Tausiyah Ustadz
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)


Diringkas oleh Tim Majalah HSI dari rekaman kajian Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafizhahullah.
Tautan rekaman: https://youtu.be/318XSAf1ttY

Menebar Salam,
Menyebarkan Kebaikan

Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo

Editor: Faizah Fitriah


Sudah sepatutnya seorang yang beriman menghiasi dirinya dengan ketakwaan. Dia senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar takwa, baik ketika sendiri maupun ketika bersama orang lain. Dengan takwa, Allah akan memudahkan urusan seorang hamba, memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan, dan menjadikannya sebagai sebab seseorang masuk ke dalam surga.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.” (QS. At-Tur: 17)

Tiap-tiap dari kita tentu menginginkan surga. Sejatinya, kehidupan dunia ini bersifat fana dan pasti akan kita tinggalkan. Allah Ta’ala tidak akan memasukkan ke dalam surga-Nya kecuali orang-orang yang beriman. Beriman kepada Allah, kepada hari akhir, kepada para malaikat, kitab-kitab, dan para rasul-Nya. Semakin sempurna keimanan seseorang, maka semakin besar peluangnya untuk mendapatkan surga Allah.

Ketahuilah bahwa di antara kesempurnaan iman adalah saling mencintai karena Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sebuah amalan yang sangat sederhana, namun penuh dengan keberkahan, yang dengannya akan tumbuh rasa cinta di antara sesama kaum muslimin. Amalan tersebut adalah menyebarkan salam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidak sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai.”

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya:

أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Makna dan Keutamaan Salam

Ucapan "Assalamu ‘alaikum" bermakna: semoga keselamatan tercurah atas kalian. Dengan salam, sejatinya kita sedang mendoakan saudara kita agar senantiasa berada dalam penjagaan Allah, mendapatkan perlindungan dari segala keburukan, serta keselamatan di dunia dan akhirat.

Salam adalah simbol kedamaian, tanda kasih sayang, dan sebab turunnya rahmat Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dengan menebarkan salam, setiap hati akan terasa menjadi lebih dekat, kebencian dapat berubah menjadi kasih sayang, dan ukhuwah Islamiyah yang lemah bisa menjadi kuat. Salam juga menunjukkan bahwa seseorang datang dengan niat yang baik dan tanpa permusuhan. Dalam kehidupan bermasyarakat, salam menumbuhkan rasa aman, kepercayaan, dan ketenangan di tengah-tengah lingkungan sosial.

Bentuk Praktik Menebarkan Salam

Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebarkan salam mencakup kebiasaan mengucapkan salam dalam berbagai kondisi dan kesempatan, di mana pun kita berada. Di antaranya:

  • Mengucapkan salam ketika bertemu, baik kepada orang yang kita kenal maupun yang belum kita kenal.
  • Membiasakan menjawab salam, karena menjawab salam hukumnya wajib, dan yang lebih utama adalah menjawab dengan yang lebih baik.
  • Mengucapkan salam ketika memasuki rumah, baik rumah sendiri maupun rumah orang lain.
  • Membiasakan salam dalam komunikasi digital, seperti saat memulai percakapan di WhatsApp, Telegram, dan media sosial lainnya.
  • Mengajarkan anak-anak untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah, bertemu guru, teman, dan orang tua.
  • Menyebarkan salam di lingkungan kerja, sekolah, kantor, kelas, serta di tempat-tempat umum seperti pasar, rumah sakit, toko, dan lain sebagainya.

Salam sebagai Sebab Hidayah

Berkenaan dengan hal ini, terdapat sebuah pengakuan dari sebagian saudara kita yang menceritakan awal ia mendapatkan hidayah. Ia hidup di tengah masyarakat yang jauh dari sunnah. Kemudian, datanglah asatidzah dan ikhwah yang senantiasa membiasakan salam, meskipun mereka tidak dikenal, bahkan dimusuhi. Namun, mereka tidak pernah lelah mengucapkan salam. Hingga akhirnya, dengan izin Allah Ta’ala, salam tersebut menjadi pintu hidayah dan sebab seseorang tertarik untuk mengikuti Islam yang murni dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketahuilah bahwa Allah juga memerintahkan kita untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersemangat menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya dengan menebarkan salam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan itu lahirlah rasa saling mencintai karena Allah yang dapat mengantarkan kita memasuki surga-Nya kelak, bi’idznillah. Amin.