yang membuat para muslimah mulai merasa bahwa hidupnya tidak ideal, dirinya tidak cukup โshalihaโ karena tidak mampu mewujudkan Ramadhan estetis sedemikian rupa, sebagaimana yang divisualisasikan di media sosial. Kenyataannya, kita tahu bahwa Allah tidak menilai dari visual, melainkan dari niat dan usaha kita.
Sebuah langkah yang tepat jika kita mengurangi (men-detoks) media sosial[1] selama Ramadhan, selain karena hal tersebut untuk meningkatkan fokus dalam beribadah, juga menjadi momen yang pas untuk membuktikan pada diri bahwa ternyata biidznillah kita mampu mengurangi penggunaan media sosial selama satu bulan. Barangkali hal ini tampak โsepeleโ, namun insyaallah ini akan sangat membantu untuk mempertahankan kebiasaan baik, mendukung proses โpemulihan jiwaโ, serta memperbaiki kualitas hidup seterusnya hingga setelah Ramadhan nantinya, biidznillah.
2. Dilarangnya Beberapa Ibadah saat Haid adalah Bentuk Rahmat Allah โAzza wa Jalla kepada Kita
Salah satu โlukaโ spiritual wanita selama Ramadhan ialah โketidakmampuanโ untuk shalat dan puasa di saat haid, yang mana โlukaโ ini timbul karena kita masih memiliki kesalahpahaman dalam memaknainya. Mungkin, banyak di antara para muslimah yang merasa rendah diri saat haid tiba, seolah merasa ada tombol โpauseโ dari mengumpulkan pundi-pundi pahala di saat yang lainnya terus berlomba-lomba dalam ibadahnya.
Ketahuilah akhawati fillah, kita tidak perlu berkecil hati atau merasa rendah diri selama Ramadan di kala haid tiba, karena sesungguhnya, hikmah dari dilarangnya kita untuk melaksanakan shalat maupun puasa saat haid adalah wujud nyata dari rahmat atau kasih sayang Allah โAzza wa Jalla kepada kita. Allah yang menciptakan kita maka Allah-lah yang paling mengetahui hikmah dan maslahat di balik seluruh syariโat-Nya.
Di antaranya ialah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman Al-Bujairami rahimahullah (w. 1221 H) dalam Hasyiyah โAlal Khatib, beliau mengatakan, โPendapat yang shahih justru menyatakan bahwa ini (dilarangnya wanita haid untuk berpuasa) adalah hukum/perkara yang dapat dipahami oleh akal (maโqulatul maโna). Hal itu karena haid melemahkan tubuh, dan puasa juga melemahkannya. Jika dua hal yang sama-sama melemahkan ini digabungkan, maka akan menimbulkan bahaya yang berat (untuk keselamatan) diri/badan.โ[2]
Masyaallah, bukankah Allah begitu sayang kepada kita? Maka dengan ini, mari kita ubah perasaan yang mulanya rendah diri itu menjadi perasaan ridha dalam menerima segala ketentuan syariat-Nya yang begitu indah. Hadirnya rasa penerimaan dan keyakinan bahwa seluruh syariat-Nya adalah baik untuk semua makhluk-Nya merupakan bagian dari keimanan. Kabar baiknya, kita bisa tetap melakukan ibadah lainnya yang tak kalah besar pahalanya di sisi Allah, seperti berdzikir, menuntut ilmu, membaca Al-Qurโan tanpa menyentuh mushaf, dan lain sebagainya.
3. Tips โMengejar Ketertinggalanโ dengan Iman dan Ilmu
Dalam psikologi, salah satu di antara kunci healing spiritual adalah dengan validasi[3], dan itu bukan berarti hanya dapat dipenuhi oleh makhluk, melainkan dari Al-Hayyu Al-Qayyum, Dzat yang Maha Kekal daripada makhluk-Nya, yang memiliki kehidupan sempurna lagi berdiri sendiri, yakni Allah โAzza wa Jalla. Bagaimanakah caranya? Mari kita simak lagi hadits yang masyhur berikut ini, yang mungkin banyak di antara kita yang sudah menghafalnya, Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda,
ุฅูููู ูุง ุงูุฃุนู ูุงู ุจุงูููููููุงุชู ูุฅููููู ุง ููููููู ุงู ุฑูุกู ู ุง ููููู ููู ููู ููุงููุชู ููุฌูุฑูุชููู ุฅูู ุงูููู ูุฑูุณูููููู ูููุฌูุฑูุชููู ุฅูู ุงูููู ูุฑูุณููููููู ูู ููู ููุงููุชู ููุฌูุฑูุชููู ููุฏูููููุง ููุตูููุจููุง ุฃู ุงู ุฑุฃุฉู ููููููุญูููุง ูููุฌูุฑูุชููู ุฅูู ู ุง ููุงุฌูุฑู ุฅูููู
โSesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.โ (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Ya, jawabannya adalah dengan senantiasa pandai mengatur dan mengolah niat dalam setiap inci dari aktivitas kita yakni ihtisabโmengikhlaskan segala aktivitas kitaโuntuk mengharap pahala dari Allah โAzza wa Jalla.
Dengan iman yang Ikhlas diiringi ilmu yang benar, maka setiap rasa kantuk yang ditahan, atau peluh yang menetes di tubuh demi menyajikan hidangan sahur maupun berbuka untuk keluarga, biidznillah akan diganjar-Nya dengan pahala.
Rasa lelah dalam mengurus keluarga bukan alasan untuk merasa rendah diri, serta tidak benar apabila itu semua dianggap tidak bernilai apa-apa, akan tetapi hal tersebut juga bentuk dari ibadah yang bernilai tinggi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, beliau menyampaikan bahwa wanita yang โmenghabiskanโ sebagian besar waktunya untuk menyiapkan makanan (keperluan) untuk keluarganya yang berpuasa, baik itu untuk sahur maupun berbuka selama bulan Ramadhan, maka itu semua terhitung sebagai ibadah dan bernilai pahala untuknya.[4] Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam pun bersabda,
ู ููู ููุทููุฑู ุตูุงุฆูู ูุง ููุงูู ูููู ู ูุซููู ุฃูุฌูุฑููู ุบูููุฑู ุฃูููููู ูุงู ููููููุตู ู ููู ุฃูุฌูุฑู ุงูุตููุงุฆูู ู ุดูููุฆูุง
โSiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.โ (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dinilai shahih oleh Al-Albani)[5]
Lihatlah bagaimana hadits ini juga menjadi pendukung untuk โhealingโ bagi para wanita. Di penggalan hadits di atas ditegaskan bahwa kontribusinya nyata, dihitung dan divalidasi di sisi Allah โAzza wa Jalla, meski amal shalih tersebut tidak tampak seistimewa rakat shalat yang lama atau tilawah berlembar-lembar.
Meskipun demikian, rasanya tetap perlu bagi kita untuk memperhatikan nasihat bijak dari Syaikh Abdul Aziz Al-Fauzan[6] dalam mengatur situasi demikian ini, beliau hafizhahullah menyampaikan:
1. Menyiapkan kebutuhan keluarga (khususnya sahur dan berbuka selama Ramadhan) memang merupakan bagian dari ibadah dan bernilai pahala yang besar, akan tetapi, hendaknya bagi para wanita untuk tidak menghabiskan begitu banyak waktunya hanya untuk sekadar urusan di dapur saja, sehingga itu benar-benar melalaikannya dari dzikir, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya, yang tentu juga memiliki keutamaan yang lebih besar lainnya.
2. Para wanita bisa mengerjakan segala urusan rumah tangganya dengan lisannya yang tetap berdzikir, sehingga tetap bisa mengoptimalkan waktunya untuk meraih banyak kebaikan.
3. Tidak seharusnya bagi suami maupun istri untuk berlebih-lebihan dalam hal memasak, makanan, dan sebagainya, sehingga itu membuat sang istri pada akhirnya lalai dari shalat tarawih, dan ibadah-ibadah lainnya. Justru, hendaklah para suami dan istri seharusnya saling mendukung dalam kebaikan dan ketakwaan (taโawun โalal birri wat-taqwa), sebagaimana Allah Taโala juga melarang kita untuk berlebihan dalam perkara makan dan minum.[7]
4. Sahur: Momen Istighfar dalam Sunyi untuk Ketenangan Jiwa
Alangkah ruginya orang-orang yang menyalahgunakan waktu sahurnya untuk hal yang sia-sia, seperti sahur sambil menonton, mengobrol yang tidak bermanfaat, dan lain sebagainya. Maka usahakan kita dan keluarga kita menjadi bagian dari orang-orang yang memahami keutamaan waktu sahur dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bagaimanakah itu? Yakni dengan istighfar dan doa. Lihatlah bagaimana firman Allah โAzza wa Jalla mengenai orang-orang shalih,
ููุงููู ูุณูุชูุบูููุฑูููู ุจูุงููุฃูุณูุญูุงุฑู
โDan orang-orang yang meminta ampun (beristighfar) di waktu sahur.โ (QS. Ali Imran: 17)
Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam juga bersabda,
ููููุฒููู ุฑูุจููููุง ุชูุจูุงุฑููู ููุชูุนูุงููู ููููู ููููููุฉู ุฅูููู ุงูุณููู ูุงุกู ุงูุฏููููููุง ุญูููู ููุจูููู ุซูููุซู ุงูููููููู ุงูุขุฎูุฑู ููููููู ู ููู ููุฏูุนููููู ููุฃูุณูุชูุฌููุจู ูููู ู ููู ููุณูุฃูููููู ููุฃูุนูุทููููู ู ููู ููุณูุชูุบูููุฑูููู ููุฃูุบูููุฑู ูููู
โRabb kita tabaraka wa taโala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, โSiapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.โ (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)[8]
5. Puasa yang Membersihkan Hati dan Memulihkan Jiwa
Mungkin sebagian dari kita belum menyadari bahwa puasa ternyata bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga latihan dalam mendidik diri dari kebiasaan yang buruk atau kemaksiatan-kemaksiatan yang bisa mengurangi pahala puasa kita, dan di antara yang sering terjadi di kalangan wanita ialah menahan lisan dari ghibah atau yang sejenisnya. Maka seyogianya, kita menjadikan Ramadhan ini sebagai โmadrasah pemulihan jiwaโ yang sesungguhnya. Kita tahu berapa banyak konflik rumah tangga maupun dalam bersosial yang dipicu oleh lisan yang tidak terlatih untuk dijaga. Allah Taโala berfirman,
ููุง ุฃููููููุง ุงูููุฐูููู ุขูู ููููุง ููุชูุจู ุนูููููููู ู ุงูุตููููุงู ู ููู ูุง ููุชูุจู ุนูููู ุงูููุฐูููู ู ููู ููุจูููููู ู ููุนููููููู ู ุชูุชููููููู
โHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwaโ (QS. Al Baqarah: 183).
Ya, Ramadhan sejatinya adalah โmadrasahโ bagi kita untuk berlatih menjadi orang bertakwa, sehingga ketika โlulusโ dari Ramadhan, kita sudah terbiasa menerapkan hal-hal baik dan menumbuhkan karakter yang baik pada diri kita, sehingga kita bisa menjadi orang yang bertakwa untuk seterusnya.
6. Ramadhan adalah Bulan Al-Qurโanโyang Mana Ia Hadir sebagai Syifaโ (Penyembuh)
Ramadhan disebut sebagai โBulan Al-Qurโanโ di antaranya ialah karena Al-Qurโan diturunkan sekaligus oleh Allah ke langit dunia pada malam lailatul qadar, yang terdapat di bulan Ramadhan[9]. Selain itu, begitu banyak riwayat-riwayat yang menceritakan tentang begitu besarnya perhatian para salaf terhadap Al-Qurโan selama bulan Ramadhan.
Sehingga, usaha kita untuk meneladani para salaf dalam menghidupkan Al-Qurโan, memperbanyak tilawah, berlama-lama bersama Al-Qurโan, men-tadabburi isi Al-Qurโan selama bulan Ramadhan ini, sejatinya, kita telah benar-benar menempuh proses untuk memulihkan jiwa kita, sebab Allah โAzza wa Jalla yang berfirman langsung,
ููููููุฒูููู ู ููู ูฑููููุฑูุกูุงูู ู ูุง ูููู ุดูููุขุกู ููุฑูุญูู ูุฉู ูููููู ูุคูู ูููููู
โDan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.โ (QS. Al-Israโ: 82)
Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam juga bersabda,
ู ูุง ุงุฌูุชูู ูุนู ููููู ู ููู ุจูููุชู ู ููู ุจูููููุชู ุงูููู ููุชููููููู ููุชูุงุจู ุงูููู ููููุชูุฏูุงุฑูุณููููููู ุจูููููููู ู ุฅููุงูู ููุฒูููุชู ุนูููููููู ู ุงูุณููููููููุฉู ููุบูุดูููุชูููู ู ุงูุฑููุญูู ูุฉู ููุญููููุชูููู ู ุงููู ููุงูุฆูููุฉู ููุฐูููุฑูููู ู ุงูููู ููููู ููู ุนูููุฏููู
โTidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.โ (HR. Muslim no. 2699)
Maka, duhai saudariku yang kucintai karena Allah, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya momen istimewa yang sudah di depan mata ini. Tanyakan kepada diri sendiri, mau sampai kapan menjadi hamba yang biasa-biasa saja dan terus-terusan merasa nyaman dalam kelalaian? Sungguh, jika kita terus berupaya mempelajari ilmu agama, maka kita akan paham bahwa akhirat bukanlah gurauan, bukanlah hal yang remeh-temeh untuk digadaikan dengan dunia yang pasti akan meninggalkan kita. Ketahuilah, akhawati akramakunnallah, bahwa umur yang kita miliki adalah benih yang kelak hasilnya pasti akan kita panen. Maka, tanamkan benih itu pada tiap-tiap amal shalih, sehingga yang kita panen kelak adalah amal shalih itu sendiri, biidznillahi taโala.
Semoga Allah โAzza wa Jalla memberikan kita taufik untuk memanfaatkan Ramadhan ini sebagai โmadrasah pemulihan jiwaโ dengan sebaik-baiknya, sehingga kita bisa lulus menjadi orang-orang yang bertakwa, yang kelak akan merasakan kenyamanan di surga, yang keindahannya membuat kita lupa dengan segala kepayahan selama hidup kita di dunia. Amin.
Referensi:
- Al-Qurโanul Karim.
- Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Maktabah Syamilah.
- Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.
- Imam at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Maktabah Syamilah.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Baari li ibni Hajar, Maktabah Syamilah.
- Manna Al-Qattan, Kitab Mabahits fii โUlumil Qurโan, https://shamela.ws/book/11368/124#p3
- Sulaiman Al-Bujairami, Hasyiyatul Bujairimi โAlal Khatib, Maktabah Syamilah
- Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan, https://www.youtube.com/watch?v=3grMBhdakyM
- Fatwa Syaikh Abdul Aziz Al-Fauzan, https://www.youtube.com/watch?v=ooHNghlVjis
- https://neurolaunch.com/need-for-validation-psychology/
- https://therapygroupdc.com/therapist-dc-blog/the-essential-role-of-therapy-validation-in-mental-health-healing/