Keliling HSI

Mendampingi Perjuangan
Buah Hati Menuntut Ilmu Syar’i

Reporter: Gema Fitria

Editor: Dian Soekotjo


Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)[1]

Salah satu kewajiban orang tua yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, adalah mendidik anak. Membiarkan anak tumbuh tanpa memahami kewajiban dan sunnah-sunnah agama, berpotensi besar menjadi penyebab rusaknya anak di masa depan. Tiap orang tua sudah semestinya memiliki kesadaran tersebut. Tak terkecuali Nopi Ummu Fathan, salah satu teman kita, sesama santri HSI Program Reguler Angkatan 151.

Bunda Nopi, begitu sapaan akrabnya, bertekad putra-putrinya memiliki bekal ilmu agama yang cukup untuk menjalani kehidupan mereka kelak. Dan demi pendidikan terbaik, Bunda Nopi rela mengirimkan sang buah hati ke pesantren. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya berpisah kota, Bunda Nopi rela putra-putrinya menuntut ilmu jauh hingga ke luar pulau. Jelas bukan mudah menjalaninya. Ada hati yang harus dikuatkan, ada rindu yang ditahan. Mereka sama-sama berjuang. Sang anak berusaha mewujudkan harapan. Orang tua di kampung, setia mendoakan dan menunggu kepulangan.

Pindah Sekolah

Bunda Nopi lahir pada akhir 1983 di Sambas, Kalimantan Barat. Menikah di usia 21 tahun menjadi bagian dari takdir Allah untuknya. Wanita yang berdomisili di Singkawang ini dikaruniai 1 putra dan 3 putri. Ia mengaku awal mengenal sunnah pada tahun 2013. Dari sana Bunda Nopi yang baru paham akan pentingnya pendidikan agama, mengambil keputusan untuk memindahkan sekolah anak-anaknya, Khazza dan Fathan, putri pertama dan putra keduanya, dari SD Negeri ke SD Islam. Perbedaan kurikulum di sekolah tersebut, sempat membuat mereka mengeluh.

“Dari yang pelajaran agama satu kali sepekan, ini baru masuk kelas udah Tahfidz. Kak Khazza mengeluh teman-temannya sudah Juz 29. Fathan yang pindah saat kelas 2, protes. Mereka tertinggal jauh dari teman-temannya,” tulis Bunda Nopi menggambarkan peliknya tantangan kala itu.

Khazza dan Fathan kecil, yang hanya terpaut selisih usia 1 tahun, mengisi hari-hari mereka dengan belajar. Fathan mengikuti kursus Bahasa Inggris sepulang sekolah. Bunda Nopi juga menambah asupan pendidikan agama dengan mendaftarkan mereka di sebuah lembaga Al-Qur’an yang baru berdiri saat itu.

Hari-hari dilalui Bunda Nopi dengan menjalankan peran sebagai ibu muda yang mendukung penuh pendidikan anak-anaknya, termasuk saat sang suami dimutasi ke luar kota. Ia siaga mengawal semua aktivitas anak-anak dengan mengantar-jemput dari pagi hingga sore. Bentuk dukungan lain agar Khazza dan Fathan fokus belajar, Bunda Nopi tidak membebaskan mereka menggunakan gawai.

“Saat teman-teman mereka kelas 6 SD sudah pakai hp kamera, mereka masih hp jadul. Tiap hari Sabtu boleh bawa hp. Jadi itu dibawa biar bunda bisa nelpon untuk dijemput pulang,” Bunda Nopi menjelaskan. “Biidznillah mereka tamat SD dengan hafalan paling banyak di antara teman-temannya sekelas. Khazza 4 juz, Fathan 5 juz,” ujarnya bersyukur.

Didikan yang dianggap lumayan keras oleh Bunda Nopi itu, diakuinya tidak bisa diterapkan kepada dua putri terakhirnya, Aisha dan Maryam yang kini berusia 13 dan 7 tahun. “Karena sekarang ada bapaknya di rumah. Mau belajar ngaji aja pake drama. Kelas 1 SD, Khazza dan Fathan sudah belajar Al-Qur’an, ini Maryam masih iqra’ 3. Syukur-syukur mau ngaji,” ucap Bunda Nopi.

Merantau ke Pulau Jawa

Lulus sekolah dasar, Bunda Nopi ingin anak-anaknya melanjutkan ke pesantren. Terbatasnya pilihan pondok di Singkawang waktu itu, membuat Bunda Nopi melirik sekolah di Pulau Jawa. Atas rekomendasi seorang Ustadz, Bunda Nopi mantap mengirim Khazza ke sebuah pondok di Gresik, diikuti Fathan satu tahun kemudian.

Keputusan tersebut rupanya sempat menjadi perdebatan panas di keluarga besarnya. Bunda Nopi dituding tidak sayang anak. Tega melepas anak usia 12 tahun, ke luar pulau pula. Namun, Bunda Nopi tetap bertahan pada pilihannya.

“Pertama karena memang anaknya tidak keberatan. Dan dari kelas 5 itu, mereka Bunda ajari untuk mandiri, dari nyuci pakaian, menyiapkan keperluan sendiri, beres-beres, sampai belajar menghemat,” urai Bunda Nopi membeberkan alasannya. “Dan pertimbangan kami, mereka kelak juga suatu saat akan pergi meninggalkan kita. Entah itu belajar, bekerja, menikah. Hanya tinggal menunggu waktunya aja,” sambungnya dengan nada bijak.

Kabar baiknya, sekarang sekolah bermanhaj salaf sudah banyak di Kalimantan Barat. Dua anak terakhir Bunda Nopi bisa bersekolah dekat dengan orang tuanya. Bunda Nopi tidak harus sedih berjauhan lagi seperti yang dahulu dirasakan bertahun-tahun.

Perjalanan yang Melelahkan

Keputusan sudah diambil. Khazza dan Fathan memulai lembaran baru, merantau demi ilmu di usia belia. Perjalanan panjang dari Singkawang hingga Gresik dan sebaliknya, dilakoni dua kakak beradik itu setiap kali libur lebaran tiba. Dari Singkawang, mereka harus menempuh perjalanan darat 4-5 jam untuk mencapai Pontianak. Kemudian, lanjut ke Surabaya menggunakan pesawat.

“Pernah hampir ketinggalan pesawat di Soetta (Bandara Soekarno-Hatta, red) waktu Corona karena ketika itu tidak ada penerbangan langsung Pontianak-Surabaya, jadi harus transit di Jakarta. Gara-gara penerbangan dari Supadio delay beberapa jam, begitu sampai Soetta, pesawat ke Juanda sudah akan berangkat. Berlarian itu dua kakak beradik pindah terminal mengejar pesawat. Sampai mau ke toilet pun tak sempat,” ucap Bunda Nopi menirukan perkataan anaknya waktu itu.

Di lain hari, mereka juga pernah terpaksa menginap di Bandara Juanda karena pesawat yang ditumpangi tidak bisa mendarat di Pontianak disebabkan kabut asap tebal. Selain lewat udara, perjalanan lewat jalur laut pun pernah mereka rasakan. Rute yang dipilih adalah Tanjung Perak-Pontianak, atau Tanjung Emas-Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 2 hari.

Kisah yang terjadi beberapa tahun lalu itu menjadi kenangan yang akan selalu diingat Bunda Nopi. “Di sana, kami tidak ada keluarga. Untuk pulang ke Singkawang, biasanya setahun sekali. Kalau ada rezeki lebih atau diwajibkan pulang saat libur semester, baru anak-anak pulang,” katanya. “Juga ketika anak-anak sakit, itu yang berat. Bunda serahkan penjagaan kepada Allah dan pihak ma’had. Pernah Khazza sakit dan harus menjalani operasi ringan, kami percayakan ke pihak ma’had untuk mengurusnya,” lanjutnya teringat masa itu.

Motivasi Untuk Sang Buah Hati

Awal kehidupan di pondok, tak ada keluhan datang dari Khazza dan Fathan. Namun, selalu ada masa ketika semangat melemah, ditandai dengan nilai yang anjlok. Dalam situasi ini, Bunda Nopi berusaha menguatkan dengan meminta mereka meluruskan niat belajar, bersabar, dan tak lupa selalu minta pertolongan Allah.

“Kalau mereka lagi futur itu biasanya tugas ayahnya mengingatkan dengan kisah para sahabat, para ulama yang bahkan berbulan-bulan melakukan perjalanan untuk mendapatkan ilmu,” tuturnya.

Hidup berjauhan sangat menguji kesabaran. Sering kali hati sudah tak sabar ingin bertemu, tapi libur lebaran masih berbilang bulan. Menyiasati rindu yang sulit dilawan, Bunda Nopi memilih mengirim surat kepada dua buah hatinya itu.

Dari Singkawang, surat dilayangkan. Diiringi air mata, Bunda Nopi menulis pesan, “Kita sama-sama berjuang, Nak. Kalian berjuang belajar ilmu syar’i. Ayah berjuang mencari rezeki untuk sekolah kalian, dan Bunda berjuang menahan rindu kepada anak-anaknya.”

Allah selalu memberikan kemudahan kepada mereka yang ikhlas berkorban di jalan-Nya. Atas izin Allah, Khazza menyelesaikan hafalan 30 juz setamat dari pondok. Sementara Fathan berhasil merampungkan 16 juz. Kini, mereka telah dewasa dan kuliah di kota yang berbeda.

Belajar dan Berkhidmat di HSI

Upaya Bunda Nopi memberikan pendidikan terbaik dengan porsi ilmu agama yang besar, dimulai ketika hidayah sunnah menyapa. Pertengahan tahun 2013, sang suami dimutasi ke Sintang, sebuah daerah yang berjarak sekitar 11 jam dari Singkawang. Di sana beliau mengenal sunnah dan terlibat aktif di majelis ilmu.

Agama seseorang tergantung dengan teman dekatnya, benar adanya. Atas ajakan suami, Bunda Nopi pun mulai mencari kajian yang sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Alternatif yang paling memungkinkan baginya saat itu adalah belajar online.

HSI menjadi pilihan karena diajak seorang teman. Adanya evaluasi membuat Bunda Nopi tertarik, tertantang, dan penasaran. Bunda Nopi resmi bergabung di angkatan 151. Setelah dijalani, langkah Bunda Nopi sempat hampir terhenti karena hp yang digunakan mengalami kerusakan. “Udah mau off dulu aja tapi teman-teman di GD ngasih semangat dan mendoakan yang terbaik. Alhamdulillah gak berselang lama, dapat hadiah hp baru dari suami biar bisa tetap lanjut belajarnya,” tutur Bunda Nopi senang.

Tak cukup hanya belajar, Bunda Nopi ingin mencoba tantangan baru. Ia ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan mengabdikan diri membantu dakwah di HSI. Bunda Nopi antusias menunggu dibukanya pendaftaran admin angkatan 152. Di luar dugaan, niat menjadi admin harus pupus. “Syarat nilai minimal mumtaz mau daftar admin waktu itu. Qodarullah nilai akhir bunda jayyid jiddan. Jadilah bunda ga bisa daftar, nah kecewa tu. Kemudian, saat angkatan 161 butuh admin yang lumayan banyak karena santri juga semakin banyak. Nilai akhir bunda mumtaz, tapi udah ga semangat lagi. Teman yang udah duluan jadi admin yaitu Mba Anna mengajak bunda daftar, tapi bunda ga berminat. Beliau bujukin terus, akhirnya bunda luluh juga.” Bunda Nopi menceritakan.

Akhirnya, Bunda Nopi resmi bertugas pertama kali di KBM Reguler dengan menjadi admin ART161. Tekad ingin bermanfaat yang sudah lama tertancap di hati, membuatnya totalitas memberikan banyak waktu untuk HSI. Banyak angkatan sudah dipegangnya. Setelah 6 tahun, akhirnya Bunda Nopi diamanahi jabatan sebagai Koordinator dan saat ini bertanggungjawab di ART251.

Semoga Allah mudahkan semua urusan Bunda Nopi, bisa belajar terus di HSI dan tetap berkontribusi sebagai pengurus Divisi KBM. Semoga perjuangan Bunda Nopi dalam membersamai putra-putrinya dibalas Allah dengan sebaik-baik balasan dan Allah jadikan putra-putri Bunda Nopi shalih-shalihah serta bermanfaat bagi umat sebagaimana doa yang selalu dipanjatkannya. Baarakallahu fikum.